'Efek Meghan' dan bagaimana perempuan kerajaan mempengaruhi gaya berpakaian

Pangeran Harry dan Meghan Markle Hak atas foto Dominic Lipinski/PA Wire

Gaya para perempuan kerajaan sudah sejak lama mempengaruhi dunia mode. Dari ikon gaya Denmark, Ratu Alexandra, sampai ke Putri Margaret yang tenang namun menjalani kehidupan bohemia. Mereka menjadi panutan.

Tampaknya tak ada yang bisa menghentikan 'efek Meghan' — fenomena yang membuat semua jenis pakaian yang dipakai oleh Meghan Markle langsung laku.

Jas putih oleh merk Kanada, Line, yang dikenakan oleh calon pengantin Pangeran Harry dalam pengumuman pertunangan pasangan itu, begitu populer sampai-sampai situs perusahaan itu tak bisa diakses. Selanjutnya merk itu secara resmi menamakan jas itu, 'Meghan'.

Sementara itu, arus pengunjung ke situs merk perhiasan Birks meningkat 400 persen dan bahkan jaket hitam sederhana dari Marks and Spencer dua kali terjual habis setelah Markle mengenakannya untuk sebuah acara.

Dan ini bahkan sebelum munculnya tanda-tanda pilihan Markle akan gaun pernikahan, yang sudah mengundang spekulasi riuh di kalangan mode, dan pastinya nanti akan memicu tren baru dalam pernikahan.

Hak atas foto Museum of Fashion, Bath
Image caption Gaya Putri Alexandra sangat banyak ditiru oleh para perempuan di kalangan kerajaan, di kalangan bangsawan, dan kemudian oleh masyarakat.

Fenomena perempuan kerajaan mempengaruhi mode bukanlah hal yang baru.

Lihat saja 'efek Kate' yang masih dibawa oleh Duchess of Cambridge, selain juga 'efek Diana' pada 1980an dan 1990an.

Tapi mungkin yang tak banyak diketahui adalah seberapa berpengaruh gaya pribadi beberapa perempuan kerajaan — jauh sebelum munculnya internet atau media massa. Jadi kenapa bisa muncul ikon mode kerajaan?

Dan apa bedanya — atau malah kesamaannya — dibanding sekarang?

"Bagaimana orang mengamati keluarga kerajaan sekarang adalah hal yang jauh berbeda," kata Elly Summers pada BBC Culture.

Summers adalah kurator pameran Royal Women, di Museum of Fashion di Bath. Pameran tersebut melihat bagaimana beberapa perempuan kerajaan membantu membentuk selera mode dengan gaya pribadi mereka.

Pada 1863, Putri Alexandra, yang lahir di keluarga kerajaan Denmark, menikahi putra tertua Ratu Victoria, Pangeran Albert Edward, yang dikenal dengan nama 'Bertie'.

Sampai saat itu, Bertie terkenal dengan berbagai kisah cintanya dan dikenal sebagai 'pangeran playboy', namun pernikahan itu berjalan lancar dan pasangan itu pun menjadi populer.

Hak atas foto Hulton Archive/Getty Images
Image caption Pangeran Albert Edward of Wales dan istrinya, Putri Alexandra of Denmark, berfoto dengan Ratu Victoria setelah pernikahan mereka.

Tampaknya Alexandra adalah jenis anggota keluarga kerajaan yang diinginkan oleh masyarakat.

"Ratu Victoria sudah mengenakan pakaian berkabung selama bertahun-tahun dan tak lagi terlihat di masyarakat," kata Summers.

"Dia mengenakan seragam pakaian hitam yang sederhana, dan dia tidak menghadiri pesta-pesta. Edward dan Alexandra adalah pasangan yang mempesona dengan kehidupan sosial yang aktif, dan terlihat lebih dekat. Dan keluarga kerajaan pun menjadi terhubung lagi ke publik setelah selama ini terlihat begitu jauh, itu adalah hal positif."

Dan ternyata, Alexandra yang populer pun ikut mempengaruhi mode saat itu.

"Dia adalah seorang ikon mode, dan orang akan meniru apa yang dia kenakan," kata Summers. "Dia membentuk gayanya sendiri, dia sangat terlibat dalam membentuk citranya, dan dia menjadi penentu tren, meski secara tak sengaja."

Hak atas foto Museum of Fashion, Bath
Image caption Sarung tangan penobatan Alexandra yang dipamerkan di pameran Royal Women.

Putri Denmark itu sebenarnya tak diberi kebebasan dan kemandirian berpakaian.

Calon ibu mertuanya, Ratu Victoria, berkeras bahwa Alexandra harus mengenakan renda Inggris untuk pernikahannya, dan bukan renda Belgia yang ditawarkan pada sang putri oleh Raja Belgia.

"Ratu berkeras bahwa Alexandra akan menjadi orang Inggris, dan penting untuk memperlihatkan itu," kata Summers.

"Itu adalah identitas baru dan dia diberi tahu untuk menegaskan identitasnya dengan Inggris."

Hasilnya, gaun pernikahan yang dikenakan Putri Alexandra dihias dengan mewah menggunakan renda bobbin Honiton, dan menyampaikan pesan bahwa dia mendahulukan negaranya.

Ada bunga jeruk yang menghiasi gaun itu, dan dilengkapi dengan tudung yang bervolume.

Desain bahan kain yang dikenakan menampilkan mawar, tanaman shamrock, dan thistle, lambang tradisional Inggris, Irlandia, dan Skotlandia.

Hak atas foto Hulton Archive/Getty Images
Image caption Gaun pernikahan yang dipakai oleh Putri Alexandra pada pernikahannya dengan Pangeran Edward pada 1863.

Alexandra namun menegaskan satu hal, pengurangan lebar rok crinoline yang awalnya sangat besar.

Selain itu, beberapa hari setelah pernikahan, gaun itu, menurut permintaannya, langsung diubah, dikurangi, dan disederhanakan.

"Alexandra menyukai desain yang sederhana," kata Summers.

"Dia memiliki pendekatan yang berbeda, lebih praktis. Dia berasal dari keluarga kerajaan Denmark yang tidak kaya, tidak hidup dalam kemewahan, dan pakaian yang dibawanya untuk hidup di Inggris sedikit."

Hak atas foto Museum of Fashion, Bath
Image caption Putri Denmark, Alexandra (kemudian menjadi Ratu pendamping) mengawali tren akan pakaian perempuan yang masih bertahan sampai sekarang.

Alexandra adalah perempuan pertama dalam kehidupan publik di Inggris yang menyukai gaya pakaian formal untuk siang hari, yang biasanya diasosiasikan dengan jaket berkuda atau pakaian olahraga lainnya.

Jaket wol yacht berwarna krem dengan kancing ganda buatan Vernon dan jaket sepinggang dengan potongan rapi oleh Bussbein adalah dua contoh yang ditampilkan dalam pameran yang saat itu dianggap sebagai tampilan berani dan baru.

Summers mengatakan, "Garis pakaian yang rapi dan formal untuk pakaian perempuan kini menjadi formula sukses, namun sebelumnya hanya dipakai oleh pria."

Putri yang sempurna?

Pada abad ke-20, perempuan kerajaan terus mempengaruhi mode.

Sebagai adik Ratu, mendiang Putri Margaret menghadapi ekspektasi yang rumit dan kadang saling bertentangan.

Dia punya lebih banyak kebebasan untuk menunjukkan gaya pribadinya, dan hasilnya, dia dianggap lebih sebagai ikon mode daripada sebagai anggota kerajaan.

Hak atas foto Press Association
Image caption Adik Ratu Elizabeth, Putri Margaret, adalah perempuan kerajaan lain yang ikut mempengaruhi mode.

Sebagai seorang perempuan muda, Margaret menjadi favorit di media karena citranya yang glamor dan penuh gaya, tapi dia juga terus-terusan mendapat perhatian tajam, dan kisah cintanya sering menjadi bahan berita.

Pada era pasca-perang, reputasinya sebagai sosialita pun mulai meningkat dan kehebohan yang dilakukan oleh 'teman-teman Margaret' mendapat perhatian publik.

Dan penggambaran karakternya di serial televisi The Crown membawa gayanya — dan kelihaiannya — pada penonton baru.

Hak atas foto Netflix
Image caption Pers serta publik Inggris terpesona dengan keanggunan Putri Margaret yang ditampilkan oleh aktris Vanessa Kirby dalam serial TV, The Crown.

Kesukaan Putri Margaret terhadap keglamoran sudah muncul sejak muda.

Saat berusia 17 tahun, pada 1947, dia bertemu dengan Christian Dior yang datang ke Savoy, London untuk memperlihatkan koleksi New Look yang ikonik dan menjadi terobosan.

Margaret dan ibunya, Ratu Elizabeth Ibu Suri, tertarik melihat koleksi tersebut, dan setelah peragaan, pakaian-pakaian itu diam-diam diselundupkan keluar dari Savoy dan dibawa ke Kedutaan Besar Prancis, di mana dua perempuan kerajaan itu bisa melihat koleksi tersebut secara tertutup.

Christian Dior menggambarkan Putri Margaret sebagai "seorang putri peri yang sebenarnya, halus, anggun, luar biasa."

Hak atas foto Museum of Fashion, Bath

Figurnya tampak sempurna dalam gaun sutra warna krem rancangan Dior yang dipakai ke Royal Ascot pada 1952.

Dengan campuran bahan sifon, bagian atas yang terstruktur, serta rok dan bolero yang asimetris, gayanya benar-benar lembut dan luar biasa.

Dan saat dipasangkan dengan sarung tangan hitam sepanjang siku serta topi lebar warna krem dan hitam, Margaret pun tampil sebagai putri yang sempurna.

Hak atas foto Museum of Fashion, Bath
Image caption Margaret mengenakan gaun malam renda mengagumkan warna hitam dan pink karya Norman Hartnell pada 1953 untuk mengunjungi teater.

Setahun kemudian, gaun malam hitam dan pink berenda karya Norman Hartnell yang dikenakan Margaret ke pertunjukan Guys and Dolls menjadi tampilan mengagumkan.

Penampilan itu terjadi beberapa minggu setelah berita akan kisah cintanya dengan Kapten Grup Peter Townsend, yang kemudian gagal, muncul di media.

Pakaian itu menjadi pilihan yang glamor dan berani, menyiratkan keanggunan dan perlawanan di tengah kecaman.

Hak atas foto Netflix
Image caption Kostum untuk serial TV The Crown adalah replika yang mirip dari gaun-gaun asli, dan menangkap kepribadian glamor Putri Margaret.

Margaret punya reputasi sering melawan, tapi dia juga memiliki momen-momen kesopanan dan diplomasi.

Saat dia mengenakan gaun malam katun warna merah dan putih, itu merupakan pilihan bahan yang tidak biasa dan tidak mencolok untuk pakaian malam.

Namun itu adalah dukungan bagi tekstil Inggris pada masa-masa sulit pasca-perang. Sebagai anggota keluarga kerajaan, selalu ada harapan untuk mendukung industri Inggris.

Hak atas foto REUTERS/Toby Melville
Image caption Meghan Markle, bersama dengan Pangeran Harry setelah pengumuman pertunangan mereka. Jaket putih yang dikenakannya ini langsung habis terjual dan dinamai 'Meghan'.

Lalu, apakah harapan terhadap perempuan kerajaan pada abad 21 berbeda dengan masa lalu?

"Masih ada pertimbangan penting dalam setiap pakaian yang dikenakan, dan perempuan kerajaan masih harus menyeimbangkan semua pertimbangan itu," kata Summers.

"Saya rasa sama saja harapan itu, tapi lebih intens dan lebih cepat. Orang selalu ingin memakai pakaian yang dipakai oleh keluarga kerajaan, contohnya dengan Putri Alexandra, perempuan keluarga kerajaan meminta agar pakaian mereka dibuat mirip, lalu ditiru oleh bangsawan, dan kemudian sampai ke publik. Sekarang justru lebih cepat, langsung ke toko-toko pakaian.

"Untuk beberapa hal, lebih mudah di abad 19 dan awal abad 20, karena itu belum menjadi era media," kata Summers.

"Anda hanya berpakaian untuk satu acara khusus — namun kini Anda harus terus berpakaian untuk semua orang setiap waktu.

Hak atas foto Netflix
Image caption Tampilan lengkap Putri Margaret — dengan jaket bulu dan tiara — direka ulang untuk The Crown.

"Tapi kini tetap saja, perempuan kerajaan tak akan datang ke sebuah acara berpakaian informal," dia menambahkan. "Orang selalu ingin melihat perempuan kerajaan mengenakan pakaian yang indah, orang akan kecewa jika mereka tidak memakai pakaian yang bagus."

Anda bisa membaca versi asli tulisan ini di 'The Meghan effect is nothing new' di laman BBC Culture

Berita terkait