Whitney: Film dokumenter Whitney Houston yang ungkap banyak hal mengejutkan

Whitney Houston Hak atas foto Miramax

Film dokumenter terbaru dari Kevin Macdonald, Whitney, 'bisa dinikmati tapi tak mengejutkan' sampai kemudian bagian akhirnya mengungkap sesuatu yang tragis dan menyentuh dalam kisah sang penyanyi.

Film dokumenter soal Whitney Houston ini mengisahkan suatu kisah sedih yang terkesan familiar di hampir sepanjang film.

Baru pada 30 menit terakhir film ini menampilkan sesuatu yang kuat untuk membenarkan eksistensinya, dan ini bukan hanya soal film yang menyentuh dan mencengangkan, tapi juga penting.

Houston adalah salah satu artis terlaku sepanjang abad 20, namun penggunaan obat-obat terlarang membuatnya menjadi bahan berita tabloid dan ejekan dalam acara talk show selama bertahun-tahun sebelum kemudian dia meninggal dalam bak mandi di hotel pada 2012 dalam usia 48 tahun.

Macdonald, yang berpindah-pindah antara karya dokumenter (Touching the Void, Bob Marley) dan film panjang (The Last King of Scotland, State of Play), bertanya kenapa dia tidak bisa menghilangkan kecanduannya, dan bagaimana seseorang yang tampak begitu bahagia dan hidup bisa begitu tersiksa.

Dengan mewawancarai sebagian besar, atau malah semua kerabat terdekatnya, termasuk mantan suaminya, Bobby Brown, Macdonald memperlihatkan bahwa Houston sejak lahir merupakan orang yang 'penuh karunia' tapi juga 'dibayangi kutukan'.

Para kerabatnya takjub pada betapa cantiknya dia saat bayi, dan suara 'Nippy' Houston pun menjadi pembahasan di gereja di Newark, New Jersey.

Tapi kecintaannya pada musik gospel hancur setelah ibunya yang juga pelatih vokal penuh disiplin, Cissy Houston, menjalin kisah cinta dengan pendeta gereja, dan berakhir dengan perceraian orangtuanya.

Pada usia 16, dia mencoba kokain, dan saat itu dia sudah bekerja sebagai penyanyi latar di acara ibunya, sama seperti saat Cissy, menjadi penyanyi latar bagi Elvis Presley dan Aretha Franklin.

Namun saat dia menjadi bintang besar di awal usia dua puluhan, bukan hanya karena suaranya dan penampilannya yang seperti model, tapi karena dia tampak seperti gadis baik-baik dari keluarga Kristen yang taat.

Tetapi di balik layar, dalam banyak rekaman video rumahan, kita bisa melihat bagaimana lelucon-lelucon ringan (dan hinaan dari Paula Abdul) berubah menjadi celoteh akibat narkotika.

Semua ini bisa ditonton meski depresif, tapi tak pernah benar-benar mengejutkan. Baru-baru ini ada berbagai tren dokumenter yang menampilkan vokalis perempuan yang luar biasa berbakat namun bernasib tragis — seperti Janis karya Amy Berg, Little Girl Blue, atau Amy dari Asif Kapadia soal Amy Winehouse — dan baru tahun lalu ada juga dokumenter tentang Houston, Whitney: Can I Be Me karya Nick Broomfield.

Untuk mencari sumber keputusasaan Houston, Macdonald menyajikan asumsi yang sama seperti yang diajukan Broomfield: seperti soal kesadaran ganda dari menjadi gadis miskin kulit hitam yang berusaha memenangkan hati Amerika kulit putih; biseksualitas yang dibantah Houson di depan umum.

Dan beberapa unsur ini sama seperti yang muncul di dokumenter Amy Winehouse buatan Kapadia: pernikahan dengan seorang bermasalah yang mendorong karakter buruknya. (Brown, yang cemburu setelah karier Houston melewatinya ketika The Bodyguard dirilis); seorang ayah yang membesar-besarkan peran manajemennya (meski Mitch Winehouse tak pernah menuntut anak perempuannya sendiri sebesar $100 juta, seperti yang dilakukan John Houston).

Macdonald pun membuat keputusan editorial pretensius dalam filmnya yang tidak berdampak positif.

Dia sering memotong wawancara televisi Houston dengan berita soal peristiwa dunia sehingga mengesankan bahwa keduanya berhubungan — seperti Perang Teluk pertama yang terkait dengan konflik pribadi sang penyanyi. Saya skeptis.

Namun saat Whitney terasa seperti satu lagi dalam genre 'kesedihan gadis kecil', film ini mencapai momen pengungkapan yang penting.

Macdonald menemukan satu kunci utama dalam misteri kesakitan Houston selama 90 menit, dan film ini tiba-tiba menjadi mengejutkan.

Macdonald sudah terlebih dulu menyatakan bahwa Houston dan saudaranya sering dititipkan di berbagai saudara saat ibunya sedang tur, namun dia mengindikasikan bahwa Houston dilecehkan oleh salah satu kerabatnya, Dee Dee Warwick, yang juga sepupu da saudari penyanyi Dionne Warwick.

Jika itu belum cukup buruk, maka kisah Houston kemudian menjadi siklus kekerasan pada anak.

Tak ada bukti bahwa anak Houston dan Brown, Bobbi Kristina Brown, mengalami kekerasan, namun saat kita mendengar dia terjebak di sebuah rumah besar yang terpencil sementara orangtuanya menggambar setan di lantai dan tembok, maka istilah 'kekerasan pada anak' pun tampaknya layak.

Bobbi meninggal pada 2015, hanya tiga tahun setelah ibunya. Namun dengan menyoroti kegelapan yang terjadi lintas generasi ini, film Macdonald mungkin akan membantu meringankan penderitaan anak-anak, bahkan di rumah keluarga yang kaya dan sangat terkenal.


Anda bisa membaca versi bahasa Inggris tulisan ini di Film review: Whitney documentary has shocking revelations di laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait