Mengapa kata 'telanjang' begitu kontroversial di dunia fashion

telanjang Hak atas foto Christian Louboutin
Image caption Yang akbrab dengan majalah fashion, istilah 'nude' atau telanjang mengacu pada warna dan bukan keadaan tak berpakaian.

Sampai akhir-akhir ini, istilah fashion 'nude' atau 'telanjang' hanya mengacu kepada kulit putih, tetapi hal ini berubah. Libby Bank mengkaji bagaimana sebuah generasi baru penulis gaya hidup mengubah keadaan.

Bagi siapapun yang akrab dengan majalah fashion, istilah 'telanjang' mengacu kepada warna bukannya keadaan tidak berpakaian dan seringkali merupakan bagian dari perbendaharaan kata umum.

Dipakai bersama-sama dengan istilah 'warna kulit', sebuah kata sifat yang mengacu kepada warna off-white, champagne, blush dan rose.

Ketika Beyonce datang ke Met Ball dengan gaun Givenchy warna peach, ketika Michelle Obama mengenakan beige saat bertemu Duke dan Duchess of Cambridge, dan ketika Kim Kardashian mengenakan bodysuit pale-pink, media gaya hidup berulangkali menggambarkan pakaian mereka sebagai 'telanjang' atau 'warna kulit'.

Masalahnya? Warna kulit yang diacu adalah kulit putih pucat, bukannya kulit wanita pemakai busana itu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Ketika Beyonce memakai gaun Givenchy warna peach ke Met Ball, pakaian itu digambarkan sebagai 'telanjang' .

Telanjang seringkali merupakan kelemahan pada penulis fashion karena ini didukung organisasi mapan.

Pantone, ahli warna terkenal dunia, memiliki warna 'telanjang' (pink muda) yang semakin mendukung penggunaan istilah itu. Sampai tahun 2016, kamus Merriam-Webster menggunakan istilah 'telanjang' mengacu kepada tubuh telanjang atau "memiliki warna kulit orang kulit putih".

Bagi siapapun yang warna kulitnya di luar istilah 'fair', pakaian 'telanjang', lipstick 'telanjang' dan sepatu hak 'telanjang' tetap merupakan istilah bermasalah.

Arti 'telanjang' adalah masalah yang bahkan dihadapi Kim Kardashian, lewat penyesuaian pakaian di karpet merah Cannes pada bulan Mei.

"Kami berusaha mempergelap pakaian jaring telanjang di bawah helaian perak, karena terlalu muda agar sesuai dengan warna kulit saya," kata Kardashian di situsnya terkait dengan gaun Lan Yu Couture.

"Kami hanya memiliki waktu dua jam sebelum berangkat ke Cannes, akhirnya kami menaruh teh Earl Grey di wastafel dan mewarnai gaun ini selama 30 menit."

Sedalam kulit

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kim Kardashian mengatakan pakaian Lan Yu Couture harus diubah warnanya dengan menggunakan teh Earl Grey agar sesuai dengan warna kulitnya .

Tetapi generasi baru pengusaha ritel fashion dan kecantikan memperbarui arti 'telanjang' dan mengambil keuntungan dari pasar yang diacuhkan merek besar.

"Kesadaran bahwa telanjang tidak mencakup semuanya disadari ketika saya menonton Olimpiade 2012.

Gabby Douglas bertanding dan mengenakan pakaian yang tidak sesuai dengan warna kulitnya. Ini adalah untuk pertama kalinya hal ini menjadi masalah", kata Catalina Girald, pimpinan perusahaan pakaian dalam AS, Naja.

Naja meluncurkan Nude For All dengan tujuh warna pada bulan Mei 2016. "Kami menamakannya Nude For All karena kami meyakini seperti inilah seharusnya telanjang diartikan," jelas Girald.

"Kami tidak menamakan warna yang berbeda, tetapi kami menyebut masing-masih sebagai Nude 01, Nude 02, Nude 03 dan seterusnya untuk menggarisbawahi keinginan kami telanjang bukan mengacu kepada satu warna tertentu, tetapi serangkaian warna. Masing-masing wanita seharusnya mempunyai telanjang yang sesuai dengan kulitnya."

Hak atas foto Chris Jackson
Image caption Pakaian beige Michelle Obama yang dipakai saat bertemu Duke dan Duchess of Cambridge disebut 'telanjang' atau 'warna kulit'.

Mahogany Blues yang meluncurkan produknya tahun ini, membuat pakaian menari dalam serangkaian warna kulit bagi para penari yang sebelumnya harus membeli pakaian dengan warna muda dan mewarnainya.

"Kami menerima banyak reaksi dari orang-orang yang menghargai kenyataan adanya sebuah perusahaan yang berusaha mengartikan kembali 'telanjang' dengan membuat pakaian telanjang bagi warna kulit yang lebih gelap," kata pendirinya Whitney Bracey.

"Kami menghadapi sejumlah ketidaksukaan tetapi hal ini sudah dapat diperkirakan ketika Anda mengubah sesuatu yang dipandang sebagai suatu masalah,"

Pada bulan Juli 2016 FleshTone.net diluncurkan pengacara dan penari di Australia, Tayo Ade.

Tujuannya adalah menciptakan tujuan tunggal online untuk mengakses generasi baru merek untuk memperluas arti 'telanjang'. Digambarkan Ade sebagai Amazon produk telanjang, Flesh Tone menawarkan produk pewarna kuku dan sepatu tari sampai ke cat dan Lego.

Hak atas foto NAja
Image caption Generasi baru ritel fashion dan kecantikan seperti Naja mengatasi masalah istilah telanjang.

Kemungkinan mengejutkan mengartikan kembali 'telanjang' sebagian besar melibatkan usaha baru.

Kelompok minoritas akan menjadi lebih dari setengah penduduk AS di tahun 2050, menurut US Census Bureau, sehingga mencabut pemisahan antara 'putih' dan 'yang lainnya' bukannya masuk akal secara etika, tetapi juga secara keuangan.

Kebanyakan media besar fashion juga memperhatikannya. "Kata 'telanjang' diacuhkan industri fashion yang sekarang mendukung keragaman di catwalk, majalah dan kampanye iklan besar," kata Julie Hobbs, editor berita fashion Vogue.

"Di tahun 2016, pemikiran satu warna kulit terkait dengan kata 'telanjang' sangatlah tidak dapat diterima." Pandangan ini juga didukung Charlotte Moore, editor majalah InStyle, "Sebagai sebuah merek fashion kami sangat berhati-hati saat menggunakan kata telanjang atau warna kulit".

Lebih dari pucat

Hak atas foto Mahogany Blues
Image caption Mahogany Blues membuat pakaian bagi serangkaian penari yang sebelumnya harus membeli pakaian warna muda dan mewarnainya.

Tetapi setelah melakukan pencarian di internet, penggunaan istilah kulit pucat tetap ada.

Bahasa fashion sudah membentuknya. Bulu, rumbai, manik-manik dan motif binatang seringkali disebut 'tribal', 'eksotik' cenderung mengacu ke apapun di luar Amerika Utara dan Eropa, 'oriental' adalah istilah yang mengacu semua hal terkait dengan lebih setengah penduduk bumi.

Show musim panas/semi Valentino 2016 dilaporkan terinsipirasi Afrika yang 'primitif' dan 'liar'. Yang lebih lagi koleksi musim semi/panas 2013 Dolce & Gabbana dikecam keras karena sama sekali tidak menggunakan model kulit hitam.

Industri fashion bukan masalahnya, tetapi sikapnya mewakili masalah budaya yang lebih luas seringkali berdasarkan ketidaktahuan bukannya rasisme, kata Bracey.

"Saya seperti kebanyakan dari kita, industri fashion menggunakan istilah yang digunakan tanpa menyadari ketidakpekaannya. Lewat pengetahuan dan kesadaran muncul kesadaran."

Hak atas foto Penske Media/REX/Shutterstock
Image caption Bulu, rumbai dan motif binatang seringkali dinamakan 'tribal', banyak perancang mode dituduh melakukan 'penghancuran budaya'.

Perubahan pemahaman terlihat melebihi fashion. Tahun lalu lewat sebuah kampanye di internet, arti kata 'telanjang' di kamus Merriam Webster' diubah menjadi "memiliki warna yang sesuai dengan warna kulit pemakai" atau "memberikan kesan telanjang".

Dan sebuah RUU dijadikan peraturan oleh Barack Obama pada bulan Mei 2016, mengganti istilah 'oriental' dan 'negro' dengan 'Amerika keturunan Asia' dan 'Amerika keturunan Afrika' di hukum federal AS.

Perubahan terjadi bertahap dan generasi baru merek 'telanjang' barulah suatu permulaan, kata Bracey.

"Bahwa semakin banyak orang yang membicarakan hal ini dan menjelaskannya, membuat semakin banyak orang yang mengetahui bahwa ini tidaklah benar. Saya ingin melihat telanjang diartikan sebagai warna yang mengacu kepada serangkaian warna kulit."

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di Why 'nude', 'exotic' dan 'tribal' are controversial di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait