Mengapa para tiran penindas suka menulis puisi?

Stalin Hak atas foto James Abbe

Nero, Stalin, dan Bin Laden, semuanya pengagum puisi. Apa yang membuat mereka tertarik? Benjamin Ramm coba mengulik kaitan antara sifat bengis dan perasa.

Puisi adalah seni yang lembut, atau dengan kata lain membutuhkan selera yang halus dan perasaan yang peka pula. Ini tentu bertolak belakang dengan perilaku yang brutal, apalagi sampai ditempelkan dengan penguasa tiran dan menyebutnya seni favorit mereka. Tapi itulah kenyataannya, dari zaman dahulu sampai sudah modern seperti sekarang, banyak diktator yang sangat terinspirasi menulis puisi - guna mencari ketenangan, keintiman, dan membuat dirinya merasa berjaya. Dari sajak-sajak mereka kita bisa mempelajari sifat-sifat dasar seorang penguasa, daya pikat dari puisi, dan matinya interpretasi seni.

Gaya dari seorang penyair tiran ada di diri penguasa Roma, Nero (37-68 SM). Sosoknya yang kosong dan suka mengasihani diri sendiri, senang pamer, dan selama dia berkekuasaan sikapnya memalukan - ini adalah cerminan dari pribadi Nero yang sesungguhnya miskin selera seni.

Penulis sejarah tentang Nero, yakni Tatcitus dan Suetonius, mengatakan bahwa Roma begitu tersiksanya semasa berada di bawah kekuasan Nero. Sama tersiksanya dengan membaca puisi-puisi Nero. Ya, mengejek Nero memang memuaskan, tetapi di sisi lain ada pertanyaan yang menggantung: seandainya karya seni para penguasa ini diakui oleh orang banyak, mungkinkah kejahatan mereka bisa diredam?

Sebaliknya, mampukah kita menilai kualitas puisi-puisi yang ditulis oleh seorang penguasa yang kejam?

Seperti yang disampaikan akademisi Ulrich Gotter dalam terbitan paling baru Tyrants Writing Poetry, yang membandingkan antara dua kaisar yang juga penyair yakni Kaisar Caesar dan Kaisar Agustus, di zaman Nero di naik ke kekuasaan ''tanpa pertumpahan darah''.

Tapi walaupun kurang berambisi di bidang militer, Nero dikenal sekali sebagai pendendam dan sosok penguasa bengis yang menyedihkan, dengan kostum panggung jelek, menandatangani penaklukan Troya padahal kekaisarannya sedang terbakar habis-habis. Suetonius menyebut Nero sebagai sosok 'orang yang senang dengan keindahan di balik nyala api.''

Nero senang tampil: di Roma dia ikut meresmikan festival yang terinspirasi dari budaya Yunani, Neronia. Sepanjang tur Yunani dia berpartisipasi dalam kompetisi puisi, lagu, dan lomba bermain kecapi. Termasuk juga balapan kereta kuda. (Di Olimpia, ia jatuh dari kereta kudanya tapi masih juga ditetapkan sebagai pemenang oleh dewan juri penjilat dan yang ketakutan). Nero ngotot supaya patung pemenang terdahulu disingkarkan dari alasnya, dan dia membawa pulang 1.808 hadiah ke Roma.

Hak atas foto Hulton Archive
Image caption Nero.

Ini menggambarkan penyair itu sebagai megalomania dan suka memaksakan dunia dengan khayalan dalam imajinasinya. Ini yang kemudian menginspirasi seniman seperti Marquis de Sade dan penulis peraih Nobel Henryk Sienkiewicz yang novel Quo Vadis-nya pada tahun 1896 menjadi film berwarna ikonis dibintangi oleh Peter Ustinov. Nero bahkan menyiapkan juga koreografi untuk penampilan finalnya - gantung diri dan mencabut nyawanya sendiri. Dia latihan dan berulang kali mengulang kalimat perpisahannya: qualis artifex pereo (''sungguh seorang seniman yang mati bersama saya ini'').

'Kekuatan magis kata dalam ucapan'

Nyaris dua ribu tahun kemudian, sekelompok penyair Italia menyamakan fasisme dan selebrasi terhadap tontonan kehancuran gaya Nero. 'Biarkan seni mekar, walau dunia musnah; adalah salah satu slogan Italian Futurists yang didirikan oleh penyair Filippo Tommaso Marinetti. Dia begitu menyukai perang dan menganggapnya sebagai 'satu-satunya obat buat dunia'.

Marinetti ingin mengindustrialisasi dan memiliterisasi bahasa dengan 'puisi konkrit' yang ditulis oleh pencipta sekaligus agresor yang akan 'mulai dengan menghancurkan sintaksis secara brutal.

Kelompok Futurist dipengaruhi oleh pejuang puisi Gabriele D'Annunzio, sosok pujaan yang menegakkan 'kediktatoran puitis' pada tahun 1919 yang hanya berumur pendek, yang menginspirasi Mussolini merebut kekuasaan tiga tahun kemudian.

Meski sangat menyukai ide "persatuan mistis" puisi dan manusia oleh D'Annunzio, ayat-ayat Mussolini sendiri cukup cengeng. Ada semacam kepura-puraan dalam ambisi sastranya: penulis biografinya Richard Bosworth mencatat bahwa Mussolini meninggalkan karya penyair terkemuka "dengan sengaja terbuka di mejanya saat dikunjungi oleh pejabat asing".

Puisinya kemudian mencerminkan keterasingannya, jauh dari idealisme pemuda sosialisnya, yang menghasilkan ayat-ayat yang mengeluhkan jatuhnya Jacobinisme ("kapak yang berdarah di pembuluh darah vena") dan merindukan nubuat revolusioner ("Di mata sekaratnya melintas Ide, / Visi berabad-abad yang akan datang").

Sering kali, para diktator menyalurkan kekecewaan mereka di bidang seni ke ranah politik. Hitler, walau mengaku lebih suka 'kekuatan magis dari kata dalam ucapan' ketimbang 'estetika sastra rasa sirup', pernah berkhayal menjadi seniman dari Wina. Goebbels, yang menyempurnakan seni propaganda, menulis novel dengan penuh perasaan, sedangkan Pol Pot yang belajar di Paris adalah pengagum puisi-puisi Symbolist dari Verlaine.

Hak atas foto Keystone
Image caption Ada niatan tersendiri dari kesukaan Mussolini pada puisi.

Marxisme di Rusia memicu gelombang pergerakan estetika radikal, tapi penyair tiran di Uni Soviet itu menulis puisi dengan gaya yang sangat konservatif. Stalin muda membuat puisi dalam Bahasa Georgia - bahasa yang dilarang dalam seminari Ortodoks tempat dia dilatih - dan karyanya berlatar romantis, khas penyair pemberontak dan Zaman Emas yang lenyap. Karakter puisi Stalin adalah imitasi seni, kurang ironi diri, dan ''punya semangat berlebihan'', menurut kritikus Evgeny Dobrenko.

Dengan kemewahan yang cuma ornamental dan dangkal, puisi Stalin berisi luapan klise naturalistik: '' di bawah belukar cincin biru berkicau seekor burung bulbul'', saat jiwa tersiksa oleh ''hutan gelap di waktu malam''. Sebut ini kesungguhan, jika bukan tergolong politik kasar:

Ketahui secara pasti bahwa pernah

Dipukul ke tanah, orang yang tertindas

Berjuang lagi untuk meraih gunung suci,

Saat diagungkan oleh harapan.

In Over This Land (1895), seorang seniman main musik di gereja:

Suara dari jantung banyak manusia

Berdegup, yang selama ini membatu;

Menerangi banyak pikiran manusia

Yang sudah dihempas ke kegelapan tergelap.

Tetapi nabi tidak dikenal oleh orang yang berupaya dibebaskannya: ''Massa ada sebelum kutukan/Sebuah kapal yang diisi dengan racun''. Stalin muncul kembali sebagai penyanyi dalam puisi berikutnya, ''tergerak untuk meneteskan air mata karena banyaknya petani getir'', di saat dia - dengan wawasan ke depan - ''mendirikan monumen untuk dirinya sendiri... di jantung setiap warga Georgia''. Dipublikasikan tanpa nama, puisi Stalin difiturkan dalam jurnal sastra bergengsi dan sempat masuk kumpulan karya sastra klasik Georgia.

Hak atas foto NATALIA KOLESNIKOVA/AFP
Image caption Seorang warga mengamati layar komputer yang menampilkan foto repro dari poster satir karya seniman Vasily Slonov memperlihatkan Stalin dengan taring dan mengenakan kostum beruang kutub. Puisi Stalin muncul dalam jurnal sastra bergengsi dan disebut sebagai contoh sastra klasik era Georgia.

Tentu saja, penulis biografi Stalin yang paling kritis sekalipun telah memuji puisinya: Simon Sebag-Montefiore menulis ''keindahannya terletak pada irama dan bahasa'' (sulit diterjemahkan). Sedangkan Robert Service mengklaim bahwa karya tersebut mempunyai ''kejernihan bahasa yang diakui oleh semua orang''. Keindahan dekoratif dan pamer heroisme ini akan muncul lagi saat kemenangan sosialis Stalin atas avant-garde yang modernis eksperimental.

Pena dan pedang

Pewaris jiwa Stalin, Yuri Andropov, menggabungkan hal-hal birokratis dengan sisi romantis. Sebagai pimpinan KGB, dia menganiaya para pembangkang dan memberantas pemberontakan di Hungaria, sambil menulis puisi cinta untuk istrinya. (Kemampuan kompartmentalisme merupakan sikap penting bagi para diktator sekaligus kreator). Penyair Uzbek Hamid Ismailov menyebutkan anekdot tentang Andropov: salah satu penulis pidato memberinya kartu selamat ulang tahun, di situ dia bergurau bahwa penguasa mengorupsi rakyat, yang dibalas Andropov dengan puisi dingin:

Sekali warga berseru

bahwa penguasa mengorupsi rakyat

Sekarang semua orang terpelajar mengulangnya

Selama bertahun-tahun

Tanpa menyadari (celaka!)

Bahwa seringnya orang mengorupsi penguasa.

Pengagum Stalin lainnya, pemimpin Korea Utara Kim Il-sung, pernah diatribusi dalam penulisan drama revolusioner dan karya teoretis, yang paling terkenal 'teori bibit', yang mendudukkan Kim sebagai bapak seni. Di tahun 1992, Kim senior menulis puisi publik bagi anaknya, Jong-il:

Mungkinkah ini sudah ulang tahun ke-15 Bintang Gemerlap?

Dipuja semua orang atas kemampuannya di pena dan pedang

Ditambah pikirannya yang loyal dan berbakti,

Dan pujian bulat dan sorakan mengguncang surga dan bumi.

Hak atas foto PETER PARKS/AFP
Image caption Dua pesepeda melintas di depan poster propaganda Stadion Kim Il-sung, Pyongyang. Film revolusi dan karya-karya teoritis disebut sebagai hak cipta pemimpin Korea Utara, Kim Il Sung.

Kim, bapak bangsa, disebut sebagai 'Matahari Bangsa', seperti Mao Zedong ('Matahari Merah di Hati kami'). Mao dianggap penguasa ideal yang mewakili pena dan pedang, berdasarkan menyatunya kemampuan budaya (wen) dengan keberaniannya dalam bela diri (wu). Mao berupaya melestarikan tradisi kekaisaran seiring dengan menandinginya. Dalam puisi dari tahun 1936 dia menyebutkan bahwa cuma sedikit kaisar yang mewarisi kekayaan sastra: sekarang ''lelaki tulen/Melihat ke masa ini sendirian''.

Puisi Mao bentuknya kuno dan temanya klasik. Sebuah pertunjukkan tradisi yang diakui melecehkan. Walaupun ia sendiri memerintahkan untuk menghancurkan Empat Hal Kuno (budaya, adat, kebiasan, dan ide), Mao menulis dengan gaya lama, walaupun dikecam elitis dan usang. ''Saya khawatir penyebaran kekeliruan semacam itu bisa menyesatkan anak muda'', kata Mao ke seorang editor majalah, tetapi dia masih membanggakan seleranya. Padahal dia mengecam orang lain.

Mao punya kosa kata yang kaya, bukti kalau dia mahir mengkhayal (''Bukit-bukit menggelinding laut biru,/Matahari sekarat merah darah'') dan tema klasik (''Dunia manusia berubah-ubah, laut jadi ladang murbei"), kadang berkenaan dengan epigram (''Pengorbanan pahit sangat menguatkan penyelesaian'') dan sarat propaganda (''Putri-putri Cina punya pikiran sangat cerdas,/Mereka mencintai barisan perangnya, bukan sutera dan satin'')

Hak atas foto STR/AFP
Image caption Di tahun 1966, Tentara Merah membekali Little Red Book dengan kumpulan 25 puisi yang disebut hak cipta Mao.

Karya Mao adalah bukti bahwa keindahan artistik bukan jaminan caranya berpolitik seseorang juga lembut. Tahun 1966, Tentara Merah dilengkapi dengan Buku Saku Merah yang berisi 25 puisi Mao, yang akhirnya memunculkan antusiasme akan puisi gaya lama di kalangan mereka yang ingin menghancurkan 'sisa-sisa feodalisme'. Kalimat terakhir yang ditulis Mao, setahun sebelum meluncurkan Revolusi Budaya, adalah firasat datangnya keributan: "Lihat, dunia sudah jungkir balik''.

'Sensor dan kreator'

Puisi sudah dimasukkan sebagai bukti memberatkan dalam Pengadilan Kriminal Internasional. Dimana 'Jagal Bosnia' Radovan Karadžić dinyatakan bersalah dalam kasus genosida. Dalam dokumenter BBC di tahun 1992, terekam pertemuan antara Karadžić dan nasionalis Rusia, penyair Eduard Limono. Saat itu Karadžić mengutip sebuah puisi yang mengajarkan kekerasan. Karadžić mengklaim sudah tahu bahwa pertempuran akan pecah sejak beberapa tahun sebelumnya. Dan, di karya puisinya yang berjudul Sarajevo pada tahun 1971, ada kalimat:

Kota terbakar seperti sebatang dupa

Dalam asap bergemuruh kesadaran kita...

Saya tahu bahwa semua ini persiapan untuk teriakan:

Apa yang dipunyai logam hitam di garasi untuk kita?

Ini kemudian dianggap sebagai kumpulan niat dari sisi pelaku yang diatur dalam hukum internasional. Karadžić adalah tokoh sentral yang diistilahkan Slavoj Žižek 'gangguan militer puitis'. Dia menghormati sastra kanon berbau nasionalisme, khususnya puisi epik dari Petrović-Njegoš, The Mountain Wreath (1847), yang di dalamnya menggambarkan pertumpahan darah Muslim sebagai baptisan bagi negara Serbia.

Retorika genosida dijubahi dalam metafora penghilang sakit: negara 'disucikan' lewat 'pembersihan etnis'. Tapi pembaca juga harus berhati-hati dengan musnahnya perlakuan sosok artistik sebagai milik penulis. Mengingat karya Ayatollah Khomeini, yang puisi-puisi Persianya menjadi penyaluran roh Sufi dari yang melihat Rumi dan Hafez:

Aku pemohon piala anggur

Dari tangan hati yang manis

Kepadanya bolehkah aku mencurahkan rahasia?

Kemana bisa kubawa nestapa?

Syair ini sulit sekali menjadi rujukan terhadap sosok Khomeini:

Aku kini tertawan, Yang tersayang, oleh tahu lalat di bibirmu!

Akua melihat matamu sakit dan jadi sakit lewat cinta...

Buka pintu kedai dan biarkan kami berkunjung siang dan malam,

Karena aku sakit dan letih dengan masjid dan seminari.

Pengikut Ayatollah membaca puisi ini sebagai alegori tegas ('Masjid dan pendakwah sebagai tampilan kosong dari religiusitas ke luar') - walau beberapa bait sulit dinetralkan: ''Aku telah menyobek pakaian pertapaan dan kemunafikan''. Puisi tersebut menampilkan Ayatollah sebagai sosok mistis, meskipun dia bisa mengeluarkan fatwa. Ini yang membuat dia sebagai sensor sekaligus kreator.

Hak atas foto GABRIEL DUVAL/AFP/Getty Images
Image caption Puisi Ayatollah Khomeini menyalurkan jiwa Rumi dan Hafez

Penyerbuan ke persembunyian Osama bin Laden pada 2011 memicu komentar media tentang rak bukunya. Disebutkan sejumlah buku fiksi hilang dan kesukaannya terhadap puisi diabaikan. Di tahun 2010 bin Laden menulis surat ke seorang letnan dengan menyebutkan detail dari rencana ambisius, sebelum meminta supaya: ''jika ada saudara yang bersama Anda, yang tahu tentang ukuran puitis, tolong beri tahu saya. Dan, jika Anda punya buku apapun tentang ilmu prosodi klasik, tolong kirim ke saya''.

Bin Laden termasuk penyair jihadi paling dipuja dan salah satu kemampuannya yaitu fasih dengan karya klasik. Emirat Bin Laden di Irak, Abu Musab Al-Zarqawi dikenal sebagai 'tukang jagal' dan 'cengeng' - menerangi kaitan antara perilaku kejam dan sifat perasa, dua sifat kembar yang haus kekuasaan dan belas kasihan. Pemimpin Al-Qaeda saat ini, Ayman al-Zawahiri, juga menulis puisi dan mengaku sebagai pembuat kaligrafi ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi, menulis tesis PhD tentang puisi religi.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Bin Laden termasuk penyair jihadi paling dipuja dan salah satu kemampuannya yaitu fasih dengan karya klasik.

Salah satu tiran yang menulis puisi sampai akhir hayat yang menyedihkan adalah Saddam Hussein. Puisinya dari penjara pada 2013 disusun dengan bahasa lokal yang kikuk: ''Kamu adalah angin segar/Jiwaku jadi segar karena kamu/Dan partai Baath kita mekar seperti ranting yang berubah hijau''. Saddam yang suka berfoto dengan Khalashnikov, memamerkan pembangkangan yang khas: ''Di sini kita menyingkap dada ke serigala-serigala''. Yang sama menariknya, orang yang menciptakan senapan, Mikhail Khalashnikov sendiri ingin jadi penyair. Sebagaimana ditulis WH Auden di nisan Hitler, ''puisi yang ia ciptakan mudah dimengerti''.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris artikel ini yang berjudulWhy tyrants love to write poetry? dan berbagai artikel sejenis diBBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait