Ulasan film: Lima bintang untuk film First Man

Frst Man Hak atas foto Getty Images

Kisah hidup Neil Armstrong, manusia pertama yang menginjakkan kaki di bulan, begitu penuh dengan keberanian, tragedi, dan kegemilangan luar biasa, sehingga yang diperlukan hanyalah film biografi Hollywood klasik dengan semua pidato inspiratif, orkestra yang megah dan tema besar terkait.

First Man sudah bukan film biopik macam itu.

Disutradari oleh Damien Chazelle yang sebelumnya menyutradarai La La Land dan naskah yang ditulis oleh Josh Singer, film ini adalah drama yang sederhana dan ekonomis yang, seperti roket yang harus melepaskan diri dari gravitasi bumi, membuang semua yang tidak diperlukan.

Dialog dijaga seminimal mungkin. Penjabaran-penjabaran dipangkas.

Tokoh-tokoh pendamping dilucuti hingga titik Anda hampir tidak melihat Buzz Aldrin (Corey Stoll), yang berjalan di bulan dengan Armstrong, dan apalagi Mike Collins (Lukas Haas), yang mengemudikan wahana yang mengorbit bulan.

Anda tidak mendengar kisah heroisme Armstrong saat Perang Korea, sementara unsur politik kompetisi ruang angkasa yang ada di belakang program Apollo NASA ditempatkan di latar belakang.

Betapa pun, First Man adalah film yang memukau, yang didasarkan pada riset mendalam yang sangat meyakinkan yang akan mengguncang Anda, membuat Anda menahan napas dan bahkan membuat Anda menitikkan air mata.

Film ini berasal dari kisah Armstrong yang dituturkannya sendiri.

Dimainkan oleh Ryan Gosling, aktor terbaik di bisnis ini, dia adalah pilot yang sangat cerdas dan terampil menjaga emosinya sangat terkendali, baik ketika dia meluncur cepat di langit atau minum bir di dapurnya.

Ketika dia berbicara kepada anak-anaknya yang masih kecil, dia terdengar seolah-olah sedang mengadakan konferensi pers, dan ketika dia pada konferensi pers dia terdengar seolah-olah menantang interogasi agen asing.

Dia hidup dalam pernikahan yang berbahagia dengan Janet (Claire Foy - aktor lain yang bisa berbuat lebih banyak dengan tatapan ketimbang kebanyakan aktor dengan monolog tiga halaman), tetapi mereka bukanlah pasangan yang paling berpengaruh.

Mungkin karakter Armstrong yang tenang dan robotik adalah apa yang dibutuhkan oleh seorang penjelajah bulan.

Film ini berkisah perjalanannya dalam program Gemini di tahun 1960-an, ketika dia menempatkan dua pesawat ruang angkasa di orbit, hingga ke program Apollo, saat dia berhasil mencapai bulan.

First Man menyampaikan dengan kekuatan yang luar biasa betapa stres, berbahaya, dan sekaligus tidak menarik perhatiannya untuk menguji prototipe pesawat ruang angkasa.

Para astronot dan calon astronot dimasukkan ke dalam ruang-ruang kecil, dikelilingi oleh permukaan logam tajam, dan diikat di suatu tempat oleh semacam sabuk pengaman yang digunakan oleh maskapai penerbangan murah.

Anda akan sangat jarang melihat bagian luar dari pesawat dan roket di film ini. Sebaliknya, Chazelle menempatkan Anda tepat di kokpit dengan Armstrong saat ia menerobos masuk melalui awan.

Sang sinematografer, Linus Sandgren, suka menggunakan close-up ekstrem yang memaparkan setiap pori dan kerutan di wajah. Sementara perancang suara, Ai-Ling Lee, suka beralih antara keheningan mendadak dan suara yang memekakkan telinga.

Hal ini berlangsung sangat intens sehingga bahkan penerbangan yang paling rutin seperti disimpan di laci lemari arsip yang kemudian bergulir menuruni gunung selama badai petir berlangsung.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pemain film First Man di Festival Film Venice 2018.

Penerbangan uji coba ini juga bisa berakibat fatal. Ada dua pemakaman dalam film, dan beberapa yang lain yang terjadi di luar layar, jadi jangan terlalu terikat dengan salah satu karakter.

Ketika program Apollo mencapai tahap di mana pendaratan di bulan dapat dicoba, Armstrong dipilih sebagai komandan bukan hanya karena hatinya yang teguh dan kepala dingin, tetapi karena ia adalah salah satu dari beberapa pilot yang masih hidup yang memenuhi syarat.

Film ini menyadarkan kita tentang pengorbanan, namun film ini memperlakukan mereka sama seperti yang dilakukan oleh Armstrong.

Pendekatan yang lebih jelas adalah menuangkan kesedihan pada setiap kesempatan, tetapi First Man terus melaju melalui peristiwa-peristiwa dengan kecepatan luar biasa.

Kendati demikian, meski tidak memikirkan risiko yang diambil Armstrong, narasi film membuat pemirsa tetap dalam ketegangan yang hampir konstan, karena dia dan istrinya berada dalam keadaan ketegangan yang hampir konstan.

Mereka berdua tahu bahwa dia tidak akan mundur dari program Apollo, dan mereka berdua tahu bahwa itu mungkin akan membunuhnya, tetapi mereka tidak membahasnya.

Tahun-tahun keberanian dan kesantunan tak terucapkan ini pada akhirnya lebih berdampak dibanding pertengkaran hebat dan rekonsiliasi yang penuh air mata yang mungkin Anda perkirakan.

Penampilan Gosling dan Foy di First Man mungkin kurang kuat untuk memenangkan penghargaan.

Tetapi mereka harus menang, karena hampir tidak akan ada yang bisa lebih baik dari mereka. Hal yang sama berlaku untuk keseluruhan film luar biasa ini.


Anda bisa membaca versi asli tulisan ini di Film review: Five stars for First Man di laman BBC Culture

Berita terkait