Empat bintang untuk film biopik Van Gogh, At Eternity's Gate

Willem Dafoe Hak atas foto Getty Images

Mungkin tidak pernah ada pelukis seperti Vincent van Gogh yang yakin terhadap visi artistiknya, secara emosional membutuhkan orang lain, secara psikologis terganggu, dan terisolasi secara sosial.

Penampilan Willem Dafoe yang luar biasa menangkap setiap bagian dari kompleksitas seniman ini dalam film At Eternity's Gate karya sutradara Julian Schnabel.

Dengan visual yang memukau dan keseimbangan antara puisi dan drama, Schnabel menarik kita ke dalam dunia Van Gogh yang jenius dan hidupnya yang tersiksa.

Tentu saja, para pembuat film sudah pasti terpesona pada Van Gogh selama beberapa dekade, mulai film Lust for Life (1956) yang dibintangi oleh Kirk Douglas, hingga yang baru saja dibuat tahun lalu, Loving Vincent, sebuah animasi yang indah.

Schnabel, yang dihormati baik sebagai pelukis dan sutradara film The Diving Bell and the Butterfly, mengambil pendekatan impresionistik, dengan bebas menciptakan adegan dan meliukkan sejarah sesuai dengan kemauannya.

Kisah yang dia ceritakan, tentang tahun-tahun terakhir Van Gogh, tetap akrab di mata penonton. Didukung secara finansial oleh saudara laki-lakinya yang penuh kasih, Theo (Rupert Friend), Van Gogh tinggal dan bekerja di desa Arles bersama Paul Gauguin (Oscar Isaac).

Masuk dan keluar dari rumah sakit jiwa, ia meninggal pada usia 37 di Auvers-sur-Oise, dan mengalami kegagalan keuangan.

Pada awal film, sulih suara Dafoe mengungkapkan kesendirian Van Gogh. Melalui layar hitam, dia merujuk penduduk desa Arles, "Saya hanya ingin menjadi salah satu dari mereka. Saya ingin duduk bersama mereka dan minum."

Film ini kemudian dimulai dengan pemandangan langit dan sawah yang mengelilingi desa, warna-warna yang kaya, seperti biru dan hijau pada lukisan Van Gogh.

Dafoe, dengan rambut dan jenggot kemerahan, mata biru yang menusuk dan wajah yang kaku, terlihat mirip Van Gogh. Tetapi kecemerlangan penampilannya berasal dari cara dia menyampaikan pikiran, ketidakamanan, dan momen inspirasi sang pelukis secara diam-diam.

Schnabel hampir secara eksklusif membenamkan kita dalam pandangan Van Gogh. Dalam adegan lanjutan, sang seniman mengembara melalui lanskap, menatap cahaya yang menerangi pepohonan atau memanjat bukit berbatu untuk mendapatkan pemandangan yang lebih baik.

Perubahan cahaya tampak seperti sebuah peristiwa baginya, dan ekspresi Dafoe memberi tahu kita apakah dia sedang mencari atau akhirnya terinspirasi.

Lagu-lagu indah karya Tatiana Lisovskya yang diiringi piano dan dawai, mengisi soundtrack dalam adegan-adegan itu.

Efeknya tidak sama sekali lambat, tetapi memikat, seperti kehilangan diri Anda dalam lukisan ketika segala sesuatu yang ada di sekitar Anda lenyap.

Hak atas foto Lily Gavin
Image caption Wajah Dafoe menampilkan penderitaan yang dirasakan pelukis, momen yang menyiksa.

Sinematografi karya BenoƮt Delhomme dalam film ini menggemakan karya-karya Van Gogh yang terkenal di dunia, termasuk dinding kuning yang terkenal di kamar tidurnya di Arles, tanpa membuat gambar-gambar seperti poster karikatur.

Kita melihat ladang bunga matahari yang mati dan kemudian, salah satu lukisan bunga matahari Van Gogh yang terkenal, muncul di dinding kamar tidurnya tanpa meminta perhatian.

Pergerakan kamera sama anggunnya dengan kontemplasi Van Gogh tentang alam, tetapi kadang-kadang bergerak tidak teratur, untuk menyampaikan perspektif ketidakteraturannya.

Schnabel mengimbangi adegan-adegan kehidupan kreatif Van Gogh dengan kemampuannya yang memburuk dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.

Terganggu oleh anak-anak sekolah saat dia melukis di ladang, dia berteriak dan membuat mereka takut. Di desa, ia mengejar dan menangkap anak-anak lain setelah mereka melempar batu ke arahnya.

Gauguin adalah kekuatan penstabil untuk sementara waktu. Isaac memainkannya sebagai seseorang yang kurang ajar, tegas dalam debatnya dengan sesama seniman tentang pendekatan mereka yang berbeda.

Van Gogh sangat mengaguminya, namun ketika Gauguin mengatakan dia akan meninggalkan Arles, Van Gogh lari, melolong dengan kesedihan.

Wajah Dafoe menampilkan penderitaan yang dirasakan pelukis, momen yang menyiksa.

Sebagai buntut dari pengabaian Gauguin, Van Gogh memberitahu dokter bahwa dia memotong telinganya, berharap untuk mengirimkan potongan telinga itu kepada temannya.

Salah satu adegan paling terkenal dalam hidupnya, itu tidak mendapatkan saat yang mengerikan di layar.

Samar-samar, film itu berpindah ke pelanggan di kafe Paris yang membaca ulasan bagus tentang karya Van Gogh, lalu menunjukkan adegan Van Gogh dalam jaket ketat, meringkuk di sudut tempat tidur rumah sakit.

Hak atas foto At Eternity's Gate

Namun, ada beberapa hal-hal kecil yang canggung.

Van Gogh ditanyai beberapa kali mengapa dia melukis, dan jawabannya pada akhirnya membuat film itu tampak sedikit didaktik.

"Saya melukis untuk berhenti berpikir," katanya kepada dokter Gachet (Mathieu Amalric), yang berpose untuk lukisan potretnya.

Memang benar bahwa Van Gogh meninggalkan catatan tertulis yang banyak tentang pemikirannya tentang seni ini, tetapi itu tidak berarti bahwa pernyataan serupa berlaku di layar.

Episode tentang kematian Van Gogh bermasalah. Film ini menunjukkan dia tidak melakukan bunuh diri, seperti yang biasanya dipikirkan, tetapi ditembak oleh dua anak laki-laki lokal, salah satunya berpakaian seperti tokoh cowboy Buffalo Bill.

Dan saat film berlangsung, Schnabel menekankan visi mistik Van Gogh. Film ini tidak memutuskan apakah mereka adalah sumber kejenakaan artistiknya, atau gejala penyakit, atau keduanya, tetapi bersandar pada definisi 'jenius gila' yang sering dialami seniman.

Ketika Van Gogh mengatakan di ranjang kematiannya, "Jangan menyalahkan siapa pun," dia menjadi seperti Kristus, sebuah pilihan yang mengancam untuk mengurangi karakter yang didefinisikan dengan sangat baik menjadi orang suci.

Tidak perlu berbagi interpretasi Schnabel. Setuju dengannya atau tidak, ia memungkinkan pemirsa untuk mengalami misteri kreativitas dalam film artistik yang luar biasa ini.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari artikel ini Film Review: At Eternity's Gate di laman BBC Culture.

Berita terkait