Tatkala patung berusia 700 tahun ditelan akar-akar pohon

Budha karya Mathew Browne Hak atas foto Mathew Browne

Gambar sebuah patung Buddha kuno belum lama ini dinominasikan untuk suatu penghargaan bidang fotografi. Dalam foto itu pengamat seni Kelly Grovier menemukan gema karya-karya Picasso dan Cézanne.

Sesosok wajah dalam himpitan menyeruak dari lilitan-lilitan akar. Tatapannya tampak sayu, seakan bekerja keras membuka kelopak matanya yang kelam.

Dalam terjangan dan himpitan pepohonan dan tumbuhan sekitarnya, fosil sosok senyum itu tetap bertahan - mencolok di tengah suasana kelabu. Ditangkap dalam fotografi warna hitam putih, jalinan akar dan batu yang mencengkeram - antara bayangan kusut dan cahaya yang terpancar - sangat mencekam secara ganjil.

Gambar yang diambil oleh fotografer perjalanan Welsh Mathew Browne ini terpilih sebagai salah satu calon Foto Sejarah Tahun Ini, Historic Photography of the Year.

Browne menemukan kepala yang terjerat itu dalam sebuah kunjungan ke kuil Budha abad ke-14, Wat Mahathat di Thailand tengah, yang diporak-porandakan dalam serangan tentara Burma pada tahun 1767 dan hancur lebur tinggal puing-puing.

Yang paling mempesona adalah kesan pemusnahan bertahap yang tampaknya makin dalam saja di depan kita. Tentang alam yang perlahan-lahan menghapus setiap jejak yang ditinggalkan oleh pemahat purba yang menciptakan patung Buddha yang jadi puing hampir 700 tahun yang lalu.

Hak atas foto Mathew Browne / Historic Photography of the Year.
Image caption Gambar yang diambil oleh fotografer perjalanan Welsh Mathew Browne ini terpilih sebagai salah satu calon Foto Sejarah Tahun Ini, Historic Photography of the Year.

Foto karya Browne ini memunculkan getaran dengan ketajaman yang sama yang dirasakan ketika orang mengunjungi sebuah pemakaman dan menemukan nama-nama di batu nisan yang makin memudar oleh waktu dan cuaca - tersembunyi di balik lumut dan perdu yang menjadi semacam pemicu amnesia yang lembut.

Namun, untuk semua melakoli itu, tampak daya tahan yang dahsyat dalam wajah Buddha yang tangguh itu, yang berkobar, yang menyelamatkannya dari keputusasaan total.

Lihat kembali ekspresi tegar orang bijak itu dan mulailah menyeruak keseimbangan tak terduga dengan akar yang melilitnya, seolah-olah dibangkitkan oleh kekuatan hidup yang menjeratnya. Tiba-tiba, benda purba itu jadi tampak kurang terancam oleh pepohonan di sekitarnya, dan malah seakan justru dipahat dengan seksama untuk menjadi bagian mereka.

Terperangkap di tengah silang sengkarut sendi geometris dan bayangan-bayangan samar, wajah Budha yang mirik kedok itu - dengan hidungnya yang mancung dan rahangnya yang tajam - nampak semakin lama semakin Kubistik, seolah-olah nyaris terserap ke dalam kelebatan berbagai bentuk yang mengelilinginya.

Kunci munculnya Kubisme di awal abad ke-20 adalah visi Paul Cézanne, pelopornya. Khususnya segepok karya studi tentang perempuan telanjang yang mandi di tepi sungai yang dilakukannya dengan sentuhan Post-Impresionis di dasawarsa terakhir hidupnya. Karya-karya itu tidak ditunjukkan sampai setelah kematiannya pada tahun 1906, dan kemudian menyulut imajinasi Pablo Picasso dan Georges Braque.

Terinspirasi oleh kemampuan Cézanne untuk menyulap gambaran manusia berdarah berdaging menjadi pahatan batu dan membenturkan atmosfer di sekeliling sosoknya menjadi sesuatu yang gamang dan gamblang, Picasso mulai bereksperimen.

Di antara karya awal Picasso yang berhutang budi kepada Cézanne, ada potret dealer seni rupa Ambroise Vollard, yang mengagumi karya Picasso dan Cezanne, dan pernah membantu mempromosikan Paul Gauguin dan Vincent van Gogh.

Hak atas foto Pushkin Museum Moscow
Image caption Potret Ambroise Vollard karya Picasso

Melalui lensa potret Picasso, dunia menjadi tidak organik dan tidak pula anorganik, namun merupakan semacam rakitan irama yang murni. Semuanya pada akhirnya tunduk pada energi yang mendasarinya.

Ditempatkan berdampingan dengan foto dari Thailand itu, Potret Ambroise Vollard menampilkan cahaya ramah yang tak terduga. Kedua gambar sama-sama memancarkan suatu sensibilitas bahwa segala sesuatu, entah penuh gejolak atau lembam, akar atau patung, mrupakan aspek-aspek dari suatu pola yang lebih dalam.

Lukisan Picasso dengan unsur yang sekan bilahan-bilahan terpecah-pecah, dan foto Buddha karya Browne menghuni ruang bersama di mana daging dan batu berubah menjadi simpul kegelapan yang benderang dan cahaya yang temaram.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari tulisan ini, The 700 year old sculpture swallowed by tree roots dan artikel budaya lainnya di BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait