Empat bintang untuk film Annihilation yang mencengangkan

Annihilation Hak atas foto PAramount Pictures

Film yang dibintangi oleh Natalie Portman dan dibuat oleh sutradara Ex Machina ini adalah film paling cerdas yang dihasilkan dari genre fiksi sains akhir-akhir ini, kata Caryn James.

Lewat Annihilation karya Alex Garland, The Shimmer tampil sebagai tembok yang berkilau, indah, dan seperti zat yang terbuat dari gel luar angkasa yang menutupi kawasan yang baru saja dievakuasi.

The Shimmer tampak menggoda, puitis, dan menjebak, seperti thriller fiksi sains yang cerdas itu sendiri, di mana aktris Natalie Portman memerankan seorang ilmuwan.

Bersama empat ilmuwan lain di dalam area itu, dia menyelidiki apa yang disimpan oleh Shimmer ini dan kenapa misi-misi sebelumnya lenyap di dalamnya.

Menyusul filmnya yang berfokus pada kecerdasan buatan di Ex Machina, Alex Garland menulis skenario dan menyutradarai film yang lebih besar namun adegan demi adegannya disusun dengan sama jagonya.

Annihilation punya pendekatan yang filosofis soal naluri manusia dan identitas, tanpa menjadi pretensius.

Film ini membahas psikologi soal perilaku destruktif terhadap diri sendiri. Dan sangat efektif ihwal memnciptakan kejutan ketakutan penonton.

Makhluk yang bermutasi, termasuk beruang dan buaya putih raksasa, tiba-tiba menerkam tim peneliti itu, entah dari mana.

Sepanjang film, Garland mengisi layar dengan gambar-gambar yang semakin indah, seiring semakin dekatnya tim dalam menemukan jawaban.

Garland dengan cerdas menggelar plot yang diadaptasi dari novel laris yang ditulis oleh Jeff VanderMeer.

Kita pertama melihat Portman tengah ditanyai oleh pria-pria yang mengenakan setelan Hazmat setelah dia kembali dari The Shimmer, dan menyadari bahwa dia satu-satunya yang selamat dari ekspedisi itu.

Film kemudian berjalan mundur, dan kita mengetahui bahwa sosok Portman, Lena, adalah seorang veteran tentara, dan kini menjadi profesor biologi di Johns Hopkins University.

Suaminya, Kane (Oscar Isaac), hilang dalam misi rahasia militer setahun sebelumnya, dan pulang menjadi sosok yang berubah, tidak lagi bereaksi terhadap lingkungan di sekitarnya.

Tatapan mati di mata Oscar Isaac menjadi bukti betapa aktor bisa berbuat banyak dengan pandangan, dan betapa efektifnya Garland menggunakan jarak dekat secara ekstrem.

Mata menjadi hal yang penting dalam film, dari tatapan yang mengungkap atau merahasiakan dari seorang karakter, sampai gambar-gambar abstrak yang membuat kita seperti sedang melihat ke inti matahari atau bulan.

Saat Kane ternyata adalah satu-satunya penyintas dari misi ke The Shimmer, Portman bergabung dengan tim selanjutnya, yang dipimpin oleh psikolog yang kaku, Dr Ventress (Jennifer Jason Leigh).

Gina Rodriguez mendapat peran yang paling demonstratif dan tampil sebagai paramedis yang keras dan cepat marah, Anya.

Tuva Novotny memerankan Cass, seorang antropolog. Josie, seorang dokter, dimainkan oleh Tessa Thompson, yang selalu saja berperan sangat bagus sampai-sampai kita berharap perannya dibuat tidak seminim itu (atau tidak terlalu banyak diedit).

Fakta bahwa ini adalah tim yang semuanya perempuan dibahas dengan sempurna sebagai satu hal yang ringan.

"Semua perempuan?" tanya Lena saat dia bertemu dengan anggota tim lain. "Semuanya ilmuwan," dia diberitahu, dan itulah pembahasan akhirnya.

Masuk ke dalam zona

Di dalam The Shimmer, perempuan-perempuan itu menembakkan senjata tapi juga sesekali mengalami kehilangan ingatan.

Mereka menemukan bukti mengerikan dari misi tim sebelumnya, dan ini hanya menambah sisi misteri. Lena kemudian menemukan bahwa semua bentuk kehidupan, dan bukan hanya hewan yang mengancam mereka, mengalami mutasi.

Bunga beraneka warna dari berbagai spesies berbeda menjalar di batang pohon.

Kijang putih punya tanduk yang terbuat dari batang pohon yang berbunga. Atau, apakah para perempuan ini mengalami halusinasi yang sama?

Saat Lena mendekati sebuah mercusuar yang dianggap sebagai sumber The Shimmer, dia menemukan pantai dengan pohon-pohon yang terbuat dari pecahan kaca atau es yang muncul dari pasir.

Rob Hardy, yang juga menjadi sinematografer di Ex Machina, membuat setiap gambar menjadi begitu elegan dan setiap ingatan mengerikan begitu nyata.

Semakin jauh tim menjelajah, semakin banyak kita melihat kerentanan yang dialami setiap karakter.

Cass berduka karena anaknya yang meninggal. Anya adalah seorang pecandu yang sudah pulih.

Dalam kilas balik, kita melihat pernikahan Lena tak sesempurna yang awalnya diceritakan.

"Hampir tak ada dari kita yang melakukan bunuh diri," kata Ventress tentang misi bunuh diri tim ini, dan meluaskannya ke penilaian akan sifat manusia. "Hampir semua dari kita melakukan penghancuran diri sendiri."

Garland, dengan cerdas, meminjam berbagai genre klasik film dan membuat referensi serta pengaruh tersebut menjadi gayanya sendiri.

Ada adegan-adegan yang mengingatkan akan 2001: A Space Odyssey, Close Encounters of the Third Kind, Alien dan banyak film-film Terrence Malick.

Musik latar yang minimalis dan elektronik dari Geoff Barrow (dari grup Portishead) dan Ben Salisbury menambah lapisan misteri lainnya.

Kesimpulan film yang sangat menggoda pikiran ini terbuka dengan indah dan membuat kita memutar otak, menegaskan bahwa apa yang kita lihat selama ini dibentuk oleh sudut pandang para karakternya, dan betapa halusnya Portman membentuk perannya di film ini.

Akhir film ini, dan semua gambar puitis yang muncul, membuat Annihilation cocok untuk berbagai interpretasi alegoris, namun pendekatan seperti itu tentu akan mengecilkan visi Garland yang sangat luas.

Menjelang peluncuran film, banyak dilaporkan bahwa Garland, dan produsernya Scott Rudin, bertahan dari dorongan melakukan perubahan menyusul berbagai respons negatif dari uji pemutaran.

Dan mudah melihat sumber masalahnya. Annihilation memiliki sensibilitas karya auteur independen, dengan anggaran sedang sekitar $40 juta, dan pemutaran di bioskop-bioskop di AS. (Paramount menjualnya ke Netflix untuk distribusi internasional.)

Ini tak pernah menjadi kombinasi yang mudah, namun film seambisius ini, yang menegangkan dan dibuat secara indah seperti ini, tentu akan menemukan penontonnya sendiri.


Anda bisa membaca versi bahasa Inggris artikel ini, Four stars for the thrilling Annihilation, di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait