Manfaat kita perlu lebih sering memuji: Hasil penelitian menunjukkan ''79% yang dipuji akan menawarkan bantuan'

  • David Robson
  • BBC WorkLife
Ilustrasi perempuan menerima pujian

Sumber gambar, Getty Images

Dalam sebuah riset terbaru menunjukan bahwa memuji seseorang memiliki efek timbal balik yang positif, Sekitar '79% yang dipuji akan menawarkan bantuan'.

"Rangkaian pujian yang baik," penulis tersohor Mark Twain pernah berkata, "adalah salah satu bakat manusia yang paling langka, dan mengungkapkannya dengan baik adalah satu bakat lainnya."

Twain sedang menjabarkan pertemuannya dengan Kaisar Jerman, yang memuji buku-bukunya. Tetapi kita semua tentunya memahami sentimen tersebut: menerima pujian yang tulus dan diungkapkan dengan baik dapat terasa seakan mendapat rejeki nomplok yang tak terduga.

Sayangnya, kegelisahan kita tentang bagaimana orang lain akan memahami perkataan kita dapat mencegah kita memberikan pujian. Lagi pula tidak ada seorang pun yang ingin memberi kesan canggung, menggurui, atau menjilat.

"Pujian adalah cara paling mudah membuat orang lain - dan, akibatnya, diri kita sendiri - merasa lebih baik," kata Nicholas Epley, profesor ilmu perilaku di Universitas Chicago. "Namun ketika suatu pikiran baik muncul di dalam benak, orang biasanya tidak mengatakannya."

Baca juga:

Namun begitu tiga studi terbaru tentang psikologi memberi dan menerima hadiah menunjukkan bahwa rasa takut kita tentang bagaimana orang lain akan menerima pujian kita sama sekali tidak berdasar. Dan dengan mengabaikan kecanggungan itu, kita semua dapat menikmati hubungan yang baik dengan kawan-kawan, anggota keluarga, dan kolega kita.

Rasa timbal-balik

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca
Podcast
Investigasi: Skandal Adopsi

Investigasi untuk menyibak tabir adopsi ilegal dari Indonesia ke Belanda di masa lalu

Episode

Akhir dari Podcast

Baru belakangan ini para psikolog menaruh banyak perhatian pada pujian, dengan mayoritas penelitian awal menguji potensi persuasifnya.

Dalam satu studi yang terkenal pada 2010, Naomi Grant, seorang profesor madya psikologi di Mount Royal University Kanada, mengundang beberapa orang untuk ambil bagian dalam studi tentang "pembentukan kesan".

Ketika para partisipan mengisi kuesioner yang agak membosankan, seorang aktor - berpura-pura sebagai mahasiswa psikologi tingkat pertama - memulai percakapan yang di dalamnya ia memuji pakaian partisipan.

Setelah sedikit obrolan basa-basi, sang aktor kemudian menyebutkan bahwa mereka sedang membagikan pamflet tentang suatu acara karier universitas, dan bertanya kepada partisipan apakah mereka bersedia membantu.

Pujian tersebut memberi efek yang dramatis, dengan 79% partisipan menawarkan bantuan mereka, dibandingkan 46% partisipan di kelompok kontrol, yang tidak menerima pujian.

Studi Grant menunjukkan bahwa bantuan itu muncul dari rasa timbal-balik. Secara umum, semakin orang percaya bahwa satu perbuatan baik pantas dibalas dengan perbuatan baik lainnya, semakin besar kemungkinan mereka untuk mengikuti satu pujian dengan perbuatan yang bermanfaat.

Dalam bahasa Inggris, kita kerap mengatakan bahwa kita "membayar" seseorang dengan pujian (paying someone a compliment) - dan penelitian Grant mengindikasikan bahwa kita memang kerap menganggapnya sebagai bagian dari transaksi.

Rasa timbal-balik juga dapat menjelaskan mengapa masukan positif dapat menjadi alat yang sangat kuat di tempat kerja.

Studi oleh para peneliti di perusahaan teknologi Intel dan Universitas Duke di AS menunjukkan bahwa pujian verbal lebih efektif dalam meningkatkan produktivitas daripada bonus uang tunai.

"Orang pada umumnya tidak sadar bahwa sesuatu yang begitu kecil dapat berdampak begitu besar," kata Vanessa Bohns, profesor psikologi sosial di Cornell University, AS, dan penulis buku You Have More Influence Than You Think.

Manfaat yang terabaikan

Sayangnya, penelitian Bohns sendiri menunjukkan bahwa kita jarang menghargai kekuatan pujian kita.

Bekerja sama dengan Erica Boothby di University of Pennsylvania, Bohns meminta partisipan untuk pergi ke satu lokasi di kampus dan memberikan pujian sederhana kepada orang asing secara acak. (Untuk mengurangi potensi kesalahpahaman tentang motif mereka, para partisipan diminta untuk hanya mendekati seseorang dengan jenis kelamin yang sama.)

Partisipan pertama-tama harus memperkirakan seberapa senang, tersanjung, atau canggung perasaan orang yang akan menerima pujian dari mereka.

Setelah mereka menyampaikan pujian, mereka memberi orang yang mereka puji sebuah amplop tertutup berisi survei singkat yang menanyakan bagaimana perasaan si orang asing tentang percakapan itu.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

"Pujian adalah cara paling mudah untuk membuat orang lain - dan akibatnya, diri kita sendiri - merasa lebih baik," kata profesor Nicholas Epley.

Dalam berbagai eksperimen, para peneliti mendapati bahwa para partisipan secara signifikan meremehkan seberapa senangnya orang lain ketika mendengar pujian mereka, dan melebih-lebihkan seberapa ngeri mereka menganggap interaksi tersebut.

"Mereka (orang yang memberikan pujian) merasa interaksi itu akan menjadi sangat canggung, dan mereka akan kikuk ketika menyampaikan [pujian]," kata Bohns. Tetapi interaksi yang sebenarnya jauh lebih menyenangkan.

Epley mengeksplorasi gagasan yang serupa dengan Xuan Zhao, seorang psikolog di Universitas Stanford - tetapi alih-alih berfokus pada interaksi antara orang asing, mereka meminta partisipan untuk memuji seseorang yang sudah mereka kenal.

Seperti Bohns dan Boothby, Epley dan Zhao mendapati bahwa para partisipan secara konsisten pesimis dalam memprediksi percakapan mereka.

Mereka berasumsi bahwa kenalan mereka akan kurang senang, dan merasa lebih canggung, daripada yang sebenarnya [kenalan] mereka rasakan saat menerima pujian.

Setelah menggali lebih jauh, Epley dan Zhao menemukan bahwa ketakutan ini tampaknya muncul dari persepsi partisipan tentang "kompetensi" sosial mereka sendiri.

Partisipan khawatir pihak yang dipuji tidak mengartikulasikan ucapan itu dengan baik, tanpa memberikan kesan yang salah.

"Tetapi ternyata si penerima pujian tidak peduli tentang itu," kata Epley. "Mereka hanya peduli tentang betapa ramah atau baiknya pujian tersebut." (Studi ini sedang menunggu publikasi di Journal of Personality and Social Psychology.)

"Ini tentang membuat orang lain merasa dilihat," kata Zhao.

Kalender pujian

Tentu saja, Anda bisa berlebihan dalam memberikan pujian. Jika Anda memuji teman, pasangan, atau kolega secara berlebihan, mereka bisa saja bosan dengan pujian Anda atau bahkan mulai merasa sedikit muak.

Namun penelitian lebih lanjut oleh Epley dan Zhao menunjukkan bahwa kemungkinan orang lain bereaksi seperti ini juga jauh lebih kecil daripada yang kita yakini.

Dalam penelitian ini, mereka kembali merekrut pasangan partisipan yang sudah saling mengenal.

Satu anggota dari setiap pasangan diminta memberikan lima pujian berbeda untuk kenalan mereka.

Para peneliti kemudian menyampaikan pujian ini kepada penerima, satu pujian sehari selama satu minggu berikutnya.

Secara keseluruhan, kesenangan penerima saat mendengar pujian tersebut tidak menurun selama seminggu. "Mereka merasa senang setiap hari," kata Epley.

Jika Anda ingin menerapkan penelitian ini, Bohns menekankan pentingnya konteks.

Jelas tidak pantas memuji penampilan seseorang jika ada risiko Anda dapat mengobjektivikasi mereka.

"Etiketnya adalah hanya menyampaikan pujian yang menyangkut nilai sosial seseorang," ujarnya. Itu bisa termasuk pujian atas presentasi yang baik, atau cara mereka menangani klien yang sulit.

Jika Anda punya pikiran baik yang menandakan rasa hormat yang tulus kepada orang lain, saran dari penelitian ilmiah sudah jelas: ungkapkanlah.

Berlawanan dengan aforisme Twain, Anda tidak perlu bakat langka apapun untuk menunjukkan apresiasi pada kualitas terbaik seseorang."

"Pujian itu gratis," kata Zhao. "Ini cara yang sangat efisien untuk membuat orang lain merasa senang."

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini di BBC Worklife.