The house that Jack built: Komedi pembunuh berantai si anak bengal yang bisa memuakkan

The House That Jack Built Hak atas foto IFC Films

Si anak bengal dari Denmark, Lars von Trier, mengguncang para penonton di Festival Film Cannes dengan komedi pembunuh berantai yang mengerikan ini, sampai-sampai banyak penonton merasa muak dan meninggalkan bioskop.

Puluhan orang keluar ruangan dengan perasaan jijik ketika The House That Jack Built (Rumah yang dibangun Jack) ditayangkan perdana di Festival Film Cannes beberapa waktu lalu. Dan kendati saya tentu bisa memahami alasan mereka, saya senang bahwa tetap duduk sampai akhir film yang mendebarkan itu.

Film ini adalah komedi gelap dan mengerikan tentang pembunuh berantai - tetapi, lebih relevan lagi, ini adalah komedi gelap dan mengerikan tentang pembunuh berantai yang ditulis dan disutradarai oleh Lars von Trier.

Itu berarti film yang terlalu berkepanjangan, dilebih-lebihkan, terkadang membosankan, terkadang mengguncangkan, tetapi tidak diragukan lagi merupakan film yang lantang dan merangsang yang tidak dapat dibuat oleh yang lain kecuali auteur-provokator Denmark yang satu ini.

Film ini terstruktur sebagai dialog antara Jack (Matt Dillon), seorang maniak pembunuh, dan pewawancara yang tak pernah kelihatan bernama Verge (Bruno Ganz) - ada permainan kata di sana yang tidak akan saya ungkapkan.

Jack memberi tahu Verge tentang lima "insiden" yang dia pilih dari karirnya sebagai pembunuh, yang tampaknya berlangsung sepanjang tahun 1970-an di sebuah kota AS yang tidak disebutkan. (Perhatikan, Jack memiliki kenangan masa kecil sebagai buruh tani yang menyabit di padang rumput, jadi kita tidak bisa terlalu yakin di dekade mana, atau bahkan di negara mana, film ini berlatar).

Di segmen pertama -yang paling lucu- ia berkendara menyusur sepanjang jalan menembus hutan dengan mobil van merahnya ketika ia dihentikan oleh seorang perempuan kelas atas yang pongah (yang dimainkan oleh Uma Thurman) ketika ban mobilnya kempes.

Betapa pun enggannya Jack untuk mengantarnya ke bengkel, perempuan ini tidak bisa menerima penolakan. Dan begitu dia duduk di sampingnya di mobil Jack, perempuan itu bterus saja bergurau bahwa bisa saja sebenarnya Jack itu adalah seorang pembunuh berantai.

Setelah perjumpaan ironis yang membangkitakan seleranya untuk menjagal ini, kita melihat dia mencekik, menikam dan menembak korban yang tidak bersalah lalu menata mayat-mayat mereka, bagaikan manekin yang dipajang di toko, di unit penyimpanan dingin di samping rak pizza-pizza beku.

Hak atas foto IFC Films

Pada suatu waktu, dia masuk ke sebuah rumah dengan berpura-pura sebagai seorang polisi; di waktu lain ia memberi arti baru untuk frasa 'perjalanan berburu keluarga'; di waktu lain lagi, dia menghina seorang perempuan muda yang disebutnya "Simple" (Riley Keough, yang memberi sentuhan kemanusiaan yang mengejutkan pada film yang tanpanya membuat film ini menjadi film yang dingin tidak berperasaan).

Dia mengaku memilih anekdot-anekdot ini 'secara acak,' tetapi Verge tidak setuju: menurutnya Jack selalu berusaha membuat dirinya tampak pintar dan perempuan tampak bodoh.

Dengan film ini von Trier mengomentari karir dan reputasinya sendiri, sekaligus menyentil Silence of the Lambs, Se7en, dan semua film lain yang menampilkan pembunuh berantai sebagai sosok intelek yang penuh perhitungan dengan selera budaya tinggi.

Jack melihat dirinya dalam kotak itu. Dia mengoceh tentang mengapa kejahatannya digolongkan sebagai seni, dan dia bahkan menjuluki dirinya sendiri sebagai Mr. Sophistication, Tuan Kecanggihan.

Tetapi von Trier menunjukan dengan jelas bahwa Jack sebenarnya seorang yang pandir. Dengan kacamata berbingkai lebar, dan dengan raut wajah yang menunjukkan kebingungan, Matt Dillon sangat bagus dalam peran Jack yang tampah gelisah: seorang serba salah yang neurotik yang berhasil membunuh lebih dari 60 orang hanya karena ia keterlaluan mujurnya, dan polisi yang edan-edanan tidak becusnya - dan, jangan-jangan karena dunia adalah tempat yang pada dasarnya tak pedulian.

Betapa pun, Jack mencoba untuk menegaskan kredibilitas intelektualnya dengan memberikan ceramah ganjil tentang desain pesawat pembom-selam Jerman, peran pembusukan dalam produksi sejenis anggur, dan makna kekejaman dan kekejian dalam karya seni - sebuah tema yang digambarkan melalui potongan klip dari film film von Trier sendiri. Verge merasa bosan dan jengkel oleh pandangan-pandangan ini, dan banyak penonton akan diliputi perasaan yang sama.

Ada sejumlah adegan grafis dari penyiksaan dan mutilasi bersifat misoginis di The House That Jack Built - meskipun saya pernah menonton adegan-adegan yang lebih buruk lagi di film-film thriller Amerika yang digolongkan jenis film umum biasa- tetapi saya menduga bahwa lebih banyak orang yang tidak akan tahan oleh seminar yang berkepanjangan ketimbang oleh sadisme dan lumuran darah.

Lagu-lagu erotis yang maknanya ke sana ke mari

Saya sempat melirik jam tangan saya sekali atau dua kali selama pemutaran film, tetapi kesan umum saya tentang film itu, saya merasa ditantang, dikejutkan dan dihibur oleh dekonstruksi jahil von Trier pada genre pembunuh berantai, serta sangat terkesan oleh kecemerlangannya secara teknis dan nyalinya yang tak kenal kompromi: filmnya diakhiri dengan sejumlah gambar supernatural menakjubkan yang akan menjadi pencapaian puncak dari setiap film fantasi blockbuster Hollywood.

Anda mungkin tergoda untuk keluar dari ruangan di tengah pemutaran The House that Jack Built sebelum akhir film seperti itu. Namun kalau bertahan Anda pasti akan membicarakannya sesudahnya.


Anda bisa membaca versi asli artikel ini dalam Bahasa Inggris berjudul Film review: The house that Jack built dan artikel sejenis di BBC Culture.

Berita terkait