Ash is Purest White: Film gangster Cina gaya baru yang penuh renungan

Tokoh Qiao punya kepercayaan diri yang tenang seperti Uma Thurman di Pulp Fiction dan digambarkan sebagai sosok yang sangat mampu mengurus bisnis gangster. Hak atas foto Shanghai Film Group
Image caption Tokoh Qiao punya kepercayaan diri yang tenang seperti Uma Thurman di Pulp Fiction dan digambarkan sebagai sosok yang sangat mampu mengurus bisnis gangster.

Film baru dari sutradara Cina, Jia Zhangke, adalah epik gangster yang aneh dan menghantui dan memaparkan jiwa Cina modern, kata Nicholas Barber.

"Kamu terlalu banyak menonton film gangster," kata Qiao (Zhao Tao) pada Bin (Liao Fan) dalam Ash is Purest White.

Tapi Anda bisa memastikan bahwa Bin tak pernah menonton film gangster yang sedang dibintanginya. Film yang disutradarai dan ditulis oleh Jia Zhangke ini adalah sebuah epik agung yang juga film gangster, tapi juga lebih aneh dan sedih, menghantui, dan kadang menjadi perenungan yang aneh akan kefanaan, kesetiaan dan jiwa Cina modern.

Qiao adalah pacar seorang gangster. Dia mengklaim bahwa dia bukanlah bagian dari "jiangshu", persaudaraan bawah tanah di mana pacarnya bergabung, dan bahwa Qiao lebih mementingkan ayahnya yang sudah tua dan tinggal di kota pertambangan batubara yang hampir mati dekat tempatnya tinggal.

Namun dengan rambut bob yang tajam dan kepercayaan diri yang tenang seperti Uma Thurman di Pulp Fiction, Qiao sangat mampu mengurus bisnis gangster, menyapa setiap 'saudara' dengan tonjokan halus saat dia datang ke tempat mereka bermain Mahjong, dan memastikan bahwa utang-utang sudah dibayar dan mereka yang terlambat membayar dihukum.

Bin, pacarnya yang berbahu besar dan berahang tajam, adalah seorang letnan yang dipercaya oleh pengembang properti terbesar di kawasan tersebut sekaligus pemilik klub. Namun, generasi baru gangster berusaha merebut wilayahnya.

Dan saat gerombolan mereka menyerang Bin di sebuah jalanan ramai pada suatu malam -- senjata mereka adalah sekop taman -- Qiao menyelamatkan nyawa Bin dengan menembakkan senjata api tanpa izin ke udara.

Dia lalu bersumpah pada polisi bahwa senjata itu adalah miliknya, sehingga Bin hanya dipenjara selama setahun, sementara dia harus dibui selama lima tahun. Tapi baik dia maupun teman-teman gangsternya tidak menghargai kesetiaannya.

Qiao tak bisa menemukan Bin saat dia bebas, dan Qiao pun berjalan menyusuri Sungai Yangtze untuk mencarinya, berkeras agar mereka bisa bersatu lagi.

Ash is Purest White memenuhi standar ketegangan film gangster. Jia membangun ketegangan tanpa ampun saat mobil Bin dan Qiao dikelilingi oleh preman bermotor, dan kemudian melanjutkan ketegangan itu dengan aksi perkelahian yang brutal.

Kemudian, saat Qiao mencari Bin, film ini pun berubah menjadi film pembalasan feminis yang lucu.

Qiao yang menolak kalah kemudian membuktikan dirinya sebagai penipu dan pencuri ulung yang mengancam kota itu, hanya bersenjatakan sebotol plastik air dan kepandaiannya berbicara.

Namun kenikmatan yang singkat ini adalah satu bagian dari perjalanan panjang yang sering melantur dari 2001 sampai 2018.

Ash is Purest White kadang disorot dalam cahaya alami yang pucat sehingga terasa seperti kisah mistis arwah yang menjalani kehidupan sesudah kematian atau astronot yang tersesat di planet asing - dan itu terjadi sebelum Qiao bertemu seorang pria yang mengatakan bahwa agen perjalanannya khusus untuk tur-tur melihat UFO.

Singa dan harimau kurus pun muncul, dan ada beberapa selingan tarian ballroom, line-dance dan disko: lagu YMCA dari Village People pun muncul lagi dan lagi, sama halnya seperti Go West dari The Pet Shop Boys yang muncul di film terakhir Jia, Mountains May Depart.

Namun tema yang kemudian muncul dari film ini adalah tentang dunia yang terus berubah.

Orang-orang semakin bertambah tua, hubungan memudar, begitu pula sindikat kejahatan, dan Cina juga berubah seiring kota-kotanya menjadi maju dan Bendungan Tiga Ngarai di Cina menyebabkan berkilo-kilometer daerah pedesaan terendam air.

Tak banyak pembuat film yang begitu detil atau sepuitis Jia soal berlalunya waktu: lokasi bangunan atau teknologi smartphone menjadi obsesi tersendiri.

Dan Zhao - istri Jia - menjawab tantangan akting yang sulit, mengubah dirinya dengan cara yang halus sampai Qiao harus menjadi semakin keras dan lelah seiring semakin berlalunya waktu.

Menjelang akhir film, Anda akan merasa sama tuanya seperti Qiao: saya tak keberatan jika film ini lebih pendek setengah jam saja. Anda mungkin akan bertanya-tanya apakah Bin sebanding dengan upaya Qiao, atau apakah dia seharusnya lebih baik melupakan Bin. Tapi tentu dia tidak bisa.

Terlepas dari kenyataan, dia bertahan dengan keyakinan bahwa meski semuanya layu, cinta tetap abadi.


Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di Cannes film review: Ash is purest white di laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait