Kecanduan fiksi dan fiktif: Mengapa manusia butuh dongeng?

Ilustrasi dongeng

Dari dongeng yang disimak sekeliling perapian hingga drama-drama Netflix, kisah naratif sangat penting bagi setiap masyarakat - dan para ahli teori evolusi sekarang mencoba mencari tahu apa alasannya, tulis David Robson.

Mungkin terdengar seperti film blockbuster musim panas yang sempurna.

Seorang raja yang tampan rupawan diberkati dengan kekuatan manusia super, tetapi arogansinya yang ampun-ampunan membuat kerajaannya jadi terancam azab malapetaka.

Masuklah seorang musafir rendah hati yang menantangnya untuk berkelahi. Sang raja mengakhiri pertempuran, dan kedua tokoh itu seterusnya bersahabat dan melakukan serangkaian petualangan berbahaya di seantero kerajaan.

Sungguh luar biasa bahwa kisah ini masih dibaca hingga hari ini. Kisah ini adalah Epos Gilgamesh, yang terukir pada tablet Babilonia kuno 4.000 tahun yang lalu, menjadikannya karya sastra tertua sedunia yang masih hidup.

Hak atas foto The Trustees of the British Museum
Image caption Epos Gilgamesh telah mengarungi zaman setidaknya selama 4.000 tahun, yang banyak di antara elemennya tetap relevan hingga sekarang.

Kita dapat berasumsi bahwa kisah itu sangat populer pada zamannya, mengingat bahwa puisi ini masih terus saja ditemukan selama milenium berikutnya.

Yang lebih menakjubkan lagi adalah fakta bahwa kisah itu terus dibaca dan dinikmati hingga hari ini, dan begitu banyak elemen dasar kisah itu - termasuk 'bromance' yang hangat - dapat ditemukan dalam begitu banyak kisah populer yang muncul sejak saat itu.

Ciri-ciri umum seperti itu sekarang menjadi minat utama para cendekiawan yang mengambil spesialisasi dalam 'sastra Darwinisme', yang mempertanyakan apa sebenarnya yang membuat suatu cerita jadi bagus, dan apa alasan-alasan evolusi bahwa kisah-kisah tertentu - dari Odyssey karya Homeros hingga Harry Potter - memiliki daya tarik yang demikian luas.

Eskapisme

Meskipun kita tidak memiliki bukti kuat tentang kisah-kisah dongeng sebelum munculnya tulisan, kita dapat berasumsi bahwa narasi telah menjadi pusat kehidupan manusia sejak ribuan tahun lalu.

Lukisan-lukisan gua di situs-situs seperti Chauvet dan Lascaux di Prancis yang berasal dari 30.000 tahun yang lalu tampak menggambarkan adegan-adegan dramatik yang kemungkinan dibarengi dengan penceritaan secara lisan.

"Jika Anda melihat seantero gua, akan ada rangkaian lukisan yang sering tampak sebagai narasi yang berkaitan dengan ekspedisi berburu," kata Daniel Kruger dari University of Michigan - narasi yang mungkin mengandung berbagai pelajaran penting untuk kelompok manusia waktu itu. Beberapa dongeng dari Zaman Es terakhir bahkan mungkin masih bertahan hingga hari ini

Hari ini, kita mungkin tidak lagi kumpul-kumpul sekeliling api unggun untuk menyimak dongeng, tetapi kebanyakan orang dewasa diyakini masih menghabiskan setidaknya 6% dari keadaan terjaga mereka untuk berasyik masyuk dengan cerita fiktif dalam berbagai bentuk.

Dari sudut pandang evolusi, akan banyak sekali waktu dan energi yang akan dihabiskan pada eskapisme murni, tetapi para psikolog danpara teroritikus sastra telah mengidentifikasi berbagai manfaat potensial dari kecanduan fiksi ini.

Salah satu anggapan yang umum adalah bahwa bercerita merupakan bentuk permainan kognitif yang mengasah benak kita, memungkinkan kita untuk mensimulasikan dunia di sekitar kita dan mengimajinasikan berbagai strategi, terutama dalam brbagai situasi sosial.

"Hal ini mengajarkan kita tentang manusia lain dan hal itu merupakan praktik yang terjadi dalam empati dan teori pikiran," kata Joseph Carroll dari Universitas Missouri-St Louis.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Lukisan dinding gua seperti di Chauvet ini mengungkapkan bentuk perkisahan 30.000 tahun lalu.

Sebagai bukti-bukti untuk teori ini, berbagai pemindaian otak menunjukkan bahwa membaca atau mendengar cerita mengaktifkan berbagai area korteks yang diketahui terlibat dalam proses sosial dan emosional, dan semakin banyak orang membaca fiksi, semakin mudah mereka merasa berempati dengan orang lain.

Politik paleolitikum

Yang juga penting, para psikolog teori evolusionis percaya bahwa keasyikan yang dijalani di masa prasejarah kita masih membentuk bangunan cerita yang kita nikmati sekarang.

Seiring manusia berevolusi untuk hidup dalam masyarakat yang lebih besar, kita, misalnya, perlu belajar bagaimana bekerja sama, tanpa menjadi 'penumpang bebas' yang mengambil terlalu banyak namun tidak memberikan apa pun, mengambil manfaat begitu banyak namun tidak menyumbang sedikit pun, atau individu berkuasa yang menyalahgunakan dominasi mereka hingga merugikan kesejahteraan kelompok.

Hak atas foto Paulo Sayeg
Image caption Kaum Agta, suku peramu Filipina, memiliki dongeng lama tentang kesetaraan perempuan dan lelaki.

Karena itu, kemampuan kita untuk mendongeng - dan juga mengarang - mungkin juga berevolusi sebagai cara mengkomunikasikan norma-norma sosial yang cocok. "Intinya adalah untuk melawan tirani dan jangan menjadi tiran," kata Kruger.

Seiring dengan itu, berbagai penelitian mengidentifikasi bahwa kerja sama adalah tema inti dalam narasi populer di seluruh dunia. Antropolog Daniel Smith dari University College London baru-baru ini mengunjungi 18 kelompok pemburu-peramu Filipina. Dia menemukan bahwa hampir 80% dari dongeng-dongeng mereka terkait pengambilan keputusan terkait moral dan dilema sosial (dan bukannya kisah tentang, katakanlah, alam).

Ternyata hal ini kemudian tampak diterjemahkan ke dalam perilaku kehidupan nyata mereka; kelompok yang tampak paling banyak berinvestasi dalam perkisahan juga terbukti paling kooperatif selama berbagai tugas-tugas percobaan - persis seperti yang disiratkan oleh teori evolusi.

Hak atas foto Rebecca Hendin

Epos Gilgamesh mememberikan contoh khusus dari sastra kuno. Pada awal kisah, Raja Gilgamesh mungkin tampak sebagai pahlawan yang sempurna ihwal kekuatan fisik dan keberaniannya, tetapi ia juga seorang tiran yang congkak yang menyalahgunakan kekuasaannya, menggunakan droits du seigneur atau 'hak istimewa penguasa' dia untuk meniduri perempuan-perempuan mana pun yang menarik hatinya.

Dan hanya setelah ia ditantang oleh si orang asing Enkidu, ia akhirnya belajar nilai kerja sama dan persahabatan. Pesan untuk audiens seharusnya sudah tegas dan jelas: jika bahkan raja yang heroik pun harus menghormati orang lain, begitu juga Anda seharusnya.

Hak atas foto Hulton Archive
Image caption Perang Troya di awal Iliad, puisi epik karya Homeros yang tak lekang oleh waktu.

Dalam bukunya On the Origin of Stories, Brian Boyd dari University of Auckland menjelaskan bagaimana tema-tema ini juga tampak dalam Odyssey karya Homeros.

Tatkala Penelope tengah menunggu kedatangan Odysseus, para lelaki yang ingin melamar sang puteri menghabiskan sepanjang hari untuk makan dan minum di rumah Penelope. Ketika akhirnya Odysseus tiba dalam penyamaran sebagai pengemis miskin, mereka tak sudi mememberikan penampungan (di rumahnya sendiri!). Mereka akhirnya mendapatkan pembalasan karena Odysseus membuka penyamarannya dan melancarkan pembalasan berdarah.

Kita mungkin berasumsi bahwa minat kita dalam bekerjasama berkurang dengan meningkatnya individualisme Revolusi Industri, tetapi Kruger dan Carroll menemukan bahwa tema-tema ini masih lazim dalam berbagai novel Inggris yang paling digemari dari abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Dengan bertanya kepada suatu panel pembaca untuk menilai tokoh-tokoh utama dalam lebih dari 200 novel (dimulai dengan karya Jane Austen dan diakhiri dengan karya EM Forster), para peneliti menemukan bahwa kelemahan utama parab tokoh antagonis, kebanyakan adalah pencarian dominasi sosial dengan mengorbankan orang lain atau penyalahgunaan kekuasaan mereka, sementara para tokoh protagonis tampak berwatak kurang individualistis dan kurang ambisius.

Ambil contoh novel Pride and Prejudice karya Jane Austen. Tokoh culas dan licik Nona Bingley bermaksud untuk meningkatkan kedudukannya dengan berusaha dekat dengan Tuan Darcy yang kaya tapi arogan dan menjodohkan saudara laki-lakinya dengan saudara perempuan Darcy. Nona Bingley juga memandang rendah orang-orang dari kedudukan sosial yang lebih rendah. Tokoh utama Elizabeth Bennett, sebaliknya, tak menunjukkan ketertarikan untuk mendaki hierarki sosial masyarakat mereka, dan bahkan menolak saat Tuan Darcy pertama kali melamarnya.

Hak atas foto Focus Features
Image caption Dalam Vanity Fair, Becky Sharp (dimainkan Reese Witherspoon dalam film tahun 2004 karya Mira Nair), yang ambisius dan kejam adalah protagonisnya.

Sementara itu, Vanity Fair karya William Thackeray, memainkan anggapan publik tentang apa yang diharapkan dari protagonis dengan menempatkan Becky Sharp yang ambisius (dan mungkin pembunuh) di jantung novel itu, sementara sahabatnya Amelia yang lebih ramah (tapi hambar) adalah tokoh sekunder. Itu adalah, dalam kata-kata Thackeray sendiri, "sebuah novel tanpa tokoh hero."

Tetapi dalam pengertian evolusioner, keputus-asaan Becky yang ditolak oleh masyarakat di sekitarnya, masih mengisyaratkan peringatan keras bagi orang-orang yang mungkin tergoda untuk menonjolkan diri sendiri di hadapan orang lain.

Yang kebapakan dan yang berandalan

Teori evolusi juga dapat menjelaskan tentang peran penting fiksi romantis, termasuk preferensi para tokoh utama perempuan pada figur ayah yang stabil (seperti Tuan Darcy dalam Pride and Prejudice atau Edward Ferrars dalam Sense and Sensibility) atau begajulan tak bertanggungjawab (seperti bajingan tukang main perempuan Tuan Wickham atau Willoughby). Figur 'kebapakan' mungkin menjadi pilihan yang lebih baik untuk keamanan jangka panjang dan perlindungan anak-anak.

Tetapi menurut teori evolusi yang dikenal sebagai 'hipotesis putra seksi', jatuh cinta kepada seorang bajingan tidak setia bisa memiliki kelebihannya sendiri karena mereka dapat menurunkan wajah rupawan, kharisma dan pesona mereka terhadap anak-anak mereka sendiri, yang mungkin juga nantinya bisa menikmati kejayaan seksual yang lebih besar.

Hak atas foto Christopher Furlong/Getty Images
Image caption Di awal novel Pride and Prejudice, kelima perempuan kakak beradik keluarga Bennet semuanya lajang.

Hasilnya, ada kesempatan yang lebih besar bahwa gen Anda akan diteruskan ke para cucu dalam jumlah lebih banyak - bahkan jika pasangan Anda yang tidur sana-sini menghancurkan perasaan Anda di sepanjang prosesnya. Untuk alasan inilah para tokoh berandalan di dunia sastra mungkin masih saja membuat kita tertarik, meskipun kita tahu kelicikan dan keculasan mereka.

Dalam hal ini, para penulis seperti Jane Austen adalah ahli psikologi evolusioner yang intuitif dengan pemahaman "yang luar biasa akurat" terhadap dinamika seksual yang mendahului teori-teori kita yang mutakhir, kata Kruger. "Saya pikir itu bagian dari kunci panjangnya umur cerita ini. (Itu sebabnya kendati) Jane Austen menulis novel ini 200 tahun yang lalu, masih saja ada film yang dibuat (tentangnya) hari ini. "

Masih banyak lagi wawasan yang bisa diperoleh dari bacaan-bacaan ini, seperti misalnya, analisis terbaru tentang tokoh-tokoh sangat jahat dalam kisah-kisah fantasi dan horor - seperti Lord Voldemort musuh bebuyutan Harry Potter, dan Leatherface dalam The Texas Chainsaw Massacre.

Hak atas foto Warner Bros
Image caption Lord Voldemort, musuh bebuyutan Harry Potter.

Ciri-ciri umumnya antara lain penampilan yang ganjil yang tampak dirancang untuk memicu ketakutan kita yang terus berkembang, terhadap penyakit dan wabah, dan mengingat sifat bawaan kita tentang kelompok, penjahat sering membawa tanda-tanda bahwa mereka adalah anggota dari "kelompok luar" - itulah pula sebabnya mengapa begitu banyak penjahat dalam film Hollywood yang memiliki logat asing. Sekali lagi, anggapan dasarnya adalah bahwa perbentuan dengan makhluk-makhluk jahat ini pada akhirnya memperkuat rasa altruisme dan kesetiaan kepada kelompok kita sendiri.

Novelis Ian McEwan adalah salah satu suara sastra paling terkenal yang meyakini tafsiran evolusioner tentang sastra ini, dengan alasan bahwa banyak elemen umum dari alur cerita dapat ditemukan dalam kehidupan sepupu primata kita.

"Jika orang membaca laporan tentang pengamatan non-intrusif yang sistematis terhadap kawanan (jenis monyet) bonobo," tulisnya dalam sebuah buku kumpulan esai tentang topik ini, The Literary Animal, "akan terlihat persamaan dengan semua tema utama dari novel abad ke-19 Inggris: aliansi dibuat dan hancur, ada individu yang melesat naik sementara yang lain jatuh. balas dendam, rasa syukur, harga diri yang terluka, perjodohan yang sukses dan yang gagal, dukacita dan perkabungan. "

McEwan berpendapat kita harus merayakan berkembangnya kecenderungan ini sebagai sumber kekuatan fiksi yang luar biasa untuk melintasi tempat dan waktu. "Tidak mungkin kita bisa menikmati sastra dari zaman yang begitu jauh dari zaman kita, atau dari budaya yang sangat berbeda dari budaya kita, kecuali kita memiliki sejumlah landasan emosional yang serupa, berbagai kedalaman anggapan dalam yang mirip, dengan penulisnya," tambahnya. .

Dengan kedalaman anggapan yang mirip itu, sebuah kisah seperti Epos Gilgamesh masih terasa begitu segar seakan baru ditulis kemarin, dan pesan kesetiaan persahabatan yang abadi dari kisah itu tetap menjadi pelajaran bagi kita semua, 4.000 tahun setelah penulisnya menorehkan ukiran pertama di tablet itu.


Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini Our fiction addiction: Why human need stories di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait