Ketika meme dan poster mengubah cara kita berunjuk rasa

Berbagai meme dan poster yang semakin ramai beredar di keseharian, telah mengubah cara kita berkomunikasi dan melakukan unjuk rasa.

Ketika poster 'Hope' (Harapan) dengan wajah Obama karya Shepard Fairey viral, bermulalah fase baru penggunaan bahasa visual untuk politik. Bagaimana poster-poster ini mengubah cara kita berpikir, berkomunikasi dan melakukan protes? Apa pula perannya bagi kehidupan berpolitik?

Kita lihat grafis berlogo centang yang viral saat Pemilu Inggris beberapa waktu lalu, yang disebar para pengguna media sosial sebagai bentuk dukungan pada pimpinan Partai Buruh Inggris, Jeremy Corbyn. Apakah yang membuat grafis seperti ini punya pengaruh politik?

obama

Kurator Museum Desain London yang menyelenggarakan pameran karya-karya grafis tersebut menyatakan "yang penting adalah bagaimana gambar tersebut menjadi perlambang keaktivan individu dalam berpolitik, siapapun dia.

"Karya seni yang otentik, relevan dengan emosi yang bergejolak pada pengunjuk rasa lainnya, biasanya akan punya dampak kuat. Gambar yang kita lihat saat demonstrasi biasanya sangat spontan, penuh hasrat dan komitmen."

Corbyn

Dan sekarang pembuatan grafis untuk protes terasa lebih demokratis, kata Lucienne Roberts, yang ikut menjadi kurator pameran tersebut. "Banyak desain penting saat demo dibuat oleh seniman amatiran yang namanya bahkan tidak kita kenal.

"Atau oleh desainer yang dipaksa menggunakan nama palsu untuk menjaga keselamatan mereka."

vendetta

Dan sekarang dinamika antara seniman dan mereka yang menikmati karyanya, juga sudah sangat berubah, terutama karena media sosial, tutur Roberts. "Wadah baru untuk memamerkan poster, membuat percakapannya sekarang menjadi dua arah. Mereka yang melihat poster, juga bisa ikut berkomentar, tidak lagi hanya sebagai penerima informasi.

"Unggahan Facebook, Twitter dan Instagram memang hanya dunia virtual, tetapi pengaruhnya bisa sangat dahsyat di dunia nyata."

poster

Bukan berarti poster fisik tradisional tidak lagi punya dampak. "Poster fisik masih sangat relevan dan kuat. Bersama-sama dengan desain digital, keduanya secara instan bisa menggugah perdebatan dan perubahan."

Namun, di sisi lain, ada juga yang menyatakan bahwa poster-poster digital tersebut "mengancam keberadaan aktivis akar rumput, dan ini bisa berbahaya bagi kehidupan berpolitik," ungkap Roberts. "Tetapi peralihan yang terjadi sekarang juga tidak bisa dipersalahkan, karena mereka muncul dari berbagai upaya para penguasa untuk memberangus mereka yang terlihat langsung menentang kekuasaan."

Charlie

Beberapa poster unjuk rasa bahkan dibuat dengan pendekatan seperti branding sebuah perusahaan, di mana sebuah gambar, simbol dipilih kemudian diadopsi oleh seluruh orang. Margaret Cubbage menyatakan: "Dalam kasus ini, individu memilih untuk tampil sebagai identitas massa. Tujuannya mungkin agar mereka merasa lebih aman, tetapi efeknya sangat luar biasa.

"Lihat saja simbol itik yang digunakan dalam unjuk rasa di Brasil; payung yang sangat mencuri perhatian dalam aksi massa di Hong Kong; dan slogan 'Je Suis Charlie' (Saya juga Charlie) dalam protes atas aksi terorisme pada Charlie Hebdo.

poster

Namun, apapun mediumnya, apakah dalam bentuk spanduk, baju kaos, atau meme, visual protes yang kuat haruslah cepat menarik perhatian kalayak. Seperti kata Roberts: "ditempel di dinding, atau lewat layar hp gambar untuk protes harus bisa secepat kilat mengundang rasa penasaran orang yang ditarget."

Salah satu gambar protes yang belakangan kerap muncul adalah Presiden Amerika Donald Trump, kata Margaret Cubbage. "Tidak peduli apakah Anda melek politik atau tidak, Anda tahu siapa dia dan bagaimana kualitas kepemimpinannya."

Trump

Salah satu seniman yang menonjol dengan produk berupa gambar Trump adalah ilustrator asal Kuba, Edel Rodriguez. "Dia tiba di Amerika waktu masik anak-anak. Hal ini mempengaruhi pekerjaannya. Sangat inovatif, dia membuat berbagai gambar unik Trump, termasuk sampul majalah TIME. The New Yorker dan Der Spiegel."

Roberts menekankan gambar poster dan kaitannya dengan dunia politik sejak tahun 2008 telah didominasi teknologi. "Teknologi telah mengubah cara kita berkomunikasi, mengumpulkan dan menyaring data, melihat pola, sehingga tahu strategi apa yang mengena.

"Selain itu teknologi juga telah mendemokratisasi desain grafis. Semua yang punya akses ke komputer atau telepon pintar, sekarang bisa mendesain tulisan dan gambar, lalu mengunggah dan membaginya di media sosial."

Rangkaian Women's March yang dimulai sehari setelah pelantikan Donald Trump, juga semakin memperluas penggunaan banner dan poster saat protes. "Tahun 2017, hampir 4,5 juta orang melakukan 914 demonstrasi menentang sikap Trump yang melecehkan perempuan dan hak kaum minoritas.

Trump

"Pengunjuk rasa membuat poster yang mereka buat sendiri, membuat topi pink bergambar kucing nakal, yang mewakili tindakan Trump yang melecehkan perempuan. Semuanya itu didesain dengan target untuk bisa juga difoto dan diunggah di media sosial. Bahkan di negara yang bukan berbahasa Inggris, mereka membuat poster berbahasa Inggris, sehingga ketika diunggah di internet, yang bisa memahaminya lebih banyak, lebih global," tutur Roberts.

Suara, baik kaum yang termajinalkan maupun komunitas yang sudah lebih stabil secara penerimaan, sudah semakin terdengar lewat berbagai grafis yang mereka buat dalam satu dekade terakhir. Menurut Lucienne Roberts, ini adalah hal yang baik baik kehidupan bermasyarakat, berpolitik.

meme

"Tulisan dan gambar semakin mempertajam cara kita memberikan pendapat dan bersuara dalam politik. Jika media tradisional semakin ramai menggunakan Tagar dan Meme, jelas desain grafis dan gambar semakin memperkuat penyampainnya, terutama terkait politik."

Desainer terkemuka Milton Glaser pernah mengungkapkan kritiknya terhadap "karya seni yang hanya memuaskan pembuatnya, tetapi tidak mengubah visi dan menginspirasi orang."

desain

Sentimen itu sangat disetujui kurator Museum Desain, Margaret Cubbage. "Untung ada teknologi. Sekarang desain grafisr sangat berperan dalam menyampaikan pesan. Tidak hanya untuk merespon berbagai persoalan politik yang muncul, tetapi juga mengkritisinya, mengubahnya dan menciptakan arus baru."

Anda bisa membaca versi asli artikel ini dalam Bahasa Inggris dengan judul The powerful political graphics sparking change di BBC Culture.

Berita terkait