Thor: Ragnarok mungkin saja adalah film Marvel terbaik

Thor Hak atas foto Marvel Studios
Image caption Di film ketiganya, Thor diperlihatkan sebagai tokoh yang asyik diajak nongkrong selama dua jam.

Kisah terbaru sang dewa petir ini merupakan "petualangan antargalaksi yang ceria", dan tak diragukan lagi, merupakan film terbaik Marvel sejauh ini, tulis Nicholas Barber.

Jika dilihat dari pendapatan box-office, Thor (Chris Hemsworth), adalah salah satu tokoh paling tidak populer di jajaran jagoan super sinematik Marvel.

Tentu saja, ini relatif. Dua film pertama sang Dewa Petir masing-masing meraup $200 juta (Rp2,7 triliun), jadi tidak bisa disebut gagal juga.

Namun dibandingkan rekan-rekannya dalam Avengers, Thor tidak terlalu mencolok. Bahkan dalam filmnya sendiri, ia selalu hampir kalah pamor dari saudara tiri dan musuh bebuyutannya, Loki.

Thor: Ragnarok mengubah semua itu. Tidak diragukan lagi, film ini adalah yang terbaik di antara tiga film Thor yang sudah-sudah.

Dibandingkan dua film sebelumnya, Ragnarok lebih percaya diri, berwarna, dan memikat. Adegan berkelahinya pun lebih menyatu dan efek digitalnya lebih hebat dari para pendahulunya.

Dan meski membawa sang jagoan ke tempat-tempat baru, film ini tetap menghormati komik yang menjadi akarnya: si Dewa Petir selalu menyebut dirinya "The Mighty Thor", seperti judul komiknya.

Selain itu sekuel, atau trikuel, ini menunjukkan tokoh utamanya sebagai orang yang asyik diajak nongkrong selama dua jam.

Ia tak peduli dengan debat geopolitik atau kegelisahan pribadi Iron Man dan Captain America. Kali ini, Thor adalah cowok kekar yang begitu percaya diri bahwa dia begitu heroik, walaupun terus-terusan membuat kesalahan konyol.

Kapanpun Thor berkhotbah tentang misi sucinya yang penting, Anda bisa memastikan ia akan jadi bahan tertawaan tak lama kemudian - dan Hemsworth mau-mau saja menjadi badut dalam film ini, seperti yang ia lakukan dalam film remake Ghostbusters tahun lalu.

Gaya penceritaan yang kocak ini mungkin berkat sang sutradara, Taika Waititi, seorang spesialis komedi dari Selandia Baru yang sebelumnya membuat film dokumenter bohongan tentang vampir, What We Do in the Shadows.

Dengan tangan dinginnya, Thor: Ragnarok, menjadi begitu mbeling sehingga hampir-hampir bisa disebut sebagai parodi.

Hak atas foto Disney/Marvel Studios
Image caption Sutradara Taika Waititi (kiri) dan Jeff Goldblum sebagai The Grandmaster.

Bahkan, daripada film Thor sebelumnya, Ragnarok lebih mirip film Guardians of the Galaxy: petualangan antargalaksi yang dipenuhi alien dalam berbagai wujud - sang sutradara sendiri tampil sebagai raksasa batu berperangai lemah lembut.

Dan seperti Guardians of the Galaxy, film ini menyajikan gambaran ruang angkasa yang tidak jauh berbeda dengan lantai dansa yang gemerlapan.

Beberapa adegan di awal film berlatar planet Bumi, karena Thor dan Loki perlu mengunjungi Doctor Strange (Benedict Cumberbatch).

Tapi setelah itu, aksinya melompat-lompat dari satu planet ke planet lain sehingga pengalaman menonton film ini terasa seperti membolak-balik halaman komik. Mantan pacar Thor, Jane (Natalie Portman) maupun tokoh pendukungnya di Bumi sama sekali tidak muncul.

Terbebas dari para 'manusia biasa' dan persoalan mereka sehari-hari, film ini menggali banyak leluconnya dari ide bahwa dewa Norwegia yang mengenakan jubah dan menenteng palu sebenarnya biasa-biasa saja, dibandingkan deretan makhluk aneh yang ia temui dalam perjalanannya.

Tapi Ragnarok tidak sepenuhnya main-main.

Ayah Thor, Odin (Anthony Hopkins), hilang, dan kampung halamannya Asgard ditaklukan oleh Hela (Cate Blanchett), sang Dewi Kematian.

Ia memang bukan tokoh antagonis yang paling kompleks, tapi ia terlihat begitu keren dengan kostum terusannya dan perhiasan kepala yang berbentuk seperti lampu gantung.

Dan Blanchett tampak sangat menikmati perannya sebagai aristokrat yang bosan, malas, dan berbicara dalam logat Inggris. Jika Loki merupakan tokoh antagonis paling berkesan dalam film Marvel sejauh ini, Hela setidaknya bisa menjadi saingannya.

Tentu saja Thor bertugas untuk menyelamatkan kerajaannya. Masalahnya, ia terdampar di planet terpencil yang dikuasai seorang pesolek mahakuasa bernama The Grandmaster.

Diperankan Jeff Goldblum dengan segala keeksentrikan khasnya, sambil mengenakan kostum penyihir warna emas yang bahkan terlalu norak bagi Elton John di tahun 1970-an, The Grandmaster memaksa Thor ikut serta dalam pertarungan gladiator.

Untungnya, sang Dewa Petir bertemu dua orang yang mungkin bisa membantunya kembali ke Asgard: pendekar misterius Valkyrie (Tessa Thompson) dan teman lamanya Hulk (Mark Ruffalo).

Ragnarok ialah film blockbuster Marvel yang paling cerdas dan asyik.

Skenario yang ditulis Eric Pearson, Craig Kyle, dan Christopher Yost memberikan setiap tokoh peran yang cukup dan dialog yang lucu; dan ketika semua benangnya diikat dalam adegan final yang epik, bahkan para penonton yang skeptis pada konsep jagoan super pun akan tersenyum.

Satu-satunya kelemahan ialah film ini terlalu boros dan ngawur sehingga bisa membuat Anda merasa sedang menonton sebuah episode komedi situasi yang terlalu mahal.

Sepanjang sebagian besar durasi tayangnya, para tokoh bersenda gurau dan bercekcok di planet Grandmaster yang gemerlap, dan terasa sangat jauh - secara emosi dan geografi - dari peristiwa di Asgard, apalagi di Bumi.

Secara teori, nasib alam semesta sedang dipertaruhkan. Tapi dalam praktiknya, Anda lebih peduli dengan gaya rambut baru Thor daripada rezim teror Hela.

Sebagian masalahnya ialah Thor: Ragnarok terasa terlalu familiar sehingga tidak mendebarkan.

Ini mungkin deskripsi yang aneh bagi komedi sci-fi psikedelik tentang petualangan dewa Viking di sudut terjauh kosmos, tapi pada intinya film ini menyajikan apa yang sudah Anda duga dari film-film Marvel: alien, kota yang hancur oleh penjahat, pertarungan antar jagoan, dan sebagainya.

Mungkin persoalan utamanya ialah film superhero telah kehilangan daya tariknya. Tapi jika Thor: Ragnarok dijadikan sebagai acuan, setidaknya film superhero masih asyik untuk ditonton.

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris resensi ini, Thor: Ragnarok is Marvel's best yet, di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait