Apakah film pemanasan global 'An Inconvenient sequel' layak ditonton?

al gore

Sekuel film dokumenter tentang perubahan iklim yang dibuat mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Al Gore, memperlihatkan bagaimana membicarakan topik ini merupakan hal yang sulit dilakukan pada saat ini, kata kritikus film Sam Adams.

Bisakah sebuah film muncul tepat waktu dengan kondisi yang saat ini terjadi? Itulah yang dialami film An Inconvenient Sequel: Truth To Power, lanjutan dari film pemenang Oscar, An Inconvenient Truth. Ini mengingat suhu bumi mencatat rekor tertinggi selama tiga tahun terakhir.

Namun, menyaksikan film tersebut membuka ajang Festival Film Sundance di Amerika Serikat, di malam sebelum pelantikan Donald Trump sebagai presiden Amerika, bukanlah pengalaman yang mengenakkan. Rasanya sangat sulit membuat pesan dan semangat yang diutarakan Gore lewat filmnya, akan terwujud menjadi kenyataan. Dalam film, Gore menekankan, "Kita akan menang melawan pemanasan global."

An Inconvenient Sequel yang disutradarai Bonni Cohen dan Jon Shenk menawarkan kembali sejumlah adegan yang membuat film pertamanya dipuji-puji. Adegan tersebut dilengkapi dengan data baru yang mengejutkan dan potongan gambar yang memperlihatkan bagaimana keadaan alam berubah.

Salah satu grafik memperlihatkan proporsi hari dan satu tahun, dilihat dari sejumlah kategori suhunya. Semula grafiknya berbentuk lonceng, yang memperlihatkan bagaimana hari yang dingin dan panas, jumlahnya seimbang. Namun, ketika waktu berlalu loncengnya menjadi miring. Jumlah hari yang lebih panas semakin banyak.

Sundance memang memiliki sejumlah film kuat pada sesi yang ditayangkan pada tengah malam itu. Namun, data yang dihadirkan film ini membuat bulu kuduk berdiri, bahkan lebih mengerikan daripada film horror Babadook.

Sebagai politikus, Gore telah melakukan berbagai cara untuk mengangkat isu pemanasan global. Dia mengkalkulasi 'dosis' harapan dan kekhawatiran yang dimunculkannya di film untuk membuat penonton terkejut melihat apa yang mereka lihat.

Namun, tentunya ada orang yang tak akan tersentuh akan apa yang dibuat Gore. Misalnya presiden Amerika saat ini. Meskipun begitu, pendahulu Trump, Obama, tidak lepas dari kritik. Obama digambarkan mengesampingkan 'kewajibannya' dalam menangani masalah pemanasan global dan "lebih berfokus membasmi ISIS."

Debat panas

Kebijakan penanganan masalah pemanasan global di Amerika, sebenarnya kerap mendapat kendala dari orang dalam sendiri. Presiden Amerika sendiri.

Gore bercerita tentang Dscvr, sebuat satelit yang dibuat pada era kepemimpinan Bill Clinton. Alat ini diharapkan dapat mengambil gambar detail bagaimana iklim di bumi berubah drastis.

Ketika George W Bush menduduki bangku presiden, proyek tersebut dihentikan, sampai perusahaan-perusahaan energi melakukan protes karena mereka sangat bergantung kepada gambar yang disajikan Dscvr terkait dampak dari badai matahari.

Pemerintahan Bush pun kemudian setuju untuk kembali meluncurkan Dscvr. Itu pun setelah alat yang dapat menangkap perubahan iklimnya dicabut.

Dari sekuel ini terlihat bahwa Gore telah membuat barisan advokat lingkungan hidup yang terlihat dari ribuan orang. Mereka ini melakukan presentasi di berbagai penjuru dunia.

Hak atas foto PETER PARKS/Getty Images
Image caption Foto ini diambil pada 8 Desember, 2009 menunjukkan dua orang bdi depan pembangkit batubara di lpinggiran Linfen, provinsi Shanxi, Cina.

Namun, meskipun masyarakat biasa berjuang untuk meyakinkan pemimpin mereka agar lebih peduli terhadap isu lingkungan, tetapi hanya pemimpin-pemimpin itulah yang bisa mengambil keputusan yang berujung perubahan.

Jadi, setelah mengikuti Gore berpetualang di berbagai penjuru dunia, tempat dia mensurvei es yang mencair dan dampaknya hingga menjadi banjir di Miami, film akhirnya berujung pada konferensi iklim di Paris, tahun 2015.

Suasana beberapa minggu sebelum konferensi ini sangat optimistis. Hingga kemudian serangan teroris yang menewaskan 130 orang, terjadi. Namun, di tengah tragedi itu, kita bisa melihat bagaimana berbagai bangsa di dunia akhirnya bersatu, menandatangani kesepakatan untuk mengurangi pemanasan global.

Di sepanjang An Inconvenient Sequel, Gore dengan gaya profesional yang kalem, mengajarkan penonton dengan nada suara yang menenangkan dan kadang membuat mengantuk. Namun, di beberapa bagian, emosi Gore terasa memuncak membuat suasana menjadi lebih tegang.

Gore juga bahkan meminta maaf atas emosinya itu. Namun, emosi janggal yang keluar dari Al Gore itu, disatu sisi memperlihatkan kepada kita bahwa ada saatnya bahwa kita tak harus lagi mengajak orang baik-baik, tetapi terjun langsung berjuang melawan pihak yang salah.

An Inconvenient Sequel nyaris seakan menyucikan Gore; ketika dia berkali-kali mengutarakan bahwa minimnya progres dari pemanasan global karena "kesalahan pribadi", filmnya sendiri tidak memperlihatkan itu.

Dan lebih menarik lagi, tokoh paling penting dalam film ini bukanlah Al Gore, tetapi Wali Kota Georgetown, Texas, sebuah kota kecil yang berusaha mengubah energi di kotanya menjadi energi terbarukan.

Wali kota konservatif dari Partai Republik ini terpilih memimpin kota "paling merah" di negara bagian paling merah pula. Dia percaya manusia harus meninggalkan dunia dengan situasi lebih baik dibandingkan ketika dia lahir di dunia.

Sebuah kota kecil di Texas bukanlah tempat di mana kita mengharapkan terjadinya perubahan terkait masa depan planet. Namun, dengan berbagai hal unik yang terjadi di dunia belakangan ini, angin segar pun bisa berasal dari mana saja, dari tempat tak terduga.

Anda bisa membaca artikel aslinya dalam Film review is al gores an inconvenient sequel worthwhile atau artikel lalin dalam BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait