The Disaster Artist: film bagus tentang film terburuk sepanjang masa

film Hak atas foto New Line Cinema

Dikenal sebagai 'Citizen Kane-nya film jelek', The Room, menjadi subyek sebuah film baru yang dibintangi dan disutradarai James Franco. Namun, apakah film ini bagus? Nicholas Barber memberikan ulasan.

Siapapun yang pernah menonton The Room pasti tahu betapa jeleknya film ini. Singkat kata, film yang dibuat dan dibintangi Tommy Wiseau itu adalah salah satu film terburuk yang pernah dibuat. Dan yang membuatnya semakin menarik, Tommy yakin bahwa filmnya itu adalah salah satu mahakarya di dunia perfilman.

Film melodrama tanpa cerita ini bahkan sempat menjadi sensasi di kalangan terbatas: karena saking buruknya banyak yang penasaran ingin menonton. Dan kombinasi hal positif dan negatif inilah yang berhasil ditangkap dan disajikan James Franco dalam The Disaster Artist.

Selain berkisah tentang di balik layar pembuatan The Room, The Disaster Artist juga secara jujur bercerita tentang komedi bromance tentang dua lelaki yang punya mimpi sama untuk berjaya di Hollywood. Dan di film, bromance itu dimainkan oleh dua orang kakak-adik.

James Franco, tampil dengan permainan kelas Oscar sebagai Tommy Wiseau, lelaki yang menulis, menyutradari, memproduseri dan membintangi The Room. Sementara Dave Franco sebagai sahabat Tommy yang juga ikut bermain di The Room, Greg Sestero.

Hak atas foto Getty Images
Image caption James Franco (kanan) dan Dave Franco dalam konferensi pers The Disaster Artist.

Tommy dan Greg bertemu pertama kali di San Francisco, dalam sebuah kelas akting tahun 1998. Greg sebenarnya lebih berbakat. Namun, masalahnya setiap kali dia berakting di panggung dia kerap terganggu oleh berbagai ingatan memalukan, seperti saat dia sedang diwawancara kerja tetapi lupa mengenakan celana. Sementara sahabat Greg, Tommy, jauh, jauh lebih percaya diri.

Meskipun dia tidak berbakat, berbicara dengan aksen Eropa timur yang kental dan berpenampilan seprti salah satu anggota Guns N' Roses yang tengah bertransformasi menjadi Hulk, Tommy sangat yakin bahwa dia tampan, sangat tampan bahkan seperti reinkarnasi Marlon Brando. Jika orang mencomooh talentanya, dia tak ambil pusing.

Dalam film ini kita akan menertawai kedua lelaki naif tersebut. Dan tidak hanya itu, kakak-beradik Franco juga ingin kita tersentuh oleh persahabatan mereka. Tommy menemukan seseorang yang mengaguminya dan tidak menilainya aneh, sementara Greg mendapatkan teman yang selalu yakin dia bisa melakukan apapun.

Saling terinspirasi oleh satu sama lain, Tommy dan Greg pindah ke Los Angeles. Tommy punya apartemen di sana (meskipun kita tidak tahu apakah dia menyewanya atau membelinya). Ketika keduanya tidak kunjung mendapatkan pekerjaan di bidang akting, Tommy memutuskan untuk menulis dan menyutradarai filmnya sendiri. Dia pun kemudian menghamburkan uangnya untuk menyewa studio dan membuat set film, yang rupanya tidak ada beda dengan lorong apartemennya sendiri.

Tidak hanya itu, Tommy merekrut aktor dan kru film profesional, termasuk penasehat penulisan skrip yang diperankan Seth Rogen, serta sejumlah aktor yang dimainkan oleh Zack Efron, Jacki Weaver dan Josh Hutcherson.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Tommy Wiseau (kiri) dan Greg Sestero yang menjadi inspirasi The Disaster Artist.

Melihat semua keseriusan itu, awalnya Greg bahagia bukan main, karena mimpinya akan jadi kenyataan. Namun, ketika kemampuan penyutradaraan Tommy mulai memperlihatkan wujud aslinya: mulai dari buruk, menjadi tambah buruk, hingga buruk sekali, semua yang ada di lokasi syuting mulai sadar bahwa kewarasan Tommy tidak lebih baik dari kemampuan bahasa Inggrisnya.

Salah satu hal paling menyebalkan dari The Room adalah betapa pelannya film ini. Untungnya The Disaster Artist berkebalikan. Penulis film Scott Neustadter dan Michael H Weber, seperti berlomba adu cepat pindah dari satu anekdot ke anekdot lainnya. Selain itu, editor film ini juga memangkas adegan langsung ke momen-momen penting. Film ini tidak pernah membosankan sedikit pun, sebuah klaim yang tidak akan pernah kita dengar tentang The Room.

Satu-satunya masalah dengan cepatnya gerak film ini adalah banyak momen yang diceritakan hanya sebatas di permukaan saja. Di awal The Disaster Artist kita diberi tahu bahwa Tommy tidak mau bercerita tentang siapa dia sebenarnya: dari mana dia mendapat uangnya, berapa umurnya, dan dari mana dia berasal.

Namun, di akhir film kita tetap tidak tahu jawabannya. Sebuah biopik yang lebih ambisius akan menginvestigasi bagaimana masa lalu Tommy. Selain itu, Tommy disebut jatuh hati dengan seseorang yang diberinya nama "Baby Face", tapi kita tidak pernah tahu siapa dia.

Ini menjadi ironis karena salah satu aspek yang dicoba disindir Franco soal The Room adalah bagaimana film ini memperkenalkan sesuatu, misalnya subplot, lalu kemudian menelantarkannya tidak berkembang.

Tapi saya bisa akui bahwa The Disaster Artist 783 kali lebih bagus daripada The Room. Namun, ada satu hal menarik. Berbeda dengan The Room, saya yakin bahwa semua pemain dan kru The Disaster Artist tidak ada yang percaya bahwa mereka sedang membuat sebuah film mahakarya, seperti yang dirasakan Tommy saat membuat The Room.

Saya tidak bisa menampik bahwa walau hasilnya jelek, Tommy jelas telah mencurahkan segala daya upaya dan kemampuannya untuk The Room. Sementara Franco, rasanya tidak sebegitu totalnya dalam menggarap The Disaster Artist.

★★★★☆

Anda bisa membaca versi asli artikel ini dalam Bahasa Inggris di BBC Culture, dengan judul Film review: The Disaster Artist is an 'uproarious farce'.

Berita terkait