Apichatpong Weerasethakul: sutradara yang mengajak penonton 'tidur' di bioskop

Hak atas foto Getty Images

Pemenang penghargaan tertinggi Festival Film Cannes, Apichatpong Weerasethakul, mengharapkan penonton agar tidur di bioskop. Dia juga menilai Virtual Reality (VR) adalah salah satu potensi kreatif besar di dunia visual.

Agak janggal rasanya ketika sutradara kawakan Thailand, Apichatpong Weerasethakul, duduk di hadapan saya, di sebuah hotel di negara yang sama sekali baru bagi kami berdua. Kami sedang berada di sebuah acara bernama Qumra, acara tahunan di ibukota Qatar, Doha, di mana sejumlah orang penting dari industri film bertemu.

Apichatpong adalah salah satu 'Master' yang diundang.

Di sini, berbagai filmnya ditayangkan. Mulai dari kisah tentang babun yang bisa berbicara, para tentara yang tengah terlelap, hantu, para dewi, dan cerita tentang setan bermata merah.

Apichatpong Hak atas foto Getty Images
Image caption Apichatpong Weerasethakul.

Dengan daftar filmnya yang banyak dinilai absurd dan non-komersial, sebut saja Tropical Malady, Syndromes and a Century, dan pemenang Palme d'Or Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Live, cukup mengejutkan ketika dalam wawancara kami, dia menyinggung soal Netflix.

Saya pun menanyakan soal Gattaca, film fiksi ilmiah keluaran tahun 1997, yang dibintangi Jude Law dan Ethan Hawke. Film ini adalah salah satu film favorit sang sineas. Dia tampak terkejut. "Kenapa, kamu tidak suka film itu?," tanya Apichatpong.

Uncle Boonme Hak atas foto Kick the Machine
Image caption Setan bermata merah di film Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Live.

Saya langsung tegaskan, saya suka film tersebut.

Dia tampak lega. "Film itu sangat romantis. Mengingatkan saya pada novel-novel Ray Bradbury. Film ini soal bocah yang ingin pergi ke ruang angkasa, dan saya punya mimpi itu juga."

Dia senang ketika saya menanyakannya soal Netflix. "Saya punya Netflix," katanya. "Tapi membuat film untuk Netflix, bukan sesuatu yang saya mau lakukan. Saya tidak tahu cara membuat film untuk televisi, membaginya dalam berbagai episode.

Apichatpong Hak atas foto Getty Images
Image caption Apichatpong Weerasethakul saat diwawancara di acara Qumra.

"Tapi saya tidak bermaksud mengatakan kalau film bioskop lebih bagus dibanding TV. Bukan. Cuma saya tidak terlatih untuk membuat tayangan untuk TV. Sementara layar lebar sudah bagai ritual bagi saya."

Dan tampaknya film-film panjang Apichatpong, memang didesain bagai "ritual". Kurang sempurna rasanya menonton film-filmnya yang punya visual mistis, dengan atmosfer audio yang sangat membumi, tanpa bantuan visual dan audio bioskop.

Tropical Malady Hak atas foto Kick the Machine
Image caption Film-film Apichatpong selalu terkesan mistis dan sureal.

Helaan nafas, ketakutan, atau penonton yang malah jadi terkantuk dan tidur, akan terasa berkali-kali lipat di bioskop. Dan dia mengapresiasi segala bentuk emosi dan reaksi itu.

"Ya, saya membuat film untuk semua pengalaman itu," lanjutnya. "Jujur, saya tidak suka film saya disajikan dalam bentuk DVD dan streaming. Saya generasi tua (umurnya 47 tahun), dan saya masih senang menonton film secara bersama-sama."

"Dan bukan cuma soal menonton di bioskop saja. Ketika saya membuat film, saya juga menambahkan efek kusam dan mengganti warnanya, sehingga terlihat seperti film seluloid. Namun, generasi sekarang tidak lagi peduli. Ini tidak balik baru bagi sinema. Dan kita harus mau menerimanya."

'Trik cahaya'

Dan masa telah berubah. Ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Apichatpong, yang karya-karyanya terasa sama. Meskipun begitu, ini tentunya bukan masalah bagi para penonton, karena walau filmnya mirip-mirip, karya Apichatpong amatlah unik. Tidak ada orang lain yang membuat film seperti dirinya.

Apichatpong Hak atas foto Getty Images
Image caption Dalam film terbarunya Apichatpong akan bekerja sama dengan aktris Tilda Swinton.

Dalam waktu dekat, untuk pertama kalinya sang sineas akan syuting film di luar Thailand: Kolombia. Pemerannya juga bintang internasional: Tilda Swinton. Ini dilakukan Apichatpong menyusul ketidakstabilan politik yang terus memburuk di Thailand.

Namun, ketika saya tanya apakah suara filmnya akan berubah ketika dia syuting di lingkungan berbeda, dia menjawab, "Tidak. Saya masih bekerja dengan desainer suara, desainer set yang sama. Kami sudah bekerja sama selama 25 tahun. Kami sudah saling mengerti satu sama lain, bahkan ketika diam.

"Dan salah satu alasan saya ke Kolombia adalah karena saya juga sudah terlalu nyaman di Thailand."

Mungkin film barunya ini akan merevolusi cara Apichatpong membuat film. Tapi mungkin juga tidak. Namun, mengingat judul film barunya itu adalah Memoria, tampaknya nuansa film baru ini akan tetap sama dengan film-film lama Apichatpong.

film Hak atas foto Kick the Machine
Image caption Meskipun mirip-mirip, film Apichatpong sangat khas dan berbeda dari karya sineas dunia lainnya.

Namun, film-film bioskop Apichatpong, adalah satu dari sedikit buah karyanya di dunia visual.

Karyanya yang berjudul Fever Room menampilkan visual cahaya yang ditembakkan oleh proyektor bergerak ke arah penonton.

Visual itu menampilkan karakter Itt, seorang tentara yang terkena penyakit yang membuatnya selalu tertidur, dan Jen, seorang perawat. Keduanya adalah karakter dari film Cemetery of Splendour. Itt digambarkan tertidur dan bermimpi. Jen menyusul. Keduanya kemudian berkomunikasi dalam mimpi.

adegan Hak atas foto Kick the Machine
Image caption Salah satu adegan di film Tropical Malady.

Dan dalam karya seni ini, penonton diajak tidur dan bermimpi, seakan ikut merasakan apa yang dirasakan kedua karakter itu.

"Penonton adalah bagian dari pertunjukan. Siluet mereka yang muncul dari tembakan sinar, akan menjadi bentuk baru. Penonton tidak lagi hanya menonton sinema, mereka menjadi bagian dari sinema itu sendiri."

Pengalaman yang ditawarkan Fever Room ini seperti VR, tetapi tanpa kaca matanya. "VR sangatlah menarik. Sangat membebaskan. Kami, sineas tidak lagi terbatas oleh lingkup frame. Kami bebas membuat adegan dan penonton bebas melihat ke arah mana saja."

Bioskop tidur Hak atas foto Getty Images
Image caption Salah satu suasana bioskop tidur.

Dan menarik melihat Apichatpong yang sangat tradisional dan "kuno", ternyata telah mulai menerapkan presentasi sinema yang sangat modern, dan bahkan melebihi apa yang selama ini telah dilakukan sineas lain.

Dan tentunya saya sangat mendukung karya baru besar Apichatpong, sebuah film fiksi ilmiah, tentang orang-orang yang bisa berkomunikasi lewat pikiran, dan mentransfer pengetahuan tanpa batas. Sesuatu, yang rasanya sangat baru dan 'tidak Apichatpong'.

Anda bisa membaca artikel aslinya di BBC Culture, dengan judul The Thai director who shows the future of cinema.

Berita terkait