Sembilan film pilihan di bulan Agustus 2018

Crazy Rich Asians Hak atas foto Warner Bros Pictures

Dari sebuah film drama Meksiko yang menginspirasi sampai film dokumenter tentang petenis John McEnroe, film-film ini layak menjadi tontonan Anda di bulan Agustus, kata Christian Blauvelt.

Hak atas foto Walt Disney Studios

Christopher Robin

Boneka beruang masa kecil menjadi hidup dan ingin menjalin lagi persahabatan dengan pria dewasa yang pernah bermain dengannya saat anak-anak.

Mungkin Anda akan berpikir bahwa guyonan kasar dan jorok serta situasi berkonotasi seksual akan muncul di sini, seperti halnya sekuel dari film Ted.

Tapi ini adalah produksi Disney yang berkelas, dan beruang yang dimaksud merupakan Winnie the Pooh yang tak disuarakan oleh Seth MacFarlane yang vulgar. Sementara Christopher Robin versi dewasa diperankan oleh Ewan McGregor.

Christopher Robin merasa sedih dan kehilangan jiwa kanak-kanaknya, sehingga teman masa kecilnya harus turun tangan dan membantunya menemukan lagi keajaiban.

Mungkin ini kedengarannya terlalu sederhana dan sedikit menyedihkan, tapi film ini disutradarai oleh Marc Forster yang pernah membuat Finding Neverland.

Jika nama itu tak cukup untuk meyakinkan Anda bahwa film ini ada di tangan yang tepat, maka mungkin tiga nama penulis skenario berikut bisa membuat Anda lebih tenang; ada penulis-sutradara Listen Up Philip, Alex Ross Perry, salah satu penulis Hidden Figures, Allison Schroeder, dan Tom McCarthy, sutradara peraih film terbaik di Academy Awards, Spotlight.

Mungkin beruang tua yang lucu ini benar-benar punya sesuatu yang baru untuk ditawarkan.

Hak atas foto Focus Features

BlacKkKlansman

Film terakhir Spike Lee, Chi-Raq, adalah salah satu film terbaiknya, namun film tersebut tak dianggap oleh penonton dan kritikus.

Tetapi film terbarunya ini kini mendapat lebih banyak perhatian: BlacKkKlansman memenangkan penghargaan Grand Prix di Festival Film Cannes pada Mei lalu.

Film ini dibintangi oleh pemain football yang kemudian beralih jadi aktor, John David Washington (anak aktor Denzel Washington) yang berperan sebagai Ron Stallworth, seorang detektif di Colorado Springs — polisi kulit hitam pertama sepanjang sejarah kota itu — yang menggunakan suara 'kulit putih' di telepon untuk bisa menipu David Duke, pemimpin Ku Klux Klan, agar dia bisa bergabung kelompok kebencian tersebut.

Adam Driver berperan sebagai rekan sesama polisi yang menggunakan identitas Stallworth jika harus melakukan pertemuan langsung dan proses inisiasi di KKK, serta menyamar dan mencari tahu tentang motif kriminal kelompok tersebut.

Dan ini adalah kisah nyata. Stallworth yang asli menerbitkan buku tentang upayanya pada 2014 dan Lee mengembangkannya menjadi film pada 2015. Film ini sepertinya akan ramai dibicarakan dan ditonton.

Hak atas foto Warner Bros Pictures

Crazy Rich Asians

"Saya ingin mengenalkan Asia kontemporer ke penonton Amerika Utara." Itulah kata penulis Kevin Kwan pada The Daily Beast tak lama setelah terbit novel Crazy Rich Asians, tentang gaya hidup orang-orang kaya di negara asalnya, Singapura.

Dalam film adaptasi yang diproduseri oleh tim pimpinan Nina Jacobson yang membawakan buku-buku Hunger Games ke layar lebar, Constance Wu berperan sebagai profesor ekonomi AS yang baru mengetahui bahwa keluarga pacarnya adalah salah satu keluarga terkaya di Singapura.

Dia kemudian terperangkap dalam berbagai rahasia dan intrik: lebih mirip Dynasty daripada Fifty Shades of Grey.

Di tangan sutradara Jon M Chu, film ini menjadi pabrik warna dan kelucuan, dan setiap adegan terlihat penuh kemewahan dan tampak menyenangkan.

Film ini juga menjadi momen besar untuk seorang bintang baru, Henry Golding, sebagai pacar Wu — Golding adalah pembawa acara untuk acara BBC World News, The Travel Show — yang tampil bersama bintang-bintang lain yang sudah lebih terkenal seperti Michelle Yeoh, Awkwafina, Ken Jeong dan Ronny Chieng.

Dengan studio besar Warner Bros menjadi distributornya, maka ini bisa menandai saat Hollywood, setelah beberapa kali kesalahan, kini mulai serius dengan keragaman — meski ada laporan bahwa satu produser Hollywood menyarankan pada Kwan bahwa protagonisnya diganti menjadi seorang perempuan kulit putih.

Hak atas foto Focus Features

The Little Stranger

Thriller Gothic Sarah Waters ini masuk dalam daftar Man Booker Prize pada 2009.

Film yang diadaptasi dari buku tersebut mengisahkan cerita yang rumit tentang seorang dokter pedesaan yang kembali ke rumah besar yang pernah didatanginya saat kecil, ketika ibunya bekerja di sana sebagai pembantu dan mendapati rumah tersebut penuh dengan hantu, baik lewat perumpamaan maupun hantu betulan.

Dan film ini menjadi salah satu bagian dari tren 'horor yang berkelas'.

Lenny Abrahamson mendapat nominasi Oscar sebagai sutradara terbaik di film Room (2015) — menyutradarai film horor mungkin terasa aneh, tapi dia berkeras untuk menaikkan kelas genre ini dari klisé-klisé seperti "bertemu dengan sesuatu pada malam hari".

Salah satu upayanya untuk menaikkan kelas terlihat dari bintang-bintang yang dia kumpulkan: Domhnall Gleeson berperan sebagai dokter, yang merawat veteran perang yang luka (Will Poulter yang sebelumnya bermain di Detroit) dan saudarinya (Ruth Wilson), dan pekerjaannya ini kemudian membawanya ke intrik keluarga yang dipimpin oleh Charlotte Rampling.

Adaptasi ini akan membawa kengerian — tapi juga perenungan.

Hak atas foto Celsius Entertainment

The Bookshop

Agustus penuh dengan adaptasi novel yang masuk dalam daftar penghargaan Man Booker Prize. Selain The Little Stranger, film ini mengadaptasi karya penulis Penelope Fitzgerald dari 1978.

Pada 1959, seorang janda, yang diperankan oleh Emily Mortimer, membuka toko buku di Suffolk di sebuah rumah tua.

Secara tak terduga, keberadaan toko buku ini mengancam seorang perempuan kaya setempat (Patricia Clarkson) yang berencana mengubah rumah tua yang dulunya reyot itu menjadi pusat kesenian.

Dia kemudian membuat serangkaian kampanye untuk menutup toko buku itu. Namun karakter Mortimer menemukan para sekutu, termasuk Bill Nighy, dan kemudian melawan.

Film ini disutradarai Isabel Coixet yang sebelumnya menggarap Learning to Drive.

The Bookshop pertama dipertontonkan di Seattle International Film Festival pada Mei lalu, dan penulis film Seattle Times Moira Macdonald mengatakan bahwa film yang "tenang dan lembut" ini adalah untuk "mereka yang akan sangat bahagia jika menyukai buku, desa Inggris yang indah, dan mengamati wajah para aktor".

Hak atas foto PAntelion Films

Ya Veremos

Bagaimana Anda membuat versi anak-anak dari film The Bucket List? Sutradara Meksiko Pedro Pablo Ibarra mencobanya lewat film berbahasa Spanyol, Ya Veremos.

Meski begitu ada beberapa perubahan penting: anak yang dimaksud, Santi (Emiliano Aramayo) tidak benar-benar sekarat tapi akan menghadapi operasi yang mungkin bisa menyelamatkan penglihatannya atau mengurangi dari kebutaan permanen.

Orangtuanya yang sudah berpisah, Rodrigo (Mauricio Ochmann) dan Alejandra (Fernanda Castillo), membantunya menyusun daftar semua hal yang ingin dia lihat dan lakukan — menonton sendiri pertandingan gulat, Rodrigo mengecat biru rambutnya, kompetisi paintball, berenang dengan lumba-lumba — dan kemudian mewujudkan daftar tersebut.

Tentu saja, hal yang paling ingin dilihat oleh Santi adalah agar orangtuanya bisa kembali bersama.

Film ini adalah tentang pendekatan yang ringan dan tidak sentimental tentang tragedi yang terangkum dalam judulnya: Ya Veremos atau "Nanti kita lihat", sebuah jawaban yang menunda kesenangan yang sering diberikan oleh banyak orangtua-orangtua di dunia terhadap anaknya.

Hak atas foto Lionsgate

The Spy Who Dumped Me

Kate McKinnon kini menjadi salah satu komedian paling dihormati dan paling produktif di AS: terlepas dari berbagai karakter yang diperankannya di Saturday Night Live, dia juga tampil di Ghostbusters, Office Christmas Party dan Rough Night hanya dalam dua tahun terakhir.

Di sisi lain, Mila Kunis, aktris dengan potensi komedi yang luar biasa namun jarang digunakan — meski terlihat sekilas di film-film seperti Friends With Benefits dan Bad Moms.

Namun kini, lewat The Spy Who Dumped Me, filmnya bersama McKinnon, Kunis diharapkan bisa memperlihatkan kemampuannya bermain komedi secara total.

Plesetan film mata-mata memang banyak, tapi ini mungkin menarik sebagai film komedi pertemanan perempuan.

Mantan pacar Kunis ternyata bekerja untuk CIA dan orang-orang jahat yang mengejarnya kini menyasar Kunis. Hanya sahabatnya, McKinnon, yang mau mendampinginya saat semua orang-orang jahat mengancamnya: dan para penjahat itu akan tahu bahwa keduanya tak mudah dikalahkan.

Hak atas foto Sony Pictures Classics

The Wife

"Close begitu luar biasa…sampai dia bisa mengangkat film yang sebenarnya biasa," kata penulis The Hollywood Reporter, Jon Frosch tentang film The Wife.

Dia bukan satu-satunya yang menyebut bahwa inilah penampilan terbaik Glenn Close dalam karir yang penuh dengan banyak peran-peran luar biasa.

Close memainkan istri dari seorang penulis (Jonathan Pryce) yang baru saja mendapat penghargaan Nobel Sastra; selama berpuluh-puluh tahun dia mengabaikan keinginannya untuk menjadi penulis demi mendukung suaminya, seorang pria yang memenuhi klisé akan seniman yang hebat bukanlah orang yang baik.

Dan setelah suaminya menjadi peraih Nobel Sastra, sang istri kini tak tahan lagi.

Penulis naskah Jane Anderson (It Could Happen to You) mengadaptasi novel terbitan 2003 karya Meg Wolitzer. Film ini disutradarai oleh Björn Runge asal Swedia yang membuat film berbahasa Inggris pertamanya.

Hak atas foto Oscilloscope

John McEnroe: In the Realm of Perfection

Saat Anda mendengar 'dokumenter McEnroe', mungkin Anda membayangkan film ini sebagai kumpulan dari berbagai aksiya di lapangan tenis yang diselingi dengan serangkaian perilakunya yang eksentrik.

Tentu ada analisis akan kecamannya yang terkenal — "You can-not be serious!" - terhadap keputusan seorang wasit di Wimbledon pada 1981.

Untungnya, semua itu tak ada di sini. Sutradara Julien Faraut mengawasi koleksi film 16mm di institut olahraga nasional Prancis.

Di John McEnroe: In the Realm of Perfection, dia menyusun sebuah film dokumenter eksperimental yang diambil dari rekaman salah satu pendahulunya di institut tersebut, Gil de Kermadec, dari musim permainan McEnroe pada 1984, saat bintang tenis itu memenangkan setiap pertandingan yang dimainkannya.

Tapi rangkaian kemenangan itu terhenti pada final Prancis Terbuka di Roland Garros, yang menjadi sebagian besar isi dokumenter yang disunting oleh Faraut (bentuk dokumenter ini mengingatkan pada Zidane: A 21st Century Portrait), saat McEnroe kalah lima set ke Ivan Lendl — satu pertandingan mencemari apa yang seharusnya menjadi kesempurnaan.

Film ini dinarasikan oleh Mathieu Amalric, dan pencapaian Faraut di sini bukan hanya soal kurasi, tapi juga penyuntingan, pemahatan, dan upaya menangkap keindahan permainan McEnroe.

Anda bisa membaca versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris di Nine films to watch in August di laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait