Misteri simbol lingkaran kuno yang bertahan ribuan tahun di berbagai kebudayaan

Ouroboros Hak atas foto Biblioteca dell'Accademia Nazionale dei Lincei
Image caption Salah satu gambar kuno yang terinspirasi bulatan kuno ini tersimpan di pusat arsip di Roma, Italia.

Melalui pameran seni kontemporer yang menilik makna di balik konsep bulatan kuno atau ouroboros, Joobin Bekhrad berusaha menemukan alasan satu simbol dapat memiliki arti berbeda pada periode Mesir lama, mitologi Hindu, dan alkimia atau ilmu kimia yang berselimut mistis di era Renaisans.

Konsep ouroboros lawas alias simbol kuno yang memperlihatkan naga menggigit ekornya sendiri, terlihat cocok menandai bagian pembuka dan akhir sebuah pameran besar bertajuk Never Ending Stories di Kunstmuseum Wolfsburg, Jerman.

Menilik sejumlah medium, periode waktu, dan beberapa ruang, pameran tersebut menggali konsep ouroboros dalam skala yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya .

"Bulatan ini betul-betul mengungkap periode waktu yang telah dilalui manusia. Konsep ini tidak pernah dipertontonkan dalam perhitungan waktu dan ruang yang masif," kata Ralf Beil, kurator pameran itu.

Terbagi dalam 14 ruang yang masing-masing memiliki tema tunggal, pameran Never Ending Stories tidak hanya mendefinisikan ouroboros dalam sudut pandang agama atau filsafat, tapi juga sinema, musik, dan literatur modern atau kontemporer.

Hak atas foto LIMA, Amsterdam
Image caption Dalam karya bertajuk For Breathing In Breathing Out (1977), seniman Marina Abramović and Ulay menutup lubang hidung mereka dengan filter rokok lalu menghubungkan kedua mulut mereka.

Dan ouroboros merupakan satu simbol yang paling menarik, yang telah memunculkan kekaguman serta rasa takjub selama berabad-abad. Dalam terminologi Yunani simbol ini berarti 'ekor yang dilahap'. Bulatan itu telah muncul dalam beragam wujud dengan pemaknaan berbeda, tergantung konteks dan lokasi pembuatannya.

Dalam versinya yang paling asli dan variasinya yang terkenal, ouroboros merupakan lingkaran berupa ular yang menggigit ekornya sendiri.

Ouroboros bukanlah tradisi Yunani dan tentu bukan selebrasi atas kanibalisme. Lalu apa latar belakang munculnya bulatan kuno terkenal itu dan apa saja yang dipengaruhinya?

Inilah matahari

Ouroboros tertua terdapat di ruangan suci bercorak emas dalam kuburan Tutankhamen alias Raja Tut di Mesir, pada abad ke-13 sebelum masehi. Bulatan itu muncul setelah pendahulunya, Akhenaten, mencari ketenangan melalui meditasi singkat yang dikenal dalam kepercayaan lokal.

Menurut pakar Mesir ternama, Jas Assmann, simbol itu merujuk pada misteri yang menyebut kehidupan akan selalu kembali pada titik awal.

Masyarakat Mesir kuno diyakini percaya bahwa waktu berbentuk lingkaran repetitif, bukan perihal linier atau yang secara konstan berkembang. Pusat dari pemahaman ini adalah aliran Sungai Nil dan siklus matahari.

Aliran Sungai Nil pada musim kering menandai dimulainya tahun baru dan merupakan metafora siklus waktu yang terus berputar.

"Mengalir kembali ke hulu seperti lingkaran. Memungkinkan terjadinya pembaharuan, repetisi, dan regenerasi," kata Assmann.

Hak atas foto Zentralbibliothek Zürich
Image caption Aurora Consurgens, manuskrip alkemia dari abad ke-15 menunjukkan ouroboros yang disandingkan dengan matahari, bulan serta merkurius.

Hampir serupa dengan pandangan mereka terhadap Nil, masyarakat Mesir kuno percaya matahari adalah penyebab waktu berputar dalam pola lingkaran.

Mereka menganggap matahari harus menjalani perjalanan malam hari melalui perairan penuh halangan yang dikuasai Nun, dewa perempuan dalam mitologi Mesir, sebelum akhirnya kembali ke langit.

Mirip dengan hal itu, ouroboros dalam konteks lokal Mesir menyimbolkan repitisi, pembaharuan, dan lingkaran waktu yang abadi. Hampir sama dengan matahari, ouroboros diyakini harus melalui perjalanan serupa sebelum kembali ke titik awal.

Konsep ouroboros dilanjutkan para ahli alkemia Yunani pada era Helenistik dalam peradaban Alexandria. Pada paham chrysopoeia atau transmutasi menuju emas yang diperkenalkan Cleopatra, ouroboros mempunyai arti yang sedikit berbeda dengan periode sebelumnya.

Kertas papirus dari abad ke-3 sebelum masehi -berisi proses penciptaan emas dan ouroboros-muncul di antara berbagai simbol dan gambar yang mengelilingi terminologi Yunani 'Satu adalah Semua'.

Dikenal sebagai simbol alegori tertua dalam alkemia, ouroboros merepresentasikan keabadian dan pengulangan yang tak berujung.

Konsep itu juga menunjukkan awal dan akhir yang sebenarnya satu kesatuan, berbeda dengan keyakinan masyarakat Mesir kuno tentang perjalanan matahari dan aliran Sungai Nil.

Di bagian lain dalam papirus itu, di dalam lingkaran dua lapis, terdapat peribahasa yang tertulis secara lengkap, yaitu 'Satu adalah semua, oleh semua, dan untuk semuanya, dan jika tidak menampung semuanya, maka satu adalah kosong'.

Hak atas foto Staatsbibliothek zu Berlin
Image caption Ouroboros muncul dalam studi klasik tentang alkemia karangan Michael Maier, Atalanta Fugiens (1617).

Ouroboros juga memiliki makna yang berkaitan dengan gnotisisme atau paham yang meyakini manusia terperangkap dalam dunia tak sempurna yang diciptakan Allah.

Dari sudut pandang gnotisisme, ujung yang saling berhadapan dalam konsep ouroboros diartikan sebagai sifat keilahian dan keduniawian manusia, meski terpisah satu dengan yang lain, terwujud dalam kebersamaan.

Dalam pemahaman ini, ouroboros mirip dengan konsep Yin dan Yang dari tradisi Cina yang melukiskan harmoni antara dua kekuatan yang bertolak belakang.

Pemaknaan itu juga serupa dengan dikotomi alam semesta tentang terang dan kegelapan dalam Manikanisme atau filosofi yang dianut kepercayaan Zoroastrianisme tentang farvahar yang menyebut setiap jiwa diciptakan suci, bagian dari ilahi, dan tak terlepas dari sifat manusia.

Ouroboros juga muncul dalam tradisi kuno lainnya. Dalam mitologi orang-orang Norwegia, naga bernama Jörmungandr melingkari dunia dengan ekor dan mulutnya, sementara dalam mitologi Hindu, ouroboros membentuk satu dari sekian landasan tempat bumi beristirahat.

Pada paham Mithraisme di Iran yang terpengaruh Romawi, yaitu Zurvan, ouroboros yang menyimbolkan waktu yang tidak terbatas tergambar dalam lilitan naga, sedangkan Quetzalcoati, dewa dalam kepercayaan Mesoamerika, sering ditampilkan dalam bentuk ouroboros.

Apabila sederet paparan tadi belum cukup membuktikan eksistensi ouroboros, popularitas konsep bulatan kuno itu di kalangan ahli alkemia abad pencerahan dapat menjadi bukti lainnya.

Direpresentasikan sebagai waktu yang tidak berbatas dan kekekalan, para ahli alkemia itu memandang ouroboros sebagai halangan utama menaklukkan Magnum Opus.

Perjuangan mereka yang tiada henti untuk menjadi abadi diartikan sebagai upaya memutus lingkaran ouroboros.

Bertumbuh dalam lingkaran

Pameran Never Ending Stories diawali dan diakhiri dengan ouroboros karena bulatan itu merupakan simbol yang dikenal di berbagai daerah berbeda.

"Daya tarik simbol itu berasal dari makna yang hampir presisi dari gambar tersebut, yang secara cepat dapat dimengerti dan diaplikasikan oleh setiap budaya selama dua ribu tahun," kata Beil.

Pameran itu juga menggunakan pendekatan lain untuk menunjukkan ouroboros, melalui cara yang memantik panca indera, dengan penggunaan beragam elemen, baik visual, pendengaran maupun yang tampak secara fisik, sebuah pengulangan yang terus-menerus.

Hak atas foto Bridget Riley
Image caption Salah satu karya terkait ouroboros yang ditampilkan dalam pameran Never Ending Stories adalah Blaze 4 (1964), karya Bridget Riley.

Beil menempatkan beberapa bulatan kuno di pamerannya dalam lima kategori berbeda: lingkaran utuh dan persegi (seperti ouroboros), garis-garis Mobius, lingkaran tak terbatas yang diciptakan efek Droste atau yang disebut Andre Gide sebagai mise en abyme.

Ada pula kategori anak tangga imajiner ala Penrose, tangga tak berujung yang terinsipirasi dari karya Maurits Cornelis Escher, dan bulatan kuno identik serta permanen yang tak memperhatikan elemen-elemen yang ada.

Selain menggali makna dari bulatan-bulatan kuno dan beragam bentuk lainnya, pameran tersebut juga menyorot pengaruh mereka dari segi batin dan sejarah, termasuk konteks populer yang mengiringinya.

Contohnya adalah mitos Yunani tentang sosok Sisyphus yang selamanya dikutuk untuk memanggul batu besar menuju bukit di Tartarus, meski pada akhirnya ia gagal sebelum tiba di pucuk bukit.

Atau buku karangan filsuf Jerman Friedrich Nietzsche yang berjudul Thus Spoke Zarathustra.

"Lihat, kami tahu apa yang anda ajarkan," kata Nietzsche pada tokoh protagonis yang merupakan antitesis atas nabi asal Iran itu.

"Semuanya terjadi dalam caranya sendiri dan kami selalu menyertainya, kami sudah berada di titik ini secara terus-menerus dan seluruh hal juga bersama kami," ujar Nietzsche.

Hak atas foto 2017 The MC Escher Company
Image caption Karya milik MC Escher, yaitu Drawing Hands (1948) berisi visual yang menunjukkan paradoks, menciptakan spiral yang tidak memiliki awal dan akhir.

Dalam latar yang sama juga terdapat karya Yayoi Kusama yang berkilau, yang berjudul Infinity Mirrored Roominstallation, sebuah instalasi berupa pancaran cahaya berkilauan tak tentu arah berukuran 4x4 meter, yang menurut Beil, sebuah bulatan yang sangat kekal.

Ada pula karya spiral dekade 1930-an dan 1960-an bertajuk Rotoreliefs milik Marcel Duchamp serta lagu-lagu latar yang dibawakan Donna Summer, yaitu I Feel Love, dan gubahan Kraftwerk berjudul Autobahn.

Dari mitologi Mesir tentang perjalanan matahari hingga Donna Summer, konsep bulatan-bulatan kuno, yang kerap kali disebut sebagai ouroboros itu, tidak dapat dipisahkan dari makna waktu yang diyakini manusia.

Para ahli alkemia era Renaisans memandang ouroboros sebagai hal-hal yang mendobrak garis lurus, bukan sebagai konsep perputaran keabadian. Sekarang, bulatan-bulatan itu mungkin mendorong kita memikirkan secara mendalam setiap momentum yang kita lalui.

Artikel berjudul asliThe ancient symbol that spanned millenia ini dapat anda baca dalam bahasa Inggris diBBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait