Apa yang membuat soundtrack film horor menjadi terkenal?

film horor

Alunan musik sebuah film horor dapat menjadi sama mengerikannya seperti filmnya. Tapi apa sebenarnya yang membuat musik-musik horor terbaik begitu menakutkan? Arwa Haider mencari jawabannya.

Film-film horor dan musik telah menjalin 'persekutuan kotor' selama beberapa dekade - bahkan sebelum kita dapat mendengar suara setan dan aktris perempuan berteriak ketakutan dalam sebuah film.

Asal-usul musik horor modern dapat dilacak sejak era film bisu. Pada tahun 1922, film vampir karya FW Murnau, Nosferatu: A Symphony of Horror diputar perdana dengan iringan musik orkestra romantis namun muram yang dimainkan secara live oleh Hans Erdmann. Meskipun tidak ada rekaman asli dari musik Erdmann yang bertahan, namun semangat musik Nosferatu ini tetap hidup dalam karya-karya modern. Sementara itu di Hollywood, para monster umum - Dracula, Frankenstein, Mumi dan sebagainya - memopulerkan soundtrack orisinal sebagai era kebangkitan film talkies (film dengan sinkronisasi suara -red.)

Suara yang menimbulkan rasa takut tidak dapat dibatasi dengan satu jenis genre atau instrumen, namun ketika berfungsi dengan baik, musik ini sama mencekamnya dengan visual yang paling menakutkan, dan tak lekang oleh waktu. Contohnya soundtrack film-film Alfred Hitchcock yang digarap Bernard Herrmann, khususnya dalam Psycho (1960). Musik gubahan Herrmann dalam film ini halus dan sangat menegangkan: 'sengatan'-nya (suara biola yang menyayat, dirancang untuk mencabik saraf-saraf setiap saat Anda mendengarkannya) menetapkan suatu standar yang ditiru oleh banyak film lain.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Awalnya, Alfred Hitchcock bermaksud agar adegan mandi di Psycho berlangsung tanpa musik.

Era 1970 dan '80-an, dan kepopuleran synthetizer, membawa angin segar pada kancah musik horor; fase ini juga telah memicu kebangkitan kembali antusiasme akan musik horor baru-baru ini. Hit modern seperti serial Netflix, Stranger Things memberikan penghormatan kepada era ini dengan musik elektronik mereka. Iringan musik yang menyeramkan namun memikat dalam serial tersebut, diciptakan oleh Michael Stein dan Kyle Dixon (dari grup SURVIVE), juga mengingatkan kita akan para perintis seperti sutradara/komposer John Carpenter (yang membuat soundtrack untuk banyak filmnya sendiri termasuk Halloween di tahun 1978, Prince of Darkness di tahun 1987, juga bekerja sama dengan Ennio Morricone untuk The Thing di tahun 1982).

Sekarang, soundtrack film horor klasik yang dirilis ulang dalam bentuk piringan hitam laris terjual dengan label seperti Death Waltz Recording Co. Para musisi aslinya juga melakukan tur internasional: Carpenter dan maestro musik film horor Italia, Fabio Frizzi, telah berkali-kali mengadakan konser selama akhir pekan Halloween di London.

Alunan moog

"Ada semacam keajaiban yang terjadi. Dalam satu dekade terakhir, kecintaan pada musik horor telah mengalami kelahiran kembali - mungkin hal ini membuat realitas terdengar lebih baik!" kata Frizzi kepada BBC Culture.

Karya Frizzi ini terutama dikenal dengan kolaborasinya yang berdarah-darah bersama sutradara Lucio Fulci, termasuk Zombie Flesh Eaters (1979) dan The Beyond (1981).

"Musik selalu membantu membangkitkan mooddalam film-film horor, membangun ketegangan dan atmosfer - tetapi permintaan untuk soundtrack-soundtrack ini sungguh mencengangkan," kata manajer label Death Waltz, Spencer Hickman. "Ada banyak orang yang ingat pada film-film masa mudanya, begitu juga dengan anak-anak muda yang menengok ke 'era keemasan' soundtrack-soundtrack ini."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Saat ini John Carpenter tampil di tur Release the Bats-nya di Inggris, Prancis dan Jerman.

"Sebagian besar dari film-film ini dibuat dengan anggaran kecil," katanya. "Para musisi lebih banyak bereksperimen dan berimprovisasi. Musiknya masih bertahan sebagai karya dan musikalitas yang kuat."

Hickman juga berusaha mengangkat musik baru bersama dengan karya-karya zadul (zaman dahulu-red): perusahaan rekamannya akan merilis musik synth ultra-tegang karya Pierre Takal untuk film dokumenter baru Morgan Spurlock, Rats. Namun penggemar fanatik film horor ini tidak ragu lagi soal soundtrack favoritnya: lagu pengantar tidur gubahan grup musik Italia, Goblin, dalam film Suspiria karya Dario Argento pada tahun 1977.

"Suspiria diiringi suara-suara instrumen tua dan nyanyian yang aneh; kalau Anda mendengarkannya di kegelapan, Anda pasti tidak akan tidur."

John Carpenter juga menyebut Suspiria salah satu inspirasi bagi karya musiknya dalam film Halloween yang tak terlupakan - meskipun motif utamanya untuk karya itu punya sejarah lebih jauh: "Ayah saya mengajarkan cara memainkan bongo. Dia sangat sering mengajari saya ketika saya berusia sekitar 13 tahun," kata Carpenter pada Rolling Stone. "Yang saya lakukan adalah duduk di piano dan membunyikan oktaf-oktaf dan naik setengah langkah. Itulah tema Halloween," jelasnya.

"Saya punya bakat minimal sebagai seorang musisi."

Hak atas foto Wikimedia
Image caption Band prog-rock dari Italia, Goblin, berkontribusi dalam soundtrack di banyak film karya Dario Argento, termasuk Suspiria di tahun 1977.

Bahkan ketika anggaran film Carpenter naik, dia mempertahankan pendekatan minimalis. "Anda mencoba untuk menciptakan ketegangan, rasa 'Apa yang akan terjadi?'. Pikirkan tema film Jaws. Itu cuma dua not. Dan membuat Anda merasa tegang."

Sains rasa takut

Ada seni dalam soundtrack horor yang bagus - dan mungkin bisa juga disebut sains. Studi akademis yang dipimpin Profesor Daniel Blumstein dari University of California meneliti suara yang "non-linear" dalam film-film, dan melaporkan bahwa soundtrack horor menyentuh ketakutan primitif kita.

"Di bawah alam sadar, musik di film-film horor mengingatkan kita pada jaman purba," kata Rowan Hooper, editor majalah New Scientist. "Suara-suara non-linear seperti suara biola dalam film Psycho mirip suara menyayat hewan-hewan dalam marabahaya; mereka menimbulkan dalam diri kita rasa takut diburu oleh predator berbahaya. Sesuatu yang terasa kasar dan asing memanipulasi emosi kita."

Hak atas foto Netflix
Image caption Stranger Things di Netflic telah menghidupkan kembali gaya film-film horor di tahun 80an,

"Pada dasarnya semua orang memiliki reaksi yang sama terhadap rasa takut, terlepas dari budaya; hal yang menarik adalah bagaimana Anda dapat memicunya pada khalayak yang berbeda. Iringan musik Halloween dan Stranger Things memiliki bunyi degup jantung yang kuat di dalamnya," kata Hooper. "Jelas hal itu membangkitkan adrenalin, dan insting fight or flight (lawan atau lari) kita. Dalam Stranger Things juga ada melodi yang hampir sensual; ia menyelundupkan ketakutan dalam bungkus yang cantik."

Suara ketakutan selalu memberikan efek kontras yang mengejutkan; menarik masuk, lalu mendorong menjauh. Musik karya Mica Levi yang amat menggoda untuk film karya Jonathan Glazer, Under the Skin (2013) adalah karya klasik modern lainnya. Keheningan yang diatur waktunya secara tepat berbicara banyak. "Pada saat itu otak Anda mengisi kekosongan - membangkitkan momen yang menakutkan," kata Hooper.

Hak atas foto www.indiewire.com
Image caption Salah satu dari karya yang paling meresahkan sekarang ini berasal dari komponis Inggris, Mica Levi untuk film karya Jonathan Glazer, Under the Skin

Frizzi menjelaskan lebih jauh: "Jika Anda mempertahankan suara keras dari awal sampai akhir, Anda tidak akan membuat siapapun terkejut. Anda harus menciptakan sesuatu yang atraktif; pengalaman ketakutan Anda sebenarnya dapat merupakan momen yang manis. Anda juga mencoba untuk menciptakan melodi yang merangkum keseluruhan film dalam beberapa not.

"Setiap kali Anda membuat musik untuk film horor, Anda harus menjadi aktor yang terlibat di dalam cerita. Latar belakang saya dari kelompok orkestra zaman dahulu, dan saya selalu mempunyai musisi bagus; jadi normal bagi kami untuk mencoba dan menemukan suara-suara baru." Meski demikian Frizzi mengakui: "Bukan merupakan hal yang mudah pada awalnya, ketika pertama melihat adegan mata yang tercungkil."

Pada adegan-adegan yang ekstrem ini, selalu ada ruang untuk kejutan yang menarik. Frizzi menuturkan bahwa gubahannya untuk adegan kematian Olga Karlatos yang mengerikan dalam Zombie Flesh Eaters sebenarnya terinspirasi dari kresendo di akhir rekaman lagu A Day in the Life karya The Beatles. Dan sang perintis asli pun masih mempertahankan seleranya: Frizzi menyatakan ia menghormati para komponis horor kontemporer seperti Joseph Bishara (yang menggunakan alat musik eksperimental untuk beberapa soundtrack film, seperti The Conjuring dan Insidious) dan Marco Beltrami (yang membuat soundtrack film-film karya Wes Craven, Scream, seperti halnya Halloween H20).

"Bekerja untuk film-film komedi memang menyenangkan, film thriller memiliki darah dan ketegangan," kata Frizzi. "Tetapi menciptakan musik horor rasanya seperti sebuah hak istimewa."

Anda dapat membaca artikel ini dalam versi bahasa Inggris, What makes a great horror movie soundtrack? di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait