Ribera: Inikah lukisan dari seorang yang sadistis?

Apollo and Marsyas (1637) menampilkan salah satu tema favorit Ribera: tubuh yang dikuliti hidup-hidup. (Credit: Museo e Real Bosco di Capodimonte, Naples) Hak atas foto Museo e Real Bosco di Capodimonte, Naples

Menurut sebagian kalangan, Jusepe de Ribera suka dan menikmati melukiskan penyiksaan. Sebuah pameran baru berusaha untuk mempertanyakan ulang pandangan umum tentang seniman abad 17 tersebut, tulis Kelly Grovier.

Tak ada seniman yang mampu menggambarkan rasa sakit seperti halnya pelukis Spanyol abad 17, Jusepe de Ribera, yang kanvas macabre-nya akan daging yang terkoyak dan penggambaran yang jelas akan eksekusi adalah fokus sebuah pameran yang gelap di Dulwich Picture Gallery di London Selatan berjudul Ribera: Seni Kekerasan.

Bagi Ribera, penderitaan yang brutal (baik yang nyata maupun imajiner) dari para martir awal kemunculan Kristen sampai satir dalam kisah mitologi bukan hanya subyek yang berulang, tapi penyiksaan memang hal favoritnya.

Penyair serta kritikus seni Prancis abad 19 Théophile Gautier pernah mencoba untuk menangkap esensi dari karya-karya berani dan visi Ribera.

Gautier menyebut bahwa pelukis itu berusaha mewakili "aliran lukisan pembantaian, yang tampaknya dibuat oleh asisten seorang tukang jagal untuk kesenangan para kanibal".

Ribera mungkin tak pernah menjadi kanibal, tapi reputasinya tak mudah dibersihkan dari rumor yang selalu hadir dari para sejarawan soal perilaku barbarnya, karena mereka percaya bahwa hanya pendekatan langsung terhadap kekejaman yang bisa menjelaskan autentisitas akan karya-karyanya.

Hak atas foto Museo de Bellas Artes de Bilbao
Image caption Lukisan Ribera, seperti Saint Sebastian Tended by the Holy Women, 1620-23 - mengungkap sebuah hubungan yang kompleks dalam menggambarkan penderitaan tubuh.

Ribera lahir dekat Valencia, Spanyol, pada 1591, dia kemudian bermigrasi saat berusia awal 20an ke Roma.

Di sana dia mendapat nama julukan 'Lo Spagnoletto' (atau 'si Spanyol Kecil'), dan dia mengasah kemampuannya menggambar, melukis, dan juga menambah utang dalam jumlah berbahaya.

Ribera kemudian melarikan diri dari pada kreditor, dia pun menuju Napoli pada 1616 yang saat itu berada dalam kekuasaan Spanyol.

Di sana dia menikah dan menemukan jejaring patron kaya yang mau mendukung gayanya yang mencampurkan realisme mengagumkan dengan bayangan melodramatis a la Caravaggio, serta subyek yang menyeramkan.

Daging dan darah

Ada banyak rumor yang mengatakan bahwa Ribera mengurangi kompetisi untuk mendapat komisi di Napoli tak hanya dengan menyempurnakan keahliannya (menggunakan model hidup untuk memangkap setiap ketegangan dan cara otot menghindar dari penyiksaan), tapi juga dengan perisakan dan bahkan membunuh saingannya.

Penyelenggara pameran Ribera: Art of Violence dengan cepat menolak tuduhan sejarah bahwa dia pernah terlibat dalam upaya-upaya mirip mafia untuk mengintimidasi rekan sejawatnya, atau bahwa Ribera terlibat dalam kematian tiba-tiba dan peracunan pelukis Bologna, Domenichino, sebuah tuduhan yang menghantui Ribera selama berabad-abad.

Hak atas foto The Trustees of the British Museum
Image caption Ribera melukis langsung dari model hidup, menciptakan banyak sketsa anatomi seperti Studies of Nose and Mouth, sekitar 1622.

"Ribera tak harus menjadi seorang sadistis," kata Edward Payne, salah satu kurator pameran itu," untuk menciptakan citra-citra kekerasannya, dan penggambaran yang gamblang dari seorang seniman tak selalu mengindikasikan kepribadiannya."

Terlepas dari apakah Ribera terlibat dengan rekan-rekannya Belisario Corenzio dan Giovanni Battista Caracciolo (mereka disebut-sebut masuk dalam 'Kabal Napoli'), seperti sudah banyak disebut oleh para akademisi, imajinasinya yang brutal — yang muncul dalam beberapa adegan penyiksaan berdarah — adalah salah satu sejarah seni tergelap.

Ribera: Art of Violence mengajak para pengunjung pameran untuk melewati jalan gelap itu.

Pameran ini dibuka dengan pemikiran akan kemartiran Santo Bartolomeus yang dikuliti hidup-hidup kemudian dipenggal karena kepercayaannya.

Pengunjung galeri kemudian disambut dengan berbagai penggambaran penyiksaan yang dialami oleh rasul itu lewat koleksi lukisan yang dipinjam dari Florence, Barcelona, dan New York.

Sebuah lukisan minyak di kanvas yang menggambarkan subjek itu (dari 1628) mendapati Ribera dalam momen yang menahan diri, puas dengan menggambarkan adegan penyiksaan itu beberapa detik sebelum dimulai.

Tubuh orang suci itu masih mengilap dan belum tersentuh. Sebuah pisau tengah diasah oleh seorang juru pisau yang wajahnya separuh tertutup oleh bayangan.

Hak atas foto Calveras/Mérida/Sagristà
Image caption Pada 1644, Ribera lebih grafis dalam melukiskan kematian sang orang suci, dan memperlihatkan dia dikuliti hidup-hidup dengan detil mengerikan.

Bandingkan dengan lukisannya akan adegan yang sama pada 1644, di mana dia menampilkan adegan penyiksaan itu secara barbar dan eksplisit.

Di sini, seorang tukang jagal yang tampak senang dengan perlahan mengiris kulit dari lengan Bartolomeus. Dia tampak puas, seperti seorang karnivor yang lapar mengiris daging ham serrano.

Untuk mengupas lapisan imajinasi Ribera, pameran ini diatur berdasarkan tema-tema khusus yang dirancang untuk membantu pengunjung membedah pencapaian sang seniman.

Dan untuk mendukung klaim pameran ini, bahwa sang pelukis dicap dengan tidak adil sebagai orang yang liar dan kejam, maka berbagai materi sumber kontekstual pun dikumpulkan. Materi-materi tersebut memperlihatkan bahwa visi kekejamannya adalah sesuatu yang kontemporer.

Di bagian pameran berjudul 'Crime dan Punishment' atau 'Kejahatan dan Hukuman', catatan tulisan tangan akan proses pengadilan yang merekam hukuman-hukuman mengerikan yang diberikan pada terpidana pada masa itu — dari pencambukan sampai pembakaran di tiang — menggambarkan bagaimana kekejaman merupakan bagian dari kesadaran pada masa Ribera hidup.

Berbagai piring dengan gambar yang grafis dari pembuat cetakan Prancis, Jacques Callot, berjudul Les misères et les malheurs de la guerre (Kesengsaraan dan Kerugian Perang), terbit di Paris pada 1633 — yang memperlihatkan penggantungan massal — dimaksudkan untuk menguatkan budaya kekerasan yang mendorong munculnya imajinasi Ribera.

Lewat berbagai pengamatan yang menggelisahkan, pameran yang menyoroti 'Kulit dan Lima Indera' memperlihatkan obsesi Ribera akan daging dan kelenturannya dalam menggambar anatomi manusia yang mengalami penyiksaan.

Salah satu karya yang menonjol yang ditampilkan di sini adalah sebuah gambar dibuat dari kapur merah yang dibuat pada awal 1620an berjudul A Bat and Two Ears.

Gambar yang dibuat secara sangat detail itu memperlihatkan kelelawar yang meringis dengan cakar yang mencengkeram gulungan berbahasa Latin dengan tulisan 'Keutamaan akan bertahan selamanya' sambil terbang ke arah kita di atas sepasang telinga kiri.

Hak atas foto The Metropolitan Museum of Art/Art Resource/ Scala
Image caption A Bat and Two Ears karya Ribera (awal 1620an) mengandung simbolisme yang tak bisa dipecahkan.

Meski para kurator menambahkan — dalam katalog pameran yang kaya informasi — bahwa kelelawar ini adalah emblem standar bagi para seniman dari daerah Valencia (menurut legenda bahwa kelelawar hinggap di helm Raja James I dari Aragon saat dia berperang untuk menguasai kembali kawasan itu pada abad 13), namun tak ada interpretasi memadai dari gambar itu yang bisa memecahkan pesan atau simbolisme di dalamnya.

Dalam upaya untuk memahami kekelaman karya-karya Ribera yang penuh kekejaman, indera kita yang terganggu pun bergerak dengan liar.

Observasi yang muncul dari pameran itu akan pesona kekejaman yang terkoreografi pun berakhir dengan karya besar Ribera yang liris dan grafis, Apollo and Marsyas, yang dilukis pada 1637.

Lukisan itu kembali ke tema favorit sang pelukis, yaitu menguliti hidup-hidup tubuh manusia, dan menggambarkan eksekusi menyeramkan dari satir Marsyas dalam ukuran yang sangat besar, dia dihukum karena kalah dari kompetisi musik dengan Apollo. Ribera pun menjadi sangat terlibat dalam penyiksaan sadis Apollo akan Marsyas.

Hak atas foto Museo e Real Bosco di Capodimonte, Naples
Image caption Apollo and Marsyas (1637) menampilkan salah satu tema favorit Ribera: tubuh yang dikuliti hidup-hidup.

Ribera seperti maestro dalam penderitaan, lewat sapuan kuasnya dia mengatur sebuah simfoni bisu akan kekejaman yang mengalir dengan baik.

Mata kita mendengarkan dengan jijik saat nada yang sumbang dirobek dari tubuh Marsyas, yang oleh Ribera ditaruh di depan dewa kesenian dan musik seperti harmonium yang tengah menjerit.

"Setiap detailnya," kata Gautier dengan campuran kekaguman dan rasa jijik, "digambarkan dengan kejujuran yang mengerikan."

Anda bisa membaca versi asli tulisan ini dalam Bahasa Inggris di Ribera: Was this the vision of a sadist? di laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait