Benarkah horor adalah genre yang paling dipandang sebelah mata?

film horor Hak atas foto PalmStar Media/Kobal/REX/Shutterstock
Image caption Hereditary: Film horor tadinya adalah salah satu cara paling aman bagi pemodal untuk mendapatkan laba atas investasi mereka.

Hereditary termasuk salah satu film yang mendapat pujian. Apakah itu artinya dia masuk jenis horor yang sudah lebih tinggi?

Setelah film pendek A Still Sunrise memulai debutnya di Festival Film Cannes pada bulan Mei, aktor utamanya, Jamie Lee-Hill, menulis tweet tentang film itu dengan tagar '#elevatedhorror', alias #horortingkattinggi.

"Kenapa memakai istilah itu?" tanya seseorang. Lee-Hill menjawab: "Karena film ini sebenarnya drama yang cerdas dengan simbolisme di dalam film."

Apakah Lee-Hill mengartikan bahwa film horor standar adalah bukan drama yang cerdas dan tidak memiliki simbolisme di dalamnya?

Jika demikian, dia memang minta diburu oleh sekelompok zombie penggemar horor yang penuh dendam.

Tetapi dia tidak sendirian dalam membuat garis batas antara 'horor' dan 'horor tingkat tinggi'. John Krasinski, sutradara dan salah satu penulis A Quiet Place, mengatakan bahwa karyanya yang menyeramkan itu sendiri tidak terinspirasi oleh film horor, tetapi oleh "film horor tingkat tinggi yang luar biasa".

Dia merujuk pada film-film yang menuai banyak pujian kritis dibandingkan yang biasa didapat film horor.

Contoh yang jelas adalah karya pengacau pikiran dari Jennifer Kent, The Babadook (2014); nuansa kolonial yang membuat menggigil dari Robert Eggers dengan 'The Witch (2015); karya David Robert Mitchell yang cerdik, It Follows (2015); Julia DuCournau yang membuat film kanibal asal Prancis, Raw (2016); dan rilisan anti-rasisme dari Jordan Peele yang mendapat nominasi Oscar, Get Out (2017). Jangan lupa Hereditary, dibintangi Toni Colette, yang baru saja dirilis.

Dinilai sebagai film yang lebih dalam dan eksperimental daripada film horor rata-rata, film-film ini telah mendorong para jurnalis untuk melabeli mereka bukan hanya sebagai 'horor tingkat tinggi' tetapi 'pasca-horor', 'horor pintar', — apapun kecuali horor.

Namun, penggemar horor tidak senang dengan itu dan menganggapnya sebagai penghinaan yang menggurui dan merendahkan genre yang mereka kagumi.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Psycho karya Alfred Hitschcock, 'raja' film horor.

Anne Billson, seorang novelis dan kritikus, meringkas perasaan para penggemar itu dengan tweet: "Kapanpun film horor membuat kegemparan, selalu ada artikel yang menyebutnya horor 'pintar' atau 'lebih tinggi' atau 'artistik'. Mereka SANGAT membenci horor sehingga harus membingkai film horor yang hits sebagai sesuatu yang lain."

Dalam tweet lain, April Wolfe, seorang penulis dan pembuat film, melangkah lebih jauh: "Saya bisa… panik jika orang-orang tidak berhenti menggunakan ungkapan 'horor tingkat tinggi'! Itu hanya horor. Tidak apa-apa untuk menyebutnya horor! …saya tidak mengatakan 'drama tingkat tinggi' untuk membedakan mana drama yang saya suka dan yang tidak."

Mungkin mereka benar. Mungkin film horor yang dikatakan tingkat tinggi ini hanyalah film horor yang diterima dengan baik, dan istilah 'horor tingkat tinggi' seharusnya tidak dipakai pada film apa pun yang tidak sedang diangkat atau di puncak gunung.

Tetapi pencarian internet dengan cepat membuktikan bahwa frasa itu itu tidak diciptakan sebagai tanggapan terhadap The Babadook dan The Witch.

'Horor tingkat tinggi' muncul di papan pesan di internet pada tahun 2010; dan pada tahun 2012 orang lain merujuk istilah tersebut sebagai "ungkapan baru yang hangat dibicarakan oleh para eksekutif Hollywood". Ini menunjukkan pertentangan menahun di industri film terhadap horor, industri film tidak bisa hidup dengannya, tetapi juga tidak dapat hidup tanpanya.

Label harga murahan

"Tidak ada formula yang jelas untuk menghasilkan uang dalam bisnis film," kata Simon Rumley, direktur The Living and the Dead, Red White dan Blue, dan Fashionista, "tetapi satu hal yang jelas: horor masih mampu jadi genre yang paling menguntungkan dalam industri ketika Anda menyeimbangkan investasi (yang tidak banyak) terhadap uang yang didapatkan (yang kadang-kadang banyak). Tidak perlu ada bintang besar. Kampanye akar rumput dengan komunitas yang penuh antusiasme dan vokal bisa memulai kehadiran film di dunia online. Mengapa menghabiskan $ 150 juta ketika Anda dapat membelanjakan $3 juta saja? "

Film horor tadinya adalah salah satu cara paling aman bagi pemodal untuk mendapatkan laba atas investasi mereka. Tapi kemurahan ini (bersama dengan, semua darah dan nyali) juga adalah alasan mengapa mereka dianggap sebagai alternatif yang agak memalukan, tawaran alternatif untuk para penggemar drama.

Dan genre gambar yang membuat tak nyaman pun tak kunjung membaik pada pertengahan 2000-an ketika seri horor dengan bayaran tertinggi, Saw dan Hostel, dengan bangga menjadi penuh kekejaman. Ya, mereka memang menghasilkan uang—$ 975 juta dalam kasus Saw— tetapi mereka juga membuat orang-orang merasa mual. Anda pun bisa memahami mengapa mereka tidak menarik untuk para produser dengan ruang berbentuk Oscar atau Bafta di lemari piala mereka.

Rumley mengingat saat itu dengan baik. "Saya menawarkan sebuah film kepada seorang eksekutif Inggris dan dia menanggapi dengan terbata-bata, antara menggurui dan mengasihani saya: 'Kami tidak membuat film horor!'"

Sejak itu Rumley menggambarkan film-filmnya sebagai "drama ekstrim". Sementara itu, Dan Berlinka, seorang penulis televisi pemenang Bafta dan penggemar horor, mengakui bahwa ketika dia menawarkan seri horor TV baru-baru ini, dia memilih istilah "thriller-chiller".

Hak atas foto Getty Images/Evening Standard
Image caption Stanley Kubrick, sutradara banyak film horor, saat bekerja di tahun 1971.

Kegelisahan budaya ini bukanlah hal baru, menurut Tim Snelson, sejarawan film dan penulis Phantom Ladies: Hollywood Horror and The Home Front. "Siklus film horor yang cerdas dan berkelas telah dipicu sepanjang sejarah sinema, terutama ketika muncul keberhasilan kritis dan komersial seperti pada Rebecca (1940) atau The Exorcist (1973) yang meyadarkan industri dan penonton akan daya tarik abadi mereka," kata Snelson.

"Tapi Hollywood secara historis memang menggunakan istilah 'bikin merinding', 'mengagetkan', 'misteri', 'film psikologis'… pokoknya segala macam istilah untuk membedakan hasil produksi mereka dari konotasi negatif film horor."

Mengusir stigma

Jika konotasi ini menjadi kurang negatif akhir-akhir ini, itu berkat dua perusahaan independen, Blumhouse (Get Out, Split, The Purge) dan A24 (Hereditary,The Witch), yang lebih mengutamakan ide daripada horor berbasis kengerian.

Namun, tidak semua orang adalah penggemar film-film ini. Pada bulan Februari 2016, Bret Easton Ellis, penulis American Psycho, menulis tweet: "Indie Arthouse Horror menjadi genre baru yang paling tidak saya suka: It Follows, Goodnight Mommy, The Babadook, The Witch."

Cukup adil. Tetapi dengan mengelompokkan film-film ini di bawah satu label, Ellis tampaknya mengakui bahwa mereka bukan hanya film horor yang telah menarik perhatian, seperti yang dikatakan Billson. Mereka cukup khas untuk mendapatkan genre mereka sendiri.

Masalahnya adalah label seperti 'lebih tinggi' dan 'pintar' menyiratkan bahwa film horor lainnya lebih rendah, jadi Anda bisa melihat mengapa penggemar genre gusar. "Ketika The Exorcist keluar," kata Berlinka, "semua orang tahu itu berkelas, tapi tidak ada yang mempertanyakan apakah itu film horor atau tidak. Itu jelas-jelas film horor. Di setiap toko video Anda akan menemukannya di bagian horor. Dulu, Anda bisa memuji satu film horor tanpa merasa perlu merendahkan semua yang lain."

Di sisi lain, Berlinka mengakui bahwa ketidaknyamanannya dengan 'horor tingkat tinggi'—baik dari film itu sendiri maupun julukannya yang merendahkan-tidak dimulai atau diakhiri dengan kekesalannya pada kritik 'sombong'.

Pada satu titik, ia tidak ingin niche-nya, obsesi bawah tanahnya, menjadi terhormat. "Penggemar horor itu seperti penggemar musik yang mengeluh bahwa band indie favorit mereka tidak populer, tetapi kemudian marah ketika mereka jadi terkenal. Kami menyukai sifat horor yang punya kesan terlarang. Kami menyukai fakta bahwa film horor sering kasar dan eksploitatif dan justru menarik bagi naluri terburuk kami. Dalam hati, itu sebabnya kami menjadi sangat sensitif tentang 'horor kelas tinggi'. Kami tidak ingin film horor kami terus naik. Setop meninggikan! "

Apa yang terjadi, nampaknya, adalah bahwa film-film baru ini tidak hanya memaksa para pemula horor untuk merevisi prasangka mereka tentang genre ini, mereka memaksa penggemar horor untuk melakukan hal yang sama.

Tetapi di sisi mana pun Anda berada, tidak ada ruginya kalau ada banyak film horor berkualitas tinggi dibuat. Dan, dalam jangka panjang, kemungkinan bahwa label 'horor tingkat tinggi' akan memudar, dan karya yang kita rayakan seperti Get Out dan A Quiet Place akan mengambil tempat di sebelah Microwave Massacre dan Friday 13th di setiap ensiklopedia horor.

"Label horor bisa dipakai tidak hanya untuk film sampah dan kekacauan berdarah yang beranggaran rendah, tetapi juga untuk yang cerdas, mustahil untuk dikategorikan," kata Rumley.

"Saya bisa bilang bahwa 1932 karya Freaks adalah drama ekstrem, atau bahwa Eraserhead karya David Lynch adalah horor penuh seni, atau bahwa Santa Sangre karya Jodorowsky adalah horor seni luar negeri. The Shining? Seni. Rosemary Baby? Horor tingkat tinggi. Tetapi kenyataannya adalah bahwa semua film di atas dapat disatukan di bawah satu nama. Mereka mengganggu dan mereka menantang penonton untuk berpikir. Dalam satu atau lain cara, mereka semua adalah horor. "


Anda bisa membaca versi asli tulisan ini di BBC Culture dengan judulIs horror the most disrespected genre.

Topik terkait

Berita terkait