Sepuluh foto yang menunjukkan 'bekas luka' di Bumi akibat ulah manusia

Hak atas foto Edward Burtynsky

Fotografer Kanada Edward Burtynsky adalah master dari era pasca-industri. Sudut pandangnya adalah, paling tidak, ambivalen.

Jepretannya yang paling baru diambil dari sudut pandang helikopter dan kadang-kadang satelit, yang pada pandangan pertama terlihat sureal dan megah, tetapi foto-foto itu mendokumentasikan sesuatu yang tidak menyenangkan.

Hak atas foto Edward Burtynsky, courtesy Flowers Gallery, London

Foto-fotonya yang berformat besar dan memotret penambangan, penggundulan hutan, limbah industri dan pembusukan, tumpukan-tumpukan sampah, plastik, karet; hamparan peralatan-peralatan yang masih baru maupun sudah dinonaktifkan begitu luas secara estetis sehingga terlihat seperti formasi kristal; permukiman manusia padat yang, dari sudut pandang Olympian, tampak bagaikan lumut atau kawanan kutu.

Hak atas foto Edward Burtynsky, courtesy Flowers Gallery, London

"Kebanyakan orang akan berjalan dengan tumpukan sampah dan menganggap bahwa tidak ada gambar yang layak diambil di sana," kata Burtynsky .

"Tapi selalu ada gambar, Anda hanya perlu masuk ke sana dan menemukannya."

Salah satu seri fotonya yang terkenal menggambarkan pegunungan ban yang dibuang di California. Foto lain menunjukkan pegunungan gading rebus yang dibakar.

Ombak dari batu-batu yang meliuk menjadi simetri yang mengganggu dalam fotonya Chuquicamata, salah satu tambang terbuka terbesar di dunia. Ada ironi gelap dalam pandangannya yang sangat anti-idilis.

Hak atas foto Edward Burtynsky, courtesy Flowers Gallery, Londo

Pemenang Hadiah Nobel, Paul Jozef Crutzen mempopulerkan gagasan Anthropocene, yakni usia geologis yang didominasi oleh aktivitas manusia.

Untuk proyek Antroposen multimedia baru, Burtynsky mengunjungi 20 negara selama lima tahun. Dia berpendapat bahwa "kita hampir menjadi (jika kita memang belum melakukannya) pelaku dari ... peristiwa kepunahan besar".

Karya ini dibuat dalam warna yang tidak alami dari kolam tailing fosfor di Florida: daerah tempat fosfat – penting untuk pertanian industri – ditambang dan biasanya tidak dapat kembali ke keadaan alami mereka karena polusi.

"Izinkan saya mengajukan satu pertanyaan," tanya Burtynsky dalam sebuah unggahan di Facebook pada tahun 2016: "kapan terakhir kali Anda berbicara atau mendengar atau bahkan berpikir tentang fosfor?"

Hak atas foto Edward Burtynsky, courtesy Flowers Gallery, London

"Para ilmuwan melakukan pekerjaan yang sangat buruk dalam bercerita, sementara seniman punya kemampuan untuk menarik perhatian dunia dan membuatnya dapat diakses oleh semua orang," ujar Burtynsky.

Menurut buku barunya Anthropocene , diperkirakan bahwa saat ini dibutuhkan 60 miliar ton bahan setiap tahun (biomassa, pembawa energi fosil, bijih logam, mineral industri dan konstruksi) untuk memberi makan metabolisme global manusia.

Gambar Burtynsky menawarkan wawasan yang mengganggu tentang bagaimana kita mengonsumsi Bumi pada tingkat yang mengkhawatirkan – serta memberi kita bayangan tentang seberapa banyak hasil Bumi yang kita buang kembali, di tumpukan raksasa, sungai, dan laguna.

Hak atas foto Edward Burtynsky, courtesy Flowers Gallery, London

Dalam gambar seperti Tambang Morenci – menunjukkan peleburan tembaga di Arizona, dengan kolam menyimpan cadangan cairan limbah yang ditinggalkan oleh proses ekstraksi – Burtynsky dapat menceritakan kisah-kisah yang sebagian besar keluar dari arus utama, dengan kedekatan hilang dari artikel panjang.

Jepretannya adalah pengingat grafis dari sesuatu yang banyak yang memilih untuk diabaikan. Di Nigeria, masyarakat miskin mulai membajak minyak mentah dari jaringan pipa melalui proses yang dikenal sebagai 'bunkering'. Perbaikan kilang-kilang mikro disiapkan untuk mengubah minyak mentah menjadi bahan bakar.

Sistem ini membocorkan volume produk sampingan mentah dan beracun ke hutan dan saluran air di sekitarnya.

Hak atas foto Edward Burtynsky, courtesy Flowers Gallery, London

Burtynsky mengkategorikan dirinya sebagai seorang pencinta lingkungan, dan telah mengabdikan hidupnya untuk memberikan kesaksian tentang "tanda-tanda yang tak terelakkan yang ditinggalkan oleh manusia di wajah geologis planet kita".

Dengan kata lain, bekas luka dan noda yang semakin ambisius diciptakan oleh industri dan tempat tinggal manusia berskala besar, seperti lapisan berwarna yang jelas dari dasar laut kuno yang diekspos oleh mesin terowongan 350m di bawah Berezniki di Rusia.

Hak atas foto Edward Burtynsky, courtesy Flowers Gallery, Londo

Burtynsky mengeksplorasi bagaimana ini bukan hanya perkembangan terakhir. Pertambangan marmer di Carrara telah ditambang sejak zaman Romawi kuno.

Batu ini terkenal digunakan oleh Michelangelo, yang akan tinggal selama tiga bulan sekaligus untuk mengawasi pemindahannya. 'Arsitektur negatif' yang terbentuk di darat oleh tambang cukup besar untuk dilihat dari luar angkasa.

Hak atas foto Edward Burtynsky, courtesy Flowers Gallery, London

Foto-foto Burtynsky tentang pertanian angin dan instalasi matahari yang luas, di sisi lain, mendokumentasikan pergeseran menuju keberlanjutan.

Sama halnya, foto operasi penambangan dan pemurnian lithium besar-besaran yang ia tangkap di gurun Atacama di Chili, betapapun keras dan mengerikannya ia tampak, adalah isyarat bagi masa depan di mana mobil-mobil yang ditenagai baterai lithium memungkinkan kita untuk berhenti menggunakan bahan bakar fosil sedikit demi sedikit.

Hak atas foto Edward Burtynsky, courtesy Flowers Gallery, London

Burtynsky juga jelas menghargai potongan-potongan Eden yang bertahan hidup. Dia baru-baru ini memotret traktat hutan hujan perawan di British Columbia, Kanada, dan terumbu karang murni di Indonesia.

Dinding karang di Pengah adalah sisa langka dari terumbu karang kita yang semakin berkurang secara global.

Pemutihan karang mungkin lebih mungkin terjadi di sana (seperti di tempat lain, seperti di Karang Penghalang Besar pada tahun 2016) ketika suhu air laut mulai meningkat.

Hak atas foto Edward Burtynsky, courtesy Flowers Gallery, London

Melihat foto-foto itu membuat jiwa melambung. Tetapi mereka juga merupakan pengingat bahwa saat ini tidak ada ekologi di Bumi yang tidak terancam.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari artikel ini Striking photos of human scars on Earth di laman BBC Culture

Berita terkait