10 buku yang patut dibaca pada 2018, mulai kumpulan esai Zadie Smith hingga Amy Bloom

Books to read in 2018 Hak atas foto Eddie Mullan

Anda memiliki resolusi untuk membaca lebih banyak buku tahun ini? Mulailah dengan salah satu dari 10 pilihan berikut.

Hak atas foto Random House

Amy Bloom, White Houses

Untuk novel barunya yang menerangi para pembaca dengan lembut, Bloom menampilkan ribuan surat yang mengungkapkan hubungan antara Eleanor Roosevelt dan Lorena Hickok, mantan reporter Associated Press yang diam-diam tinggal di lorong Eleanor saat dia menjadi Ibu Negara Franklin Delano Roosevelt.

Bloom mengisahkan ceritanya dari sudut pandang "Hick" - seorang perempuan yang mengaku udik, perokok dan peminum yang berterus terang tentang pola asuhnya yang keras, hari-harinya dengan korps pers dan cintanya yang abadi untuk Eleanor.

Eleanor beralih ke Hick pada tahun 1945 setelah pemakaman suaminya FDR, dan dia dihiburkan - minum alkohol, mendengarkan Cole Porter, tidur siang. Sementara itu, Hick menyuguhi kita dengan kisah pertemuan mereka pada tahun 1932, waktu mereka di jalan, pertemuannya dengan FDR dan bahaya serta indahnya mencintai orang yang berkuasa.

Hak atas foto Random House

Zadie Smith, Feel Free

Smith, salah satu novelis paling terkenal di dunia saat ini, telah membuat lusinan esai yang diletakkan di persimpangan "tiga elemen genting dan tidak pasti: bahasa, dunia, duniawi." Ke-35 esai dalam koleksi barunya ditulis di AS dan Inggris selama delapan tahun kepresidenan Obama - sekarang "produk dari dunia lama", tulisnya.

Dia membukanya dengan membawa anak perempuannya untuk mengunjungi ibunya dan menemukan toko buku Willesden Green yang berharga terancam tutup. Lainnya, dia memperhadapkan Facebooknya Mark Zuckerberg dengan peringatan perintis realitas virtual Jason Lanier bahwa kita harus memperhatikan perangkat lunak yang "mengunci" kita.

Dia mewawancarai Jay-Z ("seniman setua bentuk seninya"), menilai buku dan seni, bepergian jauh, dan berakhir dengan sukacita - "kegilaan manusia seperti itu"

Hak atas foto Bloomsbury Publishing

Aminatta Forna, Happiness

Seekor rubah kecil - seekor rubah betina yang berwarna terang - melintasi Waterloo Bridge pada suatu hari di bulan Februari 2014. Attila, seorang psikiater asal Ghana yang mengunjungi London untuk memberikan pidato di konferensi mengenai PTSD (post-traumatic stress disorder), sedang menyeberang saat dia berpapasan dengan seorang pelari - Jean yang beruban dan tinggi, seorang ahli biologi satwa liar terlibat dalam sebuah studi tentang rubah kota.

Forna memulai dengan momen kecil ini dan membentuknya menjadi novel yang sangat bertekstur dan menarik. Rangkaian kisah di novel ini luas, dari hutan New England pada 1834 tempat seorang pemburu melacak hewan tersebut yang membunuh ternak petani hingga ke pos pemeriksaan berisiko di Sierra Leone pada 2000 tempat Attila mengenali komandan yang bertanggung jawab sebagai seorang mantan pasien. Happiness adalah kisah cinta sekaligus eksplorasi potensi trauma yang menyebabkan tidak hanya kerusakan, namun ketahanan.

Hak atas foto Alfred A Knopf

Lorrie Moore, See What Can Be Done

"Lihat apa yang bisa dilakukan." Itulah "permintaan ajaib" yang dimiliki Moore setiap kali Robert Silvers, editor legendaris New York Review of Books, memintanya untuk menulis tentang sesuatu. Sikap kritisnya, tulisnya, adalah "seperti orang Mars asli yang baru saja mendarat di planet asing yang indah". Koleksi dari 60 esai budaya yang jelas dan ilmiah oleh penulis fiksi pemenang penghargaan adalah sebuah harta karun.

Di sini dia mengambil karya John Cheever, Bobbie Ann Mason, Alice Munro, Margaret Atwood, John Updike, Don DeLillo, Clarice Lispector dan belasan lainnya. Ditambah lagi, sebuah catatan apresiatif tentang menonton The Wire nonstop. Dia mengakhiri dengan penghormatan berlapis-lapis kepada Stephen Stills, yang lagunya, untuk generasinya, "direndam dalam pikiran kita, tulang belakang kita, tulang belulang kita".

Hak atas foto Riverhead

Lauren Groff, Florida

Koleksi cerita baru Groff menawarkan potret sensual dan ambivalen dari Florida. Ini adalah "jalinan yang lembap dan padat. Eden dari hal-hal yang berbahaya." Sebuah mimpi buruk. Sebuah dongeng. Sebuah tempat di mana dua saudara perempuan muda ditinggalkan di sebuah pulau seperti Robinson Crusoe, yang lebih tua yang mengawasi ketat yang lebih muda. Dan hantu macan Florida menakutkan seorang wanita yang terdampar tak terduga bersama anak-anaknya yang masih muda di sebuah kamp berburu yang tua.

Dalam satu cerita, seorang wanita membiarkan suami dan anak laki-lakinya keluar di malam Halloween yang penuh badai tanpa dia, sedih karena dia ditolak oleh sahabatnya. "Ada apa dengan saya hingga orang-orang harus menjauhi?" dia bertanya pada anjingnya. Dalam cerita lain, ibu yang letih berjalan-jalan di malam hari dan kehidupan "para tetangg" menampakkan diri, jendela-jendela rumah tangga seperti akuarium."

Hak atas foto Random House

Denis Johnson, The Largesse of the Sea Maiden

Koleksi akhir yang mempesona dari penulis Amerika yang meninggal pada bulan Mei. Judul cerita mengenai seorang pria yang bekerja di bidang periklanan yang jatuh miskin. Dia pindah dari New York ke San Diego dan di sana perspektifnya berubah.

"Pagi ini saya diserang oleh kesedihan pada kecepatan hidup - jarak yang telah saya tempuh dari masa muda saya sendiri, kegigihan dari penyesalan lama, penyesalan baru, kemampuan untuk gagal dalam rangka menyegarkannya dengan bentuk baru - bahwa saya hampir menabrak mobilnya."

Dalam sebuah kisah yang sama tak terduganya, seorang penulis muda yang terluka diberi tes fisik di lutut setelah menelan LSD, obat yang bersifat halusinogen. "Meniupkan rasa sakit, dengan sendirinya, sebagai sesuatu yang lucu secara kosmis, sekaligus mengungkapkan vitalitas alam semesta yang luar biasa dan abadi...". Berbagi sel penjara dengan 'Bob si Pencekik' meluncurkan "malaikat jatuh" lainnya. Akhir yang brilian.

Hak atas foto Algonquin

Tayari Jones, An American Marriage

Roy mengambil jalur cepat dari Eloe, Louisiana ke Morehouse College, perguruan tinggi Afrika-Amerika yang bersejarah, kemudian memulai karier bisnis yang menjanjikan. Celestial, seorang lulusan Spelman kelahiran Atlanta yang independen, telah menemukan ceruk artistiknya. Keduanya bertemu dengan lewat masa kecilnya Andre, menikah, dan tampak bahagia, terlepas dari keraguan Celestial yang muncul sesekali ("Perkawinan seperti mencangkokkan anggota badan ke batang pohon," renungnya).

Delapan belas bulan berjalan, perkawinan menjadi bermasalah ketika Roy salah dihukum dan dijatuhi hukuman 12 tahun di sebuah penjara di Louisiana. Bagaimana cinta bisa bertahan saat keadilan gagal?

Itulah kunci pertanyaan novel baru Jones yang menggugah. An American Marriage adalah eksplorasi menarik dari konflik berduri yang membuat kita memisahkan dan mengikat kita, bobot rasisme yang menyimpang, dan bagaimana komitmen terlihat sepanjang waktu - dan melewati generasi.

Hak atas foto Riverhead

RO Kwon, The Incendiaries

Tiga sarjana bertemu di Noxhurst College. Phoebe pernah menjadi seorang pemain piano handal. Will adalah siswa pindahan dari sebuah perguruan tinggi beragama di California. John Leal telah kembali ke Noxhurst setelah tinggal di Yangi, sebuah kota Cina di sebelah Korea Utara.

Di sana, ia bekerja sebagai aktivis sebuah kelompok Amerika yang membantu orang Korea Utara yang melarikan diri. Dia diculik oleh mata-mata Korea Utara, dibawa melintasi perbatasan ke sebuah gulag, dan menyaksikan banyak kengerian, Setelah lima bulan dia lalu dibebaskan. Saat tiga teman sekelas berkumpul untuk pesta, dan minum, Will tertarik pada Phoebe, tapi John Leal menariknya menjauh, menuju sesuatu yang tampaknya mengerikan.

Novel pertama yang ditulis Kwon dengan indah adalah campuran eksplosif, yang melacak pembentukan sebuah kultus yang berubah menjadi kekerasan.

Hak atas foto Viking

William Vollmann, No Immediate Danger

Volume pertama proyek baru penulis pemenang penghargaan Vollmann adalah sebuah tulisan penting mengenai pemanasan global dan laporan tentang dampak tenaga nuklir di Jepang, menggabungkan beberapa kunjungannya setelah tsunami dan krisis nuklir.

Judul tersebut berasal dari kalimat resmi yang digunakan oleh pihak berwenang Jepang setelah kecelakaan di Fukushima. Penelitiannya yang mendalam mencakup batubara, minyak bumi, gas alam dan tenaga atom. Untuk menceritakan kisahnya, dia "mendaki gunung-gunung dengan tambang terbuka, mengendus minyak mentah, dan sesekali menggelapkan wajahnya dengan sinar gamma."

Dia mengajukan pertanyaan rumit tentang pengorbanan dan pilihan yang kita hadapi, selalu bertanya-tanya bagaimana orang-orang di masa depan akan menilai kita. Karena listrik "akan habis seperti kawanan kerbau", catatnya dengan ironis, "konsumsi daya yang tidak perlu menimbulkan keluhan yang lebih sedikit daripada apa yang dikeluhkan anda yang berasal dari masa depan."

Hak atas foto Picador

Christopher Yates, Grist Mill Road

Grist Mill Road dibuka dengan sebuah kejahatan: "Saya ingat suara tembakan menghasilkan seperti suara basah, phssh phssh phssh, dan setiap kali laki-laki itu memukulnya, perempuan itu menjerit."

Di tahun 1982, di pegunungan di utara New York City, yang kemudian dikenal sebagai "penembakan Swangum" menghubungkan teman sekelas Patrick, Hannah dan Matthew dalam hidup. Pada tahun 2008, ketika Hannah menikah dengan Patrick dan mengerjakan sebuah buku kriminal yang berasal dari kejadian nyata, Matthew tiba-tiba muncul kembali, mengaduk rahasia dan pemikiran untuk membalas dendam.

Yates membangun teka-teki psikologis yang mendebarkan dalam novel pertamanya, Black Chalk. Dalam novel keduanya, dia menulis yang lebih rumit dan "siapa yang melakukannya" yang dicampur dengan pertanyaan tentang tanggung jawab moral, relativitas kebenaran, keandalan memori dan konsekuensi jangka panjang dari tindakan kita.

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini 10 books to read in 2018 di BBC Culture

Berita terkait