Bohemian Rhapsody: Bagaimana penampilan Rami Malek menyelamatkan film biopik Queen

Film Bohemian Rhapsody Hak atas foto 20th Century Fox

Rami Malek 'benar-benar membuat peran ini menjadi miliknya sendiri' saat memerankan karakter karismatik pentolan band Queen, Freddie Mercury, dalam biopik yang sudah lama ditunggu-tunggu ini.

"Kita harus menjadi eksperimental," kata Freddie Mercury dalam Bohemian Rhapsody, saat Queen sedang merekam album debut mereka. Namun jelas bahwa tak ada seorangpun yang mengatakan hal yang sama pada para pembuat film ini.

Judul biopik Freddie Mercury yang sudah lama ditunggu ini diambil dari lagu Queen yang paling inovatif. Sayangnya, tidak ada sedikit pun kebesaran yang arogan atau semangat eksperimental Bohemian Rhapsody yang muncul dari film ini.

Film ini terlihat seperti sinetron dan mengikuti paduan nada dari semua biopik rock yang pernah ada sebelumnya. Singkatnya, beberapa musisi berkumpul; mereka merekam album hits terbaik mereka sambil mengenakan rambut palsu yang tidak meyakinkan; lalu keberuntungan mereka naik, turun dan naik lagi.

Naskah Bohemian Rhapsody yang ditulis oleh Anthony McCarten (penulis Darkest Hour, The Theory of Everything, dan berbagai drama non-fiksi yang efisien tapi hanya di permukaan) mengikuti struktur yang mungkin terdengar klisé pada saat Queen sedang populer, dan menjadi tak termaafkan setelah formula itu diparodikan oleh Walk Hard.

Namun karena aktor utamanya yang karismatik dan simpatik, dan beberapa lagu pop abad 20 yang penuh semangat, film ini mendapat nilai yang sama seperti single paling populer dari band ini, dan bisa dikatakan sebagai: "cukup saja".

Sebenarnya hasilnya bisa jadi lebih buruk. Produksi film ini begitu bermasalah sampai-sampai sutradara awalnya, Bryan Singer, digantikan oleh Dexter Fletcher, sehingga hasil akhirnya menjadi lebih serasi daripada sebelumnya.

Film ini mengenalkan Freddie (Rami Malek) saat dia masih bernama Farrokh Bulsara. Dia baru saja pindah bersama keluarganya yang merupakan keturunan Parsi-India dari Zanzibar ke Inggris dan mengubah dirinya menjadi seorang clubber gondrong di London — meski tak disetujui oleh orang tuanya yang penuh cinta tapi konservatif (Ace Bhatti and Meneka Das). Tapi film ini tak punya banyak waktu untuk pertentangan keluarga.

Hak atas foto Paul Natkin Archive/Getty Images
Image caption Freddie Mercury di Chicago, Amerika Serikat, 19 September 1980.

Setelah beberapa menit, Bulsara bertemu sebuah band mahasiswa bernama Smile (yang penyanyi utamanya baru saja berhenti). Dan setelah beberapa menit lagi, dia mengganti namanya menjadi Freddie Mercury dan band itu menjadi Queen.

Bohemian Rhapsody berusaha untuk menunjukkan bahwa setiap anggota grup itu menulis banyak lagu hits band tersebut — satu per satu mereka diberi kesempatan untuk mengatakan, "Hey, saya punya ide lagu!" Tapi selain itu tak banyak lagi yang mereka lakukan.

Kita tidak mengetahui bagaimana atau kenapa mereka mengembangkan kombinasi gaya bermusik yang unik. Anggota band selain Freddie tak pernah diceritakan secara terpisah, mereka selalu muncul sebagai trio, bertukar dialog basa-basi, lalu hilang dan tanpa ada gambaran jelas dari masing-masing karakter tersebut.

Sejauh yang saya ingat, Roger Taylor (Ben Hardy), penabuh drum, adalah seorang penggoda perempuan dan yang paling sering bertengkar dengan Freddie; Brian May (Gwilym Lee—yang sangat mirip dengan May asli), pemain gitar, adalah pendamai dengan gaya yang tenang; dan John Deacon (Joseph Mazzello), pemain bas, hanya nyengir dari pinggir panggung, mungkin karena Taylor dan May membantu memproduseri film ini, sementara Deacon tidak.

Dengan bantuan berbagai manajer (termasuk dua yang diperankan oleh Aidan Gillen dan Tom Hollander) serta berbagai montase, band ini menjalani jalur yang familiar untuk menjadi band besar, tapi semuanya tidak tampak terlalu mendunia atau super.

Mercury pernah mengatakan bahwa Queen adalah versi band rock dari Cecil B DeMille, karena mereka selalu ingin semuanya menjadi lebih besar dan lebih baik. Tapi di film ini ada kesan kecil dan murahan, seperti biaya yang dibutuhkan untuk membuat ini lebih murah daripada membuat salah satu album Queen.

Mana keglamorannya? Mana wajah-wajah terkenal dan liburan yang spektakuler? Di sebagian besar durasinya, Bohemian Rhapsody malah terlihat seperti film tentang sebuah band indie yang bisa mencetak satu hit besar yang masuk top 10.

Hak atas foto Getty Images/Fin Costello
Image caption Freddie Mercury di panggung tahun 1975.

Sosok Mercury

Tapi coba tonton saja. Dengan segala hormat pada May, Taylor dan Deacon, film ini menjadi sangat bagus ketika mengabaikan tiga sosok tersebut dan berfokus pada Mercury.

Dan itu terjadi saat film ini tak menampilkan pertengkaran antara pria-pria sopan yang membosankan ini soal lirik. Film ini menjadi kisah tentang orang terkucil yang merasa kewalahan menghadapi kesepian, tersiksa akan seksualitasnya dan oleh tekanan dari pers, dan kecanduannya akan apa pun yang bisa membantunya melewati malam.

Teralienasi dari band yang disebutnya keluarganya, terasing dengan keluarga biologisnya satu dekade sebelumnya, Mercury sendirian dengan kucing-kucing peliharaannya, sekelompok orang-orang yang mengambil keuntungan darinya, dan seorang belahan jiwa, Mary Austin (Lucy Boynton), yang berawal dari tunangannya kemudian menjadi teman platonisnya.

Penekanan yang dilakukan film ini pada hubungan heteroseksual Mercury telah menimbulkan banyak kritik di media sosial.

Di saat bersamaan, muncul keluhan akan keputusan untuk membuat film ini menjadi tontonan mainstream dengan sertifikasi 121/PG13. Padahal dalam kenyataannya, sosok utama dari film ini begitu parahnya, sampai-sampai dia bisa menjadi guru buat Casanova.

Namun keberatan-keberatan ini tak sepenuhnya adil. Benar bahwa Bohemian Rhapsody tak menaruh banyak adegan yang mungkin akan membuat takut keluarga-keluarga yang menontonnya, namun film ini menampilkan Mercury yang mengonsumsi pil, mengunjungi klub-klub fetish, mengadakan pesta-pesta terliar, dan, setelah melewati masa perenungan, menerima hidup sebagai seorang pria gay. Ini bukan Mamma Mia.

Dan penampilan Malek yang kaya, juga membuat kisah ini begitu penuh empati. Sebelumnya, Mercury akan diperankan oleh Sacha Baron Cohen dan Ben Whishaw. Tapi Malek membuat peran ini sebagai miliknya: dia menghidupkan sosok Mercury di depan umum yang menghibur, lengkap dengan cibiran bibir dan penampilannya, selain juga menjadi Mercury yang privat, penuh dengan kesedihan dan sosok yang kehilangan.

Yang menarik, Malek menjadi semakin mirip Mercury seiring film berjalan — di awal, dia tak mirip sama sekali, tapi dia menjadi tak terbedakan dengan Mercury di akhir film. Dan wajahnya begitu ekspresif sampai-sampai dia tetap bisa berakting meski mengenakan gigi palsu yang terlihat murahan: Mercury mungkin memang tonggos, tapi di film ini tonggosnya terlihat seperti kelinci di film kartun.

Momen terbaik Malek di film ini juga menjadi momen terbaik Mercury: saat dia bergerak di panggung di Stadion Wembley, seperti monarki dalam nama bandnya, saat tampil di Live Aid pada 1985, yang kemudian menghidupan lagi bandnya.

Keputusan paling berani dari para pembuat film ini adalah menyertakan hampir semua penampilan Queen, tapi di poin ini, mereka berhak untuk mengubah drama ini menjadi sebuah video konser yang penuh kemenangan.

Mungkin selama satu jam Bohemian Rhapsody akan membosankan atau mengganggu Anda, tapi pada akhirnya film ini akan mengguncang dan mungkin saja menyentuh Anda.


Versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris bisa Anda baca di Film review: Bohemian Rhapsody di laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait