Sejarah unik di balik sosok 'Madonna Hitam'

Our Lady of Guadalupe Hak atas foto Getty Images

Seniman AS Thaster Gates membahas konsep di balik 'Madonna Hitam' dalam pameran terbarunya yang merayakan citra perempuan kulit hitam yang kuat. Alastair Sooke menuliskannya lebih jauh.

Sebagian besar orang yang untuk pertama kalinya melihat lukisan cat minyak abad 16 Virgin and Child dari pelukis Belanda Maerten van Heemskerck di Kunstmuseum Basel di Swiss akan melihat gambaran yang konvensional: di hadapan sebuah lanskap imajiner yang diharapkan memunculkan kesan Mediterrania, seorang perempuan pirang, Perawan Maria, dengan rambut yang dikepang dan tertutup kain oranye, menatap ke mereka yang melihat lukisan, sementara Yesus yang masih anak-anak duduk dengan gelisah di pangkuannya, dan tak memedulikan dada ibunya yang terbuka.

Sejauh ini, tradisional.

Namun bagi seniman ternama AS Theaster Gates, 44, lukisan Van Heemskerck itu memiliki makna yang mengejutkan.

"Yesus Kristus telah menolak susu dari ibunya dan terlihat nakal dan usil," katanya pada BBC Culture. "Sementara itu, Perawan Maria menjadi terlihat seperti perempuan penggoda dengan matanya. Saya menyebutnya 'Madonna Ghetto'."

Hak atas foto Kunstmuseum Basel
Image caption Theaster Gates menyebut karya lukisan Maerten van Heemskerck, Virgin with Child in front of a Landscape, sebagai"Madonna Ghetto".

Pembacaan Gates mungkin tidak ortodoks, bahkan malah provokatif — asumsinya bahwa Perawan Maria yang dilukis Van Heemskerck sebagai "octoroon, atau seperdelapan kulit hitam" pasti akan membuat jantung para sejarawan seni berdetak kencang.

Namun inilah cara unik jalan pikirannya, membuat koneksi yang mengejutkan dan tak terlihat sebelumnya antara dua objek yang terpisah.

Kami berdiri di depan panel lukisan Van Heemskerck karena Gates — yang berasal dari Chicago dan telah memenangkan penghargaan internasional akan renovasi bangunan hancur di kawasan South Side kota itu — menggantungnya di awal pameran Black Madonna, pameran solo pertamanya di Kunstmuseum, yang akan berlangsung sampai Oktober ini.

Menurut Gates, sosok pemikir karismatis yang mengawali karirnya sebagai seniman keramik, pameran ini akan "berjalan maju mundur dari pemujaan religius ke manifesto politik ke pemberdayaan diri dan renungan sejarah". Sebuah perpaduan yang rumit tapi juga memabukkan.

Bayangkan saja bagaimana Gates mempresentasikan 'The Ghetto Madonna', yang disebutnya sebagai "jangkar" bagi pameran ini.

Lukisan itu tampil di sebelah sebuah video yang mengganggu karya Gates, akan kumpulan klip-klip dari film 1935, The Littlest Rebel — di mana Shirley Temple, yang memerankan seorang anak perempuan dari keluarga pemilik perkebunan pada Perang Saudara Amerika, tampil dengan 'blackface' atau mengecat mukanya dengan warna hitam.

Hak atas foto Kuntsmuseum Basel
Image caption Gates mengawali karir seninya sebagai pembuat keramik dan memenangkan penghargaan internasional untuk renovasi sebuah bangunan hancur di area South Side, Chicago.

Di sebelahnya lagi, kita melihat foto besar seorang perempuan cantik kulit hitam yang wajahnya dibingkai dengan renda putih yang indah, mereproduksi tampilan vintage dari majalah gaya hidup abad 20 yang ditujukan pada orang-orang kulit hitam Amerika.

"Jadi, di sini ada tiga 'Madonna Hitam'." kata Gates pada saya sambil tersenyum.

Perawan Maria

Dimasukkannya lukisan Van Heemskerck pada pameran ini merujuk pada 'Madonna Hitam' di sejarah seni Barat.

Secara konvensional, Maria muncul dalam berbagai lukisan dan patung sebagai seorang perempuan muda kulit putih.

Kadang-kadang dia tampil dengan wajah dan tangan warna gelap atau hitam — dan sosok Madonna Hitam ini memukau Gates, yang karya-karyanya sering menginterogasi warisan dari gerakan hak-hak sipil di AS dan pengalaman orang kulit hitam di AS sekarang.

Sebelumnya, dia pernah membuat serangkaian karya seni dari selang pemadam kebakaran yang tak digunakan lagi dengan judul In the Event of a Race Riot (Jika Ada Kerusuhan Ras).

Sementara itu, pertunjukannya di Basel — yang ditampilkan di dua lokasi di museum tersebut — juga menampilkan salah satu lukisan tar hitamnya, yang terinspirasi oleh pekerjaan ayahnya sebagai tukang memperbaiki dan membangun atap rumah (ibunya adalah seorang guru sekolah): setiap aspek karya seninya, dari lapisan bitumen mengilap yang dipasang menggunakan alat pel besar, sampai paku tembaga yang digunakan untuk menggantung karya seni tersebut, sesuai dengan teknik perbaikan atap.

"Tidak bocor," kata Gates, lagi-lagi tersenyum.

Hak atas foto JPC
Image caption Pameran ini juga punya bagian khusus tentang arsip foto di Johnson Publishing Company (JPC).

Contoh-contoh akan Madonna Hitam ditemukan di seluruh dunia.

Menurut beberapa perkiraan, ada sekitar 500 Madonna Hitam di Eropa saja, terutama ikon-ikon Byzantium dan patung-patung di negara-negara Katolik dan Ortodoks.

Sebuah biara di kota Czestochowa di selatan Polandia, contohnya, memiliki ikon Byzantium Perawan Suci berkulit gelap.

Sementara itu gereja di Einsiedeln Abbey, sebuah biara Benediktus sekitar 40km selatan Zurich, Swiss, memiliki patung Madonna Hitam yang ajaib, kulitnya menggelap karena selama berabad-abad terpapar oleh asap lilin.

Gates juga menemukan Madonna Hitam di biara Ortodoks Yunani di pulau Heybeliada, dekat Istanbul.

"Ada banyak cerita," kata Gates, seorang profesor seni visual di University of Chicago.

Dia bukan satu-satunya seniman kontemporer yang tertarik akan subjek ini: pada 1996, seniman Inggris Chris Ofili melukis karya kontroversialnya, Holy Virgin Mary atau Perawan Maria yang Suci, dengan menggambarkan seorang Maria kulit hitam yang sensual mengenakan jubah biru, berlatar oranye, dan tumpukan tahi gajah menggantikan dadanya yang telanjang.

"Pada suatu masa, ada kebakaran di Prancis, dan Madonna di sana terbakar dan menelan trauma tersebut. Dia tidak gosong, tapi ada sesuatu di trauma itu yang membuatnya hitam. Saya penasaran dengan ide ini: bisakah 'Madonna Hitam' sebenarnya adalah Madonna kulit putih dengan trauma? Dengan kata lain, apakah Madonna 'mendewasa' menjadi kulit hitam karena sesuatu yang buruk terjadi?"

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sosok Madonna hitam terlihat di belakang Beverly Williamson, seorang pembersih di Central United Church of Christ di Detroit.

Pemikiran ini menggelisahkan dan menarik — tapi, kata Gates, yang punya dua gelar sarjana di perencanaan urban, dia tidak tertarik dengan 'sejarah' Madonna Hitam, tapi lebih pada "pengalaman hidup mereka yang memujanya".

"Saya sangat tertarik dengan [Our Lady of] Guadalupe," katanya, merujuk pada representasi seorang Perawan Maria beretnis campuran di sebuah gereja di Mexico City.

Dia juga mencari tahu lebih jauh soal Yemoja, seorang sosok suci Yoruba yang kadang dilihat setara dengan Perawan Maria, dan "peran perempuan kulit hitam dalam voodoo Haiti".

'Perempuan yang cantik dan kuat'

Gates mengatakan bahwa minatnya pada Madonna Hitam berakar pada pengalamannya dari kecil.

Dia dibesarkan di rumah tangga penganut Kristen, anak termuda dari sembilan bersaudara, dan satu-satunya laki-laki.

"Saya besar di rumah penuh cinta," katanya, "dikelilingi oleh para Madonna di Bumi."

Pada usia 13, Gates menjadi direktur paduan suara anak muda di gerejanya. Apakah dia percaya dengan Tuhan?

Dia mengambil jeda sebelum menjawab: "Saya memiliki kemampuan meyakini yang lebih besar daripada rata-rata orang, karena saya dibesarkan secara religius."

Tapi dia tak lagi datang ke gereja tiap Minggu, katanya, meski dia punya band dengan aliran gospel bernama Black Monks of Mississippi (yang tampil di Basel untuk membuka pamerannya).

"Memiliki kemampuan untuk percaya adalah sesuatu yang dilakukan seniman," kata Gates. "Saya percaya bahwa kejelekan bisa menjadi kecantikan. Saya punya kemampuan mempercayai yang luar biasa."

Saat dia berusia 19 tahun, Gates mengunjungi kerabat di Detroit, dan di sana dia mengunjungi Gereja Madonna Hitam — salah satu gereja yang pernah disebut oleh The New York Times sebagai "pusat penting teologi serta kekuatan politik kulit hitam".

Gereja itu didirikan pada 1967, setelah kerusuhan ras dalam dekade tersebut, oleh pemimpin agama Albert Cleage.

"Idenya adalah ibu Tuhan berkulit hitam, maka Yesus Kristus juga berkulit hitam, dan kami terhubung dengan sejarah panjang orang-orang kuat dan penting."

Saat remaja, Gates menilai ide ini menarik. "Sangat radikal," menurutnya.

Hak atas foto David Sampson / Courtesy of Theaster Gates
Image caption Foto musisi Corinne Bailey Rae ini ingin merayakan citra 'perempuan kuat yang cantik' dalam pameran.

Satu titik penting yang berkaitan dengan konsep Madonna Hitam dalam pameran Gates adalah arsip foto dari Johnson Publishing Company (JPC), yang sejak 1945 telah menerbitkan majalah bulanan Ebony yang dibuat untuk menjadi versi majalah Life untuk pasar orang kulit hitam di AS.

Gates mengatakan bahwa Ebony dan majalah satu grupnya, Jet, yang dibuat sebagai versi kulit hitam dari Reader's Digest, bisa ditemukan "di mana saja di rumah saya" di masa kecil Gates.

"Majalah-majalah ini seperti ensiklopedi kehidupan sehari-hari kulit hitam."

Di Kunstmuseum Basel, Gates telah membangun sebuah lemari kayu yang elegan yang menampung lebih dari 2.600 foto perempuan kulit hitam dari arsip JPC, yang oleh sang seniman disebut sebagai "perusahaan penerbitan kulit hitam paling penting yang pernah ada".

Banyak dari foto-foto itu menampilkan model-model cantik yang mengenakan pakaian glamor — tapi ada juga foto-foto perempuan 'biasa' yang mengerjakan tugas domestik seperti memasak atau mengurus anak.

"Saya ingin merayakan perempuan kulit hitam dalam koleksi ini," kata Gates, yang juga menilai bahwa "perempuan cantik yang kuat" yang ada dalam lemari itu sebagai 'Madonna Hitam' juga termasuk "perempuan biasa yang melakukan hal-hal luar biasa".

"Pada intinya, saya sangat tertarik untuk melihat bagaimana perempuan-perempuan kuat di sekitar kehidupan saya menjadi solusi yang tak pernah dilihat oleh dunia."

Dan inilah, menurut Gates, inti dari pameran terbarunya.

"Ada begitu banyak tantangan dan kesulitan di dunia ini yang dibawa oleh laki-laki," katanya.

"Kadang saya bertanya: jika perempuan mendapat posisi yang layak mereka dapatkan [di masyarakat], akankah semuanya menjadi sama? Apakah kita akan sama rakusnya, sama rusaknya, sama tidak pedulinya, dan sama kerasnya? Itu pertanyaan yang ada di kepala saya."


Anda bisa membaca versi asli tulisan ini di The intriguing history of the Black Madonna di laman BBC Culture

Berita terkait