Sepuluh film yang menarik ditonton di bulan November

Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald Hak atas foto Warner Bros

Bersiaplah untuk Fantastic Beasts, Bohemian Rhapsody, The Grinch dan Van Gogh. Larushka Ivan-Zadeh memilih film-film yang bisa Anda tonton bulan ini.

Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald

Akhirnya kita kembali ke Hogwarts! Atau setidaknya itulah yang muncul dalam trailer seri ke-10 dunia penyihir JK Rowling — atau bagian kedua dalam seri Fantastic Beasts-nya.

Meski kita melihat sekilas sekolah tempat nantinya Harry Potter belajar, tak ada anak-anak yang muncul dalam petualangan penuh dengan kegelapan, monster, serta konflik moral ini.

Film ini terjadi sebelum masa Harry dan Ron. Dan tak seperti seri Potter, di seri Beasts, tak ada muggleatau manusia biasa yang tahu lebih dulu apa ceritanya.

Kami pun tak akan membocorkannya pada Anda, kecuali bahwa kisah di film ini berpusat di sekitar Newt Scamander (Eddie Redmayne) yang baik hati serta Albus Dumbledore muda (Jude Law) yang berusaha untuk menghentikan dan membunuh penyihir gelap yang kuat, Gellert Grindelwald (Johnny Depp).

Hak atas foto 20th Century Fox

Bohemian Rhapsody

Sacha Baron Cohen, Ben Whishaw dan bahkan Daniel Radcliffe pernah menjadi kandidat untuk memerankan Freddie Mercury, tapi tentu saja tak ada yang bisa menyaingi perubahan fisik yang terjadi pada aktor yang kemudian terpilih untuk memerankan Mercury, Rami Malek.

"Dia menjadikan peran ini miliknya sendiri," tulis kritikus film BBC Culture Nicholas Barber tentang bintang serial televisi Mr Robot itu.

Malek mengenakan gigi palsu untuk mengeluarkan semua kemampuannya sebagai vokalis Queen yang meninggal karena pneumonia setelah tertular AIDS pada 1991.

Alih-alih menggambarkan sepenuhnya sosok Mercury, biopik yang konservatif ini memilih menyoroti band Inggris tersebut dari masa pembentukan ke masa kepopuleran, sampai ke penampilan mereka saat konser Live Aid pada 1985 yang mengguncang stadion.

Trailer dari film ini banyak dikritik karena menghapus homoseksualitas Mercury dan diagnosis AIDS-nya. Dan setelah sutradara awalnya, Bryan Singer, dipecat karena tuduhan kekerasan seksual (dia digantikan oleh Dexter Fletcher), film ini menjadi sama kontroversialnya seperti subjek yang diceritakannya.

Hak atas foto Netflix

Girl

Lara yang berusia lima belas tahun ingin menjadi balerina, tapi dia menghadapi tantangan yang lebih berat dari kebanyakan remaja seusianya.

Selain tuntutan dari kerasnya latihan balet klasik di akademi tari unggul di Belgia, Lara harus bersiap-siap menjalani operasi pengalihan jenis kelamin—karena dia lahir di tubuh seorang laki-laki.

Film ini menjadi sensasi di Festival Film Cannes tahun ini dengan memenangkan 'Palem Queer' dan mendapat nilai 'fresh' 100 persen di agregator resensi film, Rotten Tomatoes.

Drama masa puber karya Lukas Dhont yang terasa intim ini sangat meyakinkan. Selain beberapa adegan terluka di sekolah, konflik Lara kebanyakan terjadi di skala internal. Bukan lemparan atau panah prasangka anti-trans yang harus dihadapi Lara, tapi pertempuran terbesarnya justu terjadi dengan cermin (ada banyak adegan telanjang di sini).

Aktor/penari muda Victor Polster tampil memikat sebagai Lara—ini adalah penampilan yang bisa membuatnya menjadi bintang, terlepas dari apakah Anda setuju atau tidak dengan pemilihan aktor laki-laki cisgender yang memerankan karakter trans.

Hak atas foto 20th Century Fox

Widows

Film thriller perampokan ini sudah sangat ditunggu-tunggu, dan untungnya Widows tidak mengecewakan.

Ini adalah film pertama sutradara Steve McQueen dalam lima tahun terakhir, setelah karya terakhirnya 12 Years a Slave yang membuatnya menjadi sutradara kulit hitam pertama yang memenangkan Oscar untuk Film Terbaik.

Jika ini saja tak cukup, McQueen menulis film ini bersama penulis Gone Girl, Gillian Flynn (berdasarkan serial TV Inggris 1983 oleh Lynda La Plante), untuk mengisahkan tentang sekelompok perempuan dari berbagai etnis yang diperankan oleh bintang-bintang baru (Cynthia Erivo, Elizabeth Debicki dan Daniel Kaluuya) selain juga para bintang berpengalaman (Liam Neeson, Jacki Weaver, Robert Duvall).

Viola Davis, yang selalu magnetik, memimpin sekelompok geng perempuan yang memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan perampokan yang awalnya akan dilakukan oleh para suami mereka yang kemudian meninggal dalam pekerjaan itu.

"Apakah kita bisa menyebut ini bersenang-senang? Nanti dulu," kata Joshua Rothkopf di Time Out, namun menurutnya "McQueen telah membuat genre kelas atas yang bisa menjadi karya yang menggambarkan perlakuan akan ras dan gender," tulis Eric Kohn di IndieWire.

Setelah film-filmnya yang menghukum, seperti 12 Years a Slave dan Hunger, jelas ini adalah film McQueen yang paling menghibur.

Hak atas foto Universal Pictures

The Grinch

Buku bergambar Dr Seuss yang terbit pada 1975, How The Grinch Stole Christmas! adalah buku klasik yang sangat dicintai di AS.

Namun di berbagai belahan dunia, Grinch mengingatkan mereka akan sosok bertubuh hijau yang dibintangi oleh Jim Carrey pada film box office yang keluar pada 2000.

Untungnya teknologi sudah menjadi semakin baik sejak itu, dan adaptasi ketiga ini (adaptasi pertama adalah acara TV pada 1966 yang dinarasikan oleh Boris Karloff) adalah karya 3D yang canggih lengkap dengan animasi grafis komputer dari para pembuat Despicable Me, Sing dan The Secret Life Of Pets.

Kali ini bintang Sherlock dan Dr Strange, Benedict Cumberbatch-lah yang menyuarakan karakter anti-hero menyeramkan, berbulu dan pemarah berwarna hijau yang berupaya untuk merusak kesenangan semua orang dan mencuri Natal. Hadiah bagi para tukang gerutu di luar sana.

Hak atas foto Oscilloscope

Searching for Ingmar Bergman

Selamat ulang tahun tuan Bergman!

Untuk merayakan 100 tahun kelahirannya (Bergman meninggal pada usia 89), sutradara Jerman Margarethe von Trotta membuat dokumenter yang menganalisis seni, kehidupan serta warisan dari sutradara Swedia legendaris yang secara konsisten disebut sebagai salah satu pembuat film terhebat dan paling berpengaruh sepanjang masa.

Semua karya besarnya dibahas: The Seventh Seal, Wild Strawberries, Scenes from a Marriage serta Fanny and Alexander.

Ttapi ada juga banyak rekaman arsip yang menggugah dan jarang diperlihatkan, selain juga beberapa wawancara dengan Olivier Assayas, Ruben Ostlund, Mia Hansen-Love dan, tentu saja, dewi inspirasi serta mantan kekasih Bergman, Liv Ullmann.

"Searching for Ingmar Bergman sering menggunakan struktur biografi konvensional dan berasumsi bahwa penontonnya punya pengetahuan dasar atau rasa ingin tahu," kata Allan Hunter dari ScreenDaily, tapi "ini adalah tontonan wajib bagi para sinefil".

Hak atas foto Magnolia Pictures

Shoplifters

"Sepanjang kariernya, sutradara film Hirokazu Kore-eda selalu kembali ke topik keluarga (terutama soal ikatan ayah dan anak), seolah kisah ini adalah kunci untuk memahami jiwa masyarakat Jepang. Dan mungkin benar," tulis Deborah Young dalam resensinya di The Hollywood Reporter.

Pada film dengan judul asli 'Manbiki Kazoku' ('Keluarga Pencopet') atau Shoplifters, Kore-eda kembali ke kekhawatiran utamanya.

Keluarga yang bersama-sama mencopet akan tetap bersama—atau dalam hal ini sekelompok orang miskin yang awalnya tak nyaman saat harus berbagi tempat tinggal dan barang curian untuk tetap hidup.

Situasi menjadi semakin sulit ketika pada suatu hari seorang anak perempuan yang kelaparan dan tersiksa kemudian masuk dalam lingkaran mereka.

Film ini memenangkan Palem Emas pada Festival Film Cannes tahun ini, Kore-eda sebelumnya memenangkan Penghargaan Juri pada 2013 untuk Like Father, Like Son.

Shoplifters merupakan film yang sangat subtil, dengan skala sederhana dan ritme yang tepat (atau lambat), dan kisahnya yang tanpa plot akan memberi imbalan pada penonton sabar dengan kehangatan dan kemanusiaan.

Hak atas foto Netflix

The Other Side of the Wind

Sebuah film baru dari Orson Welles? Tidak juga. Hampir semua dari film-film Welles tampaknya mengalami produksi yang bermasalah, tapi tidak ada yang lebih bermasalah daripada satire Hollywood yang pertama dibuatnya pada 1970 kemudian diselesaikan pada 1976.

Welles hanya menyunting sekitar 40 menit pada 1979, dan saat dia meninggal, yang tersisa adalah 10 jam rekaman, yang kemudian diputar perdana di Festival Film Venezia oleh Netflix pada 31 Agustus 2018.

Diambil dengan cara eksperimental dan gaya mockumentary, film ini berfokus pada seorang sutradara legendaris dan pemaksa (John Huston—meski Welles berpikiran untuk memerankan sendiri karakter ini) yang berjuang untuk menyelesaikan karya besar yang akan menjadi karya titik baliknya.

Kisah ini awalnya terinspirasi oleh tindakan bunuh diri sahabat Welles, Ernest Hemingway.

Film yang "memusingkan", "mengagumkan" dan "ekstravaganza" yang merupakan produk masanya adalah "salah satu proyek terbesar Welles yang tak selesai" tulis Glenn Kenny di rogerebert.com meski, "menonton kumpulan dokumentasi ini, membuat saya berpikir bahwa film ini sengaja tak diselesaikan oleh Wells."

Hak atas foto CBS Films

At Eternity's Gate

Kita tak kekurangan biopik luar biasa tentang Vincent van Gogh, seniman visioner yang bermasalah yang aksi memotong kupingnya sendiri jadi sama terkenalnya dengan karya-karya besar post-impresionisnya. Namun film ini ada di kelas tersendiri.

Di Festival Film Venice 2018, film ini mendapat penilaian bagus dari para kritikus. At Eternity's Gate disutradarai oleh Julian Schnabel, yang juga seorang pelukis, dan film nominasi Oscarnya pada 2007, The Diving Bell and the Butterfly, adalah penggambaran luar biasa tentang seorang pria dengan sindrom locked-in.

Di sini, Schnabel menggambarkan hari-hari akhir Van Gogh di Arles, sebuah kota kecil di Prancis, dengan intensitas yang unik dan hidup dan membuktikan bahwa keputusannya untuk memilih Willem Dafoe yang berusia 63 tahun untuk memerankan Van Gogh adalah sesuatu yang tepat (Van Gogh meninggal pada usia 37).

"Willem Dafoe mendapat peran terbaiknya sejak Yesus Kristus," tulis Owen Gleiberman di Variety. "Film ini bukan hanya menyenangkan ditonton, tapi benar-benar mengajukan ide-ide baru soal Van Gogh," tulis Glen Kenny di rogerebert.com.

Hak atas foto Columbia Pictures

The Girl in the Spider's Web

Betul-betul sebuah jaring laba-laba… Ini adalah film adaptasi kelima dari serial thriller laku 'Millennium' yang dimulai dari The Girl with the Dragon Tattoo: sudah ada trilogi film Swedia yang dibintangi oleh Noomi Rapace dan satu film buatan ulang versi AS yang disutradarai David Fincher, dengan Rooney Mara dan Daniel Craig.

Namun The Spider's Web sebenarnya dibuat berdasarkan novel keempat dari seri tersebut, yang merupakan buku pertama yang tidak ditulis oleh penulis aslinya, Stieg Larsson (yang meninggal pada 2004) dan kemudian meluncurkan trilogi buku baru dan film yang semuanya dibintangi oleh pemain berbahasa Inggris.

Di sini, aktris serial The Crown, Claire Foy, menghapus semua jejak perannya di serial itu sebagai Ratu Elizabeth dan menjelma menjadi Lisbeth Salander, peretas yang juga sosok pahlawan punk-girl lengkap dengan tato dan tindikan, yang menjalani misi untuk menyelamatkan dan membalaskan dendam sekelompok perempuan yang mengalami kekerasan.


Versi asli artikel ini bisa Anda baca di Ten films to watch in November di laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait