Mengapa karya Jane Austen masih sangat relevan di era Tinder

jane austen tinder Hak atas foto Christopher Furlong/Getty Images

Jangan mengira novel Jane Austen adalah satire yang hanya berlaku di era lampau. Dari bagaimana para tokoh di novel-novelnya memainkan 'sistem' sesuai kehendak mereka untuk menikah berdasarkan cinta, alur dan sarannya, masih sangat berguna sekarang ini.

Jane Austen memiliki alasan yang bagus untuk begitu terpikat dengan alur perkawinan. Sederhananya, perkawinan adalah sesuatu yang sangat agung di awal abad ke-19 di Inggris -jauh lebih agung untuk kebanyakan kita saat ini. Dengan perceraian yang hampir tidak mungkin, pasangan yang dipilih tergesa-gesa harus dibayar dengan penderitaan puluhan tahun.

Tuan Bennet di Pride and Prejudice, misalnya sangat 'terpukau oleh kecantikan yang penuh kemudaan' sehingga dibutakan oleh calon istrinya yang berwatak kurang menarik. Lima anak perempuan kemudian, dia terjebak dengan obrolan kosong dengan istrinya di seberang meja makan.

Bagi seorang perempuan, keliru menerima lamaran (dan selalu tentang menerima lamaran dan bukan mengajukan lamaran atau melamar) dapat lebih parah. Tidak dapat jadi ahli waris dan dihadapkan pada tantangan yang menggunung jika mereka berusaha mencari nafkah sendiri, perempuan kelas menengah di era Regency - bahkan yang beruntung mendapat mahar yang tinggi - harus menyerahkan kendali keuangan, sosial dan emosional mereka ke suami mereka.

Sebagai lajang, perempuan memiliki sedikit hak-hak tertentu. Namun begitu menikah, mereka lenyap sama sekali di muka hukum, menjadi barang milik dan bukan individu bebas. Seorang lajang tua, sementara itu, bergantung selamanya kepada kebaikan kerabat (laki-laki).

Jika seorang debutan- perempuan kaya yang memasuki usia dewasa memulai debutnya keluar ke masyarakat - mengabdikan diri untuk berburu suami dengan mengesampingkan semua hal lain, itu karena ini adalah satu tembakan mereka untuk mengarahkan takdir mereka sendiri. Mengutip Mary Crawford di Mansfield Park, perkawinan adalah 'sebuah bisnis manuver.'

Namun meski kita mungkin menggeleng-gelengkan kepala atas pengabaian hak perempuan dan kagum akan keanehan dunia karena berpacaran saat itu hanya sebatas seorang laki-laki mengambil tangan perempuan di lantai dansa - dengan lapisan sarung tangan untuk memisahkan telapak tangan mereka yang berkeringat - kesamaan kencan saat itu dan sekarang berlimpah-limpah. Aturannya mungkin tidak sejelas itu saat ini, tetap saja, mengejar pasangan di era acara televisi Love Island tetap terbelah oleh banyak keangkuhan, sinisme, dan prasangka yang sama yang beredar di Netherfield Ball, pesta dansa di novel Pride and Prejudice Jane Austen.

Hak atas foto Christopher Furlong/Getty Images
Image caption Meski banyak aspek dari hubungan di era Regency terlihat aneh saat ini, ternyata, ini mengejutkan, banyak yang juga mirip.

Aturan asmara

Pertama, perempuan di novel-novel Austen menikah muda. Di antara Bennet bersaudara, Lydia menikah di usia 16 dan Nyonya Bennet baru membicarakan kekuatan Jane untuk mendapatkan tatapan yang layak pada usia 15 tahun. Catherine Morland, bersama dengan Dashwood bersaudara di Sense and Sensibility dan Fanny Price di Mansfield Park, semua bertunangan saat remaja. Di Pride and Prejudice, Charlotte Lucas secara umum dianggap tua dan 'lewat masanya' pada usia 27.

Anggapan bahwa daya pikat perempuan memiliki tanggal kedaluwarsa telah terbukti sulit diguncang. Saat ini usia 'kadaluwarsa' itu kemungkinan 37 - namun tetap saja ada 'batas,' dikaitkan dengan setidaknya menurunnya kesuburan.

Sementara Emma Woodhouse dan Marianne Dashwood menikahi pria yang hampir dua dekade lebih tua dari mereka, di semua novel Austen hanya ada satu perkawinan yang mempelai wanitanya lebih tua dari mempelai pria - Charlotte Lucas, yang berjarak dua tahun dari Tuan Collins. (Ini meskipun faktanya, berdasarkan observasi John Mullan, professor di UCL, tiga dari saudara laki-laki Austen menikahi perempuan lebih tua.)

Hak atas foto Dan Kitwood/Getty Images
Image caption Para tokoh di novel-novelnya memainkan 'sistem' sesuai kehendak mereka untuk menikah berdasarkan cinta, alur dan sarannya, masih sangat berguna sekarang ini.

Ada juga aspek yang sangat umum dalam urusan kencan. Pasangan yang tidak menikah tidak akan pernah diijinkan untuk menghabiskan waktu bersama jika tidak dikawal. Bahkan menulis surat kepada orang berlainan jenis tidak akan disetujui kecuali sudah bertunangan.

Sekarang ini, di era pamer media sosial dan acara realitas di TV, kita dengan rela menyerahkan hak kita untuk melakukan apa yang seharusnya menjadi area pribadi dalam berpacaran. Kencan digital mendorong kita untuk mengiklankan diri kita dan mengumumkan atribut pasangan ideal kita. Mungkin obsesi aset keuangan yang menjadi bahan perbincangan di ruang-ruang tamu Regency terlihat mengobyekkan laki-laki dan perempuan. Namun dalam deretan wajah (dan harapan dan gairah) tak ada yang mendorong kita untuk menggerakkan pilihan kita melalui telepon.

Demikian pula, tidak ada intervensi dari sosok seperti tokoh utama perempuan epik Emma dapat 'mengagitasi' pencarian cinta sampai tingkat aplikasi seperti Coffee Meets Bagel.

Aplikasi-aplikasi ini juga menekankan aspek lain dari berkencan yang mungkin terdengar akrab bagi Austen. Algoritme aplikasi itu semakin mengkotak-kotakkan pengguna untuk memastikan mereka hanya akan melihat prospektif kencan dalam 'deretan' mereka. Uang di bank dan luas tanah mungkin tak lagi menjadi faktor yang jelas-jelas dalam menentukan posisi - namun popularitas dan daya tarik menjadi penilai.

Sementara itu, keangkuhan tradisional terus berlangsung. Selain para pelayan mereka, karakter Austen jarang bertemu dengan orang dari kalangan bawah, dan Hukum Perkawinan pada 1753 melarang perkawinan antar kelas sosial. Elizabeth Bennet berhasil naik level saat menikahi Darcy, namun itu menjadi perkawinan antar kelas yang paling radikal yang dapat terjadi.

Saat ini, karena kita hidup di masyarakat yang egaliter untuk masalah uang, berapa banyak orang menikah di luar kerangka sosioekonomi mereka? Jika hal itu memang terjadi, itu jalan satu arah: seorang pria akan menikah dengan yang lebih kaya namun seorang perempuan enggan untuk berkencan dengan yang lebih miskin. Salah satu alasan yang paling sering dikutip akan semakin meningkatnya jumlah perempuan lulusan universitas yang lajang adalah jumlahnya melebihi pria dan tidak mau mempertimbangkan pasangan dengan rekam jejak akademis yang inferior.

Jalur lajang

Kita juga harus mempertimbangkan orang-orang yang sudah bosan berkencan. Betapa mudahnya menjadi lajang saat ini dibandingkan di masa Jane Austen?

Di sini di Barat, jumlah perempuan lajang dengan cepat bertambah. Perempuan itu mungkin saja memiliki properti dan mengikuti jalur karir yang dipilihnya. Namun tirani keberduaan tetap ada. Seperti di buku Kate Bolicks pada 2015 Spinster yang menjelaskan dengan begitu artikulatifnya, masyarakat tetap memandang aneh wanita lajang. Diduga - seperti ucapan yang sangat terkenal dari Tuan Darcy - bahwa anda ingin dan memang butuh menikah. Perempuan dan laki-laki lajang sama-sama mengalami prasangka saat melakukan apapun, mulai dari merencanakan liburan hingga mengisi formulir pengembalian pajak mereka.

Hak atas foto Christopher Furlong/Getty Images
Image caption Di awal novel Pride and Prejudice, kelima Bennet bersaudari semuanya lajang - masalah yang dianggap cukup besar untuk memulai alur cerita.

Jadi meskipun peraturannya telah berubah, permainannya pada dasarnya tetap sama. Jika ini membuat anda merasa sedih, ingatlah bahwa pada akhirnya, Austen menyarankan untuk menikah berdasarkan cinta. Itulah gerakan yang selalu diutarakan di semua novelnya. Itu juga menekankan apa yang selalu diketahui para pecinta Austen: anda tidak akan salah melangkah jika anda menanyakan diri anda "Apa yang akan dilakukan Lizzie Bennet?"

Jika anda tetap merasa skeptis, pertimbangkanlah kasus Devoney Looser, penulis The Making of Jane Austen. Kehidupan percintaan Looser sendiri sangat dibentuk oleh Austen saat dia bertemu suaminya selama 20 tahun setelah beradu pendapat tentang Mansfield Park. "Saya kira anda dapat belajar banyak hal tentang kencan dari pandangan para tokoh di karya-karya Austen. Itu menjadi seperti jendela nilai atau keinginan masing-masing, membuat anda mengetahui karakter teman kencan anda melalui karakter-karakter dan adegan-adegan Austen," katanya.

Hak atas foto Christopher Furlong/Getty Images
Image caption "Tokoh pahlawan perempuan Austen tidak pernah puas. Mereka tidak mengijinkan orang tua mereka mendikte pilihan pasangan mereka," kata Devoney Looser.

"Namun meski teman kencan anda belum pernah membaca Austen, alurnya dapat berguna dalam situasi hubungan kontemporer. Tokoh perempuan Austen tidak pernah puas. Mereka tidak mengijinkan orang tua mereka mendikte pilihan pasangan mereka. Mereka tidak membiarkan teman-teman yang keliru dan hanya mementingkan diri sendiri mempengaruhi pilihan romantik mereka. Para tokohnya tidak pernah tercela dalam menghargai perempuan trkait kekuatan pikirannya atau kekuatan wataknya. Pasangan tokoh-tokoh Austen adalah yang paling setara dalam hubungan yang bisa anda temui pada sastra di masanya.

Perkawinan mungkin terlihat sangat jauh berbeda di abad ke-21 dibandingkan di abad ke-18 — dan syukurlah — namun jalan yang cenderung mengarah ke kebahagiaan romantis yang lebih besar masih menjadi hal yang penting bagi visi fiksi Austen."

Dan lagi, dibaca dengan aman beberapa abad kemudian, ada dimensi tambahan atas keasyikan yang kita temukan dalam novel-novel Austen: kenyamanan. Seperti olahraga, berburu suami juga memiliki peraturan. Tanya siapapun yang pernah dikejar-kejar oleh teman kencan yang didapat dari Tinder dan mereka kemungkinkan akan mengatakan bahwa ada sesuatu yang cukup memberikan jaminan dalam gagasan tentang ketentuan yang disusun begitu terang.


Anda dapat membaca versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris yang berjudul Why we should listen to Jane Austen in the age of Tinderdi BBC Culture

Berita terkait