Milenial Korea Selatan : Ciptakan 'kampung tanpa kecemasan' untuk rayakan kegagalan

Korea Selatan Hak atas foto AFP/JUNG YEON-JE
Image caption Pandangan lawasan publik Korea Selatan tentang kesuksesan dalam karier tak lagi sesuai dengan cara berpikir sebagian anak-anak muda di negara itu.

Proyek inovatif memungkinkan generasi milenial Korea Selatan untuk menghindarkan diri dari norma di masyarakat dan tempat kerja yang kerap merintangi kesuksesan mereka. Namun apakah peluang itu cuma dimiliki orang kaya?

Sebagai pegawai paling junior di kantornya, Kim Ri-Oh, mantan jurnalis foto di sebuah majalah di Seoul kerap dirundung oleh koleganya.

Bekerja akhir pekan dan jam lembur hingga pukul 11 malam merupakan tradisi di kantornya.

Setelah sekitar dua tahun bekerja, Kim mengetahui bahwa gajinya lebih rendah daripada pegawai laki-lakinya baru di kantornya.

"Saya mulai kehilangan kebahagiaan. Kematian kerap muncul dalam benak saya," ujar Kim.

"Saya sudah melakukan apapun yang saya inginkan. Lulus SMA, kuliah, lalu mendapat pekerjaan yang direstui keluarga. Tapi apa arti semua itu? Ini kehidupan saya, tapi saya tak menemukan diri saya sendiri di dalamnya," ucap Kim.

Dan kondisi itu tidak hanya dialami Kim. Muda-mudi Korea Selatan banyak yang menentang pandangan umum tentang kesuksesan dan tanggung jawab di masyarakat.

Sejumlah proyek sosial maupun yang dilakukan beberapa perusahaan bermunculan untuk menyokong anak-anak muda tersebut.

Kim yang berusia 26 tahun kini bekerja dalam program bertajuk Don't Worry Village (Kampung Tanpa Kecemasan). Digelar di Mokpo, kota pelabuhan di barat daya Korea yang jumlah penduduknya yang terus meningkat, proyek itu didanai anggaran pemerintah.

Program tersebut bertujuan memugar bangunan tak terpakai. Sekitar 20 orang berusia rata-rata 30 tahun menggerakan proyek itu.

Slogan mereka: "It's okay to rest. It's okay to fail. (Tak ada yang salah dengan istirahat. Tak ada yang keliru dalam kegagalan)".

Hak atas foto Grace Moon
Image caption Waktu beristirahat merupakan salah satu hal ditekankan di 'Don't Worry Village'.

Kampung itu didirikan di pinggiran Mokpo yang dulunya kosong. Tempat itu dibangun ulang untuk muda-mudi kreatif yang hendak membuka restoran dan kafe atau mempertontonkan seni serta merekam karya dokumenter.

Selama retret enam minggu, anak-anak muda Korea Selatan, yang lelah mencari kerja, berkumpul untuk merayakan kegagalan sebelumnya dan bereksperimen menciptakan proyek mereka sendiri.

Beberapa dari mereka merasa ini adalah kesempatan kedua dalam hidup mereka.

Retret itu berjalan sesuai tujuan pribadi para pesertanya, tapi secara longgar dibangun untuk memulihkan kembali nuansa kebersamaan yang hilang, waktu makan bersama, dan jam istirahat.

Park Myung-Ho (33 tahun), yang ikut menggagas proyek ini bersama Hong Dong-Woo (34), menyebut kampung itu ditujukan untuk mewujudkan apa yang dikenal dengan istilah 'sohwakhaeng'.

Terminologi itu merujuk sebuah ide yang diilhami penulis asal Jepang, Haruki Murakami, yang merangkum momen kebahagiaan kecil tapi jelas.

"Tidak lagi terobsesi pada pencapaian besar, anak muda Korea kini mengejar 'sohwakhaeng'," kata Park.

"Entah itu menikmati sepotong kue keju di toko roti di kota Anda, menulis lagu atau buku. Sesuatu yang kecil tapi sepenuhnya milikmu."

Hak atas foto Grace Moon
Image caption Salah satu pendiri 'Don't Worry Village', Park Myung-Ho, menilai saat ini anak-anak muda Korea mencari sesuatu di luar kesuksesan materi.

Korea Selatan telah mengalami paradoks populasi dalam beberapa tahun terakhir. Tingkat demografi mereka menua secara cepat, berbanding terbalik dengan tingkat kelahiran terendah di dunia. Angka pernikahan mereka pun anjlok.

Terbenam di bawah industri glamoir K-pop dan K-beauty yang sudah melahirkan jutaan penggemar di seluruh dunia, ternyata terdapat kenyataan yang lebih suram, yaitu melonjaknya tingkat pengangguran kaum muda dan jam kerja terberat di antara negara maju.

Milenial Korsel menyebut diri mereka sebagai bagian dari generasi Sampo, sebuah makna baru yang diterjemahkan menjadi 'generasi dengan tiga pengorbanan'.

Artinya, mereka adalah generasi yang harus melepaskan hubungan perosonal, perkawinan dan menunda memiliki anak untuk bertahan hidup dalam ekonomi yang mencekik.

Daftar pengorbanan itu terus meluas, termasuk mengesampingkan kehidupan sosial serta kepemilikan atas rumah atau properti.

"Anak muda yang melihat diri mereka sebagai bagian dari 'generasi N-Po' yang skeptis," kata Kim Ri-Oh.

"Mereka mencari cara untuk mendapatkan kepuasan diri dari kehidupan mereka di luar ukuran kesuksesan tradisional," tuturnya.

Hak atas foto Grace Moon
Image caption Agenda di Don't Worry Village ditentukan oleh tujuan masing-masing orang yang berkegiatan di ruang itu.

Yoon Duk-Hwan, yang ikut menyusun laporan bertajuk 'Tren Korea 2019', menyebut bahwa Korsel secara tradisional terus menjalankan 'budaya berkumpul'.

Reuni kelas tahunan yang dikenal dengan istilah 'dongchang-hweh' adalah contoh umum di mana kehidupan pribadi teman sekelas, mulai dari pertunangan, pernikahan hingga mereka yang menganggur, bisa menjadi tolok ukur.

"Pertemuan semacam itu memperkuat budaya otoriter sehingga semakin banyak anak muda Korsel memilih untuk tidak lagi ikut serta," kata Yoon.

"Mereka menyadari bahwa mereka bisa memiliki kehidupan sosial yang tidak terikat dengan budaya itu, pergaulan yang tidak didikte pencapaian orang lain."

Proyek seperti Don't Worry Village dan sejumlah program lain yang disebut 'ruang pertujunkan' adalah upaya membuka banyak ruang untuk meninggalkan budaya lawas itu.

Mari bicara

Go Ji-Hyun membuka 'ruang pertemuan' pertama di Korsel, Chwihyangwan, pada tahun 2018 setelah terinspirasi sebuah adegan dalam film Midnight in Paris.

Interior ruang itu menyerupai hotel kuno. Lantai dan dindingnya hangat karena terbuat dari kayu mahoni. Setelah masuk ke dalamnya, pengunjung akan disambut penjaga pintu.

Sebuah penghormatan untuk ruang pertunjukan di Paris abad ke-18. Itu adalah ruang intim tempat orang berkumpul untuk bertukar pengetahuan. Melalui ruang itu, berbagai perbincangan berusaha mempertanyakan ulang budaya Korea.

"Korea tidak memiliki budaya berbicara satu sama lain karena takut mengganggu, terutama dengan orang asing," kata Go.

"Ketika saya pertama kali membuka ruang pertemuan itu, pertanyaan yang paling sering saya terima dari pengunjung adalah, 'bagaimana saya berbicara dengan orang asing?"

Topik percakapan diumumkan setiap tiga bulan dan dibahas secara mendalam seperti seminar ala filsuf Sokrates, sesi baca malam hari, sesi pembuatan memo, menonton film, dan perbicangan di bar.

Go menggambarkan program itu sebagai medium pemikiran sosial di mana anggota bebas bertukar pandangan.

Hak atas foto Grace Moon
Image caption Go Ji-Hyun ingin menciptakan kembali budaya 'ruang kolektif' abad ke-18 yang berkembang di Paris.

Di Chwihyangwan, orang-orang tidak, dan sebenarnya memang didorong untuk tidak, mencantumkan usia mereka pada formulir pendaftaran.

Ini merupakan sebuah instruksi yang tidak biasa mengingat bagaimana proses rekrutmen pegawai di Korsel tanpa malu-malu mengorek urusan pribadi.

Selama pertemuan di ruang komunal itu, para hadirin saling merujuk satu sama lain menggunakan nama panggilan yang ramah dan tidak mengungkapkan nama asli atau pekerjaan mereka.

Go berkata, para peserta rata-rata adalah mahasiswa yang penasaran dengan gagasan baru ini dan orang-orang yang berusia 50-an tahun.

"Biasanya, masyarakat Korea menentukan bagaimana Anda harus bertindak dan berinteraksi dengan orang lain berdasarkan identitas itu," kata Go.

"Ketimbang identitas, perkenalan kami satu sama lain adalah melalui cara berpikir kami masing-masing. Jarang Anda bisa berinteraksi dengan orang-orang di Korea dengan cara itu," tuturnya.

Membicarakan uang

Ruang seperti ini berusaha untuk mendemokratisasi hubungan sosial di Korea Selatan. Di negara itu, sebagian besar kelompok masyarakat terikat pada norma ketat yang menentukan kapan orang Korea yang lebih muda harus mencapai tujuan hidup tertentu.

Tahun 2019, proyek semacam ini terus tumbuh di Korea Selatan. Namun kenyataannya, ruang-ruang ini tidak dapat diakses oleh banyak anak muda Korea, terutama mereka yang berasal dari rumah tangga sosial ekonomi rendah. Padahal bisa dibilang, merekalah yang mungkin paling membutuhkannya.

Hak atas foto Chihyangwang
Image caption Ruang pertemuan kolektif pertama Korea Selatan dibuka pada tahun 2018.

"Orang-orang yang tidak memiliki stabilitas keuangan atau tinggal di luar Seoul mengalami hambatan," kata Kim Ri-Oh.

"Biaya keanggotaan tahunan (ruang pertemuan) sulit dibayar jika Anda menyulap harga sewa. Perjalanan dari kota untuk pergi ke pertemuan ini dengan kereta peluru hampir Rp1,3 juta," tuturnya.

Keanggotaan satu tahun untuk Chwihyangwan setara 1,2 won Korea atau Rp14 juta. Sedangkan di Don't Worry Village, penduduk membayar nyarus setengahnya, meskipun program ini awalnya gratis.

Tentu saja, gagasan untuk beristirahat, atau tidak bekerja dan memiliki pendapatan, mungkin tidak menjadi pilihan bagi mereka, terutama ketika pengangguran kaum muda membengkak.

Depresi kini berada pada titik tertinggi sepanjang sejarah di antara kaum muda Korea. Menurut Layanan Penilaian & Penilaian Asuransi Kesehatan, jumlah orang berusia 20-an tahun yang didiagnosis depresi hampir dua kali lipat dalam lima tahun terakhir.

Komunitas seperti yang ditemukan di ruang-ruang pertemuan baru dapat dilihat sebagai ruang bagi mereka yang kesepian, kata Ha Ji-Hyun, seorang psikiater dan profesor di Pusat Medis Universitas Konkuk di Seoul.

Ha berkata, depresi memiliki dampak berbeda pada remaja berpenghasilan rendah. Ada faktor pengeluaran uang untuk perjalanan harian, makan, dan tiket film, misalnya.

Dengan kata lain, bersosialisasi secara inheren terikat dengan uang dan bisa lebih menjadi beban daripada kesenangan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Anak-anak muda Korea ingin mendemokratisasi ruang sosial.

Namun, dengan sekitar 82% pemuda Korea Selatan menggunakan media sosial, semakin banyak generasi milenial dari keluarga berpenghasilan rendah mulai menggantikan interaksi kehidupan nyata dengan digital.

"Pada titik tertentu, mereka sadar bahwa mereka tidak perlu mengeluarkan uang atau energi untuk bersosialisasi," kata Ha.

"Tetapi kepuasan yang mereka peroleh dari berinteraksi dengan pengguna lain secara online memiliki batas ... banyak yang akhirnya mengalami depresi setelah periode panjang terisolasi secara fisik."

Kesepian muncul dari keinginan untuk bertemu dan berinteraksi dengan orang lain, kata Ha. Mereka yang memiliki sumber daya uang dan energi untuk secara aktif mencari ruang seperti 'ruang-ruang pertemuan' dan Don't Worry Village dapat memerangi kesepian itu.

Namun berbeda dengan mereka yang tak memiliki sarana untuk melakukannya. Mereka mungkin jatuh lebih dalam ke dalam depresi dan isolasi sosial.

Menderita dalam keheningan

Generasi milenial Korsel mengubah dinamika kekuasaan di tempat kerja dan lingkungan sosial.

Walau masyarakat harus mengakui bahwa kesenjangan regional dan sosial ekonomi bergulir begitu dalam, ada perubahan yang tak terbantahkan dalam bagaimana pemuda Korsel mengadvokasi diri mereka sendiri.

Hak atas foto Grace Moon
Image caption Kim Ri-Oh mengatakan, tekanan dan ketidaksetaraan upah di pekerjaan sebelumnya membawanya ke titik puncak kelelahan.

Dalam kasus Kim Ri-Oh, kesenjangan upah gender di tempat kerja adalah pendorong yang membuatnya melihat gambaran yang lebih utuh tentang persoalan ini.

"Itu adalah fakta yang diabaikan bahwa laki-laki di industri media memperoleh rata-rata 200 ribu won (Rp2,3 juta) per bulan lebih besar dari rekan kerja perempuan mereka," kata Kim.

"Tidak ada yang mengatakan apa pun, dan sepertinya tidak mungkin bagi saya untuk mengubah keadaan, jadi saya berhenti bekerja."

"Saya menyadari bahwa tidak tidak perlu menderita seperti ini lagi," tuturnya.

Pemerintah Korsel telah memperhatikan kenyataan suram ini. Tahun 2018, Parlemen Korsel mengeluarkan undang-undang yang akan secara drastis memangkas jam kerja mingguan, dari 68 menjadi 52 jam. Mereka berharap beleid itu dapat meningkatkan standar hidup.

Namun perubahan juga tampaknya terjadi secara organik. Tingkat pengunduran diri setelah bekerja selama satu tahun di sebuah perusahaan mencapai puncaknya pada tahun 2018, dengan persentase mencapai 28%.

Ini merupakan perubahan yang menentang gagasan tradisional Korea tentang 'satu tempat kerja seumur hidup'.

Bagaimanapun, anak muda Korea memahami bahwa penderitaan bukan lagi prasyarat untuk sukses. Alih-alih bertahan, mereka menjadi penulis untuk kisah sukses mereka sendiri.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris diBBC Worklifedengan judulThe young Koreans pushing back on a culture of endurance.

Berita terkait