Sebagus apa Solo: A Star Wars Story?

Solo: A Star Wars Story Hak atas foto Lucasfilm

Film prekuel Star Wars yang berfokus pada Han Solo ini memenuhi semua kriteria, bisa jadi tontonan keluarga, dan penuh aksi - tapi sebagus apa?

Sebagian penyuka Star Wars tampaknya kesal dengan bagaimana The Last Jedi tak memenuhi harapan mereka.

Bahkan Luke Skywalker sendiri, atau aktor Mark Hamill, mengakui dalam sebuah wawancara bahwa dia tidak terlalu senang dengan perubahan yang dialami karakternya sejak 1980an.

Tapi tak ada yang perlu khawatir soal Solo: A Star Wars Story akan membuat kecewa: film ini benar-benar memenuhi harapan dari sebuah prekuel yang menampilkan sosok cecunguk ikonik luar angkasa yang dulu diperankan oleh Harrison Ford.

Film ini memenuhi semua kriteria daftar yang mungkin dimiliki oleh seorang penggemar dengan mengenalkan kita pada Han (Alden Ehrenreich) yang masih berusia dua puluhan.

Film ini juga menampilkan teman Wookie Han, Chewbacca (Joonas Suotamo) yang belajar main catur holografik; ada juga Lando Calrissian (Donald Glover) yang flamboyan dan suka curang saat main kartu dan mengibaskan jubahnya.

Mereka semua menaiki Millennium Falcon untuk mencoba melakukan sesuatu yang disebut oleh Han dalam film Star Wars pertama: menempuh Kessel Run.

Pemenuhan harapan ini patut dihargai. Saat George Lucas membuat tiga film prekuel Star Wars, dari 1999 sampai 2005, dia mengacaukan kontinuitas rangkaian film tersebut sampai-sampai menjadi kontradiksi dari peristiwa-peristiwa di trilogi awal film.

Namun Solo, yang ditulis oleh tim ayah dan anak Lawrence serta Jonathan Kasdan, cukup rapi dalam mengisi kekosongan dalam kisah masa lalu si tokoh cerita, dan para penggemar lama pun akan menghargai setiap dialog yang mencerminkan sesuatu yang dulu mereka pernah dengar, di galaksi yang sangat jauh.

Meski begitu, mungkin mereka berharap film ini punya ambisi lebih besar. Mungkin akan beda jadinya jika Phil Lord dan Christopher Miller yang menyutradarai Solo, seperti yang direncanakan sejak awal.

Namun, saat produksi, dua sutradara yang membuat The Lego Movie itu dipecat dan digantikan oleh orang yang membuat The Da Vinci Code - dan Ron Howard, terlepas dari semua pencapaiannya, bukanlah sosok yang punya pendekatan radikal dalam membuat film.

Apa yang dia buat adalah sebuah film mirip Disney, petualangan ala Guardians of the Galaxy yang lebih sederhana: sebuah film hiburan komedi ringan, ramah keluarga, penuh dengan laga, namun kadang mengganggu karena seksis, yang bukan film Star Wars terbaik, tapi menjadi yang paling esensial.

Film ini juga episodik. Mungkin struktur menggantung adalah akar dari semua film Star Wars, semacam penghormatan atas film-film akhir pekan yang berakhir tiba-tiba seperti Buck Rogers dan Flash Gordon.

Namun, alih-alih memiliki plot yang panjang, Solo memiliki serangkaian plot yang berhubungan, latar adegan yang panjang, yang tidak terlalu jelas, dan sebagian besar tertutup oleh asap dan uap.

Di antara adegan tembak-tembakan, Han lari dari planet asalnya yang kelabu dan bergaya industrial, dia kemudian mendaftar ke tentara Empire, namun melakukan desersi, dan bergabung dengan sekelompok perampok, lalu mendapat begitu banyak teman; mengingat film ini berjudul Solo, namun sangat sedikit waktu yang dihabiskan sendirian oleh si protagonis.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Solo: A Star Wars Story menjadi perbincangan di hampir seluruh kalangan, termasuk para pendidik dan pelajar di BFI Film Academy, London.

Meski kisah ini berawal dari pelarian Han dan kekasihnya Qi'ra (Emilia Clarke), film ini kemudian memberi ruang untuk Chewie, Lando, seorang pembunuh bayaran yang kerap memutar-mutar pistolnya bernama Beckett (Woody Harrelson), pacarnya Val (Thandie Newton), makhluk luar angkasa bertangan empat Rio (disuarakan oleh Jon Favreau), dan robot L3-37 (Phoebe Waller-Bridge), yang menuntut hak yang sama bagi sesama saudari dan saudara mekanisnya.

Satu-satunya yang kurang dari deretan karakter ini adalah seorang penjahat yang layak, namun gangster yang menghibur, yang menyewa kru untuk melakukan perampokan 'hyper-fuel', bernama Dryden Vos (Paul Bettany).

Ya, siapapun yang mempelajari sastra Inggris dan puisi Irlandia dan teater akan sama terganggunya seperti saya saat menyadari fakta bahwa ada satu karakter bernama Beckett, satu lagi bernama Dryden, dan pada satu adegan, mereka menyebut nama masing-masing sampai sekitar 20 kali.

Sampai pada satu titik, saya menyangka akan ada stormtrooper yang masuk dan mengatakan, "Maaf, Pak, tapi Milton baru saja mencuri kapsul penyelamatan, dan dia menuju Tattooine bersama dengan Yeats dan Oscar Wilde!"

Terlepas dari nama-nama sastra itu, satu-satunya yang mengejutkan dari karakter-karakter dalam film ini adalah banyaknya dari mereka yang terbunuh. Dan yang lebih mengejutkan lagi, kematian-kematian ini tak berpengaruh karena kita baru bertemu mereka beberapa menit sebelumnya.

Karena itulah sulit untuk mempedulikan karakter lain di Solo yang bukan Han, Chewie atau Lando. Dan kita juga tahu bahwa mereka toh tidak akan muncul di film Star Wars lain. Jika Han sudah melupakan mereka saat dia bertemu dengan Luke dan Leia, maka kenapa kita harus mengingat mereka?

Tapi kita bisa dengan mudah peduli dengan Han.

Ehrenreich memang bukan Harrison Ford - tapi siapa yang bisa menyamainya? - dan saya tidak yakin karakter muda ini akan mendapat suara serak Ford.

Namun dia adalah pahlawan lucu yang mudah diterima dengan gaya nyengirnya yang mempesona dan kesopanan khas anak-anak. Mengingat betapa mengesalkannya Jake Lloyd dan Hayden Christensen sebagai versi muda Darth Vader, Han Solo muda bisa lebih buruk.

★★★☆☆

Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di Film review: Solo: A Star Wars Story di laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait