Ulasan film: Apakah Sorry to Bother You sama bagusnya dengan Get Out?

Sorry to Bother You Hak atas foto Annapurna Pictures
Image caption Saat film itu beralih dari realisme ke sesuatu yang sural, maka Sorry to Bother You menjadi salah satu dari karya film dan televisi yang menggunakan fantasi secara efektif untuk membuka mata kita terhadap padangan-pandangan soal ras dan kelas.

Film yang baru diluncurkan ini menggunakan fantasi untuk memberikan 'komentar tajam' soal hubungan antar-ras. Sebuah perjalanan yang sureal dan liar menuju suatu tempat yang tidak Anda sangka, kata Caryn James.

Saat seorang tenaga pemasaran muda berkulit hitam mengalami kesulitan di pekerjaan barunya yang menyedihkan di lantai dasar. Seorang pria kulit hitam lebih tua yang bekerja di dekatnya bilang, "Saya kasih tahu suatu tip. Gunakan suara kulit putihmu."

Trik itu pun kemudian membuat Cassius (Lakeith Stanfield), yang punya nama julukan Cash, menjadi sukses. Segera sesudahnya, sebuah lift emas yang norak membawanya ke lantai-lantai atas karena dia menjadi salah satu 'Power Callers' dengan bayaran terbaik di kantornya.

Pada banyak film, premis yang cerdas itu akan cukup untuk mendorong komedi yang cukup lucu.

Dalam Sorry to Bother You, penulis dan sutradara Boots Riley membangun lapisan-lapisan komentar sosial akan candaan yang sederhana itu.

Riley mengantarkan pesan akan jahatnya rasisme dan kapitalisme lewat sebuah film dengan bentuk yang berani, dinamis secara visual, dan seringnya konyol.

Saat film itu beralih dari realisme ke sesuatu yang sural, maka Sorry to Bother You menjadi salah satu dari karya film dan televisi yang menggunakan fantasi secara efektif untuk membuka mata kita terhadap padangan-pandangan soal ras dan kelas.

Film ini bermula dari sebuah versi Oakland, California yang berwarna cerah tapi masih realistis.

Oakland, California, di AS diyakini sebagai kota aktivis yang unik. Cash bangun di sebelah pacarnya, seorang seniman penampil bernama Detroit (Tessa Thompson).

Hampir tidak ada orang yang tidak memiliki nama yang aneh di sini, sebuah petunjuk awal bahwa meski realistis, tapi Sorry to Bother You selalu berusaha mencapai kekonyolan tersendiri.

Petunjuk lain adalah bahwa kamar Cash dan Detroit terletak di garasi milik paman Cash — bukan sebuah apartemen terpisah. Pintu garasi yang tiba-tiba terbuka tentu akan mengganggu privasi mereka.

Riley memasukkan sentuhan-sentuhan fantastis pada pada tempat kerja Cash yang terasa familiar dan penuh dengan kubikel.

Saat dia menelepon, dia jatuh menembus lantai dan mendarat di dapur atau ruang tamu si pelanggan. (Mereka tidak melihatnya, tapi kita bisa.)

Dia mendorong mereka untuk menandatangani kontrak dengan Worry Free, sebuah perusahaan yang akan memberi rumah dan makan untuk seumur hidup mereka, sebuah asrama gaya gudang, asal mereka bekerja di pabrik-pabriknya.

Intinya, Cash meminta orang-orang dari berbagai ras yang terdesak secara ekonomi untuk menjual dirinya pada perbudakan.

Cash bisa terlihat keheranan, mengalami pertentangan, atau berkeras, tapi Stanfield membuatnya terlihat tetap dipercaya, bahkan di situasi-situasi yang tidak realistis.

Dia menyatukan film itu dengan kombinasi kewajaran dan karisma, yang sebelumnya hanya bisa sekilas dia tunjukkan lewat peran pendukung di film Get Out atau serial televisi Atlanta.

Riley terus-terusan mendorong batasan kesederhanaan. Awalnya, Cash mempertanyakan nasihat soal menggunakan suara kulit putihnya, dan mengatakan, "Orang bilang saya sudah bicara dengan suara kulit putih."

Rekannya yang lebih tua (yang diperankan oleh Danny Glover) menjawab, "Tidak cukup terdengar seperti orang kulit putih," dan itu benar.

'Suara kulit putih' yang digunakan Cash dengna efektif terdengar seperti seorang ayah di pinggiran kota di Amerika tengah.

Suara yang kemudian dimasukkan ke film oleh David Cross itu kemudian terdengar seperti karakter 'Ned Flanders' di The Simpsons.

Lewat kaca pembesar

Meski tema-tema Riley terasa tumpul dan di permukaan, namun gaya serta naskahnya yang cerdas menyelamatkan film ini dari menjadi polemik atau sesuatu yang menggurui.

Sorry to Bother You adalah film panjang pertamanya, tapi dia sudah dikenal sebagai musisi dengan grup hip-hop The Coup selama 20 tahun (lagu-lagu mereka ada dalam soundtrack), belajar film di universitas dan sudah veteran di video musik.

Pengalaman-pengalaman tersebut terlihat dalam visualnya yang meyakinkan, dari jalanan Oakland yang tampak kotor sampai apartemen minimalis yang mengilap yang kemudian dengan cepat ditinggali Cash.

Bahkan saat Riley menggunakan pendekatan penceritaan yang konvensional, gambar-gambarnya pun tetap unik.

Mobil Cash begitu rusak sampai tak memiliki pembersih kaca depan. Saat harus mengemudi di hari hujan, dia mengeluarkan tangannya dari jendela samping dan menarik tali maju mundur — salah satu dari trik kecil di film itu.

Terlebih lagi, saat dia membicarakan tentang anggota tim sepak bola di sekolahnya, yang kemudian gagal dalam hidup, muncul foto tim tersebut. Kemudian, kilasan memori memunculkan lagi foto itu dan menegaskan alasan Cash yang begitu berkeras agar sukses di pekerjaannya.

Tentu saja kesuksesan Cash penuh dengan halangan. Seorang kolega bernama Squeeze (Steven Yeun dari The Walking Dead) berusaha untuk menggalang dukungan bagi serikat pekerja perusahaan itu dan Detroit menjadi sekutunya.

Cash butuh uang, tapi seberapa besar dia bersedia mengorbankan identitasnya untuk mencapainya?

Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika plot distopia dan futuristik kemudian membuka jalan bagi sesuatu yang fantastis.

Armie Hammer datang sebagai Steve Lift, seorang eksekutif eksentrik yang mengenakan setelan jas dengan sarung. Dia menawarkan sesuatu yang liar pada Cash dan melempar kisah ini jauh dari akar-akarnya yang realistis, tapi tidak dari tema utamanya.

Strategi sureal untuk membuat komentar sosial yang halus adalah salah satu strategi yang sering kita temukan di layar beberapa waktu terakhir.

Donald Glover menggunakannya secara cemerlang di Atlanta, yang sejauh ini sudah memperlihatkan buaya-buaya besar sebagai hewan peliharaan dan Glover (menggunakan riasan wajah kulit putih) menjadi musisi kulit hitam yang mirip Michael Jackson bernama Teddy Perkins.

Cara sureal itu dipakai dengan minim di adegan mimpi dan kenangan dalam film Blindspotting yang akan rilis yang dibintangi oleh Daveed Diggs dan Rafael Casal.

Film komedi dengan jiwa yang serius ini mengisahkan tentang seorang pria kulit hitam yang berusaha untuk tidak terlibat masalah dalam hari-hari akhir hukuman percobaannya.

Sama halnya seperti Sorry to Bother You, episode-episode imajiner akan bias ras menjadi terasa lebih kuat daripada jika disampaikan dengan dialog yang realistis.

Saking kuatnya Sorry to Bother You, sampai kekurangan besarnya jadi mudah dimaafkan.

Karakter-karakter di sekitar Cash tak ditulis secara mendalam, dan yang sangat mengecewakan adalah Detroit.

Thompson selalu tampak dinamis di layar, tapi Detroit seharusnya lebih dari sekadar 'miniatur kardus' yang mewakili pemberontakan sebagai alternatif dari 'menjual diri'.

Tetapi Thompson punya satu adegan yang meresahkan, sebuah penampilan panggung yang dilakukan Detroit dan dia meminta para penonton untuk melemparkan barang-barang ke arahnya.

Di Sorry to Bother You, salah satu acara televisi paling populer meminta para pesertanya bersedia dipukul di wajah.

Adegan-adegan kekerasan sebagai hiburan ini mungkin terasa seperti tambahan, tapi juga merupakan salah satu dari beberapa tema realita alternatif yang tidak terlalu berbeda dari kenyataan yang sebenarnya.

Momen-momen tidak nyaman seperti itu diniatkan dengan baik dan dipikirkan. Riley menyeimbangkan momen serius dengan jenaka dalam film yang menggambarkan masanya, yang hasilnya sangat kuat sekaligus sangat menghibur.

Versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris bisa Anda baca di Is Sorry to Bother You the new Get Out di laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait