Mengapa Bollywood terobsesi membuat film tentang perjuangan kemerdekaan?

foto Hak atas foto MEHBOOB PRODUCTIONS

Perjuangan untuk meraih kemerdekaan adalah tema yang sangat sering diangkat dunia perfilman India, bahkan sejak era kolonialisme.

Tepat pada 15 Agustus 2017, India akan merayakan 70 tahun kemerdekaannya, momen yang tentunya sangat bersejarah, setelah negara itu dijajah Inggris selama 200 tahun. Selama tujuh dekade terakhir pula, industri perfilman India, Bollywood, telah menuturkan cerita heroisme, perjuangan anak negerinya tersebut di layar lebar. Mulai dari kisah tentang para pahlawan kemerdekaan, pergerakan gerilya yang dipenuhi pertumpahan darah, dan bagaimana kehidupan warga saat dijajah.

India meraih kemerdekaannya setelah Inggris menyerahkan kembali kekuasaan ke negara di Asia Selatan itu. Sejumlah perjuangan terjadi, melahirkan berbagai karakter dan cerita yang menginspirasi dan berpotensi difilmkan.

Misalnya film yang dipuji-puji kritikus dan sukses secara komersial, Shaheed, yang dirilis pada 1965 silam. Biopik yang dibintangi Manoj Kumar itu berkisah tentang Shaheed Bhagat Singh, pejuang kemerdekaan India yang dihukum mati oleh Inggris pada 1931, saat dia masih berusia 23 tahun. Kala itu, perjuangan rakyat meraih kemerdekaan dinilai pasif. Shaheed menolak diam dan memutuskan untuk melawan tiran: Inggris. Sejauh ini sudah ada tiga film tentang kehidupan Shaheed. Terakhir diluncurkan pada tahun 2002.

Image caption Raja Harischandra, yang dibuat tahun 1913, disebut sebagai film panjang India pertama.

Jika kita gali lebih dalam ternyata tidak banyak yang tahu bahwa film panjang pertama yang dibuat India pada tahun 1913, Raja Harishchandra, adalah sebuah kiasan tentang penjajahan. Profesor pendidikan budaya dari Universitas Birmingham, Rajinder Dudrah, menyatakan film tersebut "berkisah tentang seorang raja yang jatuh pada jeratan bujuk rayu seorang lelaki suci. Lelaki suci yang semula tampak baik itu, ternyata perlahan merebut tanah dan harta kekayaan si raja. Si lelaki suci kerap dianggap penonton sebagai gambaran dari kolonial Inggris, sedangan si Raja adalah India."

Film ini menjadi contoh pertama bagaimana dunia perfilman India mencurahkan pemikiran mereka tentang penjajahan Inggris, melalui kiasan dan metafora, agar film tersebut lulus sensor oleh pemerintahan Inggris dan bisa disaksikan banyak orang.

Hak atas foto Mehboob Productions
Image caption Mother India kerap disebut sebagai Gone with the Wind-nya India.

Meskipun telah merdeka, film-film India pada tahun 1950an dan 1960an terus mengikuti jejak Raja Harishchandra. "Selalu ada saja film yang menjadikan penjajahan Inggris dan kemerdekaan India sebagai referensi," kata Dudrah. "Misalnya contoh yang sederhana saja, pada film India kerap ada karakter penjahat, misalnya para tuan tanah yang menyiksa orang miskin. Para penjahat ini kerap menggunakan sepatu boot berbahan kulit dan kerap diceritakan gemar berburu, mirip dengan deskripsi kehadiran Inggris di India," tutur Dudrah.

Peralihan ke era digital

Pada tahun 1957 sineas legendaris Mehboob Khan melahirkan film blockbuster Mother India, sebuah karya klasik yang menguras air mata. Film ini berkisah tentang seorang ibu bernama Radha yang harus berjuang sendiri membesarkan dua puteranya. "Film ini penuh melambangkan perjuangan India untuk membentuk negara dan bangsanya. Di sebuah adegan bahkan Radha diceritakan mengajak teman-temannya sesama petani untuk mengambil alih dan menggarap lahan mereka sendiri," cerita Dudrah.

Pada tahun 1958, Mother India menjadi film India pertama yang meraih nominasi Film Berbahasa Asing terbaik di ajang Academy Awards. Film India lain yang berhasil masuk dalam kategori ini adalah Lagaan, yang dirilis pada tahun 2001. Film ini bertutur soal bersatunya warga sebuah desa yang kekeringan, mengambil alih kembali kampung mereka dari penjajah Inggris yang menerapkan pajak yang tidak adil. Tanpa diduga-duga film yang semula dikhawatirkan akan membosankan ini menjadi film box office. Ini berkat superstar Bollywood, Aamir Khan, yang akhirnya mau menyentuh skrip film ini, memproduksi dan bermain di dalamnya.

Hak atas foto Mehboob Productions
Image caption Radha, si Mother India bahkan digambarkan membunuh anaknya sendiri demi hukum dan negara.

Lagaan adalah satu dari tiga film yang dibintangi Aamir Khan, yang bisa disebut sebagai pucak tertinggi film yang terinspirasi kisah kemerdekaan. Yang lain, Mangal Pandey: The Rising, yang dibuat tahun 2005, bercerita tentang tentara India yang memulai serangan pertama Perang Kemerdekaan India yang pertama tahun 1857 silam. Sementara Rang De Basanti, yang sukses besar di tangga box office bertutur soal lima mahasiswa yang akhirnya menemukan diri mereka sendiri saat membuat sebuah film tentang tentara kemerdekaan India.

Namun, sejak film-film tersebut, publik India tampaknya kini sudah berganti selera. "Pada tahun 2001 sampai 2006 penonton tampaknya benar-benar tertarik dengan film tentang kemerdekaan. Semua itu karena kesuksesan Lagaan. Namun, sejak 2007 kondisi berubah," ungkap kritikus film Naman Ramachandran. "Misalnya tahun ini Rangoon, film dengan latar belakang kemerdekaan dikeluarkan, tetapi malah anjlok di box office, begitu juga dengan film Partition: 1947."

Hak atas foto Sony
Image caption Lagaan berkisah tentang masyarakat sebuah desa di India yang harus memenangkan pertandingan kriket agar terbebas dari pajak.

Kini penonton film India lebih senang menonton kisah tentang perubahan sosial. Misalnya lewat film Toilet: Ek Prem Katha yang merupakan kisah satir tentang toilet umum dan Dangal, yang tahun lalu tayang di Indonesia, yang berkisah tentang seorang perempuan yang bermimpi menjadi atlet gulat.

Film tentang kemerdekaan disebut Ramachandran, diharapkan dapat kembali menyita perhatian penonton ketika film Manikarnika: The Queen of Jhansi, ditayangkan pada April 2018 mendatang. Film ini bertutur tentang Kangana Ranaut, pimpinan wilayah Jansi, yang menolak menyerah pada penjajahan Inggris. Ranaut menjadi tokoh penting pada perang kemerdekaan India, 1857 silam.

Image caption Film Mangal Pandey: The Rising berkisah tentang seorang tentara yang menyulut perang melawan Inggris pada 1857.

Meskipun nafas sinema kemerdekaan sedang tersengal-sengal di bioskop, tetapi kondisinya masih belum dapat ditebak untuk televisi online India. "Pemegang pasar sebenarnya itu sekarang adalah dunia digital," tutur Ramachandran. "Ada dua serial tentang pejuang kemerdekaan, Subhash Chandra Bose, serta sebuah proyek yang masih digarap Amazon India. Reaksi publik India terhadap serial ini akan memperlihatkan kondisi sebenarnya, apakah mereka masih suka film tentang kemerdekaan atau tidak."

Anda bisa membaca versi Bahasa Inggris dari artikel ini dengan judul India's fight for freedom on screen di BBC Culture.

Berita terkait