The Florida Project: Kisah tentang kemiskinan yang terjadi tak jauh dari Disney World

The Florida Project Hak atas foto A24
Image caption Aktor Willem Dafoe memberikan penampilan yang hidup dan subtil sebagai manajer motel dalam The Florida Project

Sebuah film tentang orang-orang yang hidup di sebuah motel tua di Florida mendapat banyak pujian di Toronto Film Festival dan di Cannes. Namun apakah film itu layak mendapatkannya? Berikut ini ulasan pemerhati film Caryn James.

The Florida Project punya ketajaman dan kesegaran seperti layaknya sebuah film dokumenter. Film ini berlatar sebuah motel tua dari 1960-an, dengan tembok warna ungu pucat dan nama yang terdengar ceria, terinspirasi Disney, seperti The Magic Castle dan Futureland Inn. Di situ keluarga-keluarga miskin tinggal di tempat sewaan yang murah dan penuh serangga — sebuah alternatif dari rumah — yang letaknya tak jauh dari Disney World.

Namun drama fiksi karya Sean Baker ini juga kadang menjengkelkan dan tak seimbang: dibuat dan diperankan dengan sangat baik, tapi repetitif dan akhirnya terlalu membanggakan diri sendiri sehingga tidak berhasil.

Fitur paling unik dalam film ini juga bermasalah. Film ini menceritakan dunianya dari sudut pandang Moonee, seorang anak periang berusia enam tahun yang hidup di The Magic Castle bersama ibunya, Halley. Si Ibu memiliki tato mawar raksasa di bawah lehernya, dan semburat hijau di rambutnya. Perilakunya sama berisik dan sama tidak terkendalinya seperti anaknya.

Sahabat Moonee, Scootee dan Jancey, juga tinggal di kamar motel. Mereka menghabiskan musim panas dengan berlarian melewati tempat parkir mal, mengemis recehan ke orang asing agar punya uang untuk bisa berbagi es krim, dan mengisi waktu dengan meludah dari balkon motel ke mobil di bawahnya.

Menurut Baker, dia melihat film ini sebagai versi modern Little Rascals. Jika sebelumnya Little Rascals berlatar Era Depresi Besar, maka film ini berlatar krisis ekonomi 2008, dengan anak-anak iseng yang akan membuat penonton tertawa; tapi terlepas dari beberapa celotehan lucu dan cerdas dari Moonee, kesamaan itu bisa jadi tak kesampaian, atau sekadar promosi saja.

Nama Moonee, Scootee dan Jancey terkesan seperti usaha yang terlalu keras untuk terdengar menggemaskan. Tiga sahabat ini sering berteriak dan begitu hiperaktif seolah es krim mereka berisi amfetamin. Sedikit saja sebenarnya cukup; namun Baker terus-terusan menumpuk adegan demi adegan setelah dia menegaskan kekuatan Moonee dan bahaya yang bisa dihadapinya, dari mobil yang tetap melesat cepat saat dia bermain di jalanan sampai ketidakacuhan ibunya.

The Florida Project, film kelima Baker, menyusul film sebelumnya yang juga banyak dipuji — atau mungkin terlalu banyak dipuji — Tangerine. Film 2015 itu dipuji oleh kritikus karena diambil menggunakan iPhone dan dua tokoh utamanya, pekerja seks transgender yang diperankan perempuan trans yang belum pernah berakting. Tapi film itu tak pernah menjadi seefektif konsep yang dibayangkannya dan tak sepenuhnya bisa mengatasi kekakuan penampilan dari para pemerannya yang bukan aktris profesional.

Masalah Florida

Seperti halnya Tangerine, The Florida Project juga memberikan kesan besar kepala — bangga akan dirinya sendiri karena membahas sesuatu yang sulit — dan kali ini menambahkan selapis kesungguhan.

Namun The Florida Project digarap dengan lebih baik. Karena diambil dengan kamera film dan digital, maka keceriaan serta gaya retro motel yang menjadi latar film pun tertangkap.

Kamera yang terus-terusan bergerak bisa menangkap kegelisahan Moonee dan teman-temannya. Dan para aktor non-profesional kini lebih menyatu dengan para pemeran profesional.

Willem Dafoe memberikan penampilan yang hidup dan subtil sebagai manajer motel, seorang pria sopan yang sabar dengan Moonee dan Halley, yang sering telat membayar sewa. Brooklynn Prince, yang pernah main dalam peran-peran kecil, berperan secara alami dan luar biasa sebagai Moonee.

Dan Bria Vinaite, yang tak pernah berakting sebelumnya, sukses memainkan peran yang sangat sulit sebagai Halley. Dia berteriak dan memaki pekerja sosial yang tidak mau memberinya tiket bus. Dia menuangkan minuman soda ke lantai di area resepsionis motel karena marah. Dia vulgar dan kasar tapi berusaha untuk merawat anaknya dengan membeli parfum murahan dan menjualnya di jalanan. Halley begitu miskin sampai tak menyadari betapa buruknya dia sebagai seorang ibu, dan ini membuat penokohannya menjadi begitu pedih.

Namun alur kisahnya, yang mendominasi bagian akhir film, begitu jelas, dan mengungkap kegagalan film ini dalam mengambil sudut pandang seorang anak. Terlepas dari sudut pandang Moonee, kita melihat Halley seperti layaknya orang dewasa lain. Tindakannya tak terasa seperti sesuatu yang tak terhindarkan, tapi kita sudah bisa menebaknya.

The Florida Project adalah istilah awal yang diberikan ke Walt Disney World saat pertama direncanakan pada 1960an. Di balik keriangan jiwa Moonee, Baker memberikan pernyataan akan harapan palsu yang ditawarkan keajaiban Disney, dan bagaimana begitu banyak impian Amerika dihancurkan.

--

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris ulasan ini, Film review: The Florida Project, di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait