Hijra: 'Gender Ketiga' yang unik dari Asia Selatan

Shahria Sharmin Hak atas foto Shahria Sharmin

"Saya merasa seperti putri duyung. Tubuh saya mengatakan bahwa saya adalah seorang pria tapi jiwa saya mengatakan bahwa saya adalah seorang perempuan. Saya seperti bunga, bunga yang terbuat dari kertas. Saya akan selalu dicintai dari kejauhan, tidak pernah disentuh dan dicium untuk jatuh cinta."

Heena, 51, adalah seorang hijra: sebuah istilah, yang menurut fotografer Bangladesh Shahria Sharmin, berarti "yang tidak memiliki kecocokan sama sekali dengan taksonomi gender barat yang modern".

Shahria Sharmin Hak atas foto Shahria Sharmin
Image caption Heena (51): "Saya merasa seperti putri duyung. Badan saya mengatakan bawa saya pria tapi jiwa saya mengatakan bahwa saya perempuan"

Sharmin baru saja dipilih oleh fotografer Magnum, Susan Meiselas di ajang Magnum Awards tahun ini, untuk esai fotonya soal komunitas hijra di Bangladesh dan India.

"Mereka sering dilabeli sebagai hemaprodit, orang kasim, transgender atau perempuan transeksual dalam sastra," kata Sharmin kepada BBC Culture, menambahkan bahwa "hijra dianggap sebagai transgender, tapi banyak memilih istilah gender ketiga".

Dia menggambarkan hijra sebagai orang yang dilahirkan sebagai pria namun dengan identitas gender feminin, yang akhirnya mengadopsi peran gender feminin.

Shahria Sharmin Hak atas foto Shahria Sharmin
Image caption Ketika Mohona (21) berumur 10 tahun, diindentifikasi sebagai perempuan, ayahnya mengurungnya selama tiga tahun untuk menyembunyikannya. Dia berontak dan kabur dari rumah, kini tinggal di Delhi.

Foto-foto Sharmin adalah potret yang sangat personal - mengungkapkan tingkat keintiman yang sulit dijangkau antara fotografer dan subjek. Dia mendefinisikan proses pengambilan gambar yang ia lakukan sebagai "lamban dan menyita waktu". Sharmin menjelaskan:

"Saya tidak pernah terburu-buru. Biasanya saya menghabiskan banyak waktu dengan seorang subjek dan sebagian besar waktu saya bahkan tidak mengambil gambar. Saya berkeliaran dengan mereka sepanjang hari."

Shahria Sharmin Hak atas foto Shahria Sharmin
Image caption Tina (21): "Saya sedang diuji. Saya tidak tahu bagaimana hasilnya nanti..."

"Kepercayaan ... tumbuh ketika kita berdebat dan membenarkan berbagai masalah sosial dan mengidentifikasi nilai-nilai mereka. Lalu perlahan, saya mencoba untuk mencari tahu apa ungkapan yang ingin mereka bagikan dengan orang lain dan dalam bentuk apa? "

Setelah mendiskusikan bagaimana dia berencana untuk memotret mereka, dan meminta panduan dari mereka, dia berkata, "Saya belum melihat kegelisahan dari mereka… justru saya menemukan mereka cukup percaya diri dengan apa yang

mereka cari dan biasanya saya tidak menyimpang dari niat mereka. Saya telah membuktikan diri saya sebagai orang yang dapat dipercaya di antara komunitas mereka."

Shahria Sharmin Hak atas foto Shahria Sharmin
Image caption Poppy (47, kiri) dan Kesri (45, kanan) meninggalkan keluarga mereka bertahun-tahun lagi, tapi kemudian mereka menemukan persahabatan yang erat, yang menggantikan cinta tulus tak bersyarat.

Bagi banyak hijra, komunitas tersebut sudah menjadi pengganti keluarga mereka - dan memiliki struktur kelompok yang jelas.

"Hijra telah mengembangkan budaya di mana mereka tinggal di bawah seorang guru yang memberi mereka keamanan sosial, tempat tinggal dan kebutuhan dasar dengan imbalan yang uang, dan dalam beberapa kasus, pengakuan," kata Sharmin.

"Mereka mulai membina sebuah keluarga dengan seorang pemimpin yang hampir seperti rumah peristirahatan. Penghasilan harian mereka kumpulkan oleh guru yang kemudian menyediakan kebutuhan dan sisanya ditabung untuk investasi masa depan, termasuk keamanan, perencanaan acara, perjalanan, dan dalam beberapa kasus, membantu mendanai transformasi sex.

Shahria Sharmin Hak atas foto Shahria Sharmin
Image caption Moyna (54) harus berhadapan dengan dunia nyata setelah gurunya meninggal. Dia meninggalkan rumahnya 40 tahun lalu, tapi "bermimpi untuk meninggal di kampung halaman: Bangladesh"

Para guru mengambil peran penting dalam kehidupan hijra.

"Mereka hampir seperti penjaga mereka, menggantikan orang tua mereka. Jika seseorang gagal memenuhi harapan guru, mereka terpaksa meninggalkan komunitas mereka. Guru yang berbeda memiliki harapan atau peraturan yang berbeda. Pada kebanyakan kasus, mereka tunduk pada peraturan yang sangat ketat. Mereka harus memperoleh jumlah tertentu atau memberikan layanan tertentu untuk dianggap mampu. "

Shahria Sharmin Hak atas foto Shahria Sharmin
Image caption Tak mampu untuk kembali ke keluarga asli mereka, hidup baru Shumi (22) dan Priya (26) adalah menuruti peraturan guru demi mendapat rumah baru

Jika bergabung dengan kelompok hijra menawarkan stabilitas, memilih identitas baru mereka berarti membuat diri mereka rentan dalam masyarakat yang semakin menganggap mereka sebagai orang buangan.

"Melampaui definisi biologis, hijra lebih merupakan fenomena sosial sebagai kelompok minoritas dan memiliki sejarah yang telah lama tercatat di Asia Selatan," kata Sharmin.

Dia mencatat bahwa "secara tradisional, hijra memegang status semi-suci dan dipekerjakan untuk menyanyi, menari, dan memberkati pasangan yang baru menikah atau bayi baru lahir di pesta rumah tangga. Mereka biasa mencari nafkah berdasarkan kepercayaan budaya bahwa hijra bisa memberkati rumah seseorang dengan kemakmuran dan kesuburan."

Namun, hal itu telah berubah seiring berjalannya waktu, dan "hijra telah kehilangan tempat yang mereka kagumi di masyarakat ... di luar kelompok, mereka didiskriminasi dan dicemooh hampir di mana-mana. Sekarang mereka mencari nafkah dengan berjalan-jalan di jalanan untuk mengumpulkan uang dari pemilik toko, penumpang bus dan kereta api atau dengan pelacuran."

Shahria Sharmin Hak atas foto Shahria Sharmin
Image caption Panna (52) menunggu kliennya pada suatu malam di musim dingin

Banyak hijra di Bangladesh memilih untuk bermigrasi ke India, tempt di mana mereka lebih diterima. "Tumbuh dalam keluarga konservatif, ini bukan sesuatu yang kita bicarakan di meja makan," kata Sharmin.

"Selalu ada prasangka yang kuat dan stigma tentang hijra. Sepertinya ada konotasi negatif dengan kata 'hijra'. Saya tumbuh dengan mengetahui bahwa hijra adalah orang buangan sosial."

Shahria Sharmin Hak atas foto Shahria Sharmin
Image caption Nishi (21) sedang "menunggu pria impiannya", menurut Sharmin

"Saya, seperti hampir semua orang di masyarakat saya, tumbuh dengan menganggap mereka seperti bukan manusia," kata Sharmin.

"Kebiasaan, cara hidup mereka, dan bahkan penampilan mereka menandakan bahwa mereka berbeda dan menyimpang, seolah mereka saksi hidup dari penyimpangan biologis. Lalu aku bertemu Heena, yang menunjukkan betapa salahnya aku. Dia membuka hidupnya untuk saya, menjadikan saya bagian dari dunianya, dan membantu saya melihat sesuatu yang melampaui kata hijra."

'Call Me Heena' adalah tanggapannya terhadap hal itu, dan ida mengatakan bahwa dia "berharap bisa memotret dengan cara yang mewakili mereka sebagai individu tanpa bias dangkal yang jelas".

Meiselas memuji Sharmin atas perlakuannya terhadap orang-orang yang dipotretnya, mengatakan bahwa proyeknya "membawa kita lebih dekat ke minoritas yang sangat terstigmatisasi ... dia menghormati kualitas khas mereka dengan menggambarkan kebanggaan tersendiri dalam keunikan mereka."

Shahria Sharmin Hak atas foto Shahria Sharmin
Image caption Saat subuh, Nayan (24) berangkat kerja di pabrik garmen dan mendapatkan penghasilan yang dianggap sebagai gaji yang halal bagi keluarganya. Saat senja, dia kembali ke komunitasnya.

"Saya belum pernah benar-benar mengalami secara fisik bagaimana rasanya menjadi bagian dari kelompok minoritas yang sebenarnya," kata Sharmin.

"Saya tumbuh di Bangladesh, sebagai seorang wanita. Tentu, ada batasan dan larangan ... tapi perjuangan nyata ketika pertanyaan tentang identitas dan emosi menjadi bagiannya adalah sesuatu yang membuat saya penasaran."

Shahria Sharmin Hak atas foto Shahria Sharmin
Image caption Zorina (25): "Saya berharap saya bangun pada suatu pagi dan mendapati bahwa saya menjadi seorang perempuan. Saya sangat lembut dan halus!"

Memotret hijra telah berhasil menghancurkan banyak bias yang Sharmin alami sendiri. "Setiap kali saya bertemu mereka, mereka mengejutkan saya dengan sebuah cerita baru yang memikat hati saya. Mereka telah menjadi teladan bagi saya, memecah stereotip pemikiran untuk menikmati apa pun yang dimiliki kehidupan untuk Anda. "

Pada tahun 2014, pengadilan tertinggi India memutuskan bahwa hijra akan diakui dalam dokumen resmi berdasarkan kategori gender ketiga yang terpisah, yang memungkinkan mereka mengakses pekerjaan pemerintah dan tempat kuliah.

"Yang membuat mereka unik adalah integrasi indah antara feminitas dan machismo mereka," kata Sharmin.

"Kesediaan mereka untuk membantu dan berkontribusi terhadap anggota masyarakat meskipun kebencian, kelalaian dan diskriminasi yang membenci benar-benar mengilhami. Bagaimana mereka bisa menjalani kehidupan yang bermanfaat dalam masyarakat konservatif ekstremis ... adalah pelajaran penting yang bisa kita dapatkan dari semua ini."

Dengan berdebat bahwa fotografi adalah cara untuk "menawarkan realitas yang berbeda ke dunia", Sharmin bertujuan untuk terus mendokumentasikan kehidupan gender ketiga di berbagai negara. Dia berharap bahwa karyanya dapat membantu hijra untuk "menemukan ruang bernafas dalam masyarakat yang sesak".


Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari artikel ini, The semi-sacred 'third gender' of South Asia di BBC Culture

Berita terkait