Sepuluh film pilihan yang perlu Anda simak di bulan September

Matangi/Maya/M.I.A. Hak atas foto Cinereach

Dari film dokumenter mengenai penyanyi rap MIA hingga debut penyutradaraan aktor Idris Elba, berikut film-film yang layak ditonton bulan ini, menurut redaktur film BBC, Christian Blauvelt.

Hak atas foto Lionsgate

A Simple Favor

Paul Feig adalah salah satu sutradara komedi paling sukses dalam satu dekade terakhir — lewat film-film seperti Bridesmaids, The Heat, Spy dan Ghostbusters, dia tidak hanya berhasil menyajikan kelucuan, tapi juga mengungkap kebutuhan penonton yang terlupakan akan komedi perempuan yang kadang jorok dan juga kejam.

Kini dia meninggalkan komedi untuk menyutradarai sebuah thriller dengan gaya mirip seperti Gone Girl atau The Girl on the Train. A Simple Favor dibuat berdasarkan novel 2017 karya Darcey Bell dengan judul sama, dan dibintangi oleh Anna Kendrick yang memainkan seorang perempuan yang terobsesi oleh kenalannya yang penuh gaya dan diperankan oleh Blake Lively.

Lively kemungkinan memiliki rahasia gelap dan mematikan — dan kemudian dia menghilang. Apakah suaminya yang tampan — bintang Crazy Rich Asians dan pembawa acara Travel Show di BBC World News, Henry Golding — membunuhnya?

Dan apakah kita akan mendapat jawaban kenapa Lively, yang menggunakan tongkat, tampak seperti Madonna dalam video klip Britney Spears, Me Against the Music? Ada banyak kejutan dalam film ini.

Hak atas foto Sony

White Boy Rick

Di Detroit 1980an, Richard Wershe Jr terlibat dalam komplotan sindikat penjahat yang menjual narkoba, lalu dia menjadi informan bagi FBI.

Memang ini bukan cerita yang orisinil, namun Wershe masih berusia 14 tahun. Pada usia 16, hubungan kerjanya dengan pemerintah federal AS sebagai informan selesai, dan dia mulai menjual kokain, sampai menjadi pengedar besar.

Kisah kejahatan nyata ini kemudian menjadi film White Boy Rock, dan mendapat penekanan serta sudut pandang baru dari sutradara Yann Demange, yang juga pernah membuat film yang sama tegangnya soal Irlandia Utara, berjudul '71.

Richie Merritt berperan sebagai White Boy Rick, dan aktris Inggris Bel Powley memerankan saudarinya, Matthew McConaughey ayahnya, dan Bruce Dern memerankan kakek serta Piper Laurie sebagai neneknya.

Dengan deretan pemain yang kuat, White Boy Rick bisa menjadi film thriller kejahatan yang istimewa.

Hak atas foto Screen Media Films

Bel Canto

Sayangnya ini bukan biopik film Gaetano Donizetti yang sudah kita tunggu-tunggu, atau pun tentang kehidupan menarik para castrati (penyanyi laki-laki yang dikebiri agar suaranya tetap 'murni').

Bel Canto adalah campuran Die Hard dan Callas Forever. Julianne Moore memerankan penyanyi opera yang tampil di suatu pesta mewah yang diadakan seorang pebisnis kaya (Ken Watanabe) di sebuah negara Amerika Latin yang tengah mengalami perang saudara.

Pemberontak kemudian menyerbu masuk pesta dan menyandera semua orang — namun yang menyusul kemudian adalah gambaran sensitif tentang para pemberontak dan kesedihan mereka.

Mereka bukan penjahat biasa seperti Hans Gruber di Die Hard. Dan ternyata, pemerintah menginginkan solusi yang cepat: kemungkinan mereka akan mendobrak masuk dan membunuh semua orang, termasuk para sandera, hanya agar terllihat unggul daripada para pemberontak.

Namun Julianne Moore, entah bagaimana, harus menyelamatkan situasi ini lewat kekuatan suaranya. Mungkin terlalu sentimentil? Tapi kedengarannya menyenangkan.

Hak atas foto Amazon Studios

Life Itself

Life Itself dibuat oleh Dan Fogelman, sosok kreatif di balik acara televisi AS This Is Us yang kadang terasa seperti 'festival tangisan'.

Drama komedi ini mengisahkan seorang pria yang mempesona (Oscar Isaac) yang jatuh cinta dengan seorang perempuan cantik dan mereka melakukan hal-hal yang juga menyenangkan bersama-sama saat menjalin hubungan sambil mengatakan, "Saya tak siap untuk begitu dicintai seperti ini".

Jika judulnya yang pretensius membuat Anda berpikir bahwa film ini akan menawarkan kisah hidup yang keras, maka Anda harus berpikir ulang.

Lewat film ini, Fogelman tampaknya sedang berusaha menjadi direktur eksekutif sebuah perusahaan kartu ucapan, bukannya berusaha menghidupkan neorealisme. Tapi jika Anda suka menangis saat diberi aba-aba, maka Life Itself adalah film buat Anda.

Namun jika tidak, maka penulis ini, yang kehilangan beberapa pengikut di media sosial setelah mencuitkan opininya tentang This Is Us, menyarankan Anda menyimpan sendiri skeptisisme itu.

Selain itu, film ini juga menampilkan Antonio Banderas dan Mandy Patinkin, yang seperti sedang saling berlomba untuk menumbuhkan jenggot yang paling indah.

Hak atas foto Annapurna Pictures

The Sisters Brothers

Jika Anda menikmati versi piano lagu Black Hole Sun di Westworld, Anda akan menyukai versi lagu Tainted Love yang muncul di komedi western ini.

Film ini adalah sebuah perubahan besar bagi sutradara Jacques Audiard, auteur di balik film-film dramatis seperti A Prophet, Rust and Bone dan pemenang Palem Emas, Dheepan.

The Sisters Brothers adalah sebuah komedi parodi, mirip seperti novel 2011 karya Patrick Dewitt yang menginspirasi film ini. Di sini, berbagai insiden konyol terjadi berturutan dan saling terkait dengan erat. Joaquin Phoenix dan John C Reilly adalah dua saudara yang bekerja sebagai pembunuh bayaran di Oregon pada 1850an.

Mereka disewa oleh seorang sosok misterius bernama Commodore untuk membunuh seorang pria (Riz Ahmed) yang mencuri darinya.

Namun saat mereka bertemu dengan si pencuri, keduanya memutuskan untuk mengubah rencana. Film western yang bagus kini sudah susah dicari, apalagi film komedi western yang bagus (contohnya: film yang kreatif tapi gagal di box office seperti A Million Ways to Die in the West karya Seth MacFarlane).

Audiard mungkin punya kemampuan yang lebih besar untuk membuat filmnya lebih sukses.

Hak atas foto Cinereach

Matangi/Maya/M.I.A.

Tak diragukan lagi, M.I.A. adalah salah satu bintang pop paling orisinil dalam 15 tahun terakhir. Dia adalah seseorang yang mampu mengemas politiknya yang radikal — ayahnya dekat dengan gerakan separatis Tamil di Sri Lanka — lewat lagu-lagu yang bisa diputar di radio.

Lagu-lagu seperti Jimmy, Mango Pickle Down River, Bad Girls dan, tentu saja, lagunya yang paling populer, Paper Planes, terasa sangat Sri Lanka tapi juga berfungsi sebagai gabungan dari berbagai gaya musik dunia, dan menghasilkan sebuah bunyi yang transnasional — tapi juga populer.

Tak heran jika musik tak cukup untuk menampung kreativitasnya: M.I.A. merekam lebih dari 700 jam dokumentasi sepanjang karirnya, dan dari koleksi yang kaya itu, teman serta rekan sekelasnya di sekolah seni, Steve Loveridge, menyunting sebuah potret dokumenter akan hidupnya.

Leonardo Goi di The Film Stage menulis bahwa film yang muncul, yang akan diputar di Toronto International Film Festival, "menawarkan dokumenter biografi yang intim akan pra- dan pasca-ketenaran, dan terasa sama magnetiknya seperti sosok bintang yang tengah digambarkan di layar."

Hak atas foto Regatta

Destination Wedding

Salah satu perkembangan paling menyenangkan dalam sejarah film baru-baru ini adalah bangkitnya kembali karir Winona Ryder dan Keanu Reeves.

Keduanya terlihat sama-sama masih menawan dan bakat mereka pun telah berkembang matang. Kini kita bisa melihat mereka di Destination Wedding, sebuah film komedi romantis tentang dua orang lajang yang tak memiliki pendamping di hidup mereka dan diundang ke pernikahan teman.

Karakter Ryder adalah mantan pacar si mempelai pria, dan dia masih tak bisa melupakannya.

Reeves tampaknya memiliki melankolia akut — dan rambutnya masih sama seperti saat dia tampil di film-film John Wick, jadi mungkin akan ada pertumpahan darah, atau hanya lelucon yang mematikan.

Mereka berdua saling membenci dan sama-sama mengutuk nasib yang menyatukan mereka untuk bertahan di tengah acara pernikahan — tentunya mereka akan bersatu setelah pernikahan?

Hak atas foto Studio Canal

Yardie

Ini pertama kalinya Idris Elba menjadi sutradara lewat sebuah film thriller gangster Jamaica yang telah diputar perdana pada Festival Film Sundance awal tahun ini.

Film ini mendapat tanggapan yang beragam namun beberapa kritikus menyebut bahwa dalam penggambaran akan pemuda Kingston yang pergi ke London sebagai pembunuh bayaran, ada pesan yang ingin disampaikan soal pasca-kolonialisme dan apa artinya menjadi orang kulit hitam di Inggris — dan dialog-dialognya menggunakan patois Jamaika untuk efek realisme yang maksimal.

"Ini adalah sebuah debut yang mempesona dan maskulin, penuh dengan autentisitas, baik di lokasi Kingston maupun London," tulis Fionnuala Halligan dari Screen Daily.

"Sebuah film yang gambarnya diambil dengan baik, dan menggambarkan periode saat hanya sedikit orang kulit hitam di Inggris, yang diperankan dan dikisahkan dengan baik pula, dan ketulusannya bisa menembus momen-momen kelam dalam film….(dan untuk Elba sebagai sutradara), ini sebuah debut yang layak."

Hak atas foto FilmRise

The Miseducation of Cameron Post

"Terapi konversi" bagi anak muda LGBT kini sudah ditinggalkan — meski tak sepenuhnya punah — namun pada 1990an, bisnis ini begitu hidup.

Di AS, penganut Kristen Evangelis akan mengirimkan anak-anak LGBT mereka ke kamp-kamp serta retreat yang menawarkan perawatan pseudosains 'medis' untuk 'menyembuhkan' anak-anak gay. The Miseducation of Cameron Post,

pemenang penghargaan Grand Jury untuk Drama AS di Sundance Film Festival pada Januari, mengisahkan pengalaman para remaja yang dipaksa untuk menghadiri program semacam itu.

Dalam film ini, pemimpin kamp terapi konversi adalah sosok yang sangat homofobik yang diperankan oleh Jennifer Ehle.

Chloë Grace Moretz memerankan Cameron Post, seorang remaja yang mempertimbangkan untuk melarikan diri dari klinik — dan dari keluarganya juga.

"Film ini adalah kisah 'nanti akan menjadi lebih baik' di mana (oleh sutradara Desiree Akhavan) para remaja digambarkan saling menguatkan dengan tulus, dengan harapan yang juga muncul di film-film John Hughes," tulis Tomris Laffly untuk RogerEbert.com.

"Tak ada satu pun penampilan yang medioker di film ini," tulis Lara Zarum untuk The Village Voice. "Ehle begitu mengagumkan dan menakutkan sebagai penguasa klan kecilnya; dan film ini menggambarkan, dengan indah dan menyakutkan, saat tak ada orang yang bisa membantu, kamu akan membantu dirimu sendiri."

Hak atas foto Warner Bros Pictures

Smallfoot

Warner Bros dulunya adalah studio yang terkenal akan film pendek dari karakter-karakter kartun legendaris seperti Bugs Bunny, Daffy Duck, Porky Pig dan Elmer Fudd - dan kini mereka hampir tak memproduksi animasi.

Namun film animasi mereka yang dirilis di bioskop dalam beberapa tahun terakhir, seperti The Lego Movie dan The Lego Batman Movie, mendapat sambutan yang baik.

Selain dari film Stork (2016) yang mudah dilupakan serta parodi superhero Teen Titans Go! To the Movies, Smallfoot adalah animasi non-Lego pertama yang dirilis oleh Warner Bros dalam 15 tahun.

Film ini mendramatisir kebalikan dari legenda urban: bahwa "bigfoot", makhluk berbulu yang tinggal di pegunungan dan hutan pinus — atau di Himalaya dikenal sebagai yeti — memang ada dan terdokumentasi dalam film (lewat foto palsu yang kabur).

Smallfoot mengisahkan seorang yeti (Channing Tatum) yang berusaha membuktikan pada sesama bigfoot lain bahwa manusia, smallfeet, nyata — karena mereka berpikir manusia itu hanyalah mitos.

Jika saja film ini tidak terlihat remeh — Anda mungkin bisa berharap salah satu yeti di film ini memperlihatkan ekspresi wajah "khas Dreamworks".


Anda bisa membaca versi asli tulisan ini di Ten films to watch in September di laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait