Dante dan Komedi Ilahi: Dia memandu kita dalam tur ke neraka

Hak atas foto DEA/A. DAGLI ORTI
Image caption Dante Alighieri

Visi modern Dante tentang kehidupan setelah kematian di Komedi Ilahi (The Divine Comedy) mempengaruhi Renaisans, Reformasi Protestan, dan turut memberi kita dunia modern.

"All hope abandon ye who enter here" (Abaikan harapan, wahai semua yang masuk ke sini).

Itulah tulisan di gerbang Neraka di salah satu terjemahan bahasa Inggris pertama dari buku Komedi Ilahi, diterjemahkan Henry Francis Cary di 1984.

Anda mungkin mengenalnya dari kutipan lebih sederhananya "Abandon hope all ye who enter here," sebuah inkripsi yang ada di American Psycho-nya Bret Easton Ellis, digantung sebagai peringatan di pintu masuk wahana bajak laut Disney, Pirates of the Caribbean, muncul di videogame World of Warcraft, dan dijadikan lirik lagu oleh grup musik rock Amerika, The Gaslight Anthem.

Kutipan itu hanya satu baris dari 14.233 baris yang menyusun Komedi Ilahi, puisi epik tiga bagian yang dipublikasikan pada 1320 oleh birokrat Firenze yang menjadi pendongeng visioner, Dante Alighieri.

Lahir pada 1265, ambisi literasi nampaknya selalu ada bersama Dante sejak sangat muda ketika dia berharap menjadi ahli obat. Di Firenze pada akhir abad ke-13, buku dijual di toko obat, sebuah bukti dari gagasan umum bahwa kata-kata di atas kertas bisa mempengaruhi pikiran dengan ide-idenya, sebanyak obat apapun.

Komedi Ilahi menginspirasi kecanduan: karya literasi yang tak hentinya diadaptasi ulang, dikutip, dirujuk, ditulis ulang, menginspirasi pelukis dan pematung selama berabad-abad.

Lebih banyak daripada yang dituliskan di Injil, Dante memberi gambaran Neraka yang selalu ada bersama kita, dan telah digambar oleh Botticelli dan Blake, Delacroix dan Dalí, digambar ilustrasi di halaman-halaman komik X-Men, diubah jadi arca oleh Rodin-karyanya yang berjudul "The Kiss" menggambarkan kekasih terkutuk Dante, Paolo dan Francesca.

Jorge Luis Borges mengatakan bahwa Komedi Ilahi adalah "buku terbaik yang pernah dicapai karya sastra", sementara TS Eliot menggambarkan pengaruhnya dengan "Dante dan Shakespeare membagi dunia di antara mereka, tidak ada yang ketiga". Mungkin inskripsi untuk Komedi Ilahi sendiri seharusnya adalah "Kumpulkan inspirasi, wahai kalian semua yang masuk ke sini".

Tapi Komedi Ilahi tidak hanya berkuasa di bidang pemberian inspirasi pada penulis dan seniman visual, tapi buku ini jugalah yang mengabadikan apa yang kita anggap sebagai bahasa Italia, dan memajukan ide bahwa penulis adalah suara kreatif tunggal dengan visi yang cukup kuat untuk berdiri di samping kitab suci, sebuah gagasan yang melancarkan jalan menuju Renaisans. Juga Reformasi Protestan yang terjadi setelah itu, dan pada akhirnya humanisme sekular yang mendominasi wacana intelektual saat ini. Anda mungkin tak pernah membaca Komedi Ilahi sebaris pun, tapi Anda sudah dipengaruhi olehnya.

dante alighiery, divine comedy Hak atas foto Heritage Images
Image caption Gambaran Inferno Dante di Komedi Ilahi

Ke Neraka dan kembali lagi

Dante menceritakan Komedi Ilahi dengan sudut pandang orang pertama, dalam perjalanannya sendiri ke Neraka dan Api Penyucian melalui pemandunya, Virgil, penyair zaman kuno Romawi yang menulis Aeneid. Lalu ke Surga, dipimpin oleh perempuan idealnya, Beatrice, gadis Florentine yang disukainya tapi meninggal dalam usia sangat muda.

Itu menunjukkan pandangan Dante tentang kehidupan setelah mati yang diwarnai dengan pemenuhan keinginan penulis: Dante dipandu oleh figur ayah sebagai pahlawan sastra, dan perempuan yang dia taksir.

Dalam bahasa penulisan genre kontemporer, versi Dante tentang dirinya dalam Komedi Ilahi adalah "Mary Sue", yaitu tokoh yang ditulis untuk mewakili penulis dalam ceritanya sendiri, mengalami apa yang si tokoh alami. Sandra Newman, penulis buku How Not to Write a Novel, mengatakan bahwa "Komedi Ilahi adalah sebuah trilogi fiksi ilmiah tipikal. Buku satu, klasik. Buku dua, versi yang kurang menarik. Buku tiga, benar-benar gila, bocoran yang tak diinginkan tentang seksualitas penulis, topeng Mary Sue terlepas di setiap adegan."

Bias Dante menunjukkan banyak hal tentang bagaimana kita melihat Neraka, Api Penyucian, dan Surga. Dan dia mencampur teologi Kristen dan mitos pagan Yunani-Romawi seakan-akan keduanya secara bersamaan benar—atau lebih tepatnya, dia menafsirkan ulang mitos Yunani-Romawi sehingga karakternya, termasuk para dewa, dapat berdampingan dengan agama Kristen dengan cara yang masuk akal.

Charon, tokoh mitologi Yunani yang mengangkut jiwa ke dunia bawah, sekarang mengangkut orang-orang terkutuk ke Neraka. Setan sendiri disebut sebagai Dis, nama lain untuk Pluto, dewa neraka.

Sejarah dunia nyata juga ditempatkan berdampingan dengan keilahian: siapakah yang dilahap oleh Setan selamanya? Ya, Yudas, pengkhianat Kristus, ada di salah satu dari tiga mulut Setan. Tapi Brutus dan Cassius, pengkhianat Julius Caesar, berada di dua mulutnya yang lain.

Dante memang memberi kesan bahwa Julius Caesar mungkin ada pada tingkat kepentingan yang sama seperti Yesus. Dante mengambil sampel dari seluruh sejarah sastra dan teologi Barat dan mencampur-campurkannya seperti musisi hip-hop di abad ke-14.

Semua referensi tentang sejarah, mitos dan kitab suci ini berakhir sebagai amunisi retoris bagi Dante untuk mengomentari politik di zamannya, dengan cara yang sama seperti ketika kita memunculkan, katakanlah, gif dari film atau acara TV untuk memahami apa yang terjadi di dunia kita sekarang.

Tiba-tiba, ketika di Surga, Kaisar Bizantium Justinian muncul dan berpendapat tentang raja Prancis Charles dari Valois, yang mencoba merusak Kekaisaran Suci Romawi dengan meminjamkan kekuatan militer pada kepausan: "Biarkan Charles muda tidak berpikir bahwa Tuhan / Akan mengubah lambang elangnya / Untuk semprotan bunga lili, atau pedang mainan / Dan perisai akan bekerja seperti jimat keberuntungan ".

Itu, melalui terjemahan Clive James tahun 2013, adalah skor pribadi bagi Dante untuk menyamakan kedudukan, karena kekuatan yang bersekutu dengan Charles telah membuatnya diasingkan dari Firenze—selama hampir 20 tahun terakhir hidupnya ia dibuang dari kota tercintanya.

Dan betapa banyak pembalasan dendam dalam Komedi Ilahi daripada di semua episode Real Housewives digabungkan. Harapannya untuk Pisa adalah tenggelamnya "setiap jiwa".

Dalam canto yang sama, ia menambahkan, juga melalui James, "Ah, Genoese, kamulah yang tahu semua tali / pada korupsi yang kamu tahu bukan yang pertama / kebiasaan yang baik, bagaimana engkau tidak terlempar / Keluar dari dunia ini?"

Tentang Raja Midas yang mistis itu dia berkata: "Dan sekarang selamanya semua orang berjuang untuk menertawakannya." Tidak pernah ada orang yang lebih menguasai seni penghinaan daripada ini.

Juga tidak pernah ada imajinasi yang lebih selaras pada penciptaan bentuk-bentuk hukuman. Barrator, istilah untuk politisi menerima suap secara terbuka, terjebak dalam lengkingan panas karena mereka punya 'jari-jari lengket' ketika mereka masih hidup.

Caiaphas, imam besar yang membantu mengutuk Kristus, adalah dirinya sendiri yang disalibkan. Count Ugolino dari Pisa diizinkan untuk selamanya menggerogoti leher Uskup Agung Ruggieri, pria yang mengutuk dia dan anak-anaknya mati karena kelaparan.

Roda yang berputar

dante alighiery, divine comedy Hak atas foto Fine Art
Image caption Dante dan Beatrice di Firenze.

Komedi Ilahi punya gambaran yang memukau, tapi juga diperkuat bahasa yang Dante pilih untuk menyampaikannya: bukan Latin, bahasa semua karya sastra serius Italia sampai saat itu, tetapi Florentine Tuscan.

Pada awal abad ke-14, Italia adalah tambal sulam negara-negara kota dengan berbagai kekuatan imperial dari luar berlomba-lomba menanamkan pengaruh, dan juga merupakan tambal sulam aneka bahasa yang berbeda.

Menulis dalam dialek Florentine dari bahasa Tuscan bisa membatasi daya tarik Komedi Ilahi. Tetapi karya itu terbukti sangat populer, dibaca tanpa henti, dan bahkan orang-orang terpelajar di Italia justru menyesuaikan diri atau terpaksa mempelajari Florentine Tuscan untuk menikmatinya dalam bahasa Dante sendiri. (Ini membantu bahwa ia juga memasukkan unsur-unsur dialek lokal lainnya dan ekspresi Latin, untuk memperluas daya tariknya.)

Florentine Tuscan menjadi lingua franca Italia sebagai hasil dari Komedi Ilahi, ikut membantu membangun Firenze sebagai pusat kreatif Renaisans. Ini juga menjadi bahasa yang kelak digunakan keturunan sastra Dante, Boccaccio dan Petrarch, untuk menulis. Pada akhirnya bahasa ini hanya dikenal sebagai bahasa Italia.

Melalui kekuatan kata-katanya, Dante membantu menciptakan gagasan tentang bahasa Italia yang diucapkan hari ini.

Menulis dalam bahasa sehari-hari, dan membantu menciptakan bahasa baru untuk sebagian besar Italia, hal ini memungkinkan ide Dante bisa berakar dalam—dan membantu mengatur panggung untuk revolusi intelektual yang akan datang di Renaisans, Reformasi Protestan, dan Pencerahan.

Dua abad kemudian, para pemimpin Protestan akan menganjurkan bahwa membaca Alkitab dalam bahasa Anda sendiri berarti Anda bisa memahaminya secara pribadi. Ide ini menantang gagasan bahwa keselamatan hanya mungkin dilakukan melalui Gereja Roma, sesuatu yang telah dilakukan oleh Dante sendiri dengan menciptakan elemen-elemen nyata dari kosmologi yang dia hadirkan di Komedi Ilahi.

Dante mengisi ruang kosong yang tidak diisi oleh Alkitab. Dia menata panggung untuk Renaisans dan kelahiran kembali pembelajaran Klasik. Ide Dante tentang Neraka ditarik dari pandangan Aristoteles bahwa akal adalah hal yang paling penting dalam kehidupan—yang nantinya akan menjadi ide selanjutnya dalam Protestan bahwa akal budi seseorang adalah jalan mereka menuju keselamatan.

Di luar saran Dante bahwa iman kepada Kristus melalui akal adalah kunci keselamatan, bukan sakramen Gereja, sulit untuk memikirkan karya sastra sebelum Komedi Ilahi yang begitu kuat mengutuk begitu banyak aspek gereja Katolik Roma.

Dia membayangkan banyak paus yang dikutuk masuk Neraka, bersama seluruh barisan uskup abad ke-13 dan awal abad ke-14 yang terbakar dalam api abadi karena kejahatan simony (pembelian atau penjualan hak istimewa gerejawi).

Dante juga punya pandangan global yang mengejutkan, yang cukup adil bagi non-Kristen. Dia memuji seorang Saracen (sebutan untuk Muslim di masa itu), Jenderal Saladin, yang ia bayangkan hanya menempati sebuah tempat di Limbo, tempat tinggal orang-orang adil yang tak beriman kepada Kristus dalam kehidupan mereka.

Bahkan ada juga pendapat soal pengecualian bagi mereka yang tidak mengenal Kristus tetapi adil, bisa juga naik ke Surga.

Komedi Ilahi adalah tumpuan dalam sejarah Barat. Dia menyatukan ekspresi sastra dan teologis, pagan, dan Kristen, dan juga mengandung DNA dari dunia modern yang akan datang.

Karya ini mungkin tidak bisa dipakai untuk mengungkap rahasia kehidupan, tapi ia bagaikan teori segalanya bagi sastra Barat.


Anda bisa membaca versi asli tulisan ini di BBC Culture dengan judul Dante and The Divine Comedy: He took us on a tour of hell.

Berita terkait