Para penulis hebat yang dilupakan sejarah

Hak atas foto AFP

Pernah mendengar nama-nama seperti Alexander Baron atau Mary Elizabeth Braddon? Mereka adalah penulis yang terlupakan dan karya-karyanya saat ini penting untuk digali kembali.

Walaupun menikmati banyak penjualan dan penghargaan yang berlimpah selama hidup mereka, nama trio yang dulu sangat tersohor - Elizabeth Daly, JG Farrell dan Billy-Bunter (pencipta Charles Hamilton, dengan nama pena Frank Richards) - saat ini nyaris terlupakan, dan karya mereka kurang dibaca, atau tidak dicetak sama sekali.

Saat ini, nama-nama itu dilahirkan kembali melalui kehadiran buku berjudul The Book of Forgotten Authors karya Christopher Fowler, yang memberikan perspektif baru dan bahkan agak provokatif dalam membeberkan latar belakang mengapa para penulis itu terlupakan.

Buku karya Fowler itu merekam kehidupan para penulis, gaya penulisannya, alasan kenapa mereka tidak mampu mencapai reputasinya walaupun berbakat, hingga penulis yang mati muda.

Intinya, membaca kisah mereka akan membuat pembaca penasaran untuk mencari lagi karya-karya mereka di toko buku bekas.

Hak atas foto Amazon UK
Image caption The Book of Forgotten Authors karya Christopher Fowler.

Pernah mendengar King Dido karya Alexander Baron? Saya juga belum, dan kita sepertinya ketinggalan, karena Baron ternyata adalah salah seorang novelis yang sering diremehkan semasa Perang Dunia Kedua.

Menurut Fowler, roman psikologisnya merupakan "salah-satu novel berlatar kota London yang terbaik, yaitu kehidupan di distrik East End yang kisahnya mirip Les Miserable, tetapi tidak dibaca banyak orang."

Lalu ada sosok Mary Elizabeth Braddon, yang menghasilkan novel-novel sensasional macam Lady Audley's Secret yang mengungkap kegelisahan masyarakat zaman Victoria.

Kehidupan Braddon sendiri diwarnai sensasi ketika menjalani kehidupan bigamy dengan pemilik penerbitan bukunya yang telah menikah (istrinya berada di rumah sakit jiwa), dan saat hari kematiannya, dia dan kisah-kisah rekaannya dianggap "menjadi bagian dari Inggris".

Hak atas foto Youtube
Image caption Buku karya Mary Elizabeth Braddon berjudul Lady Audley's Secret juga difilmkan

Karya Fowler sendiri yaitu buku seri misteri berjudul Bryant and May, yang mengisahkan dua orang detektif dalam mengungkap berbagai kasus dengan latar Perang Dunia II, terbilang sukses.

Namun demikian dia menulis: "Tidak seperti para musisi dan para pembuat film, para penulis dapat benar-benar lenyap. Karya mereka dapat dilipat-lipat, salinannya salah, manuskripnya hilang, bahkan kemudian dilarang dan dibakar. Hal seperti ini dapat terjadi di mana-mana, dan sukses besar dan pengaruh besar dapat hilang begitu saja dalam hidup mereka."

Kasus meredup atau menghilangnya ketenaran seorang penulis terlihat pada penulis Patrick Dennis. Novelnya yang berjudul Auntie Mame (1955), yang berkisah tentang sosok eksentrik berjiwa bebas yang memutuskan menyelamatkan keponakannya yang pemalu dari sifat angkuh, merupakan buku terlaris dan bahkan diangkat dalam drama musikal dan difilmkan sebanyak dua kali.

Dennis juga dikenal sebagai penulis pertama yang tiga karya bukunya berada dalam daftar buku terlaris versi New York Times dalam waktu bersamaan.

Hak atas foto Amazon
Image caption Karya Fowler sendiri yaitu buku seri misteri berjudul Bryant and May, yang mengisahkan dua orang detektif dalam mengungkap berbagai kasus dengan latar Perang Dunia II, terbilang sukses.

Namun kemudian waktu berubah. Mengutip Fowler, "ketika periode kekecewaan meledak pada tahun 1970an, kemunculan dongeng komiknya yang menyenangkan membuatnya menjadi tidak relevan."

Setelah menyatakan pensiun sebagai penulis, Dennis bekerja melayani para pimpinan McDonald dan tampaknya dia tidak pernah mengaku bahwa karya-karyanya pernah menjadi fenomenal di kalangan penerbit.

Tidak menemukan penggemar yang tepat

Ada pula penulis yang nyaris tidak pernah mengendus sedikitpun kesuksesan. Penulis Kyril Bonfiglioli, kelahiran 1928, bahkan tidak pernah menemukan penggemar yang tepat selama hidupnya.

Secara sekilas, novel-novelnya mengumbar kisah seputar kriminalitas, tetapi kenyataannya hampir semua karyanya dijejali kisah-kisah seperti itu. Sebutlah Bonfiglioli memasukkan sosok hero seperti Charlie Mortdecai, yang digambarkan 'sombong, pengecut, pencuri karya seni yang perlente' yang mengharamkan kesalahan politik. Sosok ini mengingatkan pada karakter fiktif macam Bertie Wooster, Falstaff dan Raffles.

Dengan jaketnya yang berdebu, Bonfiglioli mendeskripsikan tokoh fiksinya itu sebagai "ahli bermain anggar, penembak jitu dengan senjata jenis apapun" yang brsikap hemat dalam segala hal kecuali minum, makan, rokok dan omong kosong".

Image caption Digambarkan sebagai sosok Bohemian, bakat Julian Maclaren-Ross menghasilkan novel-novelnya yang penuh kesenangan dan ketajaman dialog yang tidak pernah terlihat dalam karya-karya sastra setelahnya.

Perjalanan Bonfiglioli akhirnya mengalami kemunduran total akibat dihimpit kemiskinan dan alkohol, sebelum akhirnya dia meninggal dunia karena sirosis pada 1985.

Sosok Julian Maclaren-Ross, penulis kelahiran 1912, adalah contoh lainnya. Penulis biografinya, Paul Willetts, menggambarkannya sebagai "sosok medioker yang menjalani setengah hati bakatnya yang luar biasa".

Digambarkan sebagai sosok Bohemian, bakat Julian menghasilkan novel-novelnya yang penuh kesenangan dan ketajaman dialog yang tidak pernah terlihat dalam karya-karya sastra setelahnya.

Kehidupan Julian kemudian menginspirasi penulis Anthony Powell dalam novelnya yang terkenal A Dance to the Music of Time. Dalam novel ini, sosok Julian digambarkan melalui seorang novelis dengan inisial X.

Hak atas foto Amazon
Image caption JG Farrell, penulis Inggris, pemenang Booker Prize 1973, yang meninggal dunia pada usia 44 tahun.

Belakangan muncul anggapan bahwa karir Julian Maclaren-Ross terhambat karena dia lahir terlambat untuk masuk kelompok aliran Waugh, dan terlalu awal untuk bergabung dalam kelompok Angry Young Men.

Winifred Watson, penulis perempuan kelahiran 1906, adalah korban waktu lainnya. Kendatipun dia akhirnya meraih ketenaran setelah dia meninggal dunia, bakatnya tidak terkendala situasi dunia saat itu.

Setelah dia meninggal, novel karyanya Miss Pettigrew Lives for a Day diterbitkan ulang dan difimkan -dibintangi Amy Adams. Namanya kemudian melambung kembali.

Tetapi semasa hidupnya, kisahnya menjadi lain. Tiga peristiwa besar yang mengguncang dunia, yaitu masa depresi (sehingga dia tidak memiliki banyak uang untuk mengikuti jejak saudara-saudara perempuannya yang melanjutkan pendidikan tinggi), serangan Pearl Harbor (yang membatalkan rencananya untuk membuat Miss Pettigrew sebagai drama musikal Hollywood) dan serangan Jerman ke London (yang mengharuskannya tinggal sekamar dengan orang tuanya, membuatnya tidak mungkin menulis).

Mati di usia muda

Ganjalan lainnya? Mati pada usia muda. Di antaranya adalah JG Farrell, pemenang Booker Prize 1973. Dia meninggal tiga tahun kemudian pada usia 44 tahun.

Itulah sebabnya, penulis terkenal Salman Rushdie mengatakan apabila umurnya lebih panjang, Farrell kemungkinan besar akan mencapai reputasinya.

Dan bagaimana dengan penulis yang mampu melahirkan karya dalam jumlah besar? Apakah kenyataan ini dapat menimbulkan masalah besar. Ambillah contoh penulis thriller kelahiran 1908, John Creasey, yang menggunakan lebih dari 20 nama samaran dan menerbitkan begitu banyak buku sehingga dia terkadang lupa judul bukunya.

Mengapa ini menjadi hal buruk? Seperti dituliskan Fowler, "Masyarakat pembaca suka melekatkan label kesederhanaan pada seorang penulis, dan itu sulit dilakukan ketika penulis memiliki banyak wajah."

Hak atas foto rte.ie
Image caption Penulis JG Farrell, pemenang Booker Prize 1973, meninggal dunia pada usia 44 tahun.

Lalu ada Charles Hamilton, penulis kelahiran 1876, yang dikenal dengan sebutan manusia dengan 100 juta kata. Salah satu penulis yang paling produktif dalam sejarah, dan hampir tidak ada bukunya yang dapat ditemukan sekarang. Novelnya, Billy Bunter, yang sepertinya merupakan karya terbaiknya, tetap dianggap para kritikus masih penuh "lubang".

Dan terkadang penjelasan panjang-lebar tetap sulit untuk memahami apa yang menimpa seorang penulis. Misalnya saja, mengapa penulis Elizabeth Daly, kelahiran 1878, yang merupakan favorit penulis Agatha Christie menghilang dari popularitas?

Selama 1940an, ketika dia berusia enam puluhan, dia menerbitkan 16 'bibliomisteri' yang menampilkan sosok Henry Gamadge, seorang pecinta kucing, ahli buku langka di New York yang bergulat dengan serangkaian teka-teki yang dirangkai secara cermat dengan latar yang menarik.

Terlalu esoterik? Terlalu menampilkan sisi perempuan? Mungkin iya, kecuali bahwa dia adalah seorang penulis terkenal pada masanya, dan pada 1960, dia dianugerahi Edgar Prize oleh Mystery Writers of America.

Bersikap tertutup

Pada akhirnya, alasan-alasan yang patut dicatat dari para penulis yang tidak terkenal sama banyaknya dengan para penulis itu sendiri.

Hasil temuan Fowler memperlihatkan bahwa ada faktor-faktor lain yang ikut berkontribusi diantaranya adalah mereka mengaburkan karya mereka sendiri ("Kadang-kadang saya kagum bahwa penulis kelas tiga seperti saya dapat masuk kategori penulis kelas dua", kata John Collier, penulis cerita fantasi), bersikap tertutup (penulis Georgette Heyer tidak pernah mau diwawancara), dan persoalan genre (dengan beberapa perkecualian).

Novel dengan gaya penulisan "tertentu" biasanya sulit menandingi novel populer. Namun menampilkan karya yang menyesuaikan dengan cara berpikir orang kebanyakan, membuat bukunya sulit mendapat reputasi baik.

Dan jangan lupakan masalah gender atau jenis kelamin. Fowler mencurahkan seluruh bab dalam bukunya untuk menyoroti para penulis perempuan yang karya-karyanya dipenuhi psychological suspense sebelum nantinya laris terjual.

"Penulis perempuan psychological suspense yang terlupakan" ini "diabaikan, diremehkan, dilewati atau dianggap biasa," tulis Fowler.

Kunjungilah toko buku bekas

Tetapi saat ini situasinya sedang berubah. Lebih dari itu, revolusi digital telah mengantarkan pada era demoktratis yang terbaru, di mana penulisan fiksi kini mendapatkan posisi penting. Hal ini membuat peran pembaca menjadi lebih penting: merupakan kewajiban kita untuk menjaga agar novel-novel yang baik tetap hidup. (Di samping itu, Fowler merekomendasikan toko buku bekas sebagai tempat terbaik untuk dikunjungi).

Hak atas foto Getty Images
Image caption Toko buku bekas di Kota Mijas, Spanyol, 17 Maret 2016.

Walaupun buku-buku mereka yang mendapat reputasi baik tidak dapat ditemukan kembali pada saat ini, para penulis yang terekam dalam buku Fowler tetap memainkan peran sentral dalam ekosistem kesusasteraan dan menjadi rujukan penting bagi karya-karya berikutnya.

Pelopor penulisan gothic yang penuh teka-teki, Ann Radcliffe, misalnya, mempengaruhi gaya penulisan novelis HP Lovecraft. Atau penulis Frank Baker menulis novelnya The Birds 16 tahun sebelum Daphne du Maurier menulis cerita pendek yang kemudian mengilhami film Hitchcock.

Novel Lord of the Flies karya William Golding secara terang-terangan merujuk pada novel The Coral Island karya RB Ballantyne. Sementara novelis Robert Louis Stevenson merasa berhutang budi kepada Ballantyne karena karya-karyanya menginspirasi novelnya yang berjudul Treasure Island.

Novel-novel yang telah lama mati dapat secara tiba-tiba hidup lagi entah bagaimana caranya. Sebuah buku yang sudah tidak dicetak lagi akan memaksa Anda membeli buku bekasnya -lengkap dengan pembatas buku bekas tiket bus- dari pembaca terdahulu.

Berita terkait