Siapa saja penentu fesyen dan yang memutuskan apa yang keren?

Streetwear Hak atas foto The Incomplete Highsnobiety Guide, gestalten 2018

Dulu acuan selera fesyen sebagian besar berasal dari segelintir majalah.

Namun di era internet seperti sekarang, sejumlah sosok yang disebut influencer menyebarkan seleranya di bidang mode melalui blog, unggahan instagram dan platform lainnya - semuanya menarik perhatian orang di bawah 35 tahun, dan menjadi incaran lahan iklan pemegang merk fesyen terkenal.

Business of Fashion, BoF, awalnya adalah sebuah blog fesyen yang dibentuk pada 2007 dan hanya ditangani oleh satu orang. Kini BoF telah berkembang menjadi majalah dan konsultasi mode online yang beraneka ragam. Jika BoF 'bersin-bersin', perusahaan mode bisa 'masuk angin'.

Lalu ada Highsnobiety, sebuah situs streetwear/merek multimedia/branding perusahaan (ada sinergi yang jelas) yang telah mendapatkan 'cawan suci' - sesuatu yang sulit didapat - dalam alam semesta pasca-warisan media cetak, dan menjadi acuan selera fesyen.

Buletin harian Highsnobiety sebagian besar tentang sepatu dan sepatu edisi terbatas, meskipun acapkali berisi unsur-unsur analisis budaya dan kreatif yang lebih luas, seperti musik, film, mode, beberapa tantangan dalam seni, dan desain. Semuanya saling menyatu sehingga membentuk semacam gaya hidup yang didorong dari kandungan pesan dalam buletin tersebut.

Tahun 2018 secara luas dianggap sebagai tahun streetwear berjaya.

Jika Anda ragu tentang hal ini, coba periksa eBay. Di laman ini banyak sepatu langka dapat berpindah tangan dengan harga luar biasa mahal.

Ketika saya menulis, sepasang Nike Air Jordan keluaran tahun 1988 dijual dengan harga £24.779 atau setara Rp443 juta. Selain saya, ada 341 orang lain 'menyimak' transaksi tersebut.

Hak atas foto The Incomplete Highsnobiety Guide, gestalten 2018
Image caption Penggemar streetwear di kota New York

Tetapi kisah sebenarnya adalah soal pasar sepatu, kaos, celana panjang dan aksesoris edisi terbatas—baik baru atau bekas yang dijual melalui berbagai platform. Banyak orang awam rela mengeluarkan uang banyak untuk membeli barang-barang ini.

Dalam konteks ini, kata 'street' atau 'jalanan' mengacu pada rata-rata orang di jalan, yang dibedakan dari selera terukur dan secara obsesif menguasai berbagai teknik desain yang mengikat mereka.

Pentingnya streetwear saat ini menjelaskan kebangkitan desainer Virgil Abloh. Abloh merancang busana dengan gaya se-'street' mungkin. Dia mendapatkan popularitas setelah berkolaborasi dengan rapper Kanye West pada label Yeezy, kemudian membuat label Off-White-nya sendiri.

Produk dari label Yeezy sering kali laris manis, namun kemudian sering pula ditemui di platform jual beli produk bekas, dan siklus ini terjadi terus.

Sementara Off-White mengejutkan para fashionista bawah tanah saat mereka melemparkan uang mereka pada setiap 'peluncuran' pakaian terbatas.

Abloh telah mendobrak mode internet lebih sering dan lebih banyak cara daripada orang lain selama setahun terakhir.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kolaborasi antara Louis Vuiton dan Supreme mengombinasikan kemewahan dan streetwear

Sekarang Abloh telah menjadi direktur kreatif rumah mode mewah Louis Vuitton. Tidak diragukan, Louis Vuitton kini berharap Abloh melimpahkan 'jampi-jampinya' ke dalam merek LV.

Hubungannya logis: anti-estetika Abloh yang menggunakan materi petualang dengan warna-warna yang saling berbenturan, pola-pola dan slogan-slogan, branding, dan label yang lebih keras, mestinya cocok dengan logo LV, yang telah menjadi simbol kekayaan. Mengapa tidak sekalian mengoperasikannya?

Perpaduan gaya antara elitisme dan aksesibilitas ini adalah sesuatu yang diketahui oleh para penentu selera untuk menentukan arah gaya fesyen.

Hak atas foto Thomas Welch, The Incomplete Highsnobiety Guide, g
Image caption Seniman Takashi Murakami juga muncul di platform Highsnobiety.

Dalam beberapa hal, konsep kekayaan itu sendiri telah menjadi norak. Dan mereka yang merayakannya telah menjadi juru adil dalam hal selera - meskipun tidak selalu berarti 'baik'.

Contohnya mungkin koper 'Rich as Fuck' karya Goyard yang baru-baru ini diberikan keluarganya kepada Kris Jenner untuk Natal. Ini menimbulkan kontroversi.

Mungkin juga ironis, dan menyenangkan untuk memecahkan kode.

Pada satu tingkat, dengan vulgaritas absolutnya, slogan itu menunjukkan bahwa hanya orang bodoh yang peduli pada tingkat kekayaan atau gaya.

Dan, dalam arti tertentu, seluruh klan Kardashian mengabdikan hidup mereka untuk menghadirkan rasa yang kurang sempurna, dan mungkin demokratis, kepada penggemar mereka

Hak atas foto Getty Images
Image caption Akton Jonah Hill termasuk beberapa individu yagn terpengaruh gaya 'jalanan'

Pada tingkat lain - soal harga koper yang mencapai £11.765 atau setara Rp 210 juta - mereka mungkin juga mengatakan bahwa satu-satunya hal yang penting adalah kemewahan yang konyol, tak peduli dengan konteks sosial apa pun, dan dengan semua nuansa kemegahan slogan 'biarkan mereka makan kue' ala Louis XVI dan Marie Antoinette yang tersirat jelas.

Perlu juga dicatat bahwa keluarga Jenner sendiri merupakan merek abad ke-21 yang terkenal.

Dalam hiruk-pikuk era informasi, sering kali perlu memicu kontroversi untuk mempertahankan pengakuan merek - dan untuk membentuk 'kolaborasi' merek terkenal. Kanye West menikah dengan Kim Kardashian (total gabungan pengikut di Twitter: 88 juta)

Model panutan

Tatanan antara vulgaritas elit dan aksesibilitas ini, tetapi tidak terlalu banyak aksesibilitas, dijalani oleh Highsnobiety.

Untuk membantu kita menjelajah ranah ini, baru-baru ini diterbitkan sebuah buku mode dan budaya jalanan yang disebut The Incomplete Highsnobiety Guide, atau 'panduan yang tidak lengkap dari Highsnobiety - karena jika itu 'lengkap' Highsnobiety akan menjadi semacam otoritas sombong yang disesalkan, dan misinya kemudian mati.

Buku ini menentang harapan dengan menjadi yang merangsang dan sesuatu yang dekat dengan esensi, jika Anda kebetulan seorang penggila gaya atau, yang sesuai istilah Jepang, seorang otaku.

Tetapi jika Anda bukan seorang otaku sekalipun, itu berderak dengan keyakinan dan imajinasi tandingan budaya yang menarik. Buku itu menyebut dirinya 'snapshot' atau cuplikan, karena adegan gaya jalanan berubah dengan cepat, hampir dari minggu ke minggu.

Anda mungkin harus menggenggam topi Supreme Anda saat Anda membacanya.

Streetwear dalam bentuknya saat ini adalah turunan gaya hip-hop dan punk, skateboard, selancar, fesyen jalanan, pakaian olahraga dan gerakan pakaian kasual yang naik daun secara global pada 1990-an dan sesudahnya.

Ini memuliakan individualitas yang anti-kemapanan. Remaja laki-laki yang posenya menghiasi Highsnobiety adalah kelompok eklektik yang mengesankan, termasuk Jaden Smith, Jonah Hill, John Mayer, Skepta, Rick Owens, Pharrell Williams, Sean Wotherspoon, Hiroshi Fujiwara, A$AP Rocky, Takashi Murakami, dan Tyler The Creator. (Highsnobiety ditujukan pada pria.)

Hak atas foto Thomas Welch, The Incomplete Highsnobiety Guide, g
Image caption John Mayer dan Errolson Hugh muncul dalam kampanye Nike Air Vapormax Moc 2

Semuanya, sebagai penentu selera fesyen, memiliki kredibilitas yang sangat besar, di samping memiliki pengaruh besar atas berbagai platform media.

Mereka semua obsesif tentang mempertahankan kontrol artistik atas pesona mereka, dan dalam berbicara tentang dan memperdebatkan prinsip-prinsip mereka.

Bagian Incomplete Guide tentang Pharrell Williams menyanjungnya sebagai "Salah satu pencetus hip-hop asli, yang membuatnya benar-benar dapat diterima untuk menjadi benar-benar aneh".

Jaden Smith, yang identitasnya gendernya cair, disebut sebagai "ikon pemuda untuk setiap generasi". (Dia mengenakan gaun ketika dia menginginkannya. Dia memiliki pengikut 11,1 juta orang di Instagram)

Tyler The Creator menyebabkan keributan ketika sang rapper menyanyikan lagu tentang berciuman dengan anak laki-laki, meski dia tidak tertarik untuk menjabarkannya, atau tentang hal lain.

Sangat mengejutkan betapa orang-orang ini berpikiran terbuka, dan betapa optimisnya.

Hak atas foto Kenneth Cappello, The Incomplete Highsnobiety Guid
Image caption Jaden Smith menjadi pengarah gaya favorit di Highsnobiety.

Evolusi gaya jalanan menunjukkan bahwa budaya konsumen mengalami metamorfosis dan terlibat dalam politik identitas radikal yang digerakkan oleh kaum muda.

Mark Parker, CEO Nike, salah satu bocah lelaki di taman bermain ini , menyumbangkan wawancara ke halaman pembuka Incomplete Guide. (Di dalam buku ini ada foto dirinya sedang meringis. Apakah pria berusia 63 tahun itu terlihat tidak nyaman?)

Dia mengamati bahwa "konsumen juga ingin tahu apa yang Anda perjuangkan sebagai sebuah perusahaan," dan itu penting " untuk berbicara menentang ketidaksetaraan."

Pada tahun 2018 kampanye iklan Nike dengan jelas mendukung pemain sepak bola Amerika Colin Kaepernick , yang menimbulkan kontroversi ketika ia menolak untuk berdiri pada saat lagu kebangsaan AS sebagai protes terhadap rasisme. Kaepernick bukan hanya pembuat selera, ia memiliki dampak politik yang besar.

Hak atas foto Thomas Welch, The Incomplete Highsnobiety Guide, g
Image caption "Gaya jalanan sangat anarkis, kreatif dan egaliter"

Dapat dikatakan bahwa perusahaan streetwear dan influencer mereka yang terkait, besar dan kecil, hanya bersikap sinis dan bermain dengan narsisme generasi milenial dan pasca-milenial.

Tetapi bahkan jika itu sebenarnya yang mereka pikir sedang mereka lakukan, mereka masih merefleksikan, dan dibentuk oleh nilai-nilai 'target pasar' mereka, perpaduan antara budaya jalanan dan digital, atau komunitas yang muncul.

Bukankah ini menunjukkan bahwa semua orang di bawah 35 tahun ini lebih dari sekadar pasar?

Entitas komersial seperti Nike memiliki ekor harimau. Gaya jalanan adalah politis dalam permulaannya - anarkis, kreatif, sangat manusiawi, egaliter secara fundamental - dan kemungkinan akan terus menggosok arus utama dengan cara yang salah.

Budaya dan pembentuk opini tidak akan dijinakkan dalam waktu dekat.

Anda bisa menyimak versi bahasa Inggris dari artikel ini, Who decides what is cool? di laman BBC Culture.

Berita terkait