Bagaimana film karya sutradara Chantal Akerman mengubah sinema

Chantal Akerman Hak atas foto Laszlo Ruszka / INA via Getty Images
Image caption Debut Chantal Akerman disebut sebagai karya besar feminin pertama dalam sejarah film.

Jeanne Dielman terpilih menjadi film berbahasa asing terbaik yang disutradarai oleh perempuan dalam polling BBC Culture. Menurut Nathalie Atkinson, film tiga jam tentang pekerjaan rumahan menjadi sesuatu yang memikat.

Drama Chantal Akerman dengan judul panjang, Jeanne Dielman, 23 Commerce Quay, 1080 Brussels, pertama kali diputar di Directors' Fortnight di Cannes 1975, berkompetisi di tahun yang sama dengan Alice Doesn't Live Here Anymore karya Martin Scorsese.

Karya Scorsese soal janda dengan anak laki-laki dan pergulatannya menuju kemandirian, kemudian sukses secara komersil. Sebaliknya, Jeanne Dielman bahkan tidak diputar di bioskop New York sampai 1983. Namun film Belgia itu justru merupakan penanda penting era tersebut. Dalam sejarah film, ada periode 'sebelum' dan 'sesudah' Jeanne Dielman.

"Saya diberitahu bahwa saya adalah sutradara hebat," menurut Akerman. Dia mengingat saat namanya, oleh para kritikus dan akademisi, dianggap sejajar dengan nama Bernardo Bertolucci, Rainer Werner Fassbinder dan Orson Welles pada usia 25, ketika filmnya disebut sebagai "karya besar feminin pertama dalam sejarah film" di Le Monde.

Dan kini, sekali lagi, Akerman dikelilingi para lelaki. Film klasik modernnya yang berada di peringkat 14 pada hasil jajak pendapat film berbahasa asing versi BBC Culture adalah film karya sutradara perempuan dengan ranking tertinggi.

Film ini juga merupakan satu dari hanya empat film yang disutradarai atau ikut disutradarai oleh perempuan dalam daftar 100 film asing terbaik: City of God, yang ikut disutradarai oleh Katia Lund, ada di nomor 42; Beau Travail karya Claire Denis di peringkat 43 ; dan Cleo from 5 to 7 karya Agnès Varda ada di peringkat 44. (Dari 209 kritikus yang terlibat dalam proyek ini, 94 — atau 45% — adalah perempuan.)

Film ini memiliki pengaruh besar dan masih sering menjadi subjek analisis kritis serta akademik, mulai dari soal pengalaman sosial perempuan sampai identitas gender dalam bentuk film serta teori psikoanalitis dalam film.

Delphine Seyrig memerankan seorang janda usia 40an yang sulit dimengerti. Dia menjalani rutinitas domestik yang dilakukan secara cermat dan hati-hati di apartemennya yang sederhana di Brussels.

Film ini dibagi menjadi tiga babak dalam tiga hari menuju pemberontakan sang janda di bagian akhir. Sebagian besar waktu Dielman dihabiskan dengan membersihkan dan merawat rumah untuk anak remaja laki-lakinya (yang tidak mau melakukan apa-apa sendiri, bahkan untuk menyalakan radio).

Hak atas foto Janus Films
Image caption Delphine Seyrig memerankan seorang janda usia 40an yang sulit dimengerti. Dia menjalani rutinitas domestik yang dilakukan secara cermat dan hati-hati di apartemennya yang sederhana di Brussels.

Dia mendapat uang dengan menghibur pria-pria yang berbeda setiap harinya. Klien hariannya diterima dengan efisien, dilayani dan kemudian disuruh pulang dalam waktu yang sama yang dibutuhkan Dielman untuk merebus kentang untuk makan malam.

Dari sudut pandang kamera yang statis, kita melihat adegan mencuci piring atau mandi, adegan membereskan tempat tidur, merendam potongan daging di tepung (lalu telur, lalu tepung roti) — tugas-tugas rutin yang dalam film lain akan menjadi montase, tapi di film ini ditampilkan secara utuh.

Pengamatan ini pun menjadi semacam partisipasi kita dalam film ini, dan karena tugas-tugas yang dilakukan Dielman adalah pekerjaan yang gampang, maka cara pengambilan adegan yang statis dan panjang menjadi seperti diulur-ulur.

Kritikus Kathleen McHugh mengatakan bahwa Akerman menantang konvensi akan film naratif dalam hubungan antara materi film ini serta durasinya, "kurang lebih dengan cara yang sama seperti Ulysses karya James Joyce menantang format novel."

Menonton Dielman melakukan tugas rumah tangganya tanpa penyuntingan menjadi bentuk ketahanan mimesis.

Epik domestik Akerman sepanjang dua ratus satu menit ini tak seekstrem film-film Andy Warhol tentang durasi film, namun subjek narasi serta strukturnya menjadi sesuatu yang radikal dalam hal memaksa penonton untuk merasakan waktu yang berlalu.

Sutradara dan bintang film ini pernah menjelaskan pada seorang pembawa acara Prancis yang kebingungan pada 1976, bahwa inti film ini adalah membuat karya seni dari adegan perempuan mencuci piring, sehingga "lamanya waktu yang dibutuhkan merupakan bagian dari sebuah pernyataan".

Mendobrak konvensi

Setelah menonton Jeanne Dielman, akademisi Marsha Kinder menyebutnya "sebuah film yang sangat penting — sebuah langkah maju — bukan hanya untuk saya, tapi juga untuk sejarah pembuatan film."

Jayne Loader, penulis serta sutradara Amerika, mungkin kecewa dengan kekerasan di akhir film ini yang terkesan "menyerah", tapi dia tetap merasa bahwa film ini layak mendapat pertimbangan serius, baik dari kalangan feminis maupun kritikus.

"Film ini memunculkan pertanyaan yang lebih besar, terutama soal sumbangannya ke tugas-tugas penting dalam mengembangkan seni feminis dan bahasa film feminis. Film ini menunjukkan sejauh apa yang sudah kita lakukan dan apa yang masih harus dilakukan," tulisnya saat itu.

Tak semua orang menghargai kegeniusan Akerman.

Dalam jurnal Cannes-nya di Film Comment tahun itu, Mary Corliss menjelek-jelekkan penampilan aktris utamanya: "[Seyrig] membuktikan bahwa tak ada seorang pun — bahkan aktris sekelas dia — yang mampu merajut, membuat kopi dan melakukan tugas-tugas rumahan membosankan lainnya selama empat jam tanpa membuat ngantuk orang paling masokis sekali pun."

(Ironinya: film ini kini diajarkan di kelas sastra bersama dengan buku Madame Bovary untuk memberi pemahaman akan sejarah serta bentuk-bentuk kebosanan feminin dan feminis.)

Hak atas foto GIUSEPPE CACACE/AFP/Getty Images
Image caption Akerman mendobrak konvensi film naratif "dengan cara yang sama seperti Ulysses karya James Joyce mendobrak konvensi format novel".

Di Film Quarterly 2016 tentang Akerman, Laura Mulvey melihat lagi "kesetiaan serta ketaatan pada perspektif perempuan…yang menempel dalam film itu".

Bahkan produksi film ini pun menjadi catatan sejarah sendiri. Untuk semakin mendobrak dominasi pria dalam film, film ini dibuat dengan sebagian besar kru perempuan (sekitar 80 persen, sesuatu yang sangat jarang terjadi, bahkan sampai sekarang), termasuk sinematografer Babette Mangolte dan editor Patricia Canino.

Perspektif ini pun sama pentingnya bagi Seyrig baik dulu maupun sekarang. Setelah memerankan borjuis elegan untuk sutradara-sutradara seperti Alain Resnais, François Truffaut dan Luis Buñuel selama 15 tahun, Seyrig, dalam sebuah wawancara, mengatakan dia sudah merasa cukup.

Dan itulah yang membuatnya terlibat dengan gerakan perempuan pada 1970an, sama seperti banyak aktris hari ini yang mulai mencari sutradara perempuan seperti Akerman (dan Marguerite Duras) dalam upaya mengkoreksi cara "teater dan film yang sangat jauh dari kesadaran perempuan akan dirinya sendiri".

Sejak awal, Akerman menyebut Jeanne Dielman sebagai surat cinta untuk ibunya dan menegaskan bahwa ini bukanlah sebuah film yang membawa pesan penting.

"Saat orang bertanya, apakah saya pembuat film feminis, saya menjawab saya seorang perempuan dan saya juga membuat film."

Sepanjang kariernya, Akerman menolak kategorisasi — strukturalis, minimalis, feminis — namun kemudian dia mengakui: "Mungkin [label-label] itu benar, tapi tak pernah benar-benar tepat."

Tapi bagaimana satu label bisa cukup untuk mengkategorisasi Jeanne Dielman?

Adegan panjang dan gambar statisnya serta pendekatan atmosferik pada tekstur audio mengingatkan akan Solaris (karya film Andrei Tarkovsky pada 1972 tentang renungan luar angkasa, satu lagi film penting dari era itu). Penulis peraih Pulitzer, Jhumpa Lahiri, melihat ada jejak-jejak karya pelukis Edward Hopper di film itu, selain juga tentang makna kesendirian.

Hak atas foto Laszlo Ruszka / INA via Getty Images
Image caption Chantal Akerman bersama salah satu nenek dalam film dokumenternya.

Film ini juga menjadi strategi struktur tubuh dan ruang dalam sinematografi Last Days karya Gus Van Sant; lalu juga terasa dalam gelembung domestik dalam film Safe karya Todd Haynes; sekaligus juga memicu eksperimen Sofia Coppola dengan waktu di Somewhere; tema serta bentuk film ini juga mendorong eksplorasi yang sama dengan film bahasa asing terbaru, The Chambermaid and Her Job.

Efek kupu-kupu

Kelly Reichardt menonton film ini sebelum memulai film baru (lihat juga: Meek's Cutoff). Greta Gerwig juga sama antusiasnya; dia mengisahkan bagaimana Jeanne Dielman membuatnya terpesona ("Saya merasa bahwa saya hampir tidak berkedip"), dan dia memasukkan adegan ibu menjahit pakaian di film Lady Bird sebagai penghormatan untuk film ini.

Pekerjaan rumah yang monoton, sebuah repetisi yang menurut Simone de Beauvoir sama seperti siksaan Sisifus, seharusnya adalah tontonan yang membosankan.

Tapi adegan-adegan panjang dan statis yang diambil Akerman memaksa kita untuk mengamati setiap detailnya. Dialog yang minimal pun makin menonjolkan suara rutinitas yang kadang-kadang memecah keheningan — bunyi korek api, bunyi kompor gas dinyalakan, dan bunyi lift yang bergerak naik.

Pada akhir satu jam pertama film ini, setelah mengamati semua ritual harian rutin Dielman, kita menjadi sangat terbiasa dengan ritmenya, sehingga pada hari kedua kita melihat sesuatu yang tak biasa yang sudah terjadi di balik pintu lewat efek kupu-kupu.

Pertama-tama kita melihat ketidakteraturan yang kecil — seperti rambutnya yang mulai berantakan, langkah kakinya yang sedikit cepat. Namun ritme serta disorientasinya meningkat, makan malam yang terlambat, dan bahkan anak laki-lakinya mulai merasakan ada yang salah.

Gangguan kecil seperti kancing yang salah dipasang pun menjadi sumber ketegangan yang menarik Dielman dan penonton ke dalam kekacauan. Sungguh memikat.

Anda bisa membaca versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris di How Chantal Akerman's modernist masterpiece changed cinema di laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait