Martine Franck, perempuan fotografer legendaris abad ke-20 yang memotret hidup keseharian

Martine Franck Hak atas foto Martine Franck/Magnum Photos
Image caption Martine Franck dianggap salah satu fotografer paling berpengaruh pada abad ke-20.

Martine Franck merupakan salah satu fotografer perempuan abad ke-20 yang paling banyak dibicarakan. Selain sebagai pendiri Viva Agency, dia menjadi satu dari sedikit perempuan yang menjadi anggota tetap sindikat foto legendaris, Magnum.

Terkenal ramah, baik hati, dan pemalu, Franck juga memiliki keuletan yang memungkinkannya terbebas dari belenggu gender dan latar belakang personal.

Karyanya mencakup potret, lanskap, dan foto jurnalistik. Isu yang diabadikannya mencakup perjuangan emansipasi perempuan hingga potret orang berusia lanjut yang menggugah empati.

Lahir di keluarga kaya raya berbasis di Antwerpen, Belgia, yang antusias sekaligus mengkoleksi karya seni, Franck mendalami sejarah seni dan bercita-cita menjadi kurator.

Namun perjalanan panjang ke berbagai penjuru Asia bersama kawannya, Ariane Mnouchkine, hal yang sangat tak wajar bagi perempuan pada masa itu, mengubah masa depannya.

Sepupu perempuan Franck meminjaminya kamera Leica untuk perjalanan itu. Di antara lanskap alam dan di sekeliling masyarakat India serta Tibet, Franck menemukan cinta dan talenta dalam fotografi.

"Kenangan saya adalah tentang keindahan di berbagai tempat: wajah, pemandangan, gestur, dan benda-benda keseharian yang sangat gemar saya potret," ujarnya.

Sekembalinya dari perjalanan itu, Franck terdorong untuk mengikuti pelatihan profesional dan menjadi pegawai magang di majalah Life. Kala itu ia ditugasi membantu jurnalis foto asing.

Martine Franck Hak atas foto Henri Cartier-Bresson/Magnum Photos
Image caption Franck dalam foto yang diabadikan Cartier-Bresson tahun 1972.

Franck mengembangkan pendekatan unik dalam fotografi, melalui komposisi yang cerdas. Dia menciptakan potret yang tak lekang dimakan waktu.

Karya foto Franck berkebalikan dengan pendekatan sensasional yang diambil sejumlah koleganya untuk melawan hegemoni televisi.

Bakat Franck secara kilat mendorong majalah Vogue, Life, dan Sports Illustrated memberinya pekerjaan lepas.

Dobrakan besar terjadi saat itu diminta memotret beragam karya pengukir Henri Etienne-Martin, sebagai bahan katalog komprehensif.

Martine Franck Hak atas foto Martine Franck/Magnum Photos
Image caption Potret unik ini diciptakan Franck tahun 1976.

Setelahnya, banyak seniman tak berhenti mengagumi Franck. Cara pandangnya terhadap karya seni terlihat jelas pada deretan foto yang diciptakannya.

Franck memperlihatkan talenta khusus dalam foto potret. Fotografer kenamaan yang belakangan menjadi suaminya, Henri Cartier-Bresson, menyebut pendekatan Franck itu dapat menangkap batin seseorang.

"Ketika seseorang tak lagi tersenyum atau saat sang subyek foto berada dalam posisi terbaik mereka," kata Agnès Sire menjelaskan.

Sire adalah direktur artistik Yayasan Henri Cartier-Bresson yang meraih titel sarjana setelah meninjau beragam karya Franck.

Menurut Sire, potret Albert Cohen adalah salah satu contoh terbaik yang menunjukkan kemampuan Franck. "Anda lihat dalam foto itu, Cohen tiba-tiba menatapnya secara tajam," kata Sire.

Albert Cohen Hak atas foto Martine Franck/Magnum Photos
Image caption Potret Albert Cohen ini dianggap sebagai bukti keahlian Martine mengabadikan manusia dalam foto.

Dalam waktu yang sama, Franck turut mendirikan kelompok avant-garde bernama Théâtre du Soleil, bersama sutradara teater Ariane Mnouchkine dan seniman lainnya.

Franck menjadi fotografer resmi kelompok itu hingga akhir hayatnya.

Dalam badai politik dekade 1960-an, kelompok seni itu banyak terlibat dalam perjuangan menuntut kesetaraan. Datang dengan latar belakang tertutup dan pemalu, Franck tidak terbiasa dengan situasi tersebut.

"Franck harus berjuang untuk memperlihatkan dirinya yang berbeda, melampaui dirinya sendiri," kata Sire.

Namun perkembangan yang dilakukannya terlihat pesat saat ia memotret kericuhan yang melibatkan mahasiswa di Alun-alun Saint-Germain selama demonstrasi besar Mei 1968. Begitu pula ketika ia mengabadikan pentas Théâtre du Soleil di pabrik yang ditempati para pengunjuk rasa.

Martine Franck Hak atas foto Martine Franck / Magnum Photo
Image caption Potret tahun 1968 ini memperlihatkan Ariane Mnouchkine, rekan Franck saat mendirikan Théâtre du Soleil.

Membakar serbet

Franck secara tidak langsung terikat dengan gerakan itu, menjadi bagian dari profesi yang didominasi laki-laki, pada masa ketika perempuan di seluruh penjuru dunia bergelut memperjuangkan kesetaraan.

Franck menunjukkan ketertarikan besar pada Gerakan Pembebasan Perempuan (Mouvement de Libération des Femmes). Ia mendokumentasikan beragam protes gerakan tersebut.

Tahun 1970 Franck membuat karya khusus untuk majalah pertama gerakan itu, Torchon Brûle, yang secara harafiah berarti 'membakar seret' atau pembakaran emosi.

Pada tahun yang sama, Franck menikah dengan Cartier-Bresson, kolega seniornya selama karier 30 tahun, yang ditemuinya saat bekerja di Majalah Life.

Martine Franck Hak atas foto Martine Franck / Magnum Photo
Image caption Martine Franck mengabadikan banyak aktivitas perempuan yang lekat dengan stigma, dari ibu rumah tangga hingga tukang cuci pakaian.

Sire, yang mengenal pasangan fotografer tersebut, menyebut pernikahan itu sebagai salah satu langkah melawan tabu yang dilakukan Franck.

Sire berkata, saudara laki-laki Franck berteriak pada upacara pemakaman Cartier-Bresson, bahwa keluarganya tak merestui pernikahan itu.

"Franck seperti berkata kepada keluarganya, 'Saya lebih memilih menghabiskan 30 tahun bersama orang jenius daripada melewatkan 60 tahun bersama laki-laki bodoh,'" ujar Sire.

Franck beruntung, kala itu Cartier-Bresson menanggalkan aktivitas fotografinya, jadi tidak ada persaingan di antara pasangan tersebut. Sebaliknya, mereka mendiskusikan seni, beragam buku dan politik, hal yang menjadi modal Franck dalam berkarya.

"Henri mendorong saya, dia memberi saya ruang," kata Franck suatu ketika.

Martine Franck Hak atas foto Martine Franck / Magnum Photo
Image caption Foto ini diciptakan Franck saat ia mengabadikan unjuk rasa menentang undang-undang tentang aborsi di Paris, tahun 1979.

Sepanjang dekade 1970-an, Franck terus mendokumentasikan perjuangan emansipasi perempuan, memotret unjuk rasa sistem perceraian, dan Veil Law, ketentuan yang memicu diskriminasi aborsi di Prancis.

Franck juga berkelana untuk menghadiri demonstrasi kelompok feminis di New York, Siprus, hingga Beijing.

Sebuah proyek dokumentasi kawasan St-Pierre-de-Chaillot di Paris memperlihatkan pekerjaan membosankan para perempuan di wilayah itu. Di sana Franck memotret ibu rumah tangga, pegawai bank, model, dan penari striptis.

Franck juga mendokumentasikan citra para perempuan yang muncul dalam poster atau halaman sampul majalah untuk menekankan objektifikasi perempuan di ruang publik.

Sire tak yakin pada hal-hal yang mendorong Franck mendalami isu itu. "Ini pertanyaan besar. Saya masih bertanya pada diri saya sendiri," ujarnya.

"Apakah ini karena dia memiliki suami yang telah berumur? Atau karena dia berempati pada para perempuan tersebut?"

Martine Franck Hak atas foto Martine Franck / Magnum Photo
Image caption Orang-orang berusia lanjut kerap menjadi subjek foto Franck, termasuk mereka yang tinggal di sebuah panti bernama Maison de Nanterre.

Franck menghormati dan menghargai kelompok orang yang dimarjinalkan masyarakat. Dia tidak menghindari kesendirian dan keburukan, tapi tak ada yang membangkitkan kesedihan dan kemuraman.

Kerap kali, Franck fokus pada kegembiraan yang terpancar dari mata seseorang atau ekspresi semangat, menekankan kekuatan personal yang masih tersisa di balik wajah berkerut.

Tahun 1980 Franck diterima sebagai anggota terbatas di Magnum dan menjadi anggota penuh pada 1983. Ia pun menjadi bagian dari kelompok eksklusif fotografer perempuan yang meraih predikat tersebut.

Momen yang tepat, karena pada tahun yang sama ia memotret sejumlah perempuan kreatif, antara lain Mnouchkine dan sutradara film Agnes Varda, untuk pameran bertajuk Des Femmes et la Création.

Martine Franck Hak atas foto Martine Franck / Magnum Photo
Image caption Kepeduliannya pada kelompok marjinal membawa Franck ke berbagai panti, termasuk yang berada di New York, AS, tahun 1979.

Cartier-Bresson gembira pada pencapaian istrinya. Meski bagi banyak orang, Franck tetaplah dikenal sebagai 'istri Cartier-Bresson', sang suami menganggapnya fotografer terbaik.

Dalam jamuan makan malam untuk merayakan pameran Franck yang menampilkan para perempuan di pekerjaan maskulin, seorang masinis perempuan menanyakan profesi Cartier-Bresson.

"Saya suami seniman dalam pameran ini," jawabnya.

Martine Franck Hak atas foto Martine Franck / Magnum Photo
Image caption Franck mengabadikan potret ini saat ia berkunjung ke Pantai Puri di India tahun 1980.

Di akhir dekade 1980-an, pasangan itu semakin menggeluti teologi Buddha. Franck secara khusus tertarik pada pendidikan tulku atau anak laki-laki yang diyakini merupakan reinkarnasi Dalai Lama.

Dalam kunjungannya ke Tibet, Franck memotret anak-anak dan pendamping mereka, mengabadikan kepolosan yang belum terkontaminasi beban tugas masa depan.

Franck juga memotret anak-anak Tibet yang dikirim ke India oleh keluarga mereka, demi keamanan dan pendidikan. Keadaan itu membuatnya memahami isu pengungsi.

Dalam salah satu wawancara terakhir yang dilakukannya tahun 2007, Franck mengaku berencana fokus pada isu imigrasi yang disebabkan konflik bersenjata.

Kebaikan hati, empati, dan penghargaan terhadap kelompok marjinal selalu menjadi bagian penting dalam karya foto Franck. Pada era ketika kualitas merupakan perihal langka, karya fotografinya terlihat begitu dominan.

Blue line

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris di BBC Culture dengan judul The stunning photos of everyday life.

Berita terkait