The Last Jedi: episode Star Wars terbaik?

Kylo Ren Hak atas foto Disney/Lucasfilm
Image caption Kylo Ren dalam The Last Jedi.

Salah satu pertanyaan terbesar yang ditimbulkan episode ketujuh Star Wars pada 2015, The Force Awakens, ialah: apakah Luke Skywalker (Mark Hamill) memang layak dinantikan?

Ia bagaikan Tabut Perjanjian dalam seri Indiana Jones, Maltese Falcon, sesuatu yang dicari-cari semua orang, sehingga kita mesti percaya kalau ia dapat mengubah takdir galaksi menjadi lebih baik, atau sebaliknya. Namun sulit untuk meyakini bahwa ia sepadan dengan kematian dan kehancuran disebabkan upaya pencariannya.

Hal yang kita ketahui tentang Luke ialah sang pahlawan berhati mulia dari trilogi pertama Star Wars bertengkar dengan sepupunya dan kemudian mengasingkan diri ke planet terpencil yang mirip dengan sebuah pulau di lepas pantai Kerry, Irlandia. Kenapa kelompok pemberontak (Resistance) dan First Order begitu terobsesi dengannya? Apa sih pentingnya dia?

Star Wars Episode VIII: The Last Jedi menjawab pertanyaan ini dengan serius, tapi juga bermain-main dengannya. Di sebuah adegan di awal film, Luke bertanya kenapa sepertinya semua orang berpikir bahwa seseorang dengan pedang laser mampu membalikkan keadaan dalam perang melawan tentara fasis; dan film ini, ditulis dan diarahkan oleh Rian Johnson (Brick, Looper), terus mempertanyakan dan menantang mitosnya sendiri dengan semangat dan rasa ingin tahu.

Semua konsep monolitik yang menjadi batu fondasi hikayat Star Wars dikikis satu per satu: The Force, Jedi, baik, jahat, takdir, keluarga, pengorbanan diri, perang ... apakah itu semua sehebat yang selama ini diagung-agungkan? Sebagai film paling cerdas dalam waralaba Star Wars, The Last Jedi bisa dipandang sebagai versi opera ruang angkasa dari film western revisionis Clint Eastwood, Unforgiven. Film ini mencemooh reputasi legendaris jagoannya - tapi pada akhirnya memberi penonton kepuasan dengan menunjukkan kenapa sang jagoan mendapatkan reputasi legendaris itu. Berdasarkan standar Star Wars, upaya demistifikasi Johnson adalah langkah radikal dan subversif.

Hak atas foto Disney/Lucasfilm
Image caption Dalam The Last Jedi, Finn (John Boyega) mendapat mitra baru bernama Rose (Kelly Marie Tran).

Tapi jangan terlalu terpesona. Seperti The Force Awakens yang strukturnya begitu mirip dengan film pertama Star Wars sehingga bisa dianggap sebagai remake sekaligus sekuel, Anda juga dapat menemukan banyak elemen dalam The Empire Strikes Back saat menonton The Last Jedi. Sekutu baru yang tak peduli soal baik-jahat? Ada. Pengungkapan mengejutkan tentang orang tua sang jagoan? Ada. Dan Anda dapat menemukan hal-hal ini seketika filmnya dimulai.

Seperti The Empire Strikes Back, The Last Jedi dibuka dengan serangan terhadap markas kelompok pemberontak. Kemudian terjadilah pertempuran udara, dan Poe Dameron (Oscar Isaac) menegaskan dirinya sebagai pemarah yang suka melawan perintah. Kelakuan Poe tidak disukai Putri Leia (Carrie Fisher) dan tangan kanannya, Admiral Holdo (Laura Dern).

Plotnya kemudian bercabang menjadi dua alur cerita yang beriringan, juga seperti halnya The Empire Strikes Back. Di bagian pertama, seorang calon Jedi menemui seorang Empu Jedi di planet terpencil, tapi kali ini, bukannya Luke menemui Yoda, Rey (Daisy Ridley) yang menemui Luke. Di bagian lainnya, para jagoan melarikan diri dari musuh, yang kali ini adalah First Order sebagai pengganti Empire. Kedua alur cerita itu tidak semenarik yang dituturkan dalam The Empire Strikes Back pada 1980.

Hal yang menyenangkan, tentu saja, menyaksikan Luke berkeliaran di pulau tempat pelariannya. Di The Force Awakens, ia hanya kebagian satu ekspresi muram tanpa dialog; jadi jika Johnson ingin menunjukkan sang Empu Jedi memanjat tebing, memancing, dan mengobrol dengan kawan-kawan aliennya, kita tak berhak protes. Tapi ini tidak cukup dramatis.

Sementara itu, alur cerita balapan-di-ruang-angkasa, yang sepertinya diangkat dari serial televisi Battlestar Galactica, terkesan kurang mendesak meski disertai hitungan mundur. Berbagai tokoh sampingan terus-menerus memberi tahu kita bahwa pesawat pemberontak hanya punya tiga jam - dua jam - 15 menit - 10 detik - sampai mereka dihancurkan pesawat raksasa yang dipimpin perwira First Order yang picik, Jenderal Hux (Domhnall Gleeson). Tapi para jagoan tampaknya cukup santai dalam menghadapi situasi ini.

Salah satu masalahnya ialah Johnson tidak memiliki bakat Abrams dalam menggelar adegan aksi yang seru. Masalah lainnya, beberapa bagian terbaik dalam The Force Awakens melibatkan percakapan lucu antara Finn (John Boyega) dan Poe, lalu Finn dan Rey, kemudian Finn dan Han Solo. Di The Last Jedi, Finn punya mitra baru, Rose (Kelly Marie Tran), dan mereka berdua sangat cocok, tapi terlalu serius.

Namun, seperti yang dikatakan para tokoh sepanjang film: jangan putus harapan. Seperti prekuel Star Wars tahun lalu, Rogue One, The Last Jedi diselamatkan oleh babak ketiganya. Pada bagian terakhir inilah Johnson memberikan tontonan epik dan adegan pertarungan hebat yang kita tunggu-tunggu, serta twist paling mengejutkan dalam film Star Wars.

Diperankan dengan penuh penghayatan oleh aktor Adam Driver, tokoh antagonis utama Kylo Ren mengukuhkan bahwa ia lebih menarik dan tak terduga dibandingkan tokoh lainnya di trilogi baru ini, bahkan mungkin di seluruh hikayat Star Wars. Dan pemimpin tertinggi Snoke (Andy Serkis) membuktikan dirinya sebagai penjahat yang bengis, namun karismatik.

Hak atas foto AFP
Image caption Carrie Fisher, yang memerankan Putri Leia, tutup usia saat The Last Jedi dalam tahap pascaproduksi.

Hal yang paling mengagumkan, The Last Jedi menjadi semacam kajian yang mendalam dan mengharukan tentang arti fenomena Star Wars bagi para penggemarnya. Ketika sampai pada penghormatan terakhir pada aktris Carrie Fisher, yang tutup usia saat film ini dalam tahap pascaproduksi, terasa jelas bahwa ini sesuatu yang spesial. Kalau saja ia sampai di sana lebih awal...

The Force Awakens dan The Last Jedi memberi kesan bahwa sutradara masing-masing, Abrams dan Johnson, paham bahwa mereka hanya punya satu kesempatan untuk membuat episode Star Wars, dan karena itu bertekad untuk memenuhinya dengan segala hal terkait Skywalker dan Stormtrooper yang terbayang di benak mereka sejak masa kanak-kanak. Ini dorongan yang bisa dipahami, tapi juga merusak. The Last Jedi berdurasi dua-setengah-jam, dan akan jauh lebih baik jika editornya menggunakan lightsaber untuk memotong beberapa adegan yang kurang penting.

Perbedaan antara kedua sutradara ialah, sementara Abrams puas hanya dengan memberi penghormatan pada ide-ide George Lucas di Star Wars pada 1977, Johnson punya ide-idenya sendiri. Filmnya berfungsi sebagai kelanjutan upaya Abrams sekaligus kritik terhadapnya. Singkat cerita (dan saya harap Johnson membuat ceritanya jadi lebih singkat): jika Anda merasa bosan di tengah-tengah The Last Jedi, bertahanlah. Justru ketika Anda berpikir film ini akan berakhir, ia baru bertambah seru. Dan justru ketika saya berpikir waralaba Star Wars mulai kehabisan ide, ia juga justru bertambah menarik.

--

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini, Is The Last Jedi the best of Star Wars?, di BBC Culture.

Berita terkait