Apakah sekuel Mary Poppins bisa menandingi film aslinya?

Emily Blunt Hak atas foto FilmMagic
Image caption Aktris Emily Blunt tampil sebagai Mary Poppins, peran yang pada tahun 1964 melejitkan nama Julie Andrews.

Bagaimana Anda membuat sekuel dari salah satu film live-action anak-anak terbaik sepanjang masa? Selama puluhan tahun, jawabannya ialah: Anda tidak melakukannya.

Mary Poppins dirilis pada 1964, tapi meskipun penulis novel PL Travers menulis tujuh buku lain tentang pengasuh ajaib anak-anak keluarga Banks, tidak ada yang berusaha mengikuti film yang, dalam kata-kata Mary sendiri, sempurna dalam segala hal.

Tapi di Abad 21, tidak ada properti intelektual yang tidak bisa didaur ulang, dan jadi, akhirnya, Mary Poppins Returns.

Rob Marshall, sutradara film pemenang piala Oscar Chicago, yang mengarahkan; sementara naskahnya digarap David Magee, dan Emily Blunt menjadi aktris berani yang mengambil peran yang menjadikan Julie Andrews seorang superstar.

Wajar bila Blunt tidak meniru Andrews. Tapi yang tidak begitu wajar, ia malah meniru Maggie Smith (Profesor McGonagall dalam Harry Potter): Mary yang angkuh dan berkelas akan cocok di Downtown Abbey.

Tapi di samping itu, Mary Poppins Returns begitu serupa dengan pendahulunya sampai nyaris identik.

Tak ada pengungkapan, tak ada lokasi yang tak terduga, tak ada petunjuk tentang apa yang dilakukan Mary ketika ia tidak sedang mengawasi anak-anak Banks — meskipun mungkin kita akan mendapat prekuel yang berlatar sekolah pelatihan pengasuh dalam beberapa tahun lagi.

Satu-satunya perbedaan yang berarti ialah ceritanya maju dari tahun 1910 ke tahun 1930-an, jadi ini seperti Mary Poppins: The Next Generation (referensi Star Trek -red).

Hak atas foto FilmMagic
Image caption Pencipta drama panggung "Hamilton" Lin-Manuel Miranda memerankan Jack, si tukang pasang lentera.

Michael dan Jane, anak-anak yang diasuh Mary di film pertama, kini orang dewasa yang diperankan Ben Whishaw dan Emily Mortimer.

Michael masih tinggal di properti mewah yang ditempati keluarga Banks terakhir kali, dengan taman di seberang jalan dan tetangga seorang pensiunan laksamana.

Tapi istri Michael meninggal dunia karena sakit menahun, dan, yang membuat urusan tambah buruk, Michael membiayai perawatan sang istri dengan uang pinjaman dari bank Fidelity Fiduciary tempat ayahnya pernah bekerja.

Jika tidak bisa membayar utang dalam waktu seminggu, ia dan ketiga anaknya akan diusir, dan rumah Banks akan menjadi, yah, rumah bank.

Ini waktunya Mary Poppins turun dari langit dengan tas karpet dan payungnya yang bisa bicara untuk membawa anak-anak keliling kota London, sementara Michael dan Jane mencari sertifikat saham yang mungkin bisa mencegah mereka jadi gelandangan.

Skenario yang dikejar waktu itu membuat filmnya sedikit muram: bahkan ketika Mary dan anak-anak berdansa dengan penguin kartun, kita selalu sadar bahwa keluarga Banks sedang terancam.

Ya, ada penguin kartun: digambar tangan dan dua dimensi, seperti di film tahun 1964. Secara umum, setiap tokoh dan adegan dalam film terbaru ini mirip dengan tokoh atau adegan dari film aslinya.

Tapi para pembuat filmnya menggunakan variasi baru dari tema-tema yang sudah tak asing lagi. Alih-alih tukang pembersih cerobong asap yang diperankan Dick Van Dyke, ada tukang pemasang lentera yang diperankan Lin-Manuel Miranda, pencipta drama panggung Hamilton.

Alih-alih lagu tentang menerbangkan layang-layang, ada lagu tentang memegang balon. Alih-alih melompat ke dalam trotoar, karakter-karakter kartun melompat ke permukaan mangkuk porselen.

Alih-alih mengunjungi paman Mary yang melayang ke atap, mereka mengunjungi sepupu Mary, Topsy (Meryl Streep) yang berdiri di langit-langit ketika rumahnya terbalik.

Memang dibuat dengan cerdas, tapi film ini mungkin akan lebih bagus jika semua hal di dalamnya bukan imitasi terang-terangan. Dan, betapapun asyiknya Mary Poppins Returns, ia tidak semenghibur film aslinya.

Lagu-lagu karya Marc Shaiman dan Scott Wittman begitu riang, manis, dan dibuat dengan cermat. Dan mungkin, setelah kita mendengarnya ratusan kali, mereka akan terdengar seperti karya klasik.

Tapi ketika pertama kali mendengarnya, saya tidak yakin bahwa satu pun dari mereka bisa mengalahkan "A Spoonful of Sugar", "Let's Go Fly a Kite", atau "Supercalifragilisticexpialidocious".

Begitu juga dengan para aktornya. Saya tidak suka dengan Julie Walters sebagai pembantu rumah tangga yang sibuk – kita sudah cukup sering melihatnya di film-film Paddington – tapi para pemeran lainnya seharusnya bisa lebih baik. Tapi, tentu saja, segalanya lebih baik lima dekade lalu.

Blunt tampil luar biasa: dengan tatapan samar di sana-sini, ia menyampaikan kesepian seorang tokoh yang tinggal bersama suatu keluarga saat mereka sedang tidak berbahagia dan pergi ketika mereka bahagia lagi.

Tetapi ia tidak memiliki kepercayaan diri tak tergoyahkan, kehangatan, atau suara nyanyian merdu yang dimiliki Andrews. Dan, anehnya, sebagai aktor Inggris, vokalnya kadang-kadang terdengar seperti orang Amerika.

Begitu pun Miranda, seorang legenda Broadway, tampak setengah tertidur dibandingkan Van Dyke yang bersemangat — dan logat Cockney-nya juga tidak lebih akurat dari Van Dyke.

Mungkin para pembuat film ini seharusnya memikirkan cerita yang orisinal, daripada meniru mahakarya yang tidak bisa mereka tandingi. Tapi tidak mengejutkan kalau Mary Poppins Returns tidak bisa menyamai Mary Poppins: yang mengejutkan ialah seberapa dekat film itu berhasil menyamai film aslinya.

Sebuah film musikal yang lincah, penuh warna, dan menyentuh; mungkin kurang orisinalitas, tapi lebih baik dari kebanyakan film anak-anak. Hanya saja tidak sebagus film anak-anak yang jadi panutannya.


Versi bahasa Inggris ulasan ini Film review: Mary Poppins Returns dan artikel-artikel lainnya bisa Anda baca di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait