Kenapa kita terobsesi dengan Mata Setan?

Orang berjalan di depan keramik biru yang dipercaya bisa mengusir mata setan, atau oleh warga setempat disebut sebagai ibu dari tujuh mata, di Najaf, Irak, 10 Februari 2015. Hak atas foto HAIDAR HAMDANI/AFP/Getty Images
Image caption Orang berjalan di depan keramik biru yang dipercaya bisa mengusir mata setan, atau oleh warga setempat disebut sebagai ibu dari tujuh mata, di Najaf, Irak, 10 Februari 2015.

Dari Mata Horus sampai Gigi Hadid, 'selama bertahun-tahun Mata Setan (Evil Eye) telah bertahan dalam imajinasi manusia,' tulis Quinn Hargitai.

Mungkin tak ada jimat untuk mengusir kekuatan jahat yang lebih diakui kekuatannya di dunia daripada 'evil eye' atau mata setan.

Mata warna biru kobalt ini sering sekali dipakai, bukan hanya banyak ditemukan di pasar di Istanbul, tapi juga muncul di sisi pesawat sampai di halaman buku komik.

Dalam satu dekade terakhir, gambar 'evil eye' paling sering muncul di dunia mode.

Kim Kardashian terlihat menggunakannya dalam beberapa kesempatan, seperti di gelang dan hiasan kepala yang menampilkan simbol itu, sementara model Gigi Hadid mengikuti tren itu pada akhir 2017, dengan mengumumkan bahwa dia akan meluncurkan desain serta merek sepatu Eye Loveshoe.

Berbagai 'pengakuan' dari selebritas kelas atas ini menyebabkan munculnya banyak tutorial online untuk membuat gelang, kalung, serta gantungan kunci mata setan.

Meski perhatian ini seperti menunjukkan ada peningkatan popularitas, namun kenyataannya, selama ribuan tahun, simbol ini tetap bertahan dalam imajinasi manusia.

Hak atas foto Metropolitan Museum of Art
Image caption Patung mata yang dipahat dari gipsum telah digali dari Tell Brak, Suriah, dan diyakini berasal dari 3500 SM.

Untuk memahami asal mata setan, kita pertama harus memahami perbedaan antara jimat dan mata itu sendiri.

Walaupun sering disebut 'mata setan', jimat berbentuk lingkaran itu biasanya adalah alat untuk mengusir mata setan itu sendiri: kutukan yang disampaikan lewat tatapan jahat, yang biasanya bersumber dari rasa iri.

Meski jimat itu -- yang biasa disebut nazar -- muncul dalam banyak bentuk selama ribuan tahun, kutukan yang diusirnya malah jauh lebih tua dan lebih sulit untuk ditelusuri.

Pada intinya, kutukan mata setan bukan konsep yang rumit; keyakinan itu bermula dari seseorang yang mencapai kesuksesan atau pencapaian besar maka akan mengundang rasa iri dari orang-orang di sekitarnya.

Rasa iri itu kemudian terwujud dalam kutukan yang akan mengurangi keberuntungan mereka.

Konsep ini tertangkap dengan baik oleh Heliodorus dari Emesa di kisah cinta Yunani Kuno, Aethiopica, di mana dia menulis, "Saat orang melihat keindahan dengan mata yang iri, dia mengisi sekelilingnya dengan rasa bahaya, dan mengembuskan napas racun itu ke siapa atau apapun di sekitarnya."

Hak atas foto HAIDAR HAMDANI/AFP/Getty Images
Image caption Hamsa adalah jimat dalam bentuk telapak tangan dengan mata yang dipakai oleh penganut Yahudi, Kristen, dan Islam di Afrika Utara dan Timur Tengah.

Kepercayaan pada kutukan ini pun melintasi budaya dan juga generasi; contohnya, salah satu kompilasi legenda paling lengkap akan mata setan ada di The Evil Eye: The Classic Account of an Ancient Superstition karya Thomas Elworthy.

Dia menjelaskan berbagai contoh simbol itu dalam beberapa budaya; dari tatapan menakutkan gorgon di Yunani Kuno sampai cerita rakyat Irlandia akan pria-pria yang mampu menghipnotis kuda dengan satu tatapan saja, hampir semua budaya berhubungan dengan mata setan.

Simbol mata ini begitu dalam tertanam dalam budaya, dan meski konotasinya berhubungan dengan budaya pagan, namun simbol ini juga masuk dalam teks keagamaan, seperti Injil dan Alquran.

Mata dibalas mata

Keyakinan pada mata setan pun bukan hanya soal kepercayaan, karena beberapa pemikir yang diakui pun membenarkannya.

Salah satu contoh yang paling terkenal adalah filsuf Yunani, Plutarch, yang dalam karyanya Symposiacs, menegaskan sebuah penjelasan ilmiah: bahwa mata manusia memiliki kekuatan untuk melepaskan sinar energi yang kasat mata yang dalam beberapa kesempatan menjadi cukup kuat untuk membunuh anak-anak atau hewan.

Terlebih lagi, Plutarch mengklaim bahwa beberapa orang memiliki kemampuan lebih kuat untuk membuat kagum, dan juga mengatakan bahwa orang-orang di selatan Laut Hitam punya kemampuan untuk memberikan kutukan ini.

Dan seringnya, mereka yang paling mampu memberikan kutukan adalah mereka yang bermata biru, kemungkinan karena ini adalah kelainan genetik di kawasan Mediterrania.

Hak atas foto Metropolitan Museum of Art
Image caption Orang-orang Fenisia menaruh simbol mata pada manik yang diuntai menjadi kalung.

Meski teori bahwa beberapa orang memiliki kemampuan menatap yang mematikan atau membahayakan dianggap cukup umum dalam kisah mata setan, namun tak semuanya berhubungan dengan keinginan untuk berniat jahat.

Dalam beberapa budaya, kemampuan untuk memberi kutukan ini dianggap sebagai beban, dan malah sebuah kutukan bagi yang memilikinya.

Contohnya, Elworthy menyebut sebuah referensi dalam cerita rakyat Polandia kuno yang mengisahkan tentang seorang pria yang lebih memilih untuk mencungkil matanya sendiri daripada terus menebar kesialan pada orang-orang yang dicintainya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Gigi Hadid, yang ayahnya adalah seorang warga Amerika-Yordania keturunan Palestina punya merek sepatu yang menampilkan simbol mata EyeLove.

Dengan keyakinan yang begitu kuat dan luas akan kekuatan dari tatapan ini dalam menimbulkan kesialan atau bencana besar, maka tak heran jika orang-orang dari peradaban kuno kemudian mencari cara untuk mengusirnya, yang kemudian menghasilkan bentuk awal dari jimat nazar yang kini kita kenal.

Namun, setua apa jimat ini sebenarnya?

"Versi paling awal dari jimat bentuk mata ini muncul sejak 3.300 SM," kata Dr Nese Yildiran, seorang profesor seni sejarah di Universitas Bahçeşehir, Istanbul pada BBC Culture.

"Amulet ini digali dari Tell Brak, salah satu kota tertua di Mesopotamia - yang kini jadi wilayah Suriah. Jimat tersebut bentuknya seperti semacam patung abstrak yang dibuat dengan mata yang dibelah."

Meski patung putih dari Tell Brak menjadi salah satu jimat mata tertua yang ditemukan, bentuknya jauh dari kaca biru yang biasa kita kenal kini. Dan versi awal dari mata biru itu mulai muncul di Mediterania pada 1500 SM. Lalu bagaimana versi prototipe awal dari Tell Brak menjadi versi modern yang kita kenal kini?

"Manik kaca dari Kepulauan Aegea dan Asia Minor berpengaruh langsung pada peningkatan produksi kaca," kata Yildiran. "Dan untuk warna biru, pasti itu berasal dari lumpur Mesir yang dipanggang, dan mengandung oksida dalam persentase tinggi; tembaga dan kobalt memberi warna biru ketika dipanggang."

Yildiran mereferensi beberapa bandul Mata Horus yang digali dari Mesir, dan menegaskan bahwa temuan tersebut bisa dilihat sebagai pendahulu yang mempengaruhi bentuk nazar modern.

Menurut Yildiran, beberapa suku Turki awal memiliki ketertarikan pada warna biru ini karena hubungannya dengan dewa langit mereka, Tengri, dan kemudian menggunakan kobalt dan tembaga untuk mendapat hasil warna itu.

Hak atas foto PAUL J. RICHARDS/AFP/Getty Images
Image caption Eye of Providence, yang sering digunakan oleh Freemason dan digunakan sebagai simbol Tuhan yang maha mengetahui, muncul di belakang uang kertas satu dolar AS.

Manik mata setan biru kemudian beredar luas di kawasan tersebut, dan digunakan oleh Bangsa Fenisia, Asiria, Yunani, Romawi, dan yang paling terkenal, Ottoman.

Meski penggunaannya paling banyak ditemukan di Mediterania dan Levant, lewat perdagangan dan perluasan wilayah kekaisaran, namun manik mata biru mulai tersebar ke seluruh dunia.

Buta makna

Yang paling menarik dari mata setan bukan hanya soal penggunaan simbol ini yang tahan lama, tapi fakta bahwa penggunaannya sudah mulai beralih dalam satu milenia terakhir.

Kita masih menempelkan mata setan di badan pesawat, sama halnya seperti orang-orang Mesir Kuno dan Etruska mengecat mata tersebut di sisi kapal mereka untuk memastikan perjalanan yang aman. Di Turki, masih ada tradisi untuk membawa jimat mata setan untuk bayi yang baru lahir, dan menguatkan kepercayaan bahwa anak-anak kecillah yang paling mudah dimasuki kutukan tersebut.

Tapi kita kemudian menjadi bertanya-tanya, jika mata tersebut berubah seiring dengan medium di dunia modern, maka apakah makna dan sejarahnya juga akan terlupakan?

Hak atas foto Kino
Image caption Mata menjadi simbol yang mewakili pengawasan dan ketakutan diawasi, seperti dalam film fiksi sains bisu 1927 buatan Fritz Lang, Metropolis.

Beberapa interpretasi terbaru sudah memunculkan ketakutan akan apropriasi budaya, terutama soal penggunaan mata setan dalam Hamsa, yang punya makna suci baik di ajaran Yahudi maupun Islam, dalam dunia mode.

Sejarah mata ini sangat panjang dan berkaitan dengan banyak orang, begitu banyak manusia modern mengenakan simbol ini karena kaitannya dengan budaya warisan; Kim Kardashian dan Gigi Hadid, misalnya, berasal dari budaya di mana mata setan sangat banyak ditemukan.

Yildiran tak menganggap ini masalah besar. "Mata setan bisa melebihi kekhawatiran akan apropriasi budaya karena simbol ini sudah merupakan bagian dari geografi yang besar, dan terbuka atas berbagai praktik. Tak sulit membayangkan bahwa kita akan melihat berbagai motif yang diambil dari mata setan."

Meski simbol ini bisa melintasi batas budaya, geografis, maupun agama, mungkin penting untuk menimbang maknanya lebih dari sekadar aksesoris atau hiasan.

Mata setan adalah peninggalan dari masa awal peradaban, dan mengingatkan akan keyakin tertua dan paling lama manusia.

Dengan menggunakan jimat itu sebagai aksesoris, tanpa mengetahui sejarahnya, bukan hanya akan menghilangkan kemampuannya untuk melindungi, tapi juga memunculkan kutukan yang lebih kuat - tapi tentu, itu jika Anda mempercayainya.


Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di The strange power of the evil eye di laman BBC Culture

Berita terkait