Paul Rego dan versi menakutkan dari dongeng Disney

Paula Rego Hak atas foto Paula Rego

Beberapa karya seni hebat membuat Anda ingin berada di dalamnya. Lukisan dan gambar Paula Rego tidak ada di antara karya-karya itu. Karyanya berisi adegan menakutkan di mana masalah psikologis dan gejolak emosi meresap ke titik letup.

Terpesona oleh kisah-kisah yang mendefinisikan budaya, seniman kelahiran Portugis itu mengubah dongeng dan mitos, cerita rakyat dan legenda, dengan menambahi cerita itu dengan kepahitan pribadi, yang diingat dari masa kanak-kanak atau dikeruk dari kedalaman mimpi buruk.

Semakin lama Anda menatap salah satu karya Rego, semakin dalam Anda terjun ke dalam kegelapan—semakin jauh Anda tersesat dalam bayangan dan misteri.

Hak atas foto Paula Rego
Image caption Little Miss Muffet I, 1989

Ambil contoh misalnya, mahakaryanya dari tahun 1996 berjudul Geppetto Washing Pinocchio. Ini adalah satu di antara sekitar 70 lukisan dan gambar yang dikumpulkan untuk sebuah pameran besar terbarunya di Musée de l'Orangerie di Paris: The Cruel Stories of Paula Rego.

Judul karya yang digambar dengan pastel di atas kertas ini mungkin tampak tidak berdosa dalam kiasannya dengan kisah anak-anak abad ke-19 yang terkenal, tentang boneka kayu yang bermimpi menjadi anak laki-laki. Tapi hanya nampak sedikit mimpi dalam pemandangan gamblang yang digambarkan Rego.

Hak atas foto Pula Rego
Image caption Geppetto washing Pinocchio (1996)

Seorang lelaki duduk dengan mengenakan celemek tukang kayu kusut menatap tubuh rapuh seorang anak kecil kurus yang berbaring tengkurap di lututnya, kaku seperti lempengan koroner.

Apakah anak itu hidup atau hanya sebuah papan kayu berukir? Mencengkeram kain merah darah, pencipta Pinokio menggosok kulit anak itu dengan dingin, berkonsentrasi layaknya tukang daging yang memoles pisau.

Pembersihan ritual yang kasar ini dilakukan di atas panggung yang bisa saja dilakukan kemarin, satu milenium lalu, atau seratus tahun dari sekarang. Di belakang pasangan ini, tidak ada apa pun kecuali kegelapan yang menakutkan. Di depan mereka, hanya ada satu ember hitam, disulitkan ruang tanpa waktu di mana keduanya saling terjalin erat.

Geppetto dan ciptaannya selamanya disetrap di suatu tempat antara mitos dan kefanaan, fantasi aneh dan apa pun kebenaran yang menyiksa, yang membungkuk di sudut-sudut suram imajinasi Rego, terlalu takut untuk menakut-nakuti kita.

Seperti semua karya Rego, Geppetto Washing Pinocchio (1996) adalah gambar yang makna suramnya dimainkan secara bersamaan di beberapa bidang yang saling berkelindan: psikologis, budaya, dan spiritual.

Karya yang dibuat dari pastel ini karya sukses dari tahun 1990-an yang terinspirasi oleh adaptasi animasi Disney dari cerita rakyat anak-anak yang terkenal.

Sebelumnya, dia terinspirasi kisah mistis Peter Pan dan Neverland dalam karya yang memuat urutan adegan magis yang mengancam pada tahun 1992 (juga dipamerkan dalam pameran). Rego lalu mengalihkan perhatiannya pada tahun 1996 ke penemuan penulis Italia Carlo Collodi tentang boneka hidup yang hidungnya tumbuh setiap kali dia berbohong, sebagai premis untuk mengeksplorasi lebih lanjut perbatasan kabur antara kebenaran dan fiksi, seni dan kehidupan.

Hak atas foto Paula Rego
Image caption Flying Children

Sejak 1960-an dan hubungannya dengan kelompok legenda seniman yang dikenal sebagai The London Group (yang termasuk Frank Auerbach dan David Hockney), Rego telah menunjukkan keterbukaan terhadap kekuatan alam bawah sadar untuk mendikte ketentuan pembuatan gambarnya.

Kemesraannya dengan surealisme dan periode eksperimen dengan gambar otomatis membuka jalan bagi ketertarikan yang lebih mendalam dengan cerita-cerita, baik visual dan sastra, yang telah terukir sendiri dalam jalinan imajinasi budaya, dari Jane Eyre ke Lewis Carroll, Hogarth ke Goya, dan, baru-baru ini, Blake Morrison ke Martin McDonagh.

Potret keluarga

Bertekad untuk menemukan kembali kisah Pinokio, Rego mendapati dirinya membuat dramanya sendiri yang sangat pribadi, yang memperkuat karya-karyanya dari jauh di bawah permukaannya.

Menantu sang seniman, Ron Mueck (pematung Australia yang dibesarkan dalam keluarga pembuat boneka) didapuk oleh seniman untuk berperan sebagai Geppetto. Sementara, boneka yang bertengger di pangkuan Mueck—patung anak kurus yang tengkurap—adalah salah satu yang Mueck sendiri baru-baru ini ciptakan, mengilhami gambaran Rego tentang boneka itu.

Hak atas foto Ron Mueck

Pada kunjungan pada 1996 ke rumah hantu Rego di sebuah studio, yang terkenal berantakan dengan maneken dipotong-potong, model-model sementara, dan hasil tenunannya sendiri, pedagang seni legendaris, Charles Saatchi, begitu tersentak oleh kekuatan patung mengerikan Mueck. Itu adalah patung seorang bocah laki-laki dengan posisi lengan ditarik dengan canggung di belakangnya (sebuah karya yang juga dipajang di pertunjukan Musée de l'Orangerie), Saatchi langsung menawarkan untuk menjadi agennya.

Dalam setahun, kegemaran Mueck pada karya-karya yang membuat orang merasa tidak nyaman akan menyebabkan keributan di dunia seni ketika ia memasang karya patung yang memiliki kemiripan dengan ayahnya sendiri yang sudah meninggal di lantai Royal Academy untuk pameran terkenal Saatchi, Artis Muda Inggris, Sensation. Keduanya memang memiliki hubungan yang sulit.

Karya setengah skala, patung silikon-dan-rambut-manusia Dead Dad (1997), secara sureal dipicu oleh masalah antara ayah dan anak dalam lukisan Pinocchio karya Rego. Karya ini tetap, sampai hari ini, jadi karya yang paling menarik dari semuanya.

Campuran keluarga dan mitos yang aneh juga menginspirasi karya pendamping untuk Geppetto Washing Pinocchio. Dibuat pada tahun yang sama, Blue Fairy Whispers to Pinocchio menampilkan putri seniman (saudara perempuan mertua Mueck), aktris Victoria Willing, dalam peran The Fairy with Turquoise Hair.

Dalam kisah Collodi, Peri adalah suara dari kesadaran moral yang mengingatkan Pinocchio bahwa ia harus berperilaku etis. Itu adalah Peri Biru yang menunjukkan belas kasihan pada boneka marionette dengan memanggil burung untuk mematuk hidung Pinocchio yang terlalu panjang dan kembali ke ukuran yang lebih tidak memalukan.

Dengan memasukkan putrinya sendiri dan menantu laki-lakinya ke dalam kisah legenda anak-anak, Rego mengaburkan batas antara adat budaya dan potret keluarga dan melibatkan dirinya dalam prosesnya.

Hak atas foto PAula Rego
Image caption The Fisherman, triptych, 2005

Kerumitan tidak berhenti di situ. Apa yang membuat tanggapan kita terhadap Geppetto Washing Pinocchio semakin intens adalah adalah kemiripannya dengan lukisan-lukisan yang disusun serupa dari sejarah seni.

Rego adalah seorang pelajar yang cerdik dari gambar dan struktur piramida dari sketsa yang mengerikan: seorang dewasa yang memegang anak tak bernyawa. Sketsa ini mengingatkan kembali tentang banyaknya kelahiran dalam seni Barat tentang tubuh Kristus yang kusut dalam pelukan Perawan Maria yang tidak dapat ditenangkan.

Dengan mengganti boneka nakal untuk tubuh kusut penyelamat yang disalibkan, Rego mencerca kesalehan, menambahkan lapisan lain yang masih memiliki keberanian artistik terhadap karyanya.

"Tema favorit saya," Rego mengakui, "adalah permainan kekuasaan dan hierarki. Saya selalu ingin mengubah hal-hal di kepala mereka, untuk mengacaukan tatanan yang mapan, untuk mengubah pahlawan dan idiot".

Campuran aneh referensi intelektual, otobiografi, dan agama, Gepetto Washing Pinocchio adalah tipikal dari cerita yang kaya dari Rego dan menawarkan semacam kunci untuk memecahkan kode rahasia seni terlarangnya yang memikat.


Pameran bertajuk The Cruel Stories of Paula Rego dipamerkan di Musée de l'Orangerie mulai 17 Oktober 2018 hingga 14 Januari 2019.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari tulisan ini di Paula Rego: Unsettling images twisted from Disney di laman BBC Culture

Topik terkait