Mixtape: budaya kaset yang membangkitkan nostalgia

mixtape Hak atas foto Getty Images

Mengapa kaset membangkitkan nostalgia yang begitu kuat? Penyair dan novelis Lavinia Greenlaw memutar kembali pita kaset untuk merenungkannya.

Saya adalah tipe remaja yang bersikeras untuk menguasai alat pemutar musik (record player). Jika teman-teman datang, maka saya akan memaksa mereka mendengarkan musik ini, ini, dan ini dan ini.

Setelah memilih satu lagu, saya tidak sabar untuk memainkan lagu berikutnya dan akan menarik jarum dari plat piringan hitam dan memposisikannya di lagu yang lain.

Sebuah mixtape (kumpulan koleksi musik terpilih yang disalin ke media perekam kaset) meniru pengalaman ini.

Mixtape adalah tentang seseorang yang mencintai musik dan menginginkan orang lain untuk mencintai musik yang sama, dan dengan harapan mencintai si pembuat mixtape.

Kaset kumpulan lagu ini seperti koleksi model pesawat terbang atau boneka porselen yang menyatakan, "Inilah diri saya dan apa yang saya ketahui dan apa yang bisa saya tunjukkan kepada Anda."

Anda bisa memperkirakan bahwa ketika saya menyebut record player maka masa remaja saya sudah berlalu lama. Masa muda saya membentang mulai akhir 1970-an dan awal tahun 1980-an, saat mixtape tengah populer-populernya.

Piringan hitam sangat mahal pada saat itu dan sering kali sulit didapat, dan jika kami memiliki akses ke alat pemutar kaset double deck, maka kami akan membuat salinan dari lagu-lagu dalam piringan hitam untuk dibagikan.

Pemutar kaset portabel - boom box versi awal - memungkinkan untuk membawa musik ke mana saja kita pergi - jika ada kaset di alat tersebut.

Tiba-tiba saya mendapat kesempatan untuk mengubah aturan yang sudah disusun.

Alih-alih memasang album dan mendengarkan langsung dari awal sampai selesai, atau melompat-lompat berganti lagu, saya bisa mengatur urutan lagu persis seperti yang saya inginkan.

Prosesnya tidak sederhana dan tidak mulus. Ada input dan output dan level yang harus disesuaikan. Saya harus memastikan kabel terpasang di colokan yang tepat, tekan RECORD dan PLAY lalu PAUSE agar kasetnya siap, putar rekaman di alat pemutar rekaman, jatuhkan jarum, lalu segera lepaskan PAUSE.

Di akhir lagu, saya harus berhenti lagi dan menyiapkan lagu berikutnya. Di mixtape ada banyak awal yang tidak mulus, akhir lagu yang berhenti mendadak dan bunyi tombol-tombol yang ditekan.

Hak atas foto Leandroid/Flickr/CC BY 2.0)
Image caption Mixtape bisa membangkitkan nostalgia akan kenangan yang telah lalu

Mixtape yang ideal juga harus memberi pesan bahwa, "Saya tahu siapa Anda dan apa yang Anda sukai dan saya memperhatikannya."

Pilihan lagu Anda seharusnya memberi penerima mixtape sesuatu yang mereka kenali.

Jika mereka penggemar Rolling Stones, Anda mungkin ingin menambahkan beberapa blues oleh Lightnin 'Hopkins atau John Lee Hooker.

Jika mereka menyukai Amy Winehouse, Anda mungkin menawarkan penyanyi gospel dan soul seperti Bessie Banks, yang mungkin menyanyikan Go Now, dan menceritakan bahwa ini adalah versi asli dan terbaik, bukan versi hit yang dilakukan oleh The Moody Blues.

Mixtape bisa disesuaikan dengan kesempatan atau waktu tertentu: untuk berdansa, ketika sedang mengemudi, atau mendengarkan dengan santai.

Atau mungkin bisa menjadi lagu latar perjalanan sepanjang malam, diawali oleh lagu Red Lipstick-nya Rihanna dan lagu Grove is in the Heart milik Deee-Lite, sampai ke Night Bus dari Burial.

Mixtape bisa jadi musiman. Siapa yang akan mendengarkan Summer Breeze milik the Isley Brothers pada bulan November? Pada bulan itu, jika sepertinya Anda justru ingin mendengar lagu-lagu melankolis, mungkin bisa mendengar lagu Skeches of Spain milik Miles Davis.

Kunci yang kaya

Kartu yang dimasukkan ke dalam kotak kaset adalah kunci visual mixtape.

Ada berbagai keputusan yang harus diambil tentang daftar mixtape itu, apakah diketik, tulis dengan tangan, dengan kliping surat kabar, atau tidak perlu mengatakan apa-apa, cukup gambar kertas tersebut, tempelkan dan bakar...Penyisipan ini mungkin dijejali dengan detail: dari sisi waktu, produser, musisi unggulan - atau mungkin hanya bertuliskan Dance atau New Wave.

Kaset, seperti rekaman piringan hitam, bisa aus. Pita kaset akan mengendur dan kusut ketika dipasang dan Anda harus menggunakan pensil untuk merapikannya kembali.

Dan, jelas terlihat bahwa kaset-kaset ini sudah berumur. Selama bertahun-tahun saya menyimpan kotak-kotak kaset kosong.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Mixtape yang ideal juga harus memberi pesan bahwa, "Saya tahu siapa Anda dan apa yang Anda sukai dan apa saya pikirkan tentang itu."

Mixtape pertama yang saya buat bukanlah kumpulan dari berbagai lagu, tapi salinan album langsung dengan beberapa lagu yang ikut terekam di bagian akhirnya untuk mengisi ruang.

Saat itulah saya mulai mengeksplorasi pengaruh dan sejarah di balik ketertarikan untuk menciptakan sesuatu yang bernuansa. Saat itu, menjadi eklektik adalah hal yang penting, dan memilih lagu-lagu yang akan menyenangkan bagi penikmatnya.

Jadi Anda bisa memasukkan sesuatu dari Missa Luba, lagu Kongo yang digunakan dalam film Lindsay Anderson, If, tentang sekolah asrama anak laki-laki, dan diikuti dengan lagu School's Out milik Alice Cooper.

Kemudian Anda akan membuat tautan ke Pasifik Selatan yang penuh musik, atau beberapa campuran jazz yang membuatnya jadi ironis.

Hal ini mengesankan seolah-olah mixtape lebih tentang orang yang membuatnya daripada penerima dan, maaf untuk mengatakan bahwa dalam kasus saya, memang itulah yang terjadi.

Sepuluh tahun yang lalu saya masih membuat mixtape yang merupakan versi "Dengarkan ini dan dengarkan ini." Tidakkah saya sadar bahwa orang yang saya beri mixtape ini tidak tertarik dengan jazz atau bahwa dia belum pernah pergi ke disko?

Hak atas foto Getty Images
Image caption Anda dapat menggabungkan lagu Ella Fitzgerald dengan Soul II Soul diikuti oleh The Jam dan dalam mixtape anda

Saya memiliki lagu favorit, yang biasanya akan selalu saya masukkan dalam mixtape Yoo Doo Right oleh band rock avant-garde tahun 70-an, Can.

Ini adalah lagu psychedelic sepanjang 22 menit, dan ini seperti memberi tahu seseorang dengan sangat rinci tentang mimpi Anda yang paling membosankan.

Dan ini tidak benar-benar membantu keinginan Anda.

Rewind

Ada mixtape yang pernah saya putar sampai rusak tapi membantu mendeskripsikan memori akan waktu dan tempat.

Suatu ketika, saat hidup saya tiba-tiba berubah, saya mendorong diri saya untuk melalui semuanya dengan rekaman lagu-lagu rock yang sekarang tidak ingin saya dengarkan lagi: U2, Santana, Simple Minds.

Ada mixtape yang saya buat untuk menemani ketika saya berkendara sejak 25 tahun lalu sampai sekarang.

Dan setiap kali berkendara sepanjang Sungai Thames, saya langsung teringat Soul II Soul diikuti oleh The Jam dan Ella Fitzgerald.

Susunan lagu yang aneh itu tetap ada dalam ingatan saya karena mixtape yang saya dengarkan.

Hak atas foto Henry/Flickr/CC BY 2.0
Image caption Kartu yang dimasukkan ke dalam kotak kaset adalah kunci visual rekaman itu.

Terakhir kali saya membuat mixtape adalah beberapa minggu lalu.

Saya mengendarai mobil dengan tiga saudara saya dalam sebuah perjalanan untuk menyebarkan abu ayah kami.

Kami belum pernah bersama seperti itu selama bertahun-tahun dan tentu saja, pengalaman tersebut membuat saya merasa menjadi remaja lagi.

Dulu, saudara laki-laki saya dan saya berbeda dari selera musik: seorang hippy dan seorang punk.

Sekarang, kami berada di belakang mobil untuk berbagi sepasang headphone saat saya membuat campuran di telepon saya, menggunakan fitur 'Play Next' seperti yang pernah saya lakukan dengan menyusun single.

Dia mengenali setiap lagu yang saya mainkan - "Bob!" Lou! "" Joni! "- dan terkejut saat mengetahui bahwa petualangan saya dalam musik telah membawa saya ke musik-musik yang juga dia sukai.

Saya tidak merindukan kesulitan yang harus saya hadapi dalam menemukan dan mendengar musik di masa lalu. Menyenangkan rasanya bisa memikirkan lagu dan kemudian mendengarkannya begitu saja.

Tapi mixtape adalah bentuk komunikasi yang terbatas dan individual.

Seperti mengingat kembali versi ringan dari sebuah pengalaman.

Sekarang kita tidak punya, atau butuh, pemutar kaset.

Kita bisa mengatur playlist sepanjang apapun dan bisa terus menyusunnya. Jadi mengapa ide akan mixtape bertahan?

Mungkin karena di dunia di mana mencari pilihan musik semakin mudah, ada kesenangan saat orang lain memilih untuk Anda, saat Anda tidak bisa ikut memutuskan apa lagu berikutnya yang akan dipasang, dan bahwa Anda dipaksa untuk mendengarkannya.

Lebih penting lagi, ada kesenangan mengetahui bahwa susunan ini dibuat hanya untuk Anda.

Mixtape adalah titik pertemuan unik antara dua orang - seperti sebuah surat atau tarian. Ini tetap merupakan cara terbaik untuk membiarkan musik menyampaikan perasaan Anda.

Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di The joy of mixtapes di laman BBC Culture

Berita terkait