Lady Gaga dan film dokumenternya yang manipulatif

Gaga

Megabintang Lady Gaga baru saja meluncurkan sebuah film dokumenter yang diklaim menceritakan siapa dia 'sebenarnya'. Kritikus film Caryn James membahas dokumenter ini.

Di film ini terlihat bahwa nenek Lady Gaga adalah satu-satunya orang yang membela, mengorbankan hidupnya untuk Gaga. Itu adalah salah satu dari beberapa hal menarik yang terungkap tanpa sengaja dari dokumenter berjudul Gaga: Five Foot Two, yang disebut mengupas tuntas siapa Gaga sebenarnya.

Meskipun begitu, tetap ada materi-materi yang sengaja dimunculkan pada dokumenter dengan gaya Gaga yang langsung bertutur menghadap kamera ini. Mulai dari hal-hal bersifat pribadi, hingga perannya sebagai seorang penyihir dalam serial American Horror Story.

Saat bertutur, Gaga berkali-kali menyatakan bahwa masyarakat cenderung merasa terancam dengan perempuan kuat, sehingga perempuan tersebut harus menahan diri, membuat orang lain yang mengontrol hidup mereka. Dengan mondar-mandir di rumahnya tanpa mengenakan make-up dan sambil memberi makan anjing, Gaga menegaskan dia tidak akan pernah menoleransi laki-laki yang menganggap remeh perempuan.

Pesan film ini tentulah menarik, tapi bagaimana kita bisa mengenal filosofi hidup Gaga secara jauh lebih mendalam, ternyata lebih menarik. Di film ini kita melihat Gaga tumbuh sebagai seniman serius dan contoh bagi kesetaraan, bukan melulu sebagai artis yang sibuk bergaya mentereng, yang sering tampil dengan menonjolkan bagian-bagian tubuhnya.

Gaya bicaranya yang kasar dan blak-blakkan membuat film ini berjalan cepat dan menghibur. Five Foot Two sendiri disyuting saat Gaga sedang sibuk membuat album Joanne, yang dirilis tahun lalu. Dia terlihat bernyanyi di studio bersama teman sekaligus produsernya, Mark Ronson, merekam lagu yang sekarang kita kenal sebagai Million Reasons.

Menariknya, sangat sedikit musik yang diperdengarkan di film. Kita justru lebih banyak melihat kehidupan Gaga lewat sesi pemotretan dan berbagai pemeriksaan di ruang dokter, yang memperlihatkan adegan-adegan yang menyesakkan dada.

Image caption Film dokumenter Lady Gaga ini mendapat ulasan cukup bagus di situs Rotten Tomatoes dengan rating 72%

Gaga kerap bercerita tentang sakit yang kerap dirasakannya akibat patah pinggang beberapa waktu lalu. Kita melihatnya menangis di sofa ketika sakit menjalar dari kepala hingga ke ujung kakinya. Kita juga mendengar Gaga menelpon temannya, berbicara soal kesepian. "Pagi-siang hari orang-orang ingin menyentuh saya, berbicara dengan saya, dan di malam hari, kamu bisa dengar sendiri, semuanya hening, tak ada lagi yang peduli," katanya.

Monster bernama ketenaran

Film ini juga menggambarkan betapa popularitas ternyata memberikan efek buruk, melelahkan bagi Gaga. Dia selalu harus tampil dengan make-up dan rambut ditata. Harus ada orang yang menjaganya, mendorongnya, atau menariknya agar tidak diganggu penggemar. Gaga juga sempat curhat kepada teman-temannya bagaimana karirnya telah membuat Gaga mengorbankan kehidupan asmara. Meski apapun yang ditampilkan di film ini adalah bagian hidup Gaga yang sudah dipilah-pilih, tapi kita tidak bisa menampik betapa jujurnya emosi Gaga di setiap adegan.

Seperti yang diketahui jutaan penggemar Gaga, album Joanne, terinspirasi dari saudari ayah Gaga, yang wafat pada tahun 1970an di usia 19 tahun. Gaga menyebut, kematian bibinya ini mengubah kehidupan keluarga mereka. Album Joanne disebut Gaga ditulisnya dengan sangat pribadi.

Ini terasa ketika Gaga dan ayahnya mengunjungi nenek, Ibu Joanne. Duduk di apartemen sederhana neneknya, Gaga memutar rekaman lagu Joanne di telepon pintarnya. Gaga dan ayahnya bercucur air mata. Namun, sang nenek tampak tegar, tidak menangis sedikit pun. Jelas, dia sangat mengagumi cucunya itu, tetapi si nenek mengingatkan agar Gaga "tidak cengeng". Tidak ada lagi figur yang tampil di film yang memberikan peringatan semasuk akal itu.

Image caption Caryn James menilai film ini masih menuruti bagaimana gambaran kehidupan pribadi yang ingin diperlihatkan Gaga.

Sutradara Chris Moukarbel, yang pernah membuat Me at the Zoo, menggunakan hasil suntingan banyak potongan gambar kehidupan Gaga, membuatnya seakan seperti kehidupan sehari-hari. Moukarbel sangat piawai sehingga membuat kita lupa bahwa film ini hanya menceritakan hal-hal yang ingin Gaga tuturkan.

Meskipun begitu, manipulasi yang dilakukan Gaga tidak bertentangan dengan pesan penting tentang penerimaan diri yang ingin dituturkannya.

★★★☆☆

Anda bisa membaca artikel ini dalam Bahasa Inggris, dengan judul Lady Gaga's 'endless navel-gazing' di BBC Culture.

Berita terkait