Bangunan-bangunan menakjubkan yang menjadi kuil teknologi

kuil teknologi Hak atas foto Nigel Young / Foster + Partners

Para dewa sains, kecepatan dan industri selalu memiliki pengikut setia. Jonathan Glancey menjelajahi tempat beribadah mereka yang megah dan angkuh.

Setiap tahun, lebih dari 100.000 pengunjung berjalan melalui dan mengelilingi sekumpulan bangunan abad ke-18 yang megah di ujung Taman Nasional Distrik Peak Inggris. Ini adalah Cromford Mill, Derbyshire, didirikan pada tahun 1771 oleh penemu sekaligus pengusaha Richard Arkwright.

Di sinilah, jauh sebelum Henry Ford lahir, produksi massal dimulai.

Di bangunan-bangunan ini - yang bebas dari partisi dengan jendela di semua sisi - alat penenun bertenaga air yang memutar benang dari kapas selama 24 jam setiap hari, mesin yang berderit yang dioperasikan oleh anak-anak dari usia tujuh tahun, bekerja selama 12 jam sehari.

Kapas berhenti berputar di sini pada tahun 1840an saat pabrik besar di dan sekitar Manchester menjawab tantangan untuk membuat dan mengirim katun ke seluruh dunia. Pabrik Houldsworth yang sangat ambisius di Reddish, dirancang oleh Abraham Stott, adalah salah satu kuil termegah hingga saat ini yang dikhususkan untuk teknologi manufakturing saat dibuka pada tahun 1865.

Pabrik kapas kehilangan tujuan mereka saat kompetisi asing tumbuh setelah Perang Dunia I, walaupun Cromford Mill terlahir kembali sebagai destinasi wisata populer dan Houldsworth Mill sebagai kumpulan toko, rumah susun, perkantoran dan ruang seni.

Pabrik kapas itu dijadikan sebagai kuil teknologi pada mulanya disebabkan pabrik lokomotif yang meledak sejak tahun 1840-an saat jalur kereta api mulai menyebar ke seluruh dunia dengan besi, uap dan baja.

Perusahaan Lokomotif Inggris Utara (The North British Locomotive Company) mengirimkan mesin uapnya dari Glasgow hingga Newfoundland dan Selandia Baru, Amerika Selatan dan sub-Sahara Afrika dan Timur Tengah dan Malaysia.

Pada tahun 1904, perusahaan itu membangun sebuah kantor pusat baru, sebuah kuil Edwardian Baroque yang angkuh yang dirancang oleh arsitek Skotlandia James Miller. Pintu masuknya menampilkan batupasir berukir lokomotif uap yang muncul dari sabuk dan puli melalui sebuah pedimen yang terbelah dari batupasir merah di antara patung dewi-dewi bergaya Romawi yang mewakili 'Ilmu Pengetahuan' dan 'Kecepatan'.

Gagal membuat sebuah transisi komersial dari uap ke diesel ke listrik, Perusahaan Lokomotif Inggris Utara ditutup pada tahun 1962. Seperti Cromford dan Houldsworth Mills, bangunan markas besar Miller menemukan sebuah kegunaan baru, yang saat ini merupakan rumah bagi Glasgow Kelvin College, sebuah sekolah teknik mesin dan komputasi.

Hak atas foto Carl Court/Getty Images
Image caption Kantor harian Daily Express di Fleet Street, London dengan jendela vitrolite hitam ditambah detail kromium yang cerah.

Jika industri manufaktur katun dan kereta api menyebar dari Inggris ke seluruh dunia, demikian juga berita, yang dicetak di atas berrim-rim kertas di ruang bawah tanah, misalnya, Daily Express, yang didirikan pada tahun 1900 dan sempat menjadi koran terlaris di Inggris. Itu adalah koran pertama yang mengusung berita di halaman depan, bukan iklan. Pemiliknya yang kedua, Max Aitken (yang kemudian menjadi Lord Beaverbrook) memiliki hasrat akan arsitektur.

Kantor baru bertema 'Modern yang Disederhanakan' (Streamlined Moderne) yang dibangunnya di Fleet Street pada awal tahun 1930an - dengan jendela vitrolite hitam ditambah detail kromium yang cerah - mengagumkan, namun kantor dan percetakan selanjutnya di Manchester adalah sesuatu yang lain lagi, desainnya modern dan megah, menyala di malam hari sehingga orang yang lewat bisa melihat koran yang meluncur dari mesin cetakan dengan kecepatan yang sangat cepat.

Kuil teknologi ini, yang selesai dirancang oleh insinyur Sir Owen Williams pada 1939, bertujuan membuat kesan yang abadi atas Norman Foster muda, bersepeda mengelilingi kota asalnya sebelum belajar asitektur, dan setengah abad sebelum bisnis globalnya, Foster and Partners, diminta Steve Jobs untuk merancang kantor pusat baru di California untuk Apple.

Dibuka pada 2017, bangunan itu menjadi ' kuil teknologi' yang paling dipuja di abad ke-21.

Ambisi yang menjulang

Bentuk arsitektur baru yang bersih dan canggih muncul di periode antara menurunnya industri lokomotif, memuncaknya koran sebagai objek yang dicetak dan meningkatnya komputer untuk bekerja. Arsitektur ini berbeda-beda di Inggris dan AS, yang mewakili semua yang mencakup dunia teknologi dan komunikasi digital.

Hak atas foto Nigel Young/Foster+Partners
Image caption Steve Jobs Theater berfungsi sebagai tempat suci di kuil teknologi Apple Campus, dirancang oleh Foster + Partners.

Sulit, misalnya, untuk memisahkan arsitektur yang sarat dengan baja, aluminium, perunggu dan gelas karya Mies van der Rohe dari dunia IBM dan sebuah generasi komputer mainframe yang paling dikenal, System/360 yang memainkan peranan kunci di misi ke bulan oleh Nasa pada 1969 dan serial TV Mad Men TV (2007-2015).

Tampaknya pas jika bangunan terakhir Mies, yang diselesaikan pada 1972 setelah kematiannya, adalah IBM Plaza di Chicago (perusahaan teknologi itu sudah tidak berkantor di situ), dengan kuli 52 lantai monolitis untuk teknologi komputer di masa itu.

Sebersih IBM Plaza karya Mies, Apple Park karya Foster di Cupertino adalah sebuah monumen era iPhone dan pesan pribadi instan dan komunikasi global.

Kebetulan, area yang terdapat di dalam bangunan utama berbentuk menyerupai cincin adalah seluas 260,000 m2, sebesar luas Houldsworth Mill di Stockport. Ini tentunya sangat besar, dengan Apple Park menyediakan tujuh kafe untuk 12.000 pegawainya, dan banyak tempat parkir, begitu juga dengan pusat kebugaran, kolam renang dan jalur pejalan kaki dan lari sepanjang dua mil atau sekitar 3 km melalui taman yang baru ditanami tanaman.

Seperti biarawan di sebuah biara, para pegawai dapat menghabiskan waktu mereka di sini, dengan asumsi bahwa mereka diijinkan untuk tidur di bawah meja mereka.

Dan, sama seperti kuil membutuhkan tempat suci, di Apple Campus, pengunjung yang terpilih dapat menuju tempat tertinggi di area itu yakni Steve Jobs Theater. Lobi yang dikelilingi gelas silinder setinggi 20 kaki atau sekitar enam meter dinaungi atap serat karbon metalik.

Di bawahnya, di bawah tanah, terdapat auditorium berkapasitas seribu tempat duduk untuk konferensi pers, peluncuran produk dan acar-acara serupa pemujaan ponsel pintar.

Hak atas foto Nigel Young/Foster+Partners
Image caption Apple Campus memiliki desain bergaris kurva dan sentuhan ruang angkasa.

Jika kereta api berbahan batu bara pernah menjadi agama sekitar jutaan penggemar kereta api di seluruh dunia, banyak di antara mereka akan berziarah ke bengkel dan pabrik lokomotif, Apple dan perusahaan teknologi lain memiliki pengikut fanatik mereka juga.

Antrian orang yang setia menunggu di luar toko-toko perangkat digital putus asa menunggu keluarnya perangkat elektronik terkini - seolah-olah mereka adalah pendosa yang mencari pengampunan dari pemimpin agama atau guru yang sedang bekunjung.

Yang membuat sejumlah kuil teknologi abad ke-21 terlihat berbeda dari angkatan sebelumnya - dari Arkwright ke IBM dan dari Foster, Jobs dan Apple - adalah ide bahwa semua ini dimaksudlan untuk terlihat ringan, muda dan menyenangkan.

Baik Google dan Facebook tampaknya menyukai kantor yang menyerupai taman kanak-kanak, apakah itu di California atau di pusat kota London. Keduanya membayar arsitek dan desainer - Frank Gehry, Bjarke Ingels, Thomas Heatherwick dan OMA - yang terkenal untuk bangunan yang aneh dan 'bermain'.

Dan tetap saja, apakah itu bangunan yang benar-benar atau pura-pura 'bermain', pendekatan keduanya atas kantor pusat baru mendemonstrasikan bahwa perusahaan-perusahaan yang sangat ambisius ini menyukai gagasan bangunan luas dan kokoh bahkan saat menjajakan komunikasi digital global yang sangat halus.

Hak atas foto Nigel Young/Foster+Partners
Image caption Steve Jobs Theater terletak di titik tertinggi di Apple Campus dan menjadi pusat tempat berkumpul para staff.

Garis keindahan

Meski begitu, ada juga kuil-kuil teknologi alternatif yang meskipun penuh dengan teknologi terkini, menghubungkan penemuan dan desain produk baru mereka dengan produksi.

Pusat Teknologi McLaren (McLaren Technology Centre) yang dibangun pada 2003 bersama Pusat Produksi McLaren (McLaren Production Centre) yang dibangun pada 2011 terletak di luar Woking, Surrey, membentuk salah satu pabrik paling modern dan elegan di dunia.

Dirancang oleh Foster + Partners untuk para produsen Formula Satu dan mobil sport dengan kecepatan tinggi, pabrik itu dapat seperti penyebrangan sebuah klinik yang sangat modern dan kuil Zen yang kontemporer.

Bangunan yang saling terhubung - bening, halus, berkilau - diabngun rendah di lansekap di samping sebuah danau buatan, selain terlihat bagus, merupakan bagian integral dari sistem pendingin pabrik.

Di dalam, mobil-mobil dirakit di galeri putih yang sangat bersih. Setiap perusahaan teknologi komputer, termasuk Apple, mungkin dimaafkan karena menganggap pabrik McLaren sebagai salah satu dari pesaing mereka.

Bagaimanapun, beginilah pabrik abad ke-21, jauh dari keringat dan kotoran dari pabrik kereta api abad ke-19, namun dikelola oleh mekanik dan insinyur terampil yang membuat barang sesuai dengan desain perusahaan mereka, dengan bantuan teknologi digital yang terbaru.

Hak atas foto Foster + Partners
Image caption Bangunan yang terhubung di McLaren Centre di Surrey, UK, dirancang untuk memiliki pendekatan yang modern dan elegan.

Usaha McLaren itu ditiru oleh pabrik Rolls-Royce - anak perusahaan BMW - yang dibuka pada 2003 di sudut Goodwood Estate, West Sussex yang telah ditujukan menjadi Area dengan Keindahan Alami Luar Biasa (Area of Outstanding Natural Beauty).

Dirancang oleh Grimshaw Architects, bangunan rendah itu dibungkus batu kapur dan pohon cedar, ditutup atap hijau dan dikelilingi 400.000 tanaman dan pohon. Seperti McLaren, interiornya cukup membuat kagum direktur galeri seni yang paling ambisius sekalipun. Anda dapat mengganti patung dengan mobil mahal sebagai barang yang dipamerkan di sini.

Pada 2002, Volkswagen membuka Gläserne Manufaktur (pabrik yang terbuat dari gelas) di sebuah taman di pusat Dresden.

Awalnya dirancang oleh arsitek Gunter Henn, untuk produksi VW Phaeton - sebuah model mobil mewah yang sudah dihentikan produksinya - sebagian idenya adalah menunjukkan bahwa produksi mobil dapat menjadi aktivitas yang tidak kotor yang dilakukan di sebuah tempat menyerupai galeri seni yang hanya dapat dimimpikan pegawai di abad ke-19 dan ke-20.

Dan yang mengagumkan, suku cadang dan peralatan untuk Gläserne Manufaktur dikirim dengan trem kargo yang melalui pabrik mobil penumpang di jalanan bersejarah di Dresden.

Secara signifikan, perusahaan teknologi terus tergugah oleh mobil listrik yang akan meregangkan teknologi digital ke batasan baru.

Meskipun jika mereka akan menciptakan mobil yang radikal, akankah mereka memisahkan desain produksi seperti yang sekarang mereka lakukan di kuil teknologi, atau akankan mereka mengikuti contoh perusahaan-perusahaan yang lain, yang kuil teknologinya dapat dibangun di wilayah pedesaan di Inggris dan bahkan meningkatkan daya tarik Taman Nasional?

Anda dapat membaca artikel berjudul asliThe awe-inspiring buildings created as temples of tech dan artikel sejenisnya diBBC Culture

Berita terkait