Tanggung jawab sosial di balik karya fotografi yang mengubah dunia

Fotografer Hak atas foto Rehahn
Image caption Di seluruh penjuru dunia, fotografer berupaya membalas jasa orang-orang yang mereka potret.

Berjumpa manusia yang berbeda di berbagai belahan bumi merupakan salah satu aspek yang paling menguntungkan dalam hidup seorang fotografer.

Dalam 15 tahun terakhir menjelajah bersama kamera, saya telah bertemu dan memotret suku terasing, pejuang transgender, korban perdagangan manusia, petinju, musikus, pengembara, tentara anak, pegiat konservasi alam liar, pengunjuk rasa, dan orang-orang lainnya.

Kisah mengagumkan mereka terpatri dalam benak saya. Saya berharap foto saya dapat menuturkan kisah mereka secara tepat.

Sebagai orang yang tak suka berada di depan lensa kamera, saya selalu terkejut pada keinginan, bahkan betapa bersemangatnya beberapa orang untuk dipotret dan diwawancarai.

Banyak dari mereka senang, ada seseorang yang tertarik pada kisah hidup mereka, mengajukan pertanyaan, membantu kondisi mereka, atau untuk sekedar menceritakan cerita mereka ke khalayak.

Namun pertanyaan tentang siapa yang mengambil keuntungan dari sebuah foto merupakan persoalan yang rumit.

Seorang juru potret mendapatkan banyak keuntungan dari pekerjaan mereka: penghasilan dari koran atau majalah, karya cetak, pameran, buku, kadang ketenaran.

Sementara itu, subjek foto mereka barangkali tak meraih apapun, bahkan lebih buruk dari itu, merasa dimanfaatkan atau dieksploitasi.

Banyak fotografer memiliki rasa tanggung jawab dalam menjalani pekerjaan mereka. Komitmen jurnalis foto Ami Vitale dan Cesar Dezfuli, misalnya, jauh dari sekedar berbagi kisah melalui karya fotografi.

Adapun seniman fotografi seperti Rehahn dan Kenro Izu menjadikan pekerjaan mereka sebagai alat untuk berdaya sosial, bagi orang maupun lokasi pemotretan mereka.

"Secara personal, saya percaya karma itu nyata," kata Rehahn yang berkebangsaan Perancis.

"Kita kadang memotret orang yang kondisi ekonominya berkebalikan dengan kita dan kita merasa seharusnya harus bersikap adil."

"Bagi saya yang menekuni foto perjalanan, saya tak akan mencapai titik karier ini tanpa mereka. Tak adil jika kita mengambil keuntungan penjualan foto, tanpa membantu mereka," tuturnya.

Hak atas foto Graeme Green
Image caption Pria tua di Kuil Divine Madman, Punakha, Bhutan.

Rehahn memegang filosofi 'membalas kebaikan'. Tinggal di Hoi An, Vietnam, sejak 2011, ia tengah mengerjakan proyek fotografi yang memotret 54 suku di negara tersebut.

Tahun 2017, Rehahn membuka Galeri Seni Precious Heritage di Hoi An, dengan menampilkan foto, pakaian tradisional, dan artefak dari orang-orang pedalaman Vietnam itu.

Awal September lalu, ia membuka Museum Co Tu di Distrik Tay Giang, khusus untuk etnis Co Tu. Pendanaan museum itu berasal dari sebagian hasil penjualan karya seni di galerinya.

Sebelumnya, Rehahn memberikan sebuah perahu kepada Madam Xong, perempuan yang terdapat dalam sampul buku pertamanya.

Rehahn juga telah membeli sepeda, sapi, dan kamera untuk subjeknya, sekaligus berkontribusi untuk pendidikan, kesehatan, dan perbaikan rumah mereka.

"Saya selalu menghabiskan banyak waktu bersama orang-orang sebelum memotret mereka," ujarnya.

"Saya memahami kisah mereka dan kerap kali mereka menjadi seperti keluarga. Foto itu adalah hasil dari waktu yang kami habiskan bersama."

"Saya tak merasa saya dapat menghasilkan foto yang sama dalam ketergesa-gesaan, bersikap seperti orang yang mengintip. Ini soal penghargaan terhadap orang lain," kata Rehahn.

Hak atas foto Rehahn
Image caption Sejauh ini Rehahn telah memotret 45 dari total 54 suku yang hidup di Vietnam.

Fotografer sering mendapat keuntungan dari karya mereka, tanpa berbagi keberhasilan itu dengan subjek mereka, kata Rehahn.

"Sepanjang kita berbisnis dengan karya fotografi ini, baik penjualan cetak, majalah atau foto turisme, tanggung jawab sosial seharusnya secara otomatis kita lakukan."

"Banyak fotografer beralasan, memberi uang pada orang-orang seperti itu akan membiasakan mereka meminta-minta. Ini mungkin benar, tapi ada banyak hal di balik pembenaran untuk tidak memberi," ujarnya.

Aksi akar rumput

Fotografi bisa menjadi kekuatan besar, dari mengungkap bagaimana masyarakat adat di Peru kehilangan tanah mereka di Sungai Amazon atau mendokumentasikan burung bangkai yang terancam punah di India.

Fotografi dapat meningkatkan kepedulian dan menuturkan kisah yang biasanya tidak muncul ke permukaan.

Hak atas foto Rehahn
Image caption Rehahn bertemu perempuan tua bernama Bui Thi Xong, pemilik sampan di Hoi An, Vietnam, tahun 2011. Foto ini muncul dalam serial foto Hidden Smile.

Karya fotografi dapat menghasilkan uang, mempromosikan pariwisata atau penghasilan masyarakat, meningkatkan pemahaman publik atas suatu persoalan, dan terkadang mengubah arah suatu kejadian.

Dan tentu saja, fotografi dapat menjadi jendela untuk melihat dunia.

Meski begitu, hubungan saling 'mengambil dan memberi' antara fotografer dan subjek mereka dapat menjadi persoalan yang rumit.

"Kita harus menerima kenyataan, dengan memotret dan mempublikasikan wajah orang, kita mengubah apa yang kita potret, kadang-kadang ke arah positif, tapi kadang sebaliknya," kata fotografer lanskap, Michael Kenna.

"Saya memotret sebuah pohon yang indah di tengah sawah, milik seorang petani di Hokaido, Jepang, yang disebut Pohon Orang Bajik."

"Pohon itu akhirnya menjadi subjek banyak fotografer. Sebuah penanda pun didirikan di ladang itu agar orang-orang memotret dari jalan dan tak masuk ke sawah sang petani."

"Namun penanda itu tak diindahkan dan akhirnya sang petani menebang pohon itu untuk menjaga kelestarian lingkungannya sendiri," kata Kenna.

Hak atas foto Michael Kenna
Image caption Foto pohon Michael Kenna di Hokaido, Jepang, mendorong banyak juru potret dari berbagai penjuru dunia mengabadikan pohon itu.

Beberapa fotografer lanskap kini merahasiakan lokasi pemotretan mereka. Banyak dari mereka, seperti Kenna, mendonasikan cetakan karya mereka dan menggelar penghimpunan dana untuk proyek konservasi, bantuan korban bencana, dan amal lainnya.

Foto lanskap tidak hanya mengabadikan keindahan alam, tapi juga membantu melindunginya.

Kenna mencontohkan, salah satu fotonya yang menampilkan beberapa pohon pinus di Wolcheon, Korea Selatan, digunakan tanpa sepengetahuannya oleh pegiat lingkungan setempat agar pengembangan kawasan industri dibangun di wilayah lain.

"Pohon-pohon itu tetap berada di mana mereka berdiri, dilestarikan, dan kini menjadi terkenal," tuturnya.

Masuk akal jika seseorang yang peduli lingkungan mendedikasikan hidup mereka untuk memotret alam sekaligus melestarikannya.

"Saya yakin bahwa fotografer yang memenuhi kebutuhan hidup mereka dari potret alam liar seharusnya juga merasa bertanggung jawab untuk melestarikannya," kata Margot Raggett, fotografer sekaligus penggagas proyek Remembering Wildlife.

"Jika itu tak terjadi, yang terjadi adalah eksploitasi untuk keuntungan, tak ada yang lain," tuturnya.

Hak atas foto Michael Kenna
Image caption Foto sederet pohon di Wolcheoon, Korea Selatan, yang diabadikan Michael Kenna, menjadi alat kampanye gerakan penyelamatan lingkungan.

Setelah melihat pemburuan liar gajah di Laikipia, Kenya bagian utara, Raggett bertemu fotografer alam liar, dari Frans Lanting hingga Art Wolfe, agar mendonasikan foto mereka untuk Remembering Elephants dan Remembering Rhinos, dua buku pertama dalam serial yang berhasil mengumpulkan amal sebesar US$415 ribu atau Rp6 miliar untuk pelestarian alam di Afrika dan Asia.

Margot berharap Remembering Great Apes, yang akan terbit Oktober mendatang, dapat meraup dana amal sebesar US$640 ribu atau Rp9,5 miliar.

"Hampir sebagian besar binatang liar dan habitat mereka dalam ancaman dan jika tak ada upaya membendung gelombang, generasi masa depan tidak punya kesempatan memotret mereka."

"Kewajiban berada di tangan kita untuk menyatakan sikap dan berbuat sesuatu, sekecil apapun itu. Banyak perbuatan kecil dapat berubah menjadi sebuah gerakan," kata Margot.

Hak atas foto David Lloyd.
Image caption Buku berjudul Remembering Great Apes dibuka dengan prakata dari pakar konvervasi, Jane Goodall.

Pertanyaan 'siapa yang untung' paling sering muncul dalam fotografi yang fokus memotret manusia dan tradisi: apakah kebudayaan lokal, orang-orang suku, pengungsi, dan orang dari kelas ekonomi bawah tereksploitasi serta dimanipulasi atau hanya mendapat lebih sedikit hal dibandingkan sang pemotret.

Cesar Dezfuli memenangkan penghargaan Taylor Wessing tahun 2017 atas potretnya yang menampilkan Amadou Sumaila, imigran yang diselamatkan di Laut Mediterania di pesisir Libya.

Foto yang merupakan bagian dari satu seri fotografi itu, kata Dezfuli, adalah hasil dari penelitian berbulan-bulan.

Dezfuli juga membuat petisi pada Parlemen Eropa untuk mengivestigasi dugaan kejahatan terhadap manusia yang dilakukan pemerintah Libya terhadap imigran.

"Dalam fotografi sosial, jelas ada tanggung jawab terhadap subjek yang kita potret," kata Dezfuli.

"Kita menghadapi kisah nyata bersama manusia-manusia yang hidup dalam realitas yang ingin kita publikasikan melalui fotografi."

"Orang-orang itu berhak mendapatkan rasa hormat dari fotografer, melalui dedikasi waktu untuk memahami apa yang hendak disampaikan melalui foto dan cara penyampaiannya," ujarnya menambahkan.

"Saya ingin meyakini semua fotografer yang bekerja di isu sosial benar-benar ingin membalas jasa masyarakat."

Hak atas foto C├ęsar Dezfuli
Image caption Foto karya Cesar Dezfuli yang menampilkan imigran di pesisir Libya meraih penghargaan Taylor Wessing Prize tahun 2017.

"Namun persoalannya adalah pasar dan eksploitasi seni dan fotografi sebagai barang jualan. Itu mendorong fotografer bekerja sangat cepat agar dapat memuaskan permintaan pasar, tapi juga mendapatkan keuntungan ekonomi."

"Situasi ini menghalangi munculnya empati terhadap sang subjek. Jika kita bekerja dengan manusia, yang paling dibutuhkan adalah komunikasi dan kesalingpahaman," tutur Dezfuli.

Seperti Rehahn dan Dezfuli, banyak fotograger merasa bertanggung jawab pada subjeknya, tak terbatas dari sekedar menyebarkan foto dan kisah mereka.

Fotografer dari komunitas Magnum, Steve McCurry, misalnya, membeli sebuah rumah di Kabul untuk Sharbat Gula, subjek yang ia foto tahun 1984 dalam potret bertajuk Afgan Girl.

McCurry juga memulai inisiatif pendidikan fotografi untuk perempuan muda di Afganistan, negara di mana ia menghabiskan 40 tahun untuk memotret.

Hak atas foto Kenro Izu
Image caption Fotografer Jepang, Kenro Izu, mendirikan dua rumah sakit anak di Kamboja serta Laos.

Tak semua fotografer memiliki ketenaran, uang, dan sumber daya untuk membiayai proyek atau pemberian berharga untuk subjeknya. Tapi bukan berarti mereka tak dapat membalas jasa, kata Kenro Izu, fotografer berkebangsaan Jepang.

Izu mendirikan dua rumah sakit anak di Kamboja serta Laos, setelah memotret Angkor Wat tahun 1993 dan bertemu anak-anak kekurangan gizi yang sakit-sakitan, serta kehilangan anggota tubuh akibat ranjau darat.

"Saya tidak kaya atau terkenal. Keyakinan saya, sebagai fotografer, pekerjaan saya didasarkan pada apa yang saya lihat, rasakan, saksikan, dan dengarkan dari para subjek."

"Sekali waktu saya melihat sesosok anak perempuan meninggal di depan mata saya. Saya tak bisa mengalihkan pandangan. Jika saya berpura-pura tak melihat tragedi itu, fotografi yang saya jalankan kehilangan prinsipnya," kata Izu.

"Kita semua bisa membuat perubahan," ujar Ami Vitale, fotografer National Geografi.

Vitale baru-baru ini bekerja sama dengan Konservasi Internasional untuk mengisahkan perjuangan suaka gajah Reteti, yang didirikan dan dijalankan komunitas lokal di Kenya bagian utara.

"Kreativitas kecil dapat sangat berarti. Pertimbangkan mencetak dan mendonasikan proses fotografi pada komunitas yang sedang bekerja sama dengan anda atau berikan karya foto Anda pada organisasi nirlaba"

"Anda juga dapat berdampak lebih dari sekedar urusan finansial dengan menggelar pelatihan fotografi sehingga mereka dapat mengisahkan sendiri cerita hidup mereka," kata Vitale.

Waktu, empati, rasa penghargaan adalah hal yang dapat diberikan fotografer.

"Fotografi dapat menjadi alat luar biasa untuk menciptakan kepedulian dan kesalingpahaman antarkebudayaan, komunitas, dan bangsa."

"Namun fotografi juga dapat berdampak negatif, kasar dan membuat sang subjek foto terkungkung," kata Vitale.

Hak atas foto Ami Vitale
Image caption Suaka gaja bernama Reteti dibuka di Kenya tahun 2016.

Vitale mengingat Subita, perempuan yang ia temui di Festival Keledai Pushkar di India, yang dikerumuni fotografer.

"Bahkan tak satupun orang yang berkata 'namaste' atau 'halo' kepadanya. Subita lalu berkata kepada saya betapa tidak manusiawinya para turis itu."

"Kondisi itu membuatnya merasa seperti binatang. Jika beberapa orang yang mengelilingi Subita menghabiskan sedikit waktu bersamanya, mempelajari perjalanan hidupnya, mereka akan mendapatkan kisah, bukan sekedar foto."

"Semua orang dapat memotret. Namun hanya pencerita yang dapat menjadi seorang fotografer hebat. Dan butuh waktu untuk mencapai titik itu," kata Vitale.

Vitale telah mengerjakan beragam kisah dari berbagai penjuru dunia, dari lokasi konservasi hingga zona konflik.

"Saya bertemu orang-orang yang kerap kali jauh dari publikasi tapi membuat dampak positif bagi planet ini."

"Semoga saya bisa memperkuat perjuangan dan pesan hebat mereka agar dapat menginspirasi orang lain," tuturnya.

"Penting untuk membalas budi sebaik-baiknya yang saya bisa meski melalui hal kecil. Banyak orang telah membuka dan membagi kisah mereka pada saya. Setidaknya itu yang bisa saya lakukan," kata Vitale.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris diBBC Culturedalam judulThe photos that changes lives.

Topik terkait

Berita terkait