Ruan Lingyu: misteri kematian 'Greta Garbo Cina'

Ruan Lingyu Hak atas foto Lianhua Film Company

Sudah 82 tahun semenjak hidupnya berakhir secara tragis di tangannya sendiri, tetapi sosok Ruan Lingyu sebagai aktris film bisu yang legendaris terus hidup.

Terlepas kenyataan banyak filmnya hilang atau tidak lengkap, drama-drama realisnya yang terselamatkan, yang berlatar era keemasan film bisu di masa Cina sebelum dilanda perang, memotret mitos Ruan Lingyu yang legendaris, yang terpatri secara abadi melalui pilihannya untuk bunuh diri secara misterius di usia 24 tahun.

Misteri itulah yang menjadi sorotan film biopik tentang sosok Ruan Lingyu, Centre Stage (1992), yang disutradarai Stanley Kwan. Dibintangi oleh Maggie Cheung sebagai Ruan, film ini mengenalkan kembali kehadiran sosok karismatik itu dan kehidupan tragisnya di balik layar pada era 1930an kepada generasi saat ini.

Hak atas foto Golden Way Films - Golden Harvest

Sepanjang perjalanan karirnya selama sembilan tahun, Ruan telah membintangi 29 film. Diantaranya, A Spray of Plum Blossoms (1931), Little Toys (1933), The Goddess (1934) dan New Women (1935), dianggap sebagai karya-karya film paling cemerlang dalam sejarah awal sinema Cina.

Peran-perannya dianggap mewakili generasi baru perempuan Cina yang terbebas dari cengkeraman dinasti-dinasti kekaisaran Cina, tetapi masih berjuang untuk menemukan tempatnya pada era republik.

Selain bakat seni peran Ruan yang alamiah, barangkali kenyataan dirinya adalah salah-seorang generasi perempuan baru itu memberinya kedalaman emosi yang dibutuhkan untuk menggambarkan karakter-karakter yang saling bertentangan di layar lebar.

Seorang bintang telah lahir

Lahir dengan nama Ruan Fenggen di kota Shanghai pada 1910 dari keluarga kelas pekerja, dia sudah terseret tragedi semenjak usianya masih belia.

Ruan dilahirkan ketika Cina dilanda gejolak karena dinasti Qing, yang telah memerintah selama lebih dari 250 tahun, mengalami kelelahan lantaran bertahan habis-habisan dari invasi asing dan pemberontakan dalam negeri.

Dan setahun setelah Ruan lahir, dinasti itu digulingkan dalam Revolusi 1911 yang dipimpin oleh Sun Yat-sen, dan Republik Cina pun dideklarasikan di atas Tiga Prinsip Rakyat - nilai-nilai filsafat Sun Yat-sen yang bertujuan untuk membawa Cina memasuki era baru, bebas dan makmur di bawah panji-panji demokrasi dan kemodernan barat.

Tumbuh dalam masa transisi yang dramatis dari era lama ke era baru, Ruan kehilangan ayahnya, seorang pekerja kasar di Asiatic Petroleum Company milik Inggris, saat berusia enam tahun.

Tinggal bersama ibunya, yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga keluarga Zhang yang kaya-raya, mereka berusaha bertahan hidup dalam himpitan kemiskinan.

Ruan di masa kecilnya selalu kesepian, terisolasi dari lingkungannya tatkala menyaksikan penderitaan ibunya sebagai pelayan keluarga kelas atas.

Shanghai di masa itu tengah tumbuh menjadi kota metropolis. Bagian pesisir kota itu dikuasai Prancis sampai 1943, dan selama itulah pengaruh Barat memainkan peran besar dalam kehidupan kota.

Pendidikan menjadi semacam tiket untuk merajut kesuksesan, sehingga Ruan dikirim oleh ibunya untuk melanjutkan sekolah, namun dia memperingatkan putrinya agar tidak mengungkap latar belakangnya kepada siapapun.

Ini ditekankan sang ibu supaya sang putri tidak terintimidasi karena dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga - pekerjaan yang dipandang rendah oleh masyarakat.

Hak atas foto Lianhua Film Company
Image caption Akting Ruang di film the Goddess (1934).

Tumbuh dalam lingkungan serba kasar, dikombinasikan dengan pendidikan modern, inilah pijakan dasar bagi karir akting Ruan di masa depan.

Nyaris putus asa mencari nafkah, saat berusia 15 tahun, dia tertarik sebuah iklan dan melamar ke Mingxing Film Company untuk menjadi seorang aktris.

Setahun kemudian, dia menjalani debut film pertamanya - A Married Couple in Name Only (1927) - sekaligus mendeklarasikan Ruan Lingyu sebagai nama panggungnya.

Sutradara film ini, Bu Wancang terkesan oleh keanggunan dan bakat alaminya untuk menyerap dan menyemburkan kompleksitas emosi di layar lebar. Ketika itu masih era film bisu sehingga kemampuan mengungkapkan perasaan secara mendalam tanpa dialog adalah sebuah keterampilan berharga.

Hak atas foto Lianhua Film Company
Image caption Ruan dalam film terakhirnya, Civil Wind.

Tiga tahun kemudian, Ruan mengikat kontrak dengan Lianhua Film Company, yang juga dikenal sebagai United Photoplay Service.

Tetapi saat film bersuara mulai menghiasi bioskop-bioskop di dunia Barat di awal 1930an, teknologinya belum sampai ke Cina.

Film bisu masih merupakan satu-satunya bentuk seni dan itu memungkinkan Ruan, yang tampil memukau dengan gerak tubuh, mimik serta bahasa isyarat, tampil sebagai bintang layar lebar pada 1930an - seperti yang dilakukan Greta Garbo di Hollywood pada dekade sebelumnya.

Kembang Shanghai

Selama bergabung bersama United Photoplay Service, Ruan berkolaborasi dengan sejumlah pimpinan topnya kala itu, termasuk Fei Mu, Sun Yu dan Cai Chusheng.

Di layar lebar, sang aktris mampu memikat hati banyak orang dengan karisma yang dimilikinya. Dia juga menunjukkan fleksibilitasnya, karena dia menghadapi tantangan dalam memainkan aneka peran, sehingga membuatnya menjadi salah satu aktris paling sukses saat itu.

Hak atas foto Lianhua Film Company
Image caption Ruan Lingyu dalam sebuah adegan di film Coming Home (1934).

Dalam film bisu A Spray of Plum Blossoms (1931), yang diadaptasi dari karya Shakespeare berjudul Two Gentlemen of Verona, ia menunjukkan bakatnya dalam memerankan peran komedi.

Sementara, pada film mini drama kecil memilukan berjudul Little Toys (1933), yang disutradarai Sun Yu, Ruan memerankan perempuan desa yang ahli membuat mainan, tetapi kehilangan keluarganya akibat kekejaman perang.

Dalam film drama karya sutradara Zhu Shilin, Homecoming (1934), Ruan memainkan peran seorang perempuan yang menunjukkan martabatnya saat mengetahui suaminya menikahi perempuan lain di luar negeri, setelah mengira dia sudah meninggal dunia

Film Goddess (1934) secara luas dianggap sebagai salah satu penampilan Ruan yang terbaik. Dalam film yang disutradarai Wu Yonggang, Ruan memancarkan pesonanya dalam peran kompleks seorang ibu tunggal yang harus bekerja sebagai pelacur untuk membesarkan anaknya.

Barangkali penampilannya yang menakjubkan tidak terlepas dari alur cerita yang mengingatkan pada masa kecilnya sendiri, sehingga dia sepertinya dapat menghubungkan perannya dengan penderitaan ibunya sendiri.

Hak atas foto Lianhua Film Company
Image caption Love and Duty (1931) juga dibintangi Ruan Lingyu.

Film New Women (1935) tetap menjadi salah satu film Ruan yang paling banyak dibahas sampai saat ini, karena mirip dengan hidupnya sendiri dan kerepotannya karena menjadi bulan-bulanan gosip.

Diangkat dari kisah nyata kehidupan Ai Xia, seorang aktris yang bunuh diri pada 1934, film yang disutradarai Cai Chusheng ini menyoroti perjalanan seorang guru dan penulis -yang digambarkan oleh Ruan-akhirnya bunuh diri setelah kematian anak perempuannya serta akibat tindak kekerasan oleh orang kaya yang lalim, yang mempermalukannya dengan menyebarkan kisahnya kepada pers.

Hak atas foto Golden Way Films - Golden Harvest
Image caption Aktris Maggie Cheung memerankan sosok Ruan dalam film Centre Stage (1992).

Dikatakan, setelah pengambilan gambar adegan terakhir memperlihatkan matinya sosok Ai Xiadi ranjangnya, Ruan masih dicekam emosi, sehingga sutradara Cai harus menemaninya hingga ia tenang.

Dalam kehidupan nyata, Ruan terbelah dalam kehidupan dua pria - cintanya pada sosok Zhang Damin, anak keempat dari keluarga tempat ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga, serta sosok taipan terkenal, Tang Jishan.

Zhang adalah penjudi tulen yang lalu ditinggalkan Ruan untuk beralih ke Tang, seorang penggoda perempuan.

Zhang dua kali menggugat Ruan secara hukum. Pertama, pada 1934, Zhang mengakui Ruan sebagai istri yang ia tuduh mencuri hartanya.

Hak atas foto Lianhua Film Company
Image caption Ruan dalam film New Women (1935).

Pada tahun berikutnya, dia menggugat kembali Ruan karena menganggapnya berzinah dengan Tang. Namun pada saat itu, meskipun masih tinggal serumah dengan Ruan, Tang telah berselingkuh dengan aktris Liang Saizhen.

Kehidupan pribadi Ruan nyatanya lebih menarik bagi publik ketimbang film-filmnya. Kasus pengadilan yang menyeret namanya membuat sosoknya acap menjadi berita utama, dan banyak kolom gosip menguliti sisi-sisi sensasional kehidupannya.

Pada 8 Maret 1935, Ruan melakukan bunuh diri dengan menenggak obat tidur dalam jumlah besar- sama seperti yang dilakukan tokoh utama film New Women yang dimainkannya, yang berakhir bunuh diri.

Dalam sebuah catatan bunuh dirinya, Ruan meninggalkan kata-kata: "gosip merupakan sesuatu yang menakutkan".

Hak atas foto Golden Way Films - Golden Harvest
Image caption Aktris Maggie Cheung memerankan sosok Ruan dalam film Centre Stage (1992).

Puluhan ribu penggemarnya mengucapkan selamat tinggal kepada sang bintang film bisu saat prosesi pemakamannya, sehingga dijuluki "pemakaman paling spektakuler abad ini" oleh harian The New York Times.

Sejarawan film, Mark Cousins ​​menulis di Prospect bahwa prosesi pemakaman Ruan di kota Shanghai panjangnya mencapai 4,8km. Dan dalam barisan orang-orang berduka itu, setidaknya ada tiga perempuan yang melakukan bunuh diri, karena begitu sedihnya mereka kehilangan Ruan.

Prosesi pemakaman Ruan Lingyu jauh melampaui Rudolph Valentino, bintang film bisu Hollywood yang kematiannya pada 1926 hanya meningkatkan daya tarik romantisnya.

Tetapi pada 2001, dua versi catatan bunuh diri Ruan lainnya muncul ke permukaan. Dalam salah satu catatan, almarhum menyalahkan Tang, sang taipan penggoda perempuan, yang disebutnya memperlakukannya secara buruk dan menghancurkan hatinya.

Adapun Zhan dituduhnya melakukan kekejian dengan mempermalukannya di depan umum.

Hak atas foto Wikipedia
Image caption Puluhan ribu penggemarnya mengucapkan selamat tinggal kepada Ruan Lingyu saat proses pemakamannya, sehingga dijuluki "pemakaman paling spektakuler abad ini" oleh harian The New York Times.

Banyak spekulasi kemudian berkembang di masyarakat tentang catatan yang mana dari keduanya yang menjadi 'penyebab dirinya bunuh diri'. Ini tidak terlepas dari keberhasilan film Centre Stage yang mampu menggambarkan sosok Ruan sedemikian rupa - juga kemampuan aktris Maggie Cheung dalam memerankan sosoknya.

Maggie Cheung memenangkan penghargaan aktris terbaik di Festival Film Berlin 1992 untuk penampilannya di Center Stage, yang oleh kritikus film AS Jonathan Rosenbaum dinobatkan sebagai film terbaik tahun 1990an.

Beberapa tahun kemudian, pada 1994, sebuah drama panggung tentang kehidupan Ruan dipentaskan di Beijing - dan kembali ditampilkan lagi pada 2013.

Dan kemudian muncul aktris Jacklyn Wu Chien-lien yang memerankan sosok Ruan dalam serial televisi Cina yangterdiri dari 30 episode.

Faktor penyebab kenapa Ruan bunuh diri tetap menjadi misteri. Tetapi terlepas dari penyebab kematiannya yang terlalu cepat, Ruan mampu mencapai banyak hal dalam kehidupannya yang relatif pendek sebagai aktris cemerlang di dunia sinema awal Cina.

Dan latar pendidikannya, penggambaran perempuan independen dan modern di layar lebar -bahkan kendati para perempuan itu terkadang mengalami juga pelecehan kaum pria, seperti yang dialami dirinya sendiri- Ruan Lingyu menjadi ikon di era republik Cina, sekaligus mematri statusnya sebagai seorang dewi abadi di hati para penggemar film modern.


Anda bisa membaca versi Bahasa Inggris dari artikel ini dengan judul Ruan Lingyu: the Greta Garbo of China di BBC Culture.

Berita terkait