Harry Potter dan dunia nyata: Ketika Donald Trump dianggap Voldemort

Harry Potter Hak atas foto Warner Brothers
Image caption Pembersihan etnis, diskriminasi, perbudakan, pemerintah yang korup, penyiksaan dan cuci otak, semuanya dibahas di Harry Potter.

Berbagai poster yang dibawa pengunjuk rasa sejumlah protes di Inggris menggunakan referensi dari buku Harry Potter karya JK Rowling. Hephzibah Anderson memaparkan bagaimana kisah si penyihir ini telah memengaruhi cara orang berdemonstrasi.

21 tahun sejak buku pertama Harry Potter dirilis, tampaknya kita nyaris tidak bisa menemukan benang merah kisah fiksi tersebut dengan dunia nyata. Namun, apa yang terjadi beberapa bulan terakhir bisa meruntuhkan anggapan itu.

Anggapan ini bisa dilihat dari salah satu poster yang dibawa seorang pendemo di Massachusetts, yang kemudian beredar ramai di media sosial.

Di poster itu tertulis: "Ketika saya mengatakan bahwa saya ingin dunia nyata berubah menjadi seperti dunia Harry Potter, yang saya maksud sebenarnya cuma bagian sihirnya, bukan seluruh cerita dari buku kelima, ketika pemerintah tidak berbuat apa-apa ketika orang-orang diancam untuk dibunuh. Anak-anak muda pasti bangkit dan melawan".

Image caption Salah satu poster yang menunjukkan relevansi antara kisah Harry Potter dan dunia nyata.

Melawan. Itulah bagian pentingnya. Kaum milenial mulai melihat Donald Trump seperti Voldemort. Wartawan majalah Time, Charlotte Alter lewat cuitannya di Twitter juga sempat berbagi cerita tentang apa yang dilihatnya saat unjuk rasa di Amerika.

Anak-anak muda membawa poster bertuliskan "Expelliarmus!", mantra yang digunakan penyihir untuk membuat senjata lawan terlepas.

Ada juga yang menorehkan: 'Pasukan-pasukan Dumbledore masih terus direkrut di seantero negeri', 'Hufflepuff akan mengawasi penggunaan senjata', sementara 'Hermione menggunakan otak dan kepintarannya sebagai senjata'.

Alter menuliskan, "generasi kita bukan hanya generasi yang tumbuh dengan mendengar berbagai peristiwa penembakan, tetapi juga generasi yang membaca Harry Potter."

Image caption Harry Potter dijadikan sumber harapan di saat kekerasan bersenjata semakin kerap terjadi.

Penulis buku fantasi Neil Gaiman, juga pernah menulis: "Dongeng bisa lebih kuat dari sekedar cerita mengawang-awang, bukan karena dongeng memberi tahu kita bahwa naga ada, tapi dongeng memberi tahu kita bahwa naga bisa dikalahkan".

Seorang pendemo yang masih duduk di bangku SMA membawa poster bertulis, "Jika siswa Hogwarts bisa mengalahkan Pelahap Maut, kita pasti bisa mengalahkan NRA (Organisasi Senjata Amerika)."

Pembersihan etnis, diskriminasi, perbudakan, pemerintah yang korup, penyiksaan dan cuci otak, semuanya dibahas di Harry Potter.

Sederhananya, kisah si penyihir ini adalah tentang orang baik melawan yang jahat. Lihat saja bagaimana upaya Voldemort ingin membasmi manusia 'biasa' atau Muggle dan manusia darah campuran alias 'mudblood'.

Hak atas foto Warner Brothers

Kisah tersebut sangat relevan dan beresonansi dengan berbagai hal yang terjadi sekarang.

Namun, penggunaan referensi Harry Potter pada berbagai unjuk rasa ini bukan sekadar harapan naif orang-orang, bagai mengayunkan tongkat sihir untuk menghentikan berbagai penembakan. Bukan.

Harry Potter adalah perlambang ideologi liberal banyak orang untuk hidup bebas dan melawan 'dia yang namanya tidak boleh disebut'.

Pelajaran untuk dunia nyata

Di buku Harry Potter, Voldemort dan kroni-kroni pelahap mautnya dikisahkan sebagai mahkluk yang terobsesi dengan darah murni. Orang di luar golongannya adalah makhluk terhina.

Meskipun begitu Rowling memunculkan karakter-karakter yang mengingatkan bahwa dunia ini tidak hanya hitam dan putih, tetapi juga abu-abu.

Image caption Poster terkait Harry Potter menjamur di berbagai unjuk rasa.

Wali Harry, Sirius Black pernah berujar, "dunia ini tidak hanya terdiri atas orang baik dan para pelahap maut. Kita semua punya sisi baik dan jahat di diri kita masing-masing. Yang penting adalah yang mana yang kita pilih untuk jalankan".

Dan juga ada pesan kebebasan berpendapat, serta ketegasan bahwa tindakan, meskipun kecil amatlah perlu dilakukan untuk membawa perubahan. Dan meski sihir dan cinta penting, kita diingatkan bahwa Voldemort dikalahkan dengan kooperasi dan organisasi.

Voldemort punya Pelahap Maut, tetapi Harry Potter punya semuanya selain si Pelahap Maut. Ingat sihir Expelliarmus? Sihir itu digunakan bersama-sama, bukan hanya oleh Harry.

Pembelajaran inilah yang membuat Aliansi Harry Potter, organisasi nirlaba yang memobilisasi fans, untuk menyingsingkan lengan baju melawan 'Horcruxes' di dunia nyata; fanatisme, diskriminasi dan intoleransi.

Di situsnya grup ini menulis, "Kami tahu fantasi adalah cara kita untuk kabur dari dunia nyata, tapi kita bisa masuk jauh lebih dalam ke dunia nyata lewat fantasi."

Hak atas foto Warner Brothers
Image caption "Kami tahu fantasi adalah cara kita untuk kabur dari dunia nyata, tapi kita bisa masuk jauh lebih dalam ke dunia nyata lewat fantasi."

JK Rowling sendiri pernah mengungkapkan bahwa novelnya adalah kisah melawan segala jenis tirani.

"Buku ini sendiri adalah soal toleransi dan upaya melawan fanatisme," katanya di tahun 2007 lalu. "Saya rasa sangat penting bagi anak muda untuk menerima pesan bahwa pemerintah dan pers juga perlu dipertanyakan."

Tentu ini bukan hal baru. Dari kisah-kisah tragedi dari zaman Yunani hingga karya-karya Shakespeare, sampai The Lords of the Rings dan bahkan Star Wars, semuanya menceritakan upaya untuk meraih kebebasan. Kekuatan imajinasi yang dijalin ciamik lewat buku atau film akan membuat pesan lebih cepat tersampaikan.

Hak atas foto AFP
Image caption Seri buku Harry Potter adalah novel seri terlaris sepanjang masa.

Namun, ada sisi lain dari fenomena Harry Potter. Novel ini punya sisi sensitif dan rasa kepemilikan yang tinggi di mata para penggemarnya. Para penggemar buku pertama serial Harry Potter, kini berusia 30an tahun, mengantre bersama di depan toko. Foto mereka mengantre jadi pemberitaan media.

Perasaan bersama-sama menjadi fans ini membuat mereka merasakan pengalaman pertama menjadi bagian dari sesuatu yang besar. Di masyarakat sekular, ini adalah hal yang penting. Sepenting apa? Kita tunggu saja bagaimana efek dominonya nanti.

Anda bisa membaca versi asli artikel ini dalam Bahasa Inggris dengan judul The links between Harry Potter and millennial protest di BBC Culture.

Berita terkait